NovelToon NovelToon
Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Setahun Menjadi Pelayan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:129.6k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Kaburnya Alana dari rumah justru menyeretnya ke dunia Arka, lelaki berkuasa yang menjadikannya pelayan sebagai ganti rugi sebuah insiden.

Beberapa bulan kemudian Arka memutuskan untuk menikahi Alana hanya untuk melindunginya dari perjodohan orang tuanya.

Tanpa penjelasan Alana diusir oleh orang tua Arka. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan kehamilan di rahimnya, hinaan menjadi balasan, anak itu dituduh milik Rafael, abang iparnya Arka, mafia berdarah dingin.

Alana memutuskan selamanya pergi dari hidup Arka. Akhirnya dia kembali ke rumah Rafael, pria paling berbahaya yang justru menjadi pelindungnya.

Di antara cinta dan pengkhianatan, siapa yang akan menghancurkan Alana lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Tiga Puluh

Rafael berdiri di depan jendela ruang kerjanya, secangkir kopi hitam tak tersentuh di meja. Tirai putih bergoyang pelan tertiup angin. Dari lantai dua, suara langkah Bu Sari terdengar samar. Langkah yang hati-hati, seolah takut mengganggu sesuatu yang rapuh.

Sejak pagi, Rafael tidak banyak bicara. Bahkan pada dirinya sendiri. Bayangan semalam masih terlalu jelas.

Perempuan itu tergeletak di pinggir jalan, tubuhnya basah, wajahnya pucat seperti kertas. Rambutnya menempel di pelipis, napasnya tipis. Rafael ingat bagaimana jantungnya berdetak aneh saat melihatnya, bukan karena iba semata, tapi karena ada sesuatu yang terasa, familiar.

Ia tidak tahu dari mana. Atau mungkin, ia tahu, tapi tidak mau mengakuinya.

Rafael menghela napas pelan. Jam di dinding berdetak pelan. Sudah hampir waktu makan siang.

“Bu Sari,” panggil Rafael, suaranya datar tapi tegas.

“Iya, Tuan?” Bu Sari muncul di ambang pintu.

“Ajakin dia makan di ruang makan!" perintah Rafael.

Bu Sari sempat ragu. “Nona Alana masih kelihatan lemas, Tuan.”

“Justru itu. Dia harus makan.”

Bu Sari mengangguk. “Baik.”

Sebelum pergi, Rafael menambahkan, “Pakaian yang tadi saya titipkan, berikan padanya.”

“Iya, Tuan.”

Pintu tertutup kembali. Rafael menoleh ke jam. Ada rasa tak nyaman yang merayap di dadanya, seperti firasat yang tak bisa ia jelaskan. Dia melangkah menuju ruang makan.

Meja panjang dari kayu jati sudah tertata rapi. Dua piring, dua set alat makan. Menu sederhana untuk seorang seperti Rafael. Ada udang saos Padang, Cumi goreng tepung, sup bening, tumis sayur, dan ikan panggang serta sambal. (Jangan ada protes karena menunya Indonesia banget. Masa mafia menunya itu. 😭😭). Aroma hangatnya memenuhi ruangan, tapi tidak cukup mengusir kekakuan yang menggantung.

Rafael menarik kursi dan duduk. Punggungnya tegak. Wajahnya tetap dingin seperti biasa.

Beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar. Rafael tidak menoleh. Dia tahu siapa yang datang.

Alana melangkah keluar dari kamar tamu dengan langkah ragu. Gaun sederhana berwarna krem melekat di tubuhnya. Pakaian itu pas, membuatnya sadar bahwa Rafael memperhatikan detail, bahkan yang tidak ingin ia perlihatkan.

Saat melihat punggung pria itu, Alana berhenti sejenak. Ada sesuatu yang dia rasakan. Bahunya yang lebar. Cara ia duduk. Aura tenang yang dingin.

"Kenapa rasanya aku pernah melihat punggung ini," ucap Alana dalam hatinya

Perasaan itu membuat dadanya mengencang. Bu Sari memberi isyarat kecil. Alana menarik napas, lalu melangkah masuk.

Rafael merasakan kehadirannya sebelum ia menoleh. Ketika akhirnya dia memutar kepala, pandangan mereka bertemu.

Mata Alana membesar. Wajahnya memucat seketika. Waktu seperti berhenti. Itu bukan wajah orang asing.

Itu wajah yang pernah ia lihat, tidak sekali, tidak dua kali. Di foto. Di bingkai kecil di kamar Revan. Walau Arka melarang, bocah itu selalu minta agar foto daddynya terpajang. Wajah yang sama dengan garis rahang yang tegas, tatapan tajam, dan ekspresi yang tak mudah dibaca.

“Tuan …?” suara Alana gemetar. “A—ayahnya Revan?”

Rafael menatapnya lama. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Tidak ada senyum. Tidak ada penyangkalan. Dia hanya mengangguk pelan.

Satu anggukan sederhana yang terasa seperti palu godam di kepala Alana.

“Duduklah,” ucap Rafael datar. Nada itu bukan permintaan. Itu perintah.

Alana ragu sepersekian detik, lalu menarik kursi di seberangnya dan duduk. Tangannya gemetar halus di pangkuan. Jantungnya berdetak terlalu cepat.

