NovelToon NovelToon
Dilarang Sentuh Mami: Si Kembar Rahasia Tuan CEO

Dilarang Sentuh Mami: Si Kembar Rahasia Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius / One Night Stand / Hamil di luar nikah
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"


Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.

Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.

​Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.

Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Di Introgasi Monster Bos

​"Pemalas?"

​Satu kata itu menggema di ruangan luas yang hening, memantul di dinding kaca dan mendarat telak di ego Cayvion Alger.

​Pria itu perlahan bangkit dari kursi kebesarannya. Tingginya menjulang, nyaris dua meter, menciptakan bayangan yang menelan tubuh mungil Elio di hadapannya. Aura dingin yang biasanya membuat manajer pemasaran terkencing-kencing kini ia pancarkan sepenuhnya ke arah bocah empat tahun berbaju kaos robot itu.

​Tapi Elio tidak bergeming. Dia justru mendongak, menatap mata hitam Cayvion dengan tatapan yang sama persis. Datar. Menilai.

​"Om marah ya?" Elio bertanya lagi, kali ini nadanya lebih seperti ilmuwan yang sedang mengamati perilaku simpanse. "Mami bilang kalau orang marah itu tandanya darah tinggi. Om harus banyak makan timun."

​"Hara..." Suara Cayvion terdengar seperti geraman harimau yang siap menerkam. Dia tidak menatap Hara, matanya masih terkunci pada cetak biru wajahnya dalam versi sachet di depannya ini.

 "Jelaskan. Sekarang. Atau kau keluar dari gedung ini tanpa surat rekomendasi, tanpa pesangon, dan namamu masuk daftar hitam di seluruh perusahaan di negara ini."

​Hara menelan ludah, tenggorokannya terasa kering seperti gurun pasir. Kakinya lemas, tapi dia memaksa dirinya melangkah maju. Dia berdiri di antara Cayvion dan Elio, memasang badan. Naluri induk ayamnya menyala.

​"Bapak bisa pecat saya," suara Hara bergetar sedikit, tapi dia mendongakkan dagu, menolak untuk menunduk. "Tapi jangan bentak anak saya. Dia masih kecil, Pak. Dia cuma bicara fakta... menurut logika anak-anak."

​"Fakta?" Cayvion tertawa, tawa yang kering dan tanpa humor. Dia melangkah keluar dari balik meja kerjanya yang kini mati total gara-gara ulah tangan kecil itu. "Faktanya adalah ada dua penyusup di ruanganku, merusak negosiasi triliunan rupiah, dan kau... asisten terbaikku... ternyata menyembunyikan sesuatu yang sangat menarik."

​Cayvion berhenti tepat di depan Hara. Jarak mereka begitu dekat hingga Hara bisa mencium aroma musk dan kopi mahal yang menguar dari tubuh bosnya.

​"Kenapa wajah anak ini mirip denganku, Hara?" tuntut Cayvion, suaranya turun satu oktaf, menjadi bisikan berbahaya. "Siapa bapaknya?"

​Hara memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa keberaniannya. Tidak ada gunanya berbohong. Wajah Elio adalah bukti otentik yang tidak bisa dibantah bahkan oleh pengacara termahal sekalipun.

​"Lima tahun lalu," Hara membuka mata, menatap lurus ke manik mata kelam bosnya. "Klub malam Velvet. Bapak dikasih minuman yang sepertinya sudah dicampur obat oleh klien dari Rusia. Saya datang untuk menjemput Bapak, tapi Bapak... Bapak tidak terkendali. Dan saya..." Hara menggigit bibir bawahnya. "Saya juga sedang kacau malam itu. Alkohol. Kesalahpahaman. Itu kecelakaan, Pak."

​Rahang Cayvion mengeras. Ingatan samar tentang malam itu berkelebat. Malam di mana dia terbangun sendirian di kamar hotel dengan kepala pening dan bercak darah di sprei, tanpa tahu siapa wanitanya. Dia pikir itu jebakan musuh bisnis, tapi karena tidak ada berita pemerasan setelahnya, dia melupakannya.

