Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Malam itu Karina tidak tidur, ia duduk berlama-lama di pinggir ranjang dengan mata menatap keluar jendela yang tirainya terbuka lebar. Hamparan bintang di langit malam tidak membuat perasaan Karina tenang.
Ia teringat dengan kejadian tadi sore, setelah Hugo melihat hasil gambarnya, wajahnya berubah kelam dan dia membubarkan lomba tanpa menyebutkan siapa pemenangnya.
Sampai sekarang Karina masih heran dengan perubahan itu, dan tidak satupun dari orang-orang di ruangan itu yang merasa aneh dengan hal tersebut.
“Aku harus mencari tahu, siapa Hugo dan siapa orang-orang yang diundang ke rumah ini?” Gumam Karina. Ia bangkit dari duduknya, mencari senter kecil di dalam laci. Setelah itu ia bergegas keluar.
Kesunyian aneh di rumah besar itu membuat Karina harus menjaga derap langkah kakinya agar tidak terlalu bergema.
Karina masuk ke perpustakaan di lantai satu, di dalamnya lampu sudah dimatikan namun tidak masalah bagi Karina karena ia membawa senter kecil.
Langkah kakinya menyusuri perpustakaan yang dingin dan mencekam. Matanya mengamati satu persatu judul buku di rak. Ia berhenti pada buku yang tempo hari pernah ia baca, “Demon silence.”
Ia membawa buku itu kembali ke kamarnya. Namun, sebelum sempat masuk, langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan Ranra di dekat tangga.
“Anda belum tidur, Nona?” tanya Ranra. Tatapannya tajam, terlalu lama tertahan pada buku yang berada di tangan Karina.
Secara refleks, Karina memeluk buku itu dengan kedua lengannya, seolah ingin menyembunyikannya.
“Aku baru dari perpustakaan,” jawabnya. “Ingin membaca buku.”
“Sebaiknya Anda tidak membaca buku itu, Nona.”
Kalimat itu meluncur dengan nada yang ganjil, bukan sekadar saran, melainkan peringatan serius yang membuat bulu kuduk Karina meremang.
“Selamat malam, Nona,” ucap Ranra tanpa penjelasan lebih lanjut. Ia menunduk singkat, lalu berbalik hendak pergi.
“Kenapa?” Karina menyusulnya dengan langkah tergesa.
Ranra hanya tersenyum tipis sambil terus berjalan ke arah dapur. Cahaya redup lampu malam memantul di wajahnya, membuat Karina baru menyadari betapa pucatnya wanita itu.
“Mari ikut ke kamar saya, Nona. Saya bisa menceritakan sedikit kisah pada Anda,” ujar Ranra sambil berhenti sejenak, seolah memberi ruang bagi Karina untuk mempertimbangkan. “Mungkin itu bisa membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan di kepala Anda.”
Karina terdiam cukup lama. Seperti Hugo, Ranra, sebagai kepala pelayan rumah ini tak kalah misterius. Namun jika ia ingin mendapatkan jawaban, ia harus berani mengambil risiko, termasuk mengikuti wanita itu.
“Baiklah.” Karina mengangguk pelan.
Ranra tersenyum tipis sekali lagi, lalu memberi isyarat agar Karina mengikutinya menuju kamarnya yang terletak di samping dapur.
Sesampainya di sana, Ranra membuka pintu kamarnya, memperlihatkan ruangan besar dan rapi. Sebuah tempat tidur besar menempati sebagian ruang, dengan lemari tinggi di sudut ruangan serta meja dan kursi yang berada tepat di samping ranjang.
“Silakan masuk, Nona,” ujar Ranra sopan.
Karina mengangguk tipis lalu melangkah masuk.
Ia duduk di kursi, sementara Ranra mengambil tempat di tepi ranjang. Karina melepaskan sanggulnya, membiarkan rambutnya tergerai jatuh ke bahu.
“Apa Anda selalu merasa bahwa Anda dan Tuan Fuller pernah saling mengenal?” tanya Ranra, membuka percakapan dengan nada serius. Meski, sejujurnya, Ranra hampir selalu berbicara seperti itu.
Entah dari mana Ranra mengetahui hal tersebut, Karina tetap mengangguk pelan.
Ranra merapikan sprei yang sedikit kusut, namun sudut matanya tak pernah lepas dari Karina. “Rumah ini juga terasa tidak asing bagi anda, bukan? Tapi anda tidak mengingat apa pun. Kalau begitu, kenapa masih berusaha mencari tahu?”
“Karena aku perlu tahu alasan kenapa Hugo mengundangku lalu menahanku di rumah ini,” jawab Karina mantap. Ia yakin, ia memang berhak mengetahui alasannya.
“Malam ini adalah akhir bulan. Besok sudah bulan baru.” Ranra menatapnya dalam. “Mereka semua akan tertidur pulas sampai pagi tanpa terbangun. Ini kesempatanmu untuk pergi, Karina.”
Kali ini, Ranra tidak lagi memanggilnya Nona. Ia menyebut namanya dengan lugas.
“Kamu membantuku seperti ini, apa kamu tidak takut pada kemarahan Hugo?” Karina menatapnya heran. Kemarahan Hugo bukanlah sesuatu yang bisa ditanggung siapa pun. Ranra adalah orang kepercayaannya, mustahil berkhianat begitu saja.
“anda benar-benar tidak mengingat apapun?” Ranra balas menatapnya, kali ini lebih lembut. “Termasuk kutukan malam itu?”
Malam itu?
Malam yang mana?
Dari kebingungan yang jelas terpancar di wajah Karina, Ranra menghela nafas pelan. “Sepertinya memang tidak ada satupun yang anda ingat. Dan itu… bagus.”
Ranra berdiri, mendekati Karina, lalu menggenggam tangannya dengan lembut. “Pergilah. Tinggalkan kota ini. Jangan pernah kembali, jangan pernah mencoba mencari tahu apa pun dan jangan pernah memberi kesempatan ingatan itu masuk kembali ke dalam kepala anda.”
Karina terdiam. Otaknya berputar cepat. Jelas ada sesuatu yang telah ia lupakan, sesuatu yang begitu berbahaya sampai ia bahkan tidak boleh mengingatnya.
“Ranra, kita perlu bicara.”
Suara Hugo yang keras dari luar kamar membuat Karina dan Ranra tersentak. Wajah Ranra langsung memucat.
“Tidak mungkin,” desisnya pelan, nyaris tak percaya. “Dia tidak mungkin bangun malam ini.”
“Ranra.”
Suara itu nyata.
Hugo berdiri di luar kamar, memanggil namanya.
...***...
...Like, komen dan vote ...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor