setelah berhasil membalas dendam, Tang Yan merasakan kelegaan di hatinya yang membuat kepribadian nya berubah riang dan sedikit konyol.
perjalanan Tang Yan kali ini akan dimulai dari dunia Cyber-kultivasi.
bagaimana ceritanya..? tunggu dan nantikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
membuat masalah tanpa sengaja
Seluruh laboratorium menjadi sunyi senyap. Para ilmuwan yang tadinya ingin mengusir Tang Yan kini mematung, mulut mereka terbuka lebar. Sensor komputer berbunyi dengan nada tinggi: "Stabilitas Struktur: 100%. Kompatibilitas Biologis: Sempurna."
"Apa... apa yang kau lakukan?" bisik Arthur Lin, gemetar karena emosi. "Kau baru saja menyelesaikan masalah yang kami kerjakan selama sepuluh tahun hanya dengan... sebuah apel?"
Tang Yan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Yah, apel itu punya esensi kayu yang cukup bagus. Ditambah sedikit teknik 'Pemurnian Lima Unsur'. Tapi jangan senang dulu, itu hanya simulasi cahaya. Untuk membuat obat aslinya, aku butuh kuali yang bagus. Dan karena aku tidak punya kuali, kurasa... tabung kaca besar di sana itu bisa kita modifikasi."
"Kau mau menggunakan reaktor fusi kami sebagai kuali alkimia?" tanya ilmuwan itu dengan suara melengking.
"Reaktor fusi? Nama yang keren untuk sebuah kompor besar," sahut Tang Yan riang. "Luna, bantu aku! Cari kabel-kabel tembaga lagi dan... oh, aku butuh sedikit darah dari hewan bertanduk itu di luar."
"Maksudmu Xiao Bai?!" Luna terkejut.
Setelah bersama selama beberapa hari, dan bertanya-tanya, luna tau bahwa binatang itu bernama Xiao Bai. Dia juga tau jika Xiao Bai juga di sebut sebagai binatang suci kilin dari mulut Tang Yan.
"Hanya sedikit! Dia punya elemen petir yang bagus untuk menstabilkan reaksi suhu tinggi," kata Tang Yan sambil tertawa nakal.
Di sudut ruangan, Chu Ziyi hanya bisa menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding metalik yang dingin. "Dunia ini akan hancur dalam kegilaannya, atau dia akan menjadi penguasa baru di sini tanpa ia sadari sendiri."
Selama sisa hari itu, laboratorium Lin-Genetics yang biasanya tenang dan steril berubah menjadi medan perang alkimia. Tang Yan mulai memerintahkan para ilmuwan jenius dunia itu layaknya pelayan magang. Ada yang disuruh memegang kabel, ada yang disuruh mengaduk cairan kimia secara manual dengan irama tertentu, sementara Tang Yan sendiri sibuk mencoret-coret layar sentuh mahal dengan simbol-simbol Rune kuno menggunakan spidol permanen.
Arthur Lin hanya bisa menonton dengan perasaan campur aduk antara takut dan bahagia. Dia tahu, mulai hari ini, sejarah medis dunia baru saja dipatahkan oleh seorang remaja konyol yang bahkan tidak tahu cara menggunakan vending machine kopi.
"Paman Arthur!" teriak Tang Yan dari tengah kepulan asap hijau yang beraroma mint. "Jangan cuma berdiri di sana! Ambilkan aku biskuit cokelat! Melakukan keajaiban medis ini membuat gula darahku turun!"
Luna tertawa, sebuah tawa yang tulus. Ia menatap Tang Yan dan menyadari bahwa petualangan yang ia dambakan bukan lagi sekadar impian. Petualangan itu ada di depannya, dalam wujud seorang alkemis konyol yang sedang mencoba memasak serum abadi di dalam mesin nuklir.
Gema dengungan dari reaktor fusi di laboratorium Lin-Genetics semakin intens, berubah dari nada rendah menjadi pekikan frekuensi tinggi yang membuat telinga para ilmuwan berdenging. Di tengah ruangan, Tang Yan berdiri dengan tangan terentang, mengendalikan aliran plasma di dalam tabung reaksi raksasa seolah-olah ia sedang memimpin orkestra cahaya.
Wajah konyolnya yang biasa kini terlihat fokus, membuat luna bertanya-tanya apakah kekonyolan itu hanya sebuah topeng. Saat melihatnya fokus seperti ini, mata luna berbinar penuh kekaguman.
Tepat saat luna masih mengagumi sikap Tang Yan, tiba-tiba ia mendengarnya berbicara. "apa yang kau lihat? Cepat beri aku makan biskuit itu!"
...
Di dalam tabung itu, cairan berwarna keemasan mulai memadat, membentuk butiran-butiran cair yang berpendar. Itulah Serum Phoenix, sebuah mahakarya yang menggabungkan bioteknologi masa depan dengan pemurnian esensi jiwa kuno.
"Selesai!" teriak Tang Yan sambil menjentikkan jarinya.
Seketika, tekanan di dalam ruangan menurun. Pintu reaktor terbuka dengan desisan uap dingin, menampakkan tiga botol kecil berisi cairan yang bersinar lembut. Arthur Lin melangkah maju dengan tangan gemetar, mengambil salah satu botol itu seolah-olah memegang jantung alam semesta.
"Ini... ini akan mengubah segalanya," bisik Arthur. Ia tahu bahwa serum ini bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga memberikan regenerasi sel yang hampir abadi bagi manusia fana.
Namun, momen kemenangan itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba, dinding kaca laboratorium yang antipeluru itu bergetar hebat. Layar-layar monitor di seluruh ruangan berubah warna menjadi merah darah, dan sebuah logo elang hitam muncul di semua permukaan hologram.
"Arthur Lin! Kau pikir kau bisa menyembunyikan 'aset' berhargamu di lubang tikus ini?"
Suara itu berasal dari Victor Valerius, kepala Keluarga Valerius—pesaing bisnis paling kejam dan haus darah di Neo-Ark. Melalui proyeksi hologram raksasa di tengah ruangan, Victor muncul dengan senyum sinis. Di belakangnya terlihat pasukan tentara bayaran berzirah berat yang sudah mengepung pintu masuk fasilitas tersebut.
"Serahkan pemuda itu dan formula serumnya sekarang, atau aku akan meratakan pegunungan ini bersama semua orang di dalamnya!" teriak Victor.
Tang Yan, yang sedang membersihkan sisa biskuit di jarinya, menoleh ke arah hologram Victor. "Paman, siapa orang berisik dengan gaya rambut seperti ekor ayam ini? Mengganggu orang makan saja."
Victor Valerius memerah karena marah. "Kau! Kau hanya bocah rongsokan yang beruntung. Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi! Kami adalah penguasa industri senjata kimia. Kau hanya serangga di mata Keluarga Valerius!"
Tang Yan menggaruk kepalanya, merasa kesal karena kedamaiannya diganggu. "Ah, begini saja. Kalian terlalu berisik. Aku sedang mencoba membuat 'Parfum Pengusir Hama' untuk kebun Luna agar tidak bau kimia lagi. Tapi sepertinya aku salah memasukkan sedikit bahan..."
Saat Victor terus memaki dan mengancam lewat transmisi jarak jauh, Tang Yan berjalan ke arah sebuah tong berisi cairan limbah sisa pembuatan serum tadi. Cairan itu berwarna hijau keruh dan mengeluarkan bau yang sangat tajam. Dari dekat baunya seperti campuran antara durian busuk dan belerang. Tapi ketika cairan itu menguap di udara, itu menyebarkan aroma harum seperti bunga.
"Paman Arthur, jangan hirup ini ya," kata Tang Yan sambil menyenggol katup pembuangan limbah yang terhubung ke sistem ventilasi udara terpusat di kawasan industri tersebut.
Sebenarnya, niat Tang Yan hanyalah ingin membuang "sampah" yang baunya mengganggu itu agar Victor segera pergi karena merasa mual. Namun, karena Tang Yan tidak memahami cara kerja sistem ventilasi digital kota yang terintegrasi, ia justru menekan tombol "Dispersi Atmosfer Skala Makro".
Cairan limbah itu bukan sekadar limbah. Itu adalah esensi dari ratusan tanaman beracun yang dimurnikan oleh api alkimia Tang Yan untuk membuang bagian buruk dari Serum Phoenix. Bagi Tang Yan, itu hanya sampah bau. Bagi manusia fana, itu adalah Gas Kematian Sembilan Surga.
"Waduh... sepertinya aku salah tekan tombol," gumam Tang Yan saat melihat lampu indikator berubah dari biru menjadi ungu pekat.