Vilov tidak pernah berniat jatuh cinta dua kali.
Awalnya, ia yakin Putra adalah sosok yang tepat—hadir, hangat, dan selalu ada di sisinya.
Namun satu tatapan pada Tora mengubah segalanya.
Tora bukan siapa-siapa bagi Vilov. Ia dingin, pendiam, dan bahkan tak pernah menyadari keberadaannya.
Tapi sejak saat itu, hati Vilov berhenti mendengarkan logika.
Banyak yang mendekat. Banyak yang ingin memiliki Vilov.
Namun di antara tawa palsu dan hubungan yang tak pernah benar-benar ia rasakan, satu nama selalu tinggal di hatinya.
Tora.
Di usia remaja, Vilov belajar bahwa mencintai tak selalu berarti memiliki.
Akankah ia bertahan pada perasaan sepihak yang perlahan melukainya?
Ataukah ia akan memilih cinta baru—yang hadir, nyata, dan benar-benar menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mega L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Basa-basi dan Salah Tingkah
Saat motor Putra berhenti tepat di depan rumahnya, Vilov pun melangkah keluar. Malam itu ia mengenakan pakaian yang simpel namun tetap terlihat manis di mata siapa pun yang memandangnya. Putra sempat meliriknya sekilas sebelum berkata, "Ayo, naik," ucap Putra sambil dengan sigap menurunkan pijakan kaki motor untuk Vilov.
"Makasih, Putra," sahut Vilov pelan. Hatinya menghangat melihat perilaku Putra yang begitu perhatian pada hal-hal kecil seperti itu.
Motor pun melaju membelah jalanan malam menuju tempat nongkrong. Di tengah perjalanan, Vilov sengaja membuka obrolan lebih dulu untuk mencairkan suasana. "Put, makasih ya sudah repot-repot jemput gue."
Putra membalas santai melalui balik helmnya, "Nggak apa-apa, santai aja kok."
Vilov terdiam sejenak, otaknya berputar mencari topik pembicaraan selanjutnya agar obrolan mereka tidak terputus.
Sampai akhirnya, sebuah pertanyaan muncul di kepalanya. "Put, kalau yang lain lihat kita barengan gini terus kita digodain, lu malu nggak? Semisalkan lu malu... turunin gue saja sebelum sampai tempat tongkrongan nanti."
"Yakin?" tanya Putra singkat.
Tak disangka, Putra tiba-tiba menghentikan motornya di pinggir jalan. "Di depan itu tempat tongkrongannya. Lu beneran mau gue turunin di sini?" tanya Putra serius.
Vilov tersentak kaget. Jantungnya berdegup kencang karena sebenarnya ia hanya ingin berbasa-basi, tapi ternyata Putra justru menanggapinya dengan sungguh-sungguh. Vilov mengedarkan pandangan ke area sekitar; suasana malam yang mulai sepi dan remang-remang membuat nyalinya menciut.
Ia menelan ludah dengan susah payah dan menatap punggung Putra dengan wajah memelas. "Put, tadi gue cuma basa-basi... Ini beneran gue mau diturunin?" ucap Vilov sambil menarik kecil ujung baju Putra, seolah takut ditinggalkan.
Putra menoleh, melihat wajah Vilov yang benar-benar ketakutan. Tak lama, tawa Putra pecah. "Vilov, Vilov... gaya-gayaan basa-basi, ujung-ujungnya ketakutan juga," sahut Putra sambil menyalakan kembali mesin motornya.
"Gue nggak bakal tega lah ninggalin lu sendirian di sini, hahaha. Lagian kalau digoda ya sudah, dengerin saja, Vil," sambung Putra sembari melanjutkan perjalanan. Vilov terdiam, pipinya terasa panas mendengar jawaban Putra yang terdengar sangat melindungi itu.
Sesampainya di tempat tujuan, ternyata teman-teman tim hockey sudah berkumpul ramai. Putra segera memesan dua gelas hot chocolate. Saat mereka baru saja bergabung dan duduk di antara yang lain, godaan langsung meluncur deras.
"Ehemm... sudah jadian belum, nih? Berduaan terus kayak truk gandeng," celetuk salah satu teman Putra. Putra tidak membantah, ia hanya menanggapi dengan senyuman tipis yang penuh rahasia.
Vilov yang duduk di dekat pelatih pun tak luput dari sasaran. "Kamu jadian, Vil? Congrats lah, hehe," goda sang Pelatih.
"Maunya sih gitu, Kak. Doain saja," bisik Vilov sangat pelan ke telinga Pelatih agar tidak terdengar yang lain.
Tak lama, pesanan mereka datang. Putra mengambil minuman tersebut dan memberikannya langsung ke tangan Vilov. "Ini minumnya. Lu udah makan belum? Tadi sekalian udah gue pesenin makanan, tunggu ya," ucap Putra lembut.
Vilov hanya bisa melirik, berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak berteriak kegirangan atau terlihat terlalu salah tingkah. Namun, sang Pelatih kembali menggoda, "Pesennya cuma satu, padahal di sini orangnya banyak banget ya," ucap Pelatih sambil tertawa melihat perhatian berlebih Putra pada Vilov.
