NovelToon NovelToon
Ayo Bercerai, Mas!

Ayo Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."

Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Medan, Pukul 23.00 WIB

Lampu-lampu kota Medan masih berpijar terang di bawah langit malam yang pekat. Di lantai teratas gedung Skyline Group—salah satu gedung pencakar langit paling prestisius di pusat kota—seorang wanita masih duduk tegak di balik meja mahogani mewahnya.

Papan nama kristal bertuliskan Alsava Emily Claretta memantulkan cahaya lampu ruangan yang temaram.

Sava, begitu orang-orang memanggilnya, menghela napas panjang. Jemarinya yang lentik dengan kuku berpoles nude masih menari di atas keyboard laptop. Sebagai seorang COO (Chief Operating Officer), Sava adalah mesin penggerak internal SL Group. Jika CEO adalah wajah publik yang memikat dunia, maka Sava adalah otak yang memastikan setiap sekrup di dalam perusahaan raksasa ini berputar sempurna.

Tok... Tok... Tok...

"Masuk," suara Sava terdengar serak namun tetap tegas, tanpa mengalihkan pandangan dari layar.

Pintu terbuka, menampakkan Winata Puspa Aditya. Asisten pribadi sekaligus satu-satunya sahabat yang tahu sisi gelap di balik topeng profesional Sava. Wanita berdarah Bali itu menyampirkan tasnya di bahu, menatap Sava dengan tatapan prihatin.

"Belum mau pulang, Va? Ini sudah hampir tengah malam. Medan sedang macet-macetnya karena ada perbaikan jalan di arah inti kota," tanya Winata.

Sava akhirnya menutup laptopnya dengan gerakan kasar. "Pulang? Untuk apa? Menghadap dinding mansion yang dingin itu lagi?" Sava mendesah berat. "Aku jenuh, Win. Kepalaku mau pecah mengurus laporan operasional sementara si 'Tuan Besar' itu malah asyik melakukan perjalanan bisnis di China."

Sava bangkit, merenggangkan tubuhnya yang tinggi semampai—tubuh body goals yang sering membuat rekan bisnisnya salah fokus saat rapat.

"Aku mau ke XZone. Temani aku," cetus Sava tiba-tiba.

Mata Winata membulat. "Lagi? Va, besok pagi kita ada meeting dengan investor dari Singapura pukul sembilan!"

"Itu urusan besok. Malam ini, aku hanya ingin menjadi Sava, bukan Miss Sava sang COO yang kaku," sahut Sava penuh determinasi.

"Baiklah. Aku akan mengantarmu. Tapi janji, jangan sampai membuat keributan," Winata menyerah.

"Good girl!" seru Sava. Semangatnya yang sempat redup kini berkobar kembali.

Tanpa membuang waktu, Sava melangkah menuju sebuah pintu kamuflase di sudut ruang kerjanya. Di balik pintu itu terdapat ruangan rahasia yang super lengkap—fasilitas mewah yang hanya diketahui segelintir orang. Ada ranjang king-size, walk-in closet berisi koleksi desainer ternama, dan kamar mandi dengan jacuzzi.

Sava menanggalkan blazer hitam dan kemeja putihnya yang membosankan. Ia memilih sebuah mini dress ketat berwarna silver yang menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna. Rambut brunette-nya yang semula diikat rapi, ia gerai hingga jatuh bergelombang (curly) di bahunya. Dengan sapuan lipstik merah menyala dan sepatu stiletto hitam setinggi sepuluh senti, ia bertransformasi total.

"Bagaimana?" tanya Sava sambil memutar tubuh di depan Winata.

"Perfect! Kamu selalu tahu cara membuat pria-pria di luar sana lupa cara bernapas," puji Winata tulus.

"Let’s go, babe! Aku butuh dentuman musik untuk mengubur rasa sepi ini."

**

XZone Club, Medan.

Suara dentuman bass menyambut mereka begitu pintu kedap suara XZone terbuka. Bau alkohol bercampur parfum mahal dan asap elektrik memenuhi udara. XZone adalah salah satu nightclub paling eksklusif di Medan, dan secara rahasia, Sava adalah pemegang saham mayoritas di sana. Investasi yang ia lakukan bukan semata demi uang, tapi demi sebuah tempat persembunyian di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri.

Tap... Tap... Tap...

Bunyi heels Sava beradu dengan lantai marmer, namun suara itu tertelan oleh musik racikan DJ. Hampir seluruh mata tertuju padanya. Beberapa pria menatapnya penuh rasa penasaran, sementara yang lain menatapnya dengan nafsu yang terang-terangan.

Penampilan Sava malam itu terlalu menyilaukan. Kulit putihnya seolah bersinar di bawah lampu strobe.

"Selamat datang, Nona Sava!" sapa John, kepala pengawal di sana, dengan nada hormat.

"Hai John! Ramai malam ini?" tanya Sava ramah sambil mengangkat tangannya.

"Selalu ramai jika ada Anda, Nona. Enjoy your time."

Sava langsung menuju lantai dansa. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya bergerak mengikuti irama. Senyuman seksi terukir di bibirnya. Untuk sejenak, ia lupa pada tumpukan dokumen, lupa pada citra COO yang sempurna, dan yang terpenting... ia lupa pada statusnya sebagai seorang istri yang diabaikan.

"Hari ini aku akan minum sampai mabuk!" teriaknya di telinga Winata.

"Jangan gila, Va! Kalau kamu mabuk, aku yang repot menggotongmu ke mobil!" protes Winata.

Sava tertawa renyah, ia membelai wajah asistennya itu dengan manja. "Itu tugasmu, sayang. Malam ini aku ingin hilang kesadaran sebentar saja."

Sava menenggak beberapa gelas tequila berturut-turut. Efek panas mulai menjalar di tenggorokannya, membuat kepalanya terasa ringan.

Saat ia sedang asyik bergoyang, seorang pria asing bertubuh tegap—sepertinya ekspatriat—mencoba mendekat dan meletakkan tangan di pinggang Sava. Dengan sigap, Winata langsung memasang badan dan mendorong pria itu.

"Hi dude! Pergilah!" bentak Winata.

"I like her," ucap pria bule itu dengan mata lapar.

Winata mendekat, berbisik tepat di telinga pria itu dengan ekspresi sangat serius, "Dia transgender! Baru operasi bulan lalu."

Mata pria bule itu membulat sempurna. Ia menatap Sava dari atas ke bawah dengan horor, lalu mundur teratur dan menghilang di kegelapan dance floor.

"Dasar pria tidak tahu diri," umpat Winata puas.

Plak!

Sava memukul pundak Winata sambil tertawa terpingkal-pingkal. Ia mendengar semuanya.

"Sialan kau, Win! Transgender?"

"Lebih baik aku dibilang pembohong daripada harus melihatmu disentuh pria lain lalu 'pria dingin' di rumahmu itu murka dan membunuh kita berdua," celetuk Winata bergidik ngeri.

Sava memutar bola matanya. "Dia tidak akan tahu, Win. Di sini aku adalah wanita lajang. Tidak ada yang tahu aku ini miliknya."

Waktu menunjukkan pukul 01.30 WIB. Winata mulai merasa tidak nyaman. Suara musik semakin memekakkan telinga dan orang-orang semakin liar.

"Pulang yuk? Besok kita harus ke kantor pagi-pagi," ajak Winata sambil menarik tangan Sava.

"Sepuluh menit lagi, Win..." rengek Sava.

"Sepuluh menit di mulutmu itu bisa jadi dua jam! Ayo!" Tanpa menunggu jawaban, Winata menarik paksa pergelangan tangan Sava menuju pintu keluar.

Sava hanya bisa pasrah, ia tahu jika Winata sudah dalam mode "ibu asuh", tidak ada yang bisa membantahnya.

Di dalam mobil sport berlogo kuda jingkrak miliknya, Sava menyandarkan kepala di kaca jendela.

"Win, kenapa ya hidupku begini? Di kantor aku bos, tapi di rumah aku seperti pajangan yang berdebu."

Winata diam sejenak sambil fokus menyetir menembus jalanan Medan yang mulai lengang.

"Mungkin karena kamu terlalu kuat, Va. Pria seperti dia butuh tantangan, tapi dia lupa kalau istrinya juga butuh perhatian."

"Persetan dengan dia. Mulai besok, aku akan mencari hiburan baru," gumam Sava dengan mata sayu.

"Jangan macam-macam, Va."

"Terserah. Aku mau tidur. Bangunkan kalau sudah sampai di mansion," ucap Sava menutup pembicaraan.

"Baik, Nyonya Darwin."

"WINATA!" teriak Sava seketika, matanya mendelik tajam.

Tawa Winata pecah. Ia tahu sebutan itu adalah pemicu amarah Sava. Nama "Darwin" di belakang namanya terasa seperti rantai yang mengikat sayapnya.

**

Mansion Darwin, Medan - 02.00 WIB.

"Selamat malam, Nyonya Alsava Darwin," sapa Bibi Zuni, kepala pelayan, yang selalu setia menunggu di lobi meski hari sudah sangat pagi.

"Malam, Bi. Kenapa belum tidur? Sudah aku bilang jangan menungguku," ucap Sava lembut sambil melepas stiletto-nya yang menyakitkan.

"Saya tidak tenang kalau Nyonya belum pulang," jawab Bibi Zuni tulus.

Sava menatap wanita tua itu dengan iba. "Sekarang Bibi pergi tidur. Ini perintah. Aku tidak mau Bibi sakit. Kalau Bibi tidak menurut, aku akan mengadu pada Mr. Darwin agar gaji Bibi dipotong!" ancam Sava pura-pura galak.

Bibi Zuni tersenyum dan mengangguk, lalu berpamitan.

Sava menaiki anak tangga satu per satu dengan langkah gontai. Mansion ini sangat luas, sangat mewah, hasil karya arsitek ternama. Namun bagi Sava, ini adalah peti mati berlapis emas. Tidak ada kehangatan di sini. Hanya ada sunyi yang mencekam.

Ia masuk ke kamar utamanya. Kamar yang luasnya hampir seluas rumah tipe 36. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang king-size yang empuk. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi.

"Kapan semua ini berakhir, Mas?" bisiknya pada kegelapan.

Tanpa mengganti pakaian, tanpa menghapus makeup, Sava memejamkan mata. Berharap dalam tidurnya, ia bisa menemukan jalan keluar dari labirin pernikahan ini.

**

Beijing, China. Pukul 24.00 (Waktu Setempat).

Di sebuah private club paling eksklusif di Beijing, suasana jauh lebih intim. Seorang pria dengan karisma yang sanggup mengintimidasi ruangan duduk di sofa kulit hitam. Kemeja putihnya dibuka dua kancing teratas, memperlihatkan sedikit dada bidangnya yang atletis. Parasnya benar-benar seperti pahatan dewa Yunani—sempurna namun dingin.

Garvi Darwin. Sang CEO Skyline Group.

"Bagaimana, Roy?" tanya Garvi tanpa menoleh pada asisten pribadinya yang berdiri di samping.

"Nyonya sudah tiba di rumah sepuluh menit yang lalu, Tuan. Dia baru saja pulang dari XZone bersama Nona Winata," bisik Roy hati-hati.

Garvi menyeringai tipis. Matanya yang tajam seperti elang berkilat penuh arti.

"XZone lagi? Istriku sepertinya benar-benar butuh pelepasan."

"Teruskan pantau dia. Pastikan tidak ada satu pria pun yang berjarak kurang dari satu meter darinya tanpa sepengetahuanku," perintah Garvi dengan nada posesif yang tidak bisa dibantah.

"Baik, Tuan."

Tiba-tiba, seorang wanita cantik bergaun merah sangat seksi—Jia, seorang model papan atas China—datang menghampiri dan langsung duduk di pangkuan Garvi. Ia melingkarkan lengannya di leher Garvi dan mengecup pipi pria itu dengan mesra.

"Long time no see, Mr. Garvi. Kenapa tidak bilang kalau ke Beijing?" bisik Jia dengan suara menggoda.

Garvi tidak menolak. Ia justru melingkarkan tangannya di pinggang Jia, menarik wanita itu lebih dekat hingga tubuh mereka tak berjarak.

"Aku suka kejutan, Jia. Dan kamu adalah kejutan yang manis malam ini."

"Kamu tidak berubah, selalu pandai bicara," Jia membelai dada bidang Garvi.

"Mari kita buat malam ini tidak terlupakan," ucap Garvi dengan senyum manipulatifnya. Di kepalanya, ia membayangkan Sava yang sedang tidur di rumah mereka, sementara di sini, ia bebas melakukan apa saja. Bagi Garvi, Sava adalah miliknya yang harus terjaga, namun ia sendiri adalah angin yang tak boleh dikekang.

Drt... Drt...

Ponsel di saku jas Garvi bergetar. Sebuah pesan masuk.

Di tempat lain, di Medan, ponsel Sava yang tergeletak di nakas juga bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk, membawa sebuah foto yang akan menghancurkan sisa-sisa kesabaran Sava esok pagi. Dan Sava masih terlelap, tidak tahu bahwa badai besar baru saja dimulai.

***

1
Umi Kolifah
kamu hebat Sava, semoga garvi sadar perbuatannya menyakitimu sebelum penyesalan datang terlambat
Desi Santiani
semangat thor💪
Desi Santiani
semangat miss sava, semoga gravi segera siuman n dya bisa menunjukan cara mencintaimu dgn lebih nyata
Desi Santiani
semangat thor😍
Desi Santiani
selalu suka dgn karya2nya thor, krna alur cerita nya dkemas apik, tokoh karakter ddlm cerita sgt jelas per partnya, bahasa penulisannya selalu apik.
Desi Santiani
seru thor double up,
Nda
penasaran thor,di tunggu kelanjutanya
Nda
di tunggu double up-nya thor
Murnia Nia
lanjut thor aku kirim vote ni untuk karyamu
Umi Kolifah
buat gavi menyesal Thor , ave pergi sejauh mungkin
Desi Santiani
menarikk alurnya semangat thor
merry
cinta tp menlukai psagann y,,
Nda
selalu mampir thor
Nda
ditunggu double up-nya thor 😍
Nda
ditunggu kelanjutanya thor,ceritanya seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!