NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terpukau

Maldives

Pesawat yang ditumpangi Elia, Dave, Angel, dan Billy mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional Velana. Kini keempatnya tengah mengantre untuk mengambil koper masing-masing.

“Akhirnya kita sampai di Maldives!” seru Angel dengan penuh keceriaan. Elia pun tak kalah bahagia, raut wajahnya tampak berseri saat menginjakkan kaki di negara yang dijuluki surga tropis itu.

Begitu keluar dari bandara, Billy segera menghampiri seorang pria yang sejak tadi menunggu sambil memegang selembar karton bertuliskan nama mereka. Pria itulah yang akan menjadi pemandu wisata selama mereka berada di Maldives.

“Selamat datang di Maldives, Tuan, Nyonya,” sapa pria tersebut menggunakan bahasa Inggris.

Sapaan itu dibalas dengan senyum ramah dan anggukan hormat. “Mari, silakan,” lanjutnya sambil berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Ia membukakan pintu mobil untuk mereka, lalu merapikan dua koper ke dalam bagasi sebelum perjalanan dimulai.

Keempatnya diantar ke sebuah hotel yang memang sudah direncanakan Billy. Seluruh akomodasi kali ini ia tanggung sendiri. Meski Dave sempat menolak karena merasa mampu membiayai liburan bersama Elia. Billy tetap bersikeras.

Sepanjang perjalanan, kedua wanita itu sibuk merekam video menggunakan ponsel masing-masing. Bahkan Elia tak segan menyorot wajah Dave yang tampak sedikit malu-malu saat kamera mengarah padanya.

“Astaga, kau jadi ikut-ikutan seperti Angel,” gumam Dave pelan.

“Namanya juga wanita!” ucap Angel dan Elia bersamaan, lalu tertawa dan saling bertos.

Dave hanya bisa menggelengkan kepala, kemudian memijat keningnya yang terasa sedikit pening.

“Kenapa? Kepalamu sakit? Sini, biar ku pijat,” tawar Elia sambil mendekat.

Dave refleks mengangkat tangannya, mencegah Elia menyentuhnya. “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Hanya sedikit pusing karena masalah di kantor.”

“Lupakan soal pekerjaan, Dave. Sekarang kita sedang berlibur. Nikmati saja momen ini,” timpal Angel.

“Benar,” sambung Billy. “Anggap saja pekerjaan dan semua tuntutannya tidak pernah ada.”

Baiklah, jika sudah diserang oleh dua orang sekaligus, Dave bisa apa? Ia memilih mengalah dan memusatkan perhatiannya pada perjalanan.

Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Saat Dave mengeluarkan ponsel dari saku, Elia tak sengaja melihat nama Bianca tertera di layar.

“Angkat saja, mungkin penting,” titah Elia.

Namun di dalam hati, rasa penasaran mulai mengusik. Siapa wanita itu? Karyawannya? Tapi untuk apa seorang karyawan menelepon langsung pemilik perusahaan? Setahunya, semua urusan sudah memiliki aturan. Jika ada hal mendesak, seharusnya disampaikan melalui HRD atau manajer.

Agar Dave tidak merasa sedang diperhatikan, Elia mengalihkan pandangannya ke arah jalan. Ia berusaha mengendalikan pikirannya dan tetap berpikir jernih, meski rasa penasaran itu perlahan menyusup.

Sesampainya di hotel, dua pasangan suami istri itu langsung menuju kamar masing-masing. Billy sengaja memilih resort agar suasananya terasa lebih intim dan kebersamaan mereka menjadi lebih seru.

Karena waktu masih dini hari dan perjalanan panjang telah menguras tenaga, keempatnya sepakat untuk beristirahat. Rencananya, keesokan siang mereka akan melanjutkan liburan dengan berkeliling tempat wisata serta mencari oleh-oleh menarik.

“Dave, tolong angkat teleponku…” gumam Bianca lirih dengan nada cemas.

Baru saja ia menerima kabar dari resepsionis bawah bahwa Alex kembali datang bersama asistennya. Kedua matanya terasa berat karena kurang tidur, namun rasa kantuk itu sama sekali tak mampu membawanya terlelap. Ancaman Alex melalui pesan singkat terus terngiang di kepalanya.

“Kalau Dave tahu aku berselingkuh… dia akan mengambil semuanya dariku?”

Bianca tahu ia harus segera pergi dari tempat ini. Namun bagaimana caranya bisa lolos tanpa ketahuan Alex? Napasnya terasa sesak hanya dengan membayangkan wajah pria itu.

Ia juga mulai sadar, satu-satunya jalan keluar mungkin adalah melibatkan pihak berwajib. Tapi keputusan itu terasa menakutkan dan berisiko bagi hidupnya sendiri.

Pesan balasan akhirnya diterima Bianca. Nama Dave tertera jelas di layar ponselnya. Dalam pesan singkat itu, Dave mengatakan bahwa ia sedang berada di luar negeri bersama istrinya. Kalimat sederhana tersebut justru membuat dada Bianca semakin sesak dan pikirannya kian tak karuan.

Di sisi lain, Dave kembali melihat layar ponselnya yang bergetar. Ia melirik ke arah Elia, memastikan istrinya itu benar-benar telah terlelap. Setelah merasa yakin, Dave perlahan turun dari tempat tidur, lalu melangkah menuju balkon dan membuka pintu kaca yang mengarah langsung ke pantai.

“Halo,” bisik Dave pelan sambil sesekali melirik ke arah kamar, memastikan Elia tidak terbangun.

[Sayang, tolong aku…] suara Bianca terdengar terisak dari seberang telepon.

“Kau kenapa, sayang?” tanya Dave dengan nada khawatir.

[Seseorang terus mengikutiku. Dia juga mengancamku…]

“Siapa orang itu? Kau mengenalnya?”

[T-tidak…] jawab Bianca terbata-bata.

Dave mengerutkan kening. “Kalau begitu, apa urusannya denganmu?”

Bianca berdecak pelan. [Sepertinya dia salah satu pengikutku di media sosial dulu. Kau tahu istilah sasaeng, kan?]

“Apa itu?” tanya Dave bingung.

[Sasaeng adalah sebutan untuk orang yang terobsesi secara berlebihan pada seseorang. Mereka bisa melakukan hal-hal di luar kendali, sayang] jelas Bianca dengan suara gemetar.

Dave memijat keningnya, napasnya terdengar berat. “Baiklah, aku mengerti. Sekarang kau istirahat saja. Aku akan menyuruh orang untuk mengurusnya bahkan menjebloskannya ke penjara jika perlu. Sialan! Berani-beraninya dia mengganggu kekasihku.”

Karena terlalu diliputi kekhawatiran terhadap Bianca, Dave sama sekali tidak menyadari bahwa Elia berdiri di balik tirai. Rupanya, Elia belum benar-benar terlelap. Ia bahkan mendengarkan seluruh percakapan Dave dengan wanita itu dari awal hingga akhir.

Sementara itu, Dave masih sibuk dengan ponselnya. Ia menghubungi beberapa kenalannya yang sudah terbiasa menangani kasus semacam ini. Dengan nada serius, ia juga memerintahkan agar area di sekitar tempat tinggal Bianca dijaga ketat.

Saat melihat Dave hendak kembali masuk ke kamar, Elia segera bergegas menuju tempat tidur. Ia berbaring dan memejamkan mata, berusaha meyakinkan suaminya bahwa dirinya benar-benar telah terlelap dan tidak mendengar satu pun kata yang diucapkannya di telepon.

"Syukurlah" ucap Dave pelan karena melihat posisi Elia masih seperti tadi.

Dengan sekuat tenaga Elia menahan air matanya agar tidak jatuh. Meski Dave tidak akan melihat keadaan wajah Elia karena posisi tidur mereka yang saling membelakangi.

Pagi menjelang, Elia, Dave, Angel, dan Billy menikmati sarapan mereka dengan pemandangan langsung mengarah ke pantai. Air laut tampak jernih berkilauan diterpa cahaya matahari pagi. Angel sudah tidak sabar menyelesaikan makanannya. Tatapannya tak lepas dari arah pantai, seolah ombak dan pasir putih itu terus memanggilnya untuk segera beranjak dari meja sarapan.

“Makannya pelan-pelan, sayang,” ucap Billy ketika melihat Angel makan begitu cepat.

“Aku tidak sabar ingin berenang dan berjemur di bawah sinar matahari,” kata Angel penuh antusias. Ia kemudian menoleh ke arah Elia. “Elia, kau bawa bikini kan?”

Gerakan tangan Elia tertahan saat sedang menuangkan air untuk Dave. Ia tersenyum kecil dan menggeleng. “Aku tidak punya bikini, Kak,” ucapnya malu-malu.

“Astaga, serius?,” sahut Angel dramatis. “Ya sudah, kalau begitu pakai punyaku saja. Kebetulan aku membawa beberapa pasang bikini. Kita harus menikmati terik matahari pantai yang indah ini.”

Elia tampak ragu sejenak. “Tapi aku sedang datang bulan, Kak. Aku tidak bisa menemanimu berenang.”

“Itu tidak masalah,” balas Angel cepat. “Yang penting kita berjemur di bawah sinar matahari. Mumpung masih pagi, kalau sudah siang mataharinya sudah tidak sebagus ini lagi.”

Billy berdeham memberi kode pada Angel jika ia tidak melupakan nya. "Oh,Sayang tentu saja dengan mu juga" katanya sambil mencubit pelan pipi Billy..

Dave yang melihat tingkah manja kakaknya hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Belum sempat ia kembali fokus pada sarapannya, ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Dave segera membuka layar ponsel itu. Ternyata pesan tersebut berasal dari orang suruhan yang ia tugaskan untuk berjaga di sekitar Apartemen Bells.

Michael:

Selamat pagi, Tuan Dave. Sejauh ini belum ada hal-hal mencurigakan di sekitar Apartemen Bells. Saya juga belum melihat Nona Bianca keluar dari gedung apartemen.

Dave menarik napas pelan setelah membaca pesan itu. Sebelumnya, ia memang sudah mengirimkan foto Bianca kepada orang-orangnya, agar mereka dapat dengan mudah mengenali wajah kekasihnya itu jika sewaktu-waktu Bianca meninggalkan area apartemen.

Mungkin karena masih pagi, ditambah Alex yang tampaknya juga sibuk dengan urusannya sendiri, Dave memerintahkan orang suruhannya untuk tetap waspada, terutama saat malam hari.

Dengan bayaran yang tinggi, Michael dan anak buahnya tak mempermasalahkan kelelahan. Mereka rela kurang tidur demi menjaga area apartemen, duduk berjam-jam di dalam mobil yang terparkir strategis, memastikan tidak ada hal mencurigakan yang lolos dari pengawasan mereka.

Tak sampai lama setelah sarapan usai, Angel langsung bangkit dari kursinya. Tanpa banyak bicara, ia menarik lengan Elia dan menyeretnya menuju kamar.

Billy hanya menggeleng pelan melihat tingkah istrinya. Ia memilih tetap duduk santai, menikmati cerutu mahal di tangannya ditemani sebotol bir dingin.

“Nah, pilih saja. Kau mau pakai yang mana?” tanya Angel begitu mereka tiba di kamar. Ia membentangkan beberapa bikini yang dibawanya di atas ranjang.

Elia memperhatikan satu per satu, lalu menunjuk sebuah bikini berwarna merah muda. “Yang ini saja, Kak,” ucapnya pelan. Model bikini dengan atasan nya menyerupai seperti tank top dengan lengan balon. Lalu ada rok panjang yang membelah hingga ke paha atas untuk menutupi bagian bawah.

“Oke, ambil saja dan ganti sekarang. Aku tunggu,” titah Angel sambil menarik pelan tubuh Elia menuju bilik mandi.

Dengan sedikit ragu, Elia mulai melepas kaos dan celana pendek selutut nya. Bikini berwarna merah muda itu masih ia genggam erat, seolah memberi dirinya keberanian sebelum akhirnya dikenakan.

Beberapa saat kemudian, Elia keluar dari kamar mandi. Angel langsung menoleh,bahkan tampak sedikit pangling. Penampilan Elia terlihat lebih terbuka dari biasanya, namun sama sekali tidak terkesan vulgar. Justru ada kesan manis yang alami.

“Apa aku tidak cocok memakai ini?” tanya Elia ragu.

Angel melangkah mendekat.

“Kau sangat cocok memakai bikini ini,” pujinya tulus, membuat Elia tersipu dan menundukkan wajahnya.

“Tapi ada satu yang kurang. Kemari,” lanjut Angel.

Ia mendudukkan Elia di sofa, lalu mengeluarkan peralatan makeup dari dalam tasnya. Meski tujuan mereka hanya berjemur di pantai, Angel tetap percaya satu hal penampilan harus tetap on point, apalagi jika ingin mengabadikan momen bersama lewat foto.

“Kak, untuk apa? Kita akan berpanas-panasan. Nanti makeup-nya juga luntur,” ujar Elia ragu.

“Aku tahu,” jawab Angel sambil tersenyum. “Tapi tidak ada salahnya berdandan sedikit.”

Ia memulai dengan membersihkan wajah Elia menggunakan toner, lalu mengoleskan sunscreen cukup tebal. Riasannya dibuat sangat tipis, sekadar memberi kesan segar agar wajah Elia tidak terlihat pucat di bawah terik matahari.

Selesai mendadani Elia, Angel kembali menarik lengan adik ipar nya keluar. Ia berjalan menuju dua pria yang sedang mengobrol.

“Sayang, aku mau berenang. Kau mau ikut?” ajak Angel sambil melangkah keluar melalui pintu kaca.

Billy dan Dave menoleh hampir bersamaan. Namun hanya Dave yang langsung terpaku. Tatapannya melekat pada Elia, penampilannya tampak berbeda, lebih cantik dari biasanya. Ia bahkan lupa berkedip.

Perlahan Dave bangkit dari kursinya, melangkah mendekat ke arah Elia dan Angel, seolah ditarik oleh sesuatu yang tak mampu ia jelaskan.

“Kau cantik sekali,” ucap Dave lirih.

Entah angin pantai dari arah mana yang membawanya hingga tanpa sadar ia memuji Elia seperti itu.

Angel mendengus pelan. “Kau ini ke mana saja, Dave? Tinggal serumah tapi baru menyadarinya sekarang,” omelnya.

Dave sama sekali tak mengindahkan ucapan Angel. Pandangannya masih tertambat pada Elia. Selama ini ia terbiasa melihat wanita itu tampil sederhana, apa adanya. Dan karena ia belum pernah benar-benar menyentuhnya, penampilan Elia saat ini terasa begitu asing. Membuat Dave pangling dan sulit berpaling.

“Terima kasih,” sahut Elia sambil sedikit menundukkan kepala, pipinya menghangat karena malu.

“Ayo, Sayang, kita berenang sekarang,” ucap Billy yang sudah siap dengan setelan pantainya. Ia merangkul Angel, lalu sengaja melangkah lebih dulu, meninggalkan Elia bersama Dave.

Dave meraih lengan Elia, menariknya perlahan agar mengikuti Angel dan Billy. Sentuhan itu membuat Elia terdiam sejenak. Ada perasaan bahagia yang mengalir tanpa ia sadari, membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Untuk sesaat, Elia seakan melupakan kejadian semalam. Malam yang membuatnya menangis hingga tertidur dengan hati yang masih perih..

1
Nnar Ahza Saputra
klw ada yg lebih baik dari Dave, mending tinggal kn..elia bisa hidup mandiri.. daripada bertahan yg ada hnya sakit hati,,
Vianny: Hallo Kak Nnar terimakasih sudah membaca tulisanku semoga suka ya dengan ceritanya. 🥰
total 1 replies
partini
hati seorang istri yg lemah lembut kaya lelembut ya gini, biar pun lihat dengan mata kepala nya suaminya lagi bercinta behhhh is ok is ok
partini: Thor komen buat karakter nya di novel bukan menerka" alurnya kalau tidak ya bagus bearti dia wanita yg BADAS 👍
total 2 replies
partini
coba nanti kalian tau kalau anakmu bermain lendir Weh,
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
partini: author lama di sini Thor spesialis rumah tangga tiga orang ,tapi Endingnya hampir sama semua back together again
total 2 replies
Vianny
Iya😄
partini
itu tiga cogan siapa Thor, temennya Dave
lover♥️
nanti juga nyesel tuh Dave minta kesempatan yg sudah" kaya gitu bilang i love khilaf dll
Vianny: Pasti, karena penyesalan itu muncul selalu di akhir 🤭
total 1 replies
partini
oh betul ternyata bermain lendir weleh
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
Vianny: Xie xie 🥰🥰
total 3 replies
partini
menarik ini cerita,apakah setelah puas bermain lendir dengan Bianca dan sesuatu terjadi dia antar mereka berdua datang penyesalan di hati Dave dan ingin kembali ke istri bilang minta maaf ,,
semoga berbeda ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!