Rafael mengamati perempuan itu tanpa terlihat mencolok. Wajahnya pucat. Lingkar hitam samar di bawah mata. Ada bekas kelelahan yang tidak bisa disembunyikan.

Dan luka yang tak terlihat. “Makan!” ucap Rafael lagi.

Alana menelan ludah. Perlahan, ia meraih sendok. Gerakannya kaku, seolah takut salah sedikit saja.

Sendok pertama masuk ke mulutnya. Rasanya hambar, meski ia tahu masakan itu enak. Perutnya memang lapar, tapi pikirannya terlalu penuh.

Beberapa sendok berlalu dalam keheningan. Akhirnya, Alana memberanikan diri bersuara dan bertanya. “Kenapa … Tuan menolong saya?” tanyanya lirih.

Rafael tidak langsung menjawab. Dia menyuap makanannya dengan tenang, lalu meletakkan alat makan.

“Kebetulan,” jawabnya singkat. “Saya melihat kamu pingsan dan orang-orang sekitar itu menghentikan mobilku.”

Alana menatap piringnya. “Kalau begitu … terima kasih.”

Rafael mengangguk tipis. Mereka kembali makan dalam diam. Dalam kepalanya, Rafael berpikir tentang Arka.

Tentang malam-malam panjang bertahun-tahun lalu. Tentang kesalahan yang tidak bisa ia perbaiki, hanya ia simpan dan kubur dalam-dalam. Tentang seorang anak yang tumbuh tanpa ayah, dan seorang ayah yang memilih menjauh karena terlalu banyak alasan dan terlalu banyak ketakutan. Walau sebenarnya dia ingin mengambil Revan, tapi dia masih berpikir. Arka mengancamnya.

Sementara itu, Alana juga sedang berpikir tentang Revan. Tentang tangannya yang kecil. Tentang caranya memeluk bantal biru itu setiap malam. Tentang suara kecilnya yang memanggil, Mbak .…

Dadanya terasa perih. "Apa aku melakukan hal yang benar dengan pergi?" tanya Alana dalam hatinya. Dia telah merasa dekat dan menyayangi bocah itu.

Sendoknya berhenti di udara. Saat itulah pintu ruang makan terbuka dengan keras.

Langkah kaki cepat dan berat menghantam lantai. Napas yang tersengal memecah keheningan. Rafael langsung menoleh.

Dan wajah yang muncul di ambang pintu membuat rahangnya mengeras. Arka.

Rambutnya sedikit berantakan. Matanya merah, entah karena kurang tidur atau amarah yang belum padam. Dadanya naik turun cepat, seolah baru saja berlari.

Tatapannya langsung tertuju pada Alana. Wajah gadis itu seketika pucat. Sendoknya terjatuh ke piring dengan bunyi nyaring. Rafael berdiri perlahan.

Arka melangkah masuk tanpa menunggu undangan. Tatapannya beralih ke Rafael dengan pandangan dingin, tajam, dan penuh kebencian lama yang belum pernah benar-benar padam.

“Napasmu terdengar berat,” ujar Rafael tenang. “Sepertinya kamu tidak datang untuk makan siang.”

Arka terkekeh pendek, padahal tak ada yang lucu. “Ternyata benar kau ada di sini,” ucapnya, suaranya bergetar menahan amarah. Matanya kembali ke Alana, lalu ke Rafael. “Kenapa kau kabur? Apa kau sudah lupa dengan hutangmu?”

**

Selamat Pagi. Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini. Terima kasih.

Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.

Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.

Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.

1
Endang
thor buat alana n Rafael menikah dong
Cindy
lanjut kak
Eka ELissa
semngat Lana smoga lancar ya .. lahiran nya..sehat smua ibu dan bayinya....🤰🤰🤰🤲🤲
Eka ELissa
Bu Sri klie Mak bukan Revan...😄😄😄
Me mbaca
kalau Revan panggilnya daddy, kalau pak Rafael berarti Bu Sri yang Manggil kan ya mama?
Teh Euis Tea
mudah2an lancar ya alana lahirannya
Ida Nur Hidayati
semoga lancar persalinannya Alana semangat 💪💪
ElHi
lebih dari itu jg gpp kok Rafael....hehehe..gada yg ngelarang 🤣
Kasih Bonda
next Thor semangat
Cristella Tella
lnjut lgi donk thor
Patrick Khan
Alana yg lairan q yg dag dig dug baca kyk maraton😖😖git ya klo kontraksi pas lairan.. q jd bayangin😖😖
astr.id_est 🌻
lanjutt mam...😍😍😍
dyah EkaPratiwi
semangat alana
Radya Arynda
Mama reni up lagi dong
Semangaaat Alana,,semogah selamatdan sehat kalian ber dua,,,,setelah ITU balas Dendam Sama Arka,,,,,gimana sakit nya di pangil om sama anak sendiri....
Ilfa Yarni
lebih dr ucapan trima kasih ga pa pa jg gantian ya ank arka km yg dampingi dulu anakmu arka yg dampingi pas mau lahir jadi impas dong
Ikaaa1605
Semangatttt Alana
Titi Liana
suka
Ayu Ayuningtiyas
nanti anaknya laki" dan mirip sama arka ,biar arka menyesal krn sdh meragukan anaknya sendiri. 😄
Ari Atik
semoga rafael bisa melindungi alana...
enyah saja kau arka
😡
Ari Atik
arka goblok gk mau jujur sama mamanya😡 .....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!