NovelToon NovelToon
Wanita Terakhir Sang Playboy

Wanita Terakhir Sang Playboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Playboy / Angst / Obsesi / Romantis / Harem
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Swan

Gavin adalah seorang playboy yang tak bisa hidup tanpa wanita, entah sudah berapa banyak wanita yang berakhir di ranjangnya, hingga akhirnya ia bertemu dengan Kanaya, seorang gadis suci yang menggetarkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Swan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekesalan Kanaya

"LO APA APAAN SIH GAV...??"teriak Kanaya kencang.

Sementara Gavin hanya meringis, tanpa bisa berkata apapun, dia pun bingung harus berkata apa pada Kanaya.

Kanaya  terus menatap Gavin tajam, sementara Gavin bak anak kecil yang ketakutan saat di marahi oleh sang ibu, Gavin tampak menunduk dengan tangan yang saling bertautan.

"Mmmm,,, Nay, gue...."

"Gue apa hah?"

"Gue....."

"Lo tu bener-bener deh Gav, semalam lo ngapa-ngapain gue pas gue gak sadar, sampe gue ngeliat badan gue sendiri di cermin aja gue malu, dan sekarang... Sekarang juga lo nambah lagi masalah baru, dengan ngelibatin gue dalam masalah lo sama cewek gak jelas itu, gue pusing tau gak Gav, gue kesel, gue benci banget rasanya sama lo!"ucap Kanaya menumpahkan amarahnya.

"Gue gak mau punya musuh Gav, gue baru aja menginjakan kaki gue di kota ini, dan sekarang lo udah bikin gue bermasalah sama orang. "Teriak Kanaya yang di iringi isakan kecil.

"Gue mesti gimana coba  kalau..hmmