NovelToon NovelToon
Dipaksa Jadi Yang Kedua

Dipaksa Jadi Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: heni

Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.

Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.

Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Tawaran

Jam berkunjung sudah berakhir. Mau tak mau Zella harus menyudahi pertemuannya dengan Ayahnya.

Ayah lama berada dalam dunia penuh tipu daya ini, Ayah sangat faham keadaan Ayah saat ini. Pastinya Ayah saat ini dijebak dalam kasus ini. Keadilan dan perjuanganmu tidak akan berhasil, kecuali kamu bernegoisasi dengan dalang masalah ini.

Perkataan Ayahnya selalu terngiang di telinga Zella. Zella melajukan motornya meninggalkan area kantor polisi, dia menuju sebuah cafe untuk istirahat sejenak dan mencari-cari penginapan terdekat dengan kantor polisi yang menangani kasus Ayahnya. Akhirnya dia menentukan pilihan penginapan setelah lama menelusuri rating penginapan-penginapan yang ditawarkan pada aplikasi.

Selera makannya hilang, kasus yang menjerat Ayahnya membuatnya tak karuan. Tapi dia harus mengisi tenaga agar tubuhnya kuat menghadapi ujian ini. Selesai mengisi perutnya dengan makanan dan minuman segar, Zella melajukan motornya menuju penginapan. Matanya sesekali menatap layar handphone memastikan arahnya benar mengikuti arahan maps.

Melihat keadaan di depannya, jantung Zella berdetak begitu hebat. Zella mengamati keadaan sekitar yang sepi. Sedang di depannya ada sebuah mobil mini bus, dan banyak pria berbadan besar di dekat mobil itu. Salah satu pria yang berdiri paling depan mengisyarat pada Zella agar menepikan motornya.

Ujian apa lagi ini ya Rabb ...

Dengan tenang Zella mengikuti arahan orang itu.

"Nona Zella jangan takut, kami tidak akan melakukan hal yang merugikan Anda."

"Hah??" Zella mencubit kecil pipinya, berharap ini mimpi. Bagaimana bisa orang asing dan tempat yang asing ini ada yang tahu namanya.

"Kami bukan rampok, bukan begal juga. Ikuti saya, bos kami ingin bertemu Anda." Laki-laki itu mengajak Zella agar mengikutinya.

Zella bingung, melawan tak mungkin, mau tak mau dia pasrah mengikuti orang asing itu, hingga saat dia berjalan melewati mobil mini bus, di depan mobil mini bus itu ada mobil SUV mewah terparkir.

Tok! Tok!

Laki-laki itu mengetuk lembut kaca jendela mobil SUV mewah itu, dan kaca pun turun sedikit.

"Nona, orang yang Anda tunggu sudah tiba."

Suara lembut seiring bergesernya sedikit demi sedikit pintu mobil itu.

"Silakan masuk kedalam, bos kami menunggu Anda."

Zella tak membuang waktu, dia segera memasuki mobil mewah itu. Udara dingin langsung menyambutnya, terlihat seorang gadis cantik menyambutnya dengan senyuman.

"Arumi?" Zella terkejut melihat wanita yang selama ini mengejar Taufik, kakak sambungnya itu.

"Apa kabar Zella?"

"Aku harus jawab apa? Tentu kau tau bagaimana kabarku."

Wanita itu tertawa lepas. "Duduk dulu, banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu."

"Kalau meminta bantuanku untuk membujuk Kak Taufik menikahimu, aku tak punya wewenang itu."

"Aku menunggumu bukan untuk urusan itu." Arumi meraih thumblernya dan menyesap minuman dingin yang tersimpan di sana.

"Waw, tumben kamu manggil aku bukan urusan tentang Taufik." Zella menatap serius pada Arumi.

"Jadilah madu Kakakku, maka kami akan membantumu untuk membersihkan tuduhan itu pada Ayahmu."

"Apa??" Zella sulit percaya dengan tawaran yang baru saja dia dengar. Menjadi madu seseorang? Ini adalah hal yang sangat dia hindari. Hal yang sulit dia percaya adalah, perkataan Ayahnya benar, kalau ada dalang yang sengaja menjebak Ayahnya.

"Telingamu masih berfungsi dengan baik kan? Aku tak akan mengulangi perkataanku."

"Arumi, kenapa kamu sekejam ini? Demi tujuanmu tercapai, kamu membuat seseorang berada di posisi terpojok!"

"Bukan aku yang menjebak Ayahmu. Aku hanya negoisasi denganmu. Kalau kamu mau menjadi istri kedua dari suami Kakakku, maka kami akan berusaha membebaskan Ayahmu. Kalau kamu tidak mau, ya kamu harus siap melihat Ayahmu mati dipenjara." Arumi memperlihatkan layar handponenya pada Zella, di sana terlihat keadaan sel tempat Ayahnya terkurung.

"Beneran gila kamu!"

"Em! Em!" Arumi menarikan satu jari ke udara, isyarat 'bukan seperti itu.'

"Aku hanya pekerja keras, aku akan melakukan apa saja demi tujuanku "

Zella menatap penuh emosi pada wanita cantik yang duduk di seberangnya.

"Jangan salahkan aku, tapi salahkan dirimu. Kenapa kamu begitu bersinar. Sehingga sinarmu membuatku terpesona dan ingin menjadikanmu pelindung buat Kakakku."

Zella begitu emosi, namun berkata-kata kasar tak bisa dia lepaskan. Entah pribahasa apa yang tepat untuk wanita gila yang ada di depannya.

"Menjadi istri kedua Kakak iparku tak akan merugikan kamu, Zella. Terlebih Kakak iparku itu orang kaya tapi lumpuh, jadi kamu aman dari ...." Arumi menggoda Zella dengan isyarat 'aman dari urusan ranjang.'

"Aku memang suka memperkaya diri, tapi aku tak menyukai kekayaan orang lain. Yang aku suka diriku yang kaya bukang orang!" jawab Zella, kemarahannya begitu jelas terdengar lewat nada bicaranya.

"Ya aku tau itu, sebab itu butuh strategi untuk memaksamu agar mau jadi yang kedua."

Ya Allah, aku tak ingin menikah lagi, apalagi menjadi yang ketiga dalam biduk rumah tangga orang lain. Tapi bagaimana Ayahku jika aku menolak kesepakatan ini? Jerit hati Zella.

"Sekedar pemberitahuan, kalau kau menolak, bukan hanya Ayahmu yang menderita, tapi aku dengar seseorang merancanakan yang lain untuk mencelakai orang-orang yang kamu cinta, seperti ibumu, adik sambungmu, kakak sambungmu, tak menutup kemungkinan Ayah sambungmu juga."

Zella panik, takut, khawatir jika ucapan Arumi benar akan terjadi. Dia berusaha tenang menghadapi Arumi. "Kenapa harus memaksaku? Tak ada keistimewaan pada diriku!"

"Siapa bilang? Kau malah sangat istimewa, dan kau pilihan yang sangat tepat!"

"Maaf! Aku tak mau!" Zella turun dari mobil itu dengan perasaan kacau.

"Aku beri kamu waktu untuk berpikir Zella. Semakin lama kamu menghindar, yang dirugikan kamu sendiri!" teriak Arumi.

Zella pura-pura tak mendengar teriakan Arumi, dia berjalan cepat menuju motornya.

Zella berusaha melupakan kejadian barusan. Dia meneruskan perjalannya menuju penginapan. Menyegarkan diri, dan merebahkan tubuhnya yang lelah di kamar penginapan itu, namun pikirannya berperang antara berusaha memperjuangkan keinginannya, atau pasrah mengorbankan dirinya demi keselamatan Ayahnya?

Malam itu Zella tak bisa tidur. Paginya matanya terlihat merah. Zella berusaha tak peduli, dia bersiap untuk membesuk Ayahnya di kantor polisi. Dengan tentengan barang belanjaannya, Zella masuk ke ruangan, di mana di sana Ayahnya telah menunggunya. Setelah lolos di pemeriksaan barang, akhirnya Zella bertemu Ayahnya.

"Ayah ...." Zella langsung memeluk Ayahnya.

Sedang Ayahnya tak bisa bebas membalas pelukan hangat itu, satu tangannya terborgol di meja yang menjadi pemisah jaraknya dan putrinya.

"Ayah mau makan?" tawar Zella.

Bagas menggeleng, dia mengamati raut wajah putrinya. "Kamu abis nangis?"

"Iya, aku kan lemah yah. Aku nangis ngadu sama Allah, mengapa ujian ini terjadi, sedang Ayahku dalam proses memperbaiki segalanya."

"Jangan salahin Tuhan, jangan salahin nasib atau apalah itu, namanya juga kehidupan. Saat kita telah berusaha keras menjaga diri, tapi akan ada orang lain yang sengaja nabrak kita."

"Aku nggak nyalahin siapa-siapa Ayah. Aku hanya mengeluh pada Tuhan, dan berharap diberi jalan keluar untuk masalah ini." Zella menghela napasnya panjang. Namun seketika matanya tertuju pada noda coklat yang ada di di bagian perut baju Ayahnya.

"Itu darah?" tunjuk Zella.

"Jangan panik, hanya luka kecil. Preman kecil itu bukan tandingan Ayah." Bagas tersenyum.

"Sudah di rawat?" Zella ingin memeriksa luka Ayahnya. Namun ditolak sang Ayah.

"Luka kecil ini bukan apa-apa bagi Ayah, tenanglah."

"Tapi mengapa mereka menyerang Ayah?"

"Kau lupa siapa Ayahmu? Ayahmu ini banyak musuh, terus Ayah terkurung di penjara. Namanya juga penjara. Ya beginilah."

"Ayah, jika aku menemukan dalang di balik semua masalah ini, apa aku bisa melawan mereka?"

"Melihat bagaimana kerja mereka, Ayah rasa sulit bagimu untuk melawan mereka."

"Berarti solusinya bernegoisasi dengan mereka, bukan?"

Bagas mulai merasa tak enak dengan cara bicara Zella. "Jika bernegoisasi dengan mereka dengan menukar nyawamu. Ayah Nggak rela! Lebih baik Ayah yang mati! Lebih baik Ayah terkurung selamanya di sini!" ucap Bagas penuh ketegasan.

"Nyawaku tidak berharga bagi orang, hanya berharga di mata Ayah. Ku rasa bukan nyawaku yang mereka inginkan."

"Zella jangan sampai merugikan dirimu demi menukar kebebasan Ayah." ucap Bagas penuh harap.

"Ayah, aku belum tau apa yang mereka inginkan dengan menjebak Ayah. Tapi yang jelas aku akan mencari tahu."

1
Ma Em
Semangat Thor semoga menjadi yg terbaik dan selalu mendapatkan rating 🤲🤲🤲.
ᗰIՏՏ ᘜᗩᑭTᗴK ᵖⁱⁿⁿ: Aamiin, makasih😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!