NovelToon NovelToon
Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pelakor jahat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Duda / Berbaikan
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.

​Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."


​Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Cemburu Buta

​​"Siapa bule sok ganteng yang dari tadi senyum-senyum ke arah kita itu, Raka?"

​Kalandra berbisik tajam sambil menyikut rusuk Raka. Matanya menyipit tidak suka, menatap sosok pria jangkung berambut pirang yang baru saja masuk ke lobi markas besar kepolisian dengan langkah percaya diri. 

Pria itu memakai setelan jas biru laut yang harganya mungkin setara gaji Kalandra setahun, dan senyumnya... ugh, terlalu putih, terlalu bersinar.

​Raka yang sedang mengunyah donat langsung tersedak. "Uhuk! Itu... itu Dr. Alex, Ndan. Bantuan forensik internasional yang dikirim sama Interpol buat bantu kasus Hanggara. Katanya sih dia spesialis profil perilaku kriminal dari London."

​"Interpol? Siapa yang minta bantuan?" dengus Kalandra, tangannya tanpa sadar meraba perban di lengan kirinya yang berdenyut nyeri. "Kita sudah punya Zoya. Ngapain butuh bule?"

​Belum sempat Raka menjawab, pria bule itu—Dr. Alex—sudah melihat keberadaan mereka. Lebih tepatnya, dia melihat Zoya yang berdiri di samping Kalandra sambil membaca berkas.

​Wajah Dr. Alex langsung cerah seketika. Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan berseru antusias.

​"Zoya! My goodness, is that you?!" (Zoya! Ya ampun, itu kamu?!)

​Zoya mendongak. Matanya yang biasanya datar langsung membulat kaget, lalu... berbinar? 

Kalandra menahan napas. Istrinya tersenyum! Senyum lebar yang jarang sekali dia lihat.

​"Alex? No way!" (Alex? Gak mungkin!) seru Zoya.

​Tanpa mempedulikan Kalandra yang berdiri kaku di sebelahnya, Zoya melangkah maju menyambut pria itu.

​Dan terjadilah.

​Dr. Alex langsung memeluk Zoya. Bukan pelukan sopan ala pejabat, tapi pelukan erat ala teman lama yang sangat akrab. 

Dia bahkan mencium pipi kanan dan kiri Zoya—gaya sapaan cipika-cipiki ala Barat yang membuat darah Kalandra mendidih sampai ke ubun-ubun.

​"Ehem!" Kalandra berdehem keras. Sangat keras sampai mirip orang batuk TBC.

​Zoya melepaskan pelukannya, tapi tangannya masih memegang lengan Alex. Wajahnya terlihat excited.

​"It’s been ages! Since the conference in Vienna, right?" (Sudah lama banget! Sejak konferensi di Wina, kan?) tanya Zoya lancar dengan aksen Amerika yang sempurna.

​"​Yes! You look stunning as always, The Scalpel," (Ya! Kamu terlihat memukau seperti biasa, Si Pisau Bedah),” puji Alex sambil menatap Zoya dari atas ke bawah dengan tatapan kagum. "I heard you tried to catch a bad guy with a fire extinguisher? That is so... wild." (Aku dengar kamu mencoba menangkap penjahat pakai tabung pemadam? Itu sangat... liar.)

​Zoya tertawa renyah. Tawa yang terdengar sangat merdu di telinga Kalandra, tapi menyakitkan hati karena bukan dia penyebabnya.

​"Well, desperate times call for desperate measures," (Yah, situasi darurat butuh tindakan nekat,) jawab Zoya.

​Mereka berdua asyik mengobrol, tertawa, dan saling melempar lelucon cerdas dalam bahasa Inggris yang cepat. Mereka seolah membuat gelembung dunia sendiri di tengah lobi kantor polisi yang ramai. Dunia di mana hanya ada dua orang jenius yang saling memahami.

​Kalandra berdiri di sana seperti patung selamat datang. Dia merasa kecil. Dia merasa bodoh. 

Dia cuma polisi lokal yang bisanya tembak-tembakan dan pukul-pukulan, sementara istrinya sedang berdiskusi tingkat tinggi dengan pria yang jelas-jelas selevel dengannya.

​"Ndan, sabar Ndan... laras pistolnya jangan diremas, nanti bengkok," bisik Raka ngeri melihat tangan Kalandra yang gemetar menahan emosi di pinggang.

​Kalandra tidak menjawab Raka. Dia melangkah maju, memotong jarak antara Zoya dan Alex dengan kasar. Bahu kekarnya sengaja menabrak bahu Alex sedikit.

​"Zoya, kita harus rapat," ucap Kalandra kaku, matanya menatap tajam ke arah Alex.

​Alex tidak tersinggung, dia malah tersenyum ramah dan mengulurkan tangan. "Oh, you must be the husband. Detective Kalandra, right? Zoya talks about you." (Oh, kamu pasti suaminya. Detektif Kalandra, kan? Zoya cerita soal kamu.)