​Ternyata, "pemerasan" itu baru datang empat tahun kemudian dalam bentuk dua bocah ingusan.

“Jadi ini alasannya, kau seenaknya minta cuti setahun karena alasan keluarga dan dengan bodohnya aku menyetujuinya karena aku membutuhkan kemampuanmu.”

Hara mengangguk. “Ya,” jawabnya singkat.

​"Dan kau menyembunyikannya," desis Cayvion. "Lima tahun aku tak tahu apa-apa. Kau bekerja di sampingku, menyiapkan kopiku, mengatur jadwalku, sambil menertawakan kebodohanku yang tidak tahu kalau aku punya anak?"

​"Saya tidak tertawa!" bantah Hara cepat. "Saya takut! Bapak benci anak-anak! Bapak pernah memecat sekretaris lama cuma karena dia bawa anaknya pas lembur! Saya butuh gaji ini, Pak. Saya butuh uang untuk membesarkan mereka. Kalau Bapak tahu, Bapak pasti akan menyuruh saya mengugurkannya waktu itu, atau memecat saya!"

​"Jadi kau memutuskan untuk menjadikanku orang bodoh?"

​Perdebatan panas itu terhenti ketika sebuah tangan mungil dan lengket menyentuh paha Cayvion.

​"Om Ganteng..."

​Cayvion menunduk kaku.

​Elia berdiri di sana, menatapnya dengan mata bulat yang berkaca-kaca. Tangan kanannya yang belepotan cokelat cair—hasil dari biskuit yang meleleh di saku gaunnya—kini mencengkeram kain celana bahan Wol Itali seharga tiga puluh juta milik Cayvion.

​"Om jangan marahin Mami..." rengek Elia, suaranya bergetar manja. "Elia takut... Om suaranya kayak monster di film kartun..."

​Cayvion menatap noda cokelat yang merembes di celana abu-abunya dengan tatapan horor. Dia, Cayvion Alger, yang terobsesi pada kebersihan dan kerapian, kini dinodai oleh... cokelat murah.

​"Lepaskan," perintah Cayvion kaku. Dia mengangkat tangannya, bingung harus berbuat apa. Dia ingin menepis tangan anak itu, tapi melihat mata Elia yang mulai meneteskan air mata, tangannya membeku di udara.

​"Nggak mau!" Elia justru memeluk kaki Cayvion, menempelkan pipinya yang gembil (dan juga lengket) ke celana itu. "Om minta maaf dulu sama Mami! Baru Elia lepasin!"

​"Elia! Lepas, Sayang! Itu celana mahal!" Hara panik, berusaha menarik anaknya. Tapi Elia punya kekuatan cengkeraman seperti koala.

​"Nggak mau! Om jahat!"

​Cayvion memejamkan mata, menarik napas panjang, menahan keinginan untuk berteriak. Situasi ini sudah di luar kendali. 

Dia butuh kepastian. Dia butuh sains. Dia butuh menyingkirkan koala lengket ini dari kakinya.

​Cayvion menyentak interkom di mejanya dengan kasar.

​"Batalkan semua jadwal hari ini. Kosongkan lantai klinik VVIP di lantai 10. Panggil Dokter Ryan. Sekarang!" bentaknya pada alat komunikasi itu.

​Dia menatap Hara tajam. "Ikut aku. Kita tes DNA sekarang juga."

​"Tapi Pak, anak-anak belum makan siang, mereka—"

​"Aku tidak peduli mereka belum makan atau belum wisuda," potong Cayvion dingin. Dia berjalan terpincang-pincang menuju pintu karena ada beban sepuluh kilogram bernama Elia yang masih menggelayut di kaki kanannya. "Kalau mereka benar anakku, satu jam lagi hidupmu akan berubah, Hara. Berdoa saja hasilnya negatif. Karena kalau positif..."

​Cayvion tidak melanjutkan kalimatnya. Dia menyeret kakinya—dan Elia—keluar dari ruangan, meninggalkan Elio yang menatap punggungnya sambil menggeleng pelan.

​"Mami," bisik Elio sambil menarik rok Hara. "Om itu jalannya aneh kayak robot rusak. Kasihan ya."

​Hara hanya bisa mengelus dada. Ya Tuhan, lindungi kami.

​Klinik VVIP Alger Corp biasanya tenang seperti perpustakaan. Dindingnya putih bersih, lantainya marmer, dan bau antiseptik yang samar memberikan kesan profesional.

​Tapi sepuluh menit terakhir, tempat itu berubah menjadi pasar kaget.

​"AAAAA! NGGAK MAUUU! ITU JARUMNYA GEDEEE!"

​Jeritan Elia memecahkan gendang telinga siapa saja yang mendengarnya. Dokter Ryan, pria paruh baya yang biasanya menangani keluhan sakit kepala ringan para eksekutif, kini tampak kewalahan memegang alat swab mulut.

​Elia duduk di brankar, menendang-nendang udara, air mata dan ingus bercampur jadi satu. "Mami tolong! Om Dokter mau tusuk mulut Elia!"

​"Cuma diusap, Sayang. Nggak sakit kok, kayak makan permen loli," bujuk Dokter Ryan dengan senyum palsu yang bergetar.

1
Niken Dwi Handayani
Dan dimulailah hilangnya wibawa, peraturan di rumah Big bos oleh krucilnya😀😀
Savana Liora: hahahaha
total 1 replies
tia
butuh kesabaran cayvion,,,🤭
Savana Liora: kesabarannya setipis tisu bagi 10
total 1 replies
olyv
mantep twins 🤣🤣👍
Indah Wahyuni
aku suka, konfliknya ringan. ayahnya butuh benturan untuk menyadari kasih sayang ke anaknya. mungkin rasa ke ibuknya belum tapi ke anak harus. harta tidak bisa membeli waktu.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
Savana Liora: iya. makasih y
total 1 replies
tia
kapok 😄
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Indah Wahyuni
hari ini apa up satu kali? di tunggu kelanjutannya
Indah Wahyuni: ok, ditunggu.
total 2 replies
kalea rizuky
pergi ja tinggalin egois bgt ini laki
kalea rizuky
gemes deh
olyv
bagus hara diamin aja suami kulkas mu itu... g peka atau gimn sih cayvion.. udah tau salah, setidak nya minta maaf gitu pd anak2 mu
Savana Liora: tau tuh cayvion yak
total 1 replies
olyv
/Sob//Sob/ aahh twins sini aunty bantu peluk juga..
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri
Savana Liora: ngeselin yak
total 1 replies
olyv
😔😔🥺🥺🥺🥺
olyv
🤣🤣🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha
total 2 replies
BONBON
kk, ini kamu kejar deadline kah, aku sampe bingung mau baca yg mana... satu satu Napa??😭 kebut"👍
Savana Liora: emang agak ngebut sih tayangnya karna mau ngajuin kontrak setelah bab 20. tp dari bab 21 bakalan santai kok. pagi siang malam kek minum obat.
total 2 replies
Alfi Alfi
bikin senyam senyum 🤭🤭🤭
Savana Liora: iya haha
total 1 replies
Alfi Alfi
gemesin banget ceritanya
Savana Liora: makasih kak
total 1 replies
Alfi Alfi
di tunggu thor
tia
lanjut Thor ,, cerita ny bikin gemes
Savana Liora: besok pagi terbit lg ya kk. sudah terjadwal
total 1 replies
Siti Sa'diah
keluarga koplak, yg normal itu cuma hara and thekids🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Siti Sa'diah
gkgkgk rasakan itu tuan perfect/CoolGuy/
Savana Liora: kena mental dia
total 1 replies
olyv
nah kan tantrum si elia... papa mu payah elia g cocok bacain dongeng tidur 🤣🤣🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!