Jennie Revelton (25) seorang penulis novel dewasa yang terkenal dengan fantasi sensualnya tiba-tiba mengalami writer’s block saat mengerjakan proyek terbesarnya. Semua ide terasa mati hingga seorang pria baru pindah ke unit sebelah apartemennya.
Pria itu adalah tipikal karakter novel impiannya: tampan, mapan, dewasa, dan terlalu sempurna untuk menjadi tetangga. Tanpa sadar Jennie menjadikannya bahan fantasi untuk menghidupkan kembali gairah menulisnya.
Namun semakin sering ia mengamati dan membayangkan pria itu, perasaan Jennie mulai berubah. Dia tak lagi ingin pria itu hanya hidup di atas kertas, tapi juga menginginkannya di dunia nyata.
Keadaan menjadi rumit ketika pria itu mengetahui bahwa dirinya adalah objek fantasi erotis dalam novelnya. Alih-alih marah atau menjauh, pria itu justru mengajukan sebuah penawaran tak terduga.
"Daripada hanya mengandalkan imajinasi, bukankah lebih nikmat jika kau bisa merasakannya langsung?" ~~Johan Alexander.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Rahasia dibalik Penawaran Johan
Jennie tengah sibuk berkutat dengan draft kontrak serial Midnight Heat. Karena tinta printernya habis, dia dengan santai menuju ke apartemen Johan dan melipir ke ruang kerjanya, dan hari itu Johan kebetulan harus ke kantor karena ada meeting mendadak.
Toh, pria itu sudah bilang berkali-berkali : "Pakai dan ambil apa saja yang kamu butuhkan, Sayang."
Saat sedang mencari kertas HVS di laci bawah meja kerja Johan, mata Jennie menangkap sebuah map berwarna biru yang terselip diantara tumpukan cetak biru bangunan. Ada label kecil di pojoknya yang ditulis dengan tangan : PROJECT: L.V."
L.V.? Lady Velvet?
Jantung Jennie berdesir, rasa ingin tahunya mendadak meledak. Dia menarik map itu dan membukanya perlahan, dan seketika dunianya serasa dijungkir balikkan.
Di dalam map itu bukanlah denah dan perhitungan struktur bangunan melainkan profil lengkap tentang dirinya dan juga hasil penyelidikan.
Di lembar pertama, Jennie menemukan catatan tangan Johan :
Lady Velvet bukan hanya penulis erotika, dia adalah seseorang yang mendambakan perlindungan dibalik keberaniannya. Aku harus menemukan siapa yang bisa menulis dengan rasa haus seperti ini.
"Jadi dia sudah pernah membaca karya-karyaku sebelumnya?" gumam Jennie.
Dia membalik halaman berikutnya, ada bukti pelacakan alamat IP pengiriman naskah ke penerbit.
Karena dia tidak pernah muncul di publik sebelum skandal tempo hari, Johan rupanya bekerja keras untuk melacaknya. Di dalam map itu terdapat foto-foto Jennie dari kejauhan, entah saat dia sedang melamun di toko buku, mencari udara segar di kafe, atau saat dia pergi berbelanja.
Ada juga catatan tentang rutinitasnya :
Subjek sangat tertutup, tetapi terkadang dia suka duduk di balkon apartemennya sembari memangku laptopnya.
Dia suka memesan americano dengan dua tetes madu, dan dia terlihat lebih cantik saat sedang frustasi karena tulisannya macet.
Membeli unit di sebelah unit miliknya, dan saat pindah pastikan dia melihatku, karena tidak ada yang bisa menolak pesona seorang Johan Alexander.
Mencari cara agar bisa dekat dengannya.
Tangan Jennie gemetar, jadi saat dia melihat Johan pindahan setahun yang lalu itu sudah direncanakan? Punggung lebar yang terkena sinar matahari sore kala itu adalah perangkap? Maha karya Tuhan yang jatuh dari langit itu adalah umpan?
Tak hanya itu, Jennie juga menemukan novel pertamanya yang berjudul The Crimson Night. Saat dia membukanya, dia menemukan tulisan tangan Johan di halaman judul :
"Untuk diriku sendiri, aku akan menemukan wanita yang menulis ini dan aku akan menjadikannya milikku. --- J.A."
Di bawah tulisan itu, ada tanda tangan Johan yang besar, seolah dia sudah menandatangani kepemilikan Jennie jauh sebelum mereka bertemu.
"Brengsek," umpat Jennie pelan, tapi dadanya bergemuruh hebat. Rasa marah, kaget, dan tersanjung berperang di dalam dirinya.
Pria sehebat Johan Alexander ternyata adalah penggemar fanatik yang rela melakukan usaha seobsesif ini hanya untuk menarik perhatiannya.
Suara handle pintu yang berputar membuat Jennie tersentak. Dengan kecepatan kilat dia merapikan map itu dan menyelipkannya kembali ke laci, lalu dia berpura-pura mengecek printer saat Johan melangkah masuk.
"Hai, kamu di sini?" Johan mendekat dan melepaskan dasinya lalu merangkul Jennie dari belakang.
"Mas," panggil Jennie dengan nada santai, berusaha menormalkan suaranya. "Ingat tidak saat kamu baru pindah ke sini setahun yang lalu?"
Johan terkekeh di lehernya. "Kenapa tiba-tiba ingat itu?"
"Kamu memang sengaja melepas kemejamu saat mengangkat barang-barang, ya?" tanya Jennie kemudian berbalik untuk menatap mata Johan. "Sengaja pamer otot supaya orang-orang yang melihatnya terkesan?"
Johan terdiam sejenak, ada kilatan aneh di matanya sebelum dia tersenyum tenang. "Memangnya kamu terkesan?"
"Sangat," jawab Jennie dengan jujur. "Oh iya, aku juga baru sadar saat pertama kali membuatkanku kopi kamu membuat Americano dengan dua tetes madu, kamu tahu darimana aku suka itu?" sambungnya dengan mata menyipit.
"Mungkin aku punya insting yang kuat soal wanita sepertimu," jawab Johan dengan enteng sembari mencium ujung hidung Jennie.
Insting matamu! batin Jennie kesal, pria ini tak kalah dari seorang aktor handal.
Jennie menyadari bahwa Johan mencintainya dengan cara yang cukup ekstrem, dan dia juga merasa di permainkan.
Dia selama ini berpikir dialah yang mengejar-ngejar Johan untuk dijadikan objek imajinasinya, tapi ternyata sejak awal dialah yang menjadi target pria itu.
"Tiba-tiba aku memiliki ide dan ingin membuat novel baru," ujar Jennie.
"Tentang apa?"
"Tentang seorang pria yang terobsesi pada seorang penulis sampai pura-pura menjadi orang asing," jawab Jennie.
Johan mengerutkan keningnya, namun tetap terlihat tenang. "Kedengarannya bagus, kamu butuh bantuan untuk riset?"
"Tentu," balas Jennie lalu menyeringai seksi. "Kali ini risetnya lebih mendalam dan panas, dan kamu harus melakukan apapun yang aku minta untuk pedalaman karakter. Siap, Tuan Arsitek?"
Johan menaikkan alisnya terlihat tertantang tanpa tahu bahwa rahasianya sudah terbongkar. "Apapun untukmu, Babe."
Hari itu Jennie memilih untuk menyimpan rahasia yang dia temukan, dia akan membiarkan Johan merasa sukses dengan rencananya, sementara dia akan menarik tali-tali di belakang layar.
Dia akan melakukan balas dendam yang manis, seksi, dan tentu saja sangat melelahkan bagi Johan.
Bersambung