​Kalandra menatap tangan Alex dengan tatapan jijik, lalu menyalaminya sekilas dengan remasan yang terlalu kuat. "Kalandra. Komandan Unit Reskrim. Dan ini kantor saya, bukan kafe tempat reuni."

​"Nice to meet you. I'm Dr. Alexander Smith," (Senang bertemu denganmu. Saya Dr. Alexander Smith,) Alex menarik tangannya yang kesakitan sambil tetap tersenyum. Dia kembali menoleh ke Zoya, mengabaikan permusuhan Kalandra.

​"Anyway, Zoya, about Hanggara's profile. I think he is using a modified neurotoxin based on the symptom you described," (Ngomong-ngomong, Zoya, soal profil Hanggara. Aku rasa dia pakai racun saraf yang dimodifikasi berdasarkan gejala yang kamu jelaskan,) kata Alex, kembali masuk ke mode diskusi medis. "Maybe something similar to Tetrodotoxin but synthesized? What do you think?" (Mungkin mirip racun ikan buntal tapi buatan? Gimana menurutmu?)

​Zoya mengangguk antusias, bibirnya sudah terbuka hendak menjawab dengan teori biokimia yang rumit.

​"I agree. Because the muscle rigidity was—" (Aku setuju. Karena kekakuan ototnya itu—)

​Sebelum Zoya sempat menyelesaikan kalimatnya, Kalandra tiba-tiba melangkah cepat dan menyelipkan tubuh besarnya tepat di tengah-tengah mereka. Dia memunggungi Alex, menghadap Zoya, lalu berbalik lagi menghadap Alex, memblokir pandangan bule itu ke istrinya sepenuhnya.

​Tembok manusia bernama Kalandra kini memisahkan dua jenius itu.

​Alex mundur selangkah, bingung. "Excuse me?" (Permisi?)

​Kalandra memasang wajah paling serius, paling garang, dan paling datar yang dia punya. Dia menatap Alex dengan tatapan 'jangan-macam-macam-sama-milik-gue'.

​"Maaf, Mister Alex," potong Kalandra dengan suara tegas dan lantang. Dia mengangkat tangannya, memberi isyarat stop. "Stop ngomong bahasa alien di sini."

​Zoya melongok dari balik punggung suaminya, keningnya berkerut. "Mas? Apaan sih? Kita lagi bahas racun..."

​Kalandra menoleh sedikit ke belakang, memberi tatapan memperingatkan pada Zoya, lalu kembali menatap Alex.

​"Anda tamu di sini, jadi pakai Bahasa Indonesia," kata Kalandra.

​Alex tampak bingung. "But... Zoya speaks perfect English. It's easier for medical terms." (Tapi... Zoya bahasa Inggrisnya lancar banget. Lebih gampang buat istilah medis.)

​Kalandra menggeleng dramatis. Dia menepuk dadanya sendiri, lalu menunjuk Zoya dengan jempol.

​"Tidak, tidak," ucap Kalandra bohong tanpa berkedip. Wajahnya lurus tanpa dosa. "Anda salah informasi. Istri saya ini orang kampung sini asli. Lidahnya kaku. Dia nggak bisa bahasa Inggris. Dia cuma ngangguk-ngangguk tadi karena sopan saja."

​Zoya membelalakkan mata, mulutnya menganga lebar. "HAH?!"

​"Really?" (Masa sih?) Alex menatap Zoya ragu. "But she lived in Baltimore..." (Tapi dia kan tinggal di Baltimore...)

​"Hoax itu," potong Kalandra cepat, makin ngawur. "Dia cuma pernah nonton film Hollywood, jadi sok tahu sedikit. Aslinya nol besar. Yes No doang bisanya. Jadi kalau Anda mau ngomong sama istri saya, Anda harus lewat saya sebagai penerjemah. Titik."

​Zoya menendang betis Kalandra dari belakang. "Mas! Jangan bikin malu! Aku lulusan Johns Hopkins! Dan dari tadi aku ngomong sama dia pakai bahasa Inggris," desisnya.

​Kalandra tidak peduli. Dia merangkul bahu Zoya erat-erat, menempelkan istrinya ke sisi tubuhnya, lalu menatap Alex dengan senyum kemenangan yang menyebalkan.

​"Ada masalah, Mister? Atau Anda mau saya carikan kamus Bahasa Indonesia dulu di toko buku?"

1
olyv
🤣🤭 pak komandan fall in love bu dok
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
hahah dadah ulat bulu 🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
🤣🤣🤣🤣 ngakak...senjata makan tuan
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
olyv
👍👍
Yensi Juniarti
mulai posesif mas pol ini 🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha iya
total 1 replies
Warni
Wah sdh di teror gais
Savana Liora: mulai ya
total 1 replies
Warni
🤣
Warni
😫
Warni
🥰😂
Warni
😂
tutiana
hadir Thor⚘️⚘️⚘️
Savana Liora: selamat baca kk
total 1 replies
Warni
😂
Warni
Di sentil
Warni
🥰
Warni
Wauuu🥰
Warni
😱
Warni
🥰
olyv
wokeh thor... semangat 👍👍💪💪💪
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Warni
Akur🤣
Warni
Wau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!