NovelToon NovelToon
Bersinar Lah Bersama Matahari

Bersinar Lah Bersama Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Menjadi Pengusaha
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Kerikil di Jalanan

BAB 2: Kerikil di Jalanan

Matahari sudah sepenuhnya naik saat Nayla memarkirkan motor tuanya di dekat taman kota yang ramai oleh orang-orang yang berolahraga pagi. Di tahun 2026, gaya hidup sehat menjadi tren besar, namun bagi Nayla, kerumunan orang adalah kumpulan calon pembeli yang harus ia taklukkan.

Ia menggendong tas besarnya yang berat. Di dalamnya, puluhan bungkus Basreng Matahari menanti untuk berpindah tangan. Nayla menarik napas panjang, membetulkan letak tasnya, dan mulai melangkah.

"Permisi, Kak. Mau coba Basreng Mataharinya? Renyah dan bumbunya asli dari cabai kering," ujar Nayla pada sekelompok anak muda yang sedang beristirahat setelah lari pagi.

Salah satu dari mereka melirik tas Nayla dengan tatapan meremehkan. "Basreng? Jam segini makan yang pedas-pedas? Duh, entar sakit perut lagi. Lagipula kemasannya biasa banget, higienis nggak tuh?"

Nayla tersenyum tipis, mencoba tidak memasukkan kata-kata itu ke dalam hati. "Higienis, Kak. Saya goreng sendiri subuh tadi dengan minyak berkualitas. Ini pakai daun jeruk segar juga, jadi aromanya beda."

"Enggak deh, makasih. Lagi diet," jawab mereka ketus sambil kembali sibuk dengan ponsel masing-masing.

Nayla mengangguk sopan dan berlalu. Penolakan pertama. Rasanya sedikit perih, seperti terkena cipratan minyak panas di dapur tadi pagi. Namun, ia tidak boleh berhenti. Ia terus berjalan, menawarkan dagangannya dari satu bangku taman ke bangku lainnya. Hingga satu jam berlalu, baru dua bungkus yang terjual, itu pun karena pembelinya merasa kasihan melihat keringat yang membasahi dahi Nayla.

"Kalau cuma laku dua bungkus, modal bakso Pak Mamat saja belum tertutup," gumam Nayla sambil duduk di bawah pohon pelindung. Ia membuka satu botol air mineral yang ia bawa dari rumah untuk menghemat pengeluaran.

Nayla melihat ke sekeliling. Ia memperhatikan bagaimana orang-orang berinteraksi. Di tahun 2026, orang tidak hanya membeli rasa, mereka membeli "pengalaman" dan "visual". Ia melihat sebuah kedai kopi franchise besar yang antreannya mengular. Padahal harga kopinya bisa untuk membeli sepuluh bungkus basrengnya.

Apa yang salah? pikir Nayla.

Ia melihat kembali bungkusan basrengnya. Plastik bening biasa dengan stiker tulisan tangan. Sangat sederhana. Di tengah kemajuan teknologi, orang-orang di depannya ini lebih suka sesuatu yang terlihat "berkelas" atau setidaknya menarik secara estetika.

Nayla tidak menyerah. Ia berdiri dan pindah ke area stasiun kereta api, tempat para pekerja kantoran bergegas mengejar jadwal. Ia memperhatikan seorang pria berseragam kantor yang tampak lelah dan stres menunggu kereta.

Nayla mendekat, tapi kali ini ia tidak menawarkan dengan cara biasa. "Permisi, Pak. Sepertinya butuh sesuatu yang bisa bikin melek buat kerja nanti? Basreng saya pedasnya alami, bisa bantu ngilangin kantuk daripada kopi terus."

Pria itu menoleh, sedikit terkejut dengan tawaran unik Nayla. "Pedas sekali?"

"Bisa diatur, Pak. Yang ini level 'Cahaya Pagi', pedasnya hangat. Yang ini level 'Matahari Membara', kalau Bapak mau benar-benar kaget," canda Nayla.

Pria itu tersenyum kecil, tertarik dengan cara komunikasi Nayla yang berbeda. "Boleh deh, kasih saya dua yang paling pedas. Buat camilan di kantor nanti."

Nayla dengan sigap mengambilkan pesanannya. "Terima kasih, Pak. Semoga harinya menyenangkan secerah matahari!"

Transaksi itu memberinya semangat baru. Nayla menyadari sesuatu: ia harus pintar membaca situasi. Ia mulai menawarkan basrengnya bukan sebagai sekadar camilan, tapi sebagai "teman lembur", "penghilang stres", atau "oleh-oleh untuk keluarga".

Namun, tantangan sebenarnya datang saat ia melewati sebuah ruko makanan besar. Seorang pria paruh baya bertubuh tambun keluar dari ruko itu dan menatap Nayla dengan galak. Dia adalah pemilik kedai camilan terbesar di area itu.

"Heh, kamu! Jangan jualan di depan ruko saya! Kamu itu bikin pemandangan jadi kumuh. Pergi sana! Dagangan nggak jelas gitu jangan dipamerin di sini," bentak pria itu.

Beberapa orang yang lewat menoleh ke arah Nayla. Rasa malu menjalar di pipi Nayla, lebih panas dari bumbu cabainya. Ia merasa harga dirinya diinjak-injak di depan umum.

"Saya cuma lewat, Pak. Dan saya jualan di trotoar umum," jawab Nayla berusaha tenang, meski tangannya sedikit bergetar.

"Trotoar ini di depan toko saya! Kalau ada orang keracunan makan basrengmu yang nggak ada izinnya itu, nanti toko saya yang kena imbasnya. Pergi, atau saya laporin satpam!"

Nayla memilih mengalah. Ia berjalan menjauh dengan kepala tegak, meski hatinya sesak. Di dalam kepalanya, suara-suara keraguan mulai muncul. Apa benar aku bisa sukses? Apa benar dagangan basreng ini bisa mengubah nasib?

Ia sampai di sebuah jembatan penyeberangan dan berhenti sejenak. Ia melihat ke bawah, ke arah kemacetan kota yang tak kunjung usai. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari ibunya masuk.

“Nay, tadi orang bank datang lagi. Mereka bilang kalau bulan depan nggak ada cicilan yang masuk, rumah ini harus dikosongkan. Hati-hati di jalan ya, Nak. Ibu sudah masakin nasi goreng buat kamu pulang nanti.”

Air mata Nayla hampir jatuh, tapi ia segera menghapusnya dengan kasar. Tidak. Tidak ada waktu untuk menangis. Air mata tidak akan melunasi utang bank. Air mata tidak akan mengisi perut orang tuanya.

Nayla membuka tasnya kembali. Masih ada sekitar 30 bungkus lagi. Ia menatap matahari yang kini tepat berada di atas kepala.

"Kamu mau membakar aku atau menyinari aku, itu terserah kamu, Dunia," bisik Nayla pada langit. "Tapi aku nggak akan pulang sampai tas ini kosong."

Nayla teringat sesuatu. Di tahun 2026, kekuatan terbesar ada di genggaman tangan. Ia mengeluarkan ponselnya yang layarnya sudah retak di pojok kiri. Ia membuka aplikasi berbagi video pendek yang sedang viral.

Nayla mengatur posisi ponselnya di pagar jembatan. Ia mulai merekam dirinya sendiri yang sedang memegang bungkus basreng dengan latar belakang matahari yang terik.

"Halo semuanya. Saya Nayla. Mungkin bagi kalian ini cuma basreng biasa. Tapi buat saya, ini adalah nyawa keluarga saya. Saya baru saja diusir dari depan ruko, dibilang dagangan saya kumuh. Tapi saya jamin, kebersihan dan rasa basreng ini bisa diadu. Buat kalian yang ada di area Stasiun Kota, saya ada di sini. Bantu saya habiskan hari ini, ya?"

Nayla mengunggah video itu dengan tagar #PejuangSubuh dan #BasrengMatahari. Ia tidak tahu apakah akan ada yang menonton, tapi ia telah melempar dadu takdirnya.

Ia kembali berjalan, menyusuri trotoar dengan sisa tenaga yang ada. Panas matahari mulai membakar kulitnya, tapi dalam pikirannya, ia hanya melihat satu hal: wajah ibunya yang tersenyum saat rumah mereka aman.

Tanpa Nayla sadari, di dunia digital, video singkatnya mulai dibagikan. Orang-orang mulai tertarik bukan hanya pada makanannya, tapi pada ketulusan di matanya saat berbicara. Takdir yang ia perjuangkan sejak jam tiga pagi tadi, mulai bergerak perlahan, seiring dengan detak jantungnya yang penuh harapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!