Mendengar itu, Vilov hanya bisa terdiam. Ia segera mengirim pesan singkat kepada Tika di bawah meja. "Baper banget gue asli, rasanya mau gue peluk aja nih si Putra," tulis Vilov, curhat habis-habisan.
Sialnya, Vilov lupa kalau Tika adalah ratu jahil. Benar saja, Tika langsung berteriak kencang setelah membaca pesan itu, "WEH! Vilov katanya mau peluk Putra soalnya bikin baper banget!"
Teriakan Tika sukses membuat seluruh orang di tempat itu tertawa terbahak-bahak. Wajah Vilov seketika merah padam seperti kepiting rebus.
"Ehhh, asal banget lu!" bantah Vilov panik. Ia berteriak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menahan rasa malu yang luar biasa sementara jantungnya masih terus berdebar tidak karuan.
Setelah acara nongkrong selesai dan suasana mulai sepi, satu per satu pemain mulai membubarkan diri. Putra berjalan menuju motornya lebih dulu. Ia duduk di atas jok sambil memegangi helm yang akan dipakai Vilov, menunggu gadis itu menghampirinya.
Vilov yang melihat pemandangan itu merasa jantungnya berdebar makin kencang. Ada perasaan yang tak bisa diungkapkan, seperti kembang api yang meledak-ledak di dalam dadanya. Dengan langkah mantap namun hati yang bergejolak, Vilov menghampiri Putra.
"Bang, ke tempat biasa ya!" ledek Vilov dengan nada suara seperti sedang memesan ojek pangkalan.
Putra melirik ke arah Vilov, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman. "Parah... Ojek langganan kali gue," sahut Putra sambil tertawa.
Ia benar-benar tidak menyangka Vilov akan terus menggodanya seberani itu. Di dalam benaknya, Putra membatin bahwa baru kali ini ia bertemu dengan perempuan seunik Vilov—yang konyol, berani, tapi tetap manis di waktu yang sama.
Saat motor mulai membelah kesunyian jalanan pulang, Vilov merasa suasana hatinya sedang berada di puncak. Karena terus-menerus digoda di tempat tongkrongan tadi, keberaniannya mendadak naik drastis.
"Put, udah sayang gue belum?" tanya Vilov frontal. Suaranya sedikit tertahan karena ia sebenarnya juga sedang menahan malu yang luar biasa.
"Kayaknya lu deh yang sayang. Omongan Tika tadi itu beneran dari lu, kan?" balas Putra tenang namun telak, sambil tetap tersenyum di balik helmnya.
Mata Vilov melotot kaget. Ia berusaha keras melupakan kejadian memalukan bersama Tika tadi, tapi Putra justru membahasnya kembali!
"Ahh, si Tika kan emang gitu orangnya, suka asal!" elak Vilov, mencoba bermain aman dengan tidak menjawab "iya" atau "tidak" atas pertanyaan Putra.
"Bener nih?" tanya Putra lagi, seolah ingin meyakinkan diri.
Vilov tidak mau kalah. Ia segera memutar balik keadaan agar tidak terlihat terlalu terpojok. "Kalau iya kenapa, kalau enggak kenapa... Hayooo, lu ngarep ya?" goda Vilov balik dengan nada menantang.
Seketika, Putra terdiam. Ia seolah terjebak dalam pertanyaannya sendiri. Suasana di atas motor mendadak berubah menjadi sunyi yang mendebarkan.
Merasa terjebak dengan pertanyaan balik dari Vilov, Putra hanya terdiam. Ia tidak berani bertanya lebih banyak lagi, khawatir jika ia terus memancing, ia justru akan semakin terpojok oleh jawaban-jawaban Vilov yang tak terduga. Sepanjang sisa perjalanan, hanya suara deru mesin motor yang mengisi kesunyian di antara mereka.
Tak lama kemudian, motor Putra berhenti tepat di depan gerbang rumah Vilov. Vilov pun turun, lalu perlahan melepaskan helmnya dan menyerahkannya kembali kepada Putra.
"Makasih ya, Put. Hati-hati di jalan," ucap Vilov lembut.
Putra baru saja hendak membuka mulut untuk membalas, namun belum sempat kata-kata itu keluar, Vilov sudah kembali memasang wajah jahilnya. Ia menggoda Putra sekali lagi, seolah tak membiarkan cowok itu lolos begitu saja.
"Jadi... beneran nggak mau jawab nih?" tanya Vilov sambil menaikkan sebelah alisnya, menagih jawaban atas pertanyaannya di motor tadi.
Putra tampak gelagapan sejenak. Alih-alih menjawab, ia justru membenarkan posisi duduknya dan memakai kembali kaca helmnya. "Gue duluan ya!" ucap Putra singkat, lalu segera memacu motornya bergegas pergi meninggalkan rumah Vilov.
Vilov yang melihat tingkah Putra yang tampak seperti sedang melarikan diri karena malu itu pun tertawa lepas. Ia berdiri di depan gerbang sambil memandangi punggung Putra yang semakin menjauh. Dalam hatinya, Vilov merasa sangat puas karena ternyata ia punya kekuatan untuk membuat seorang Putra salah tingkah sampai seperti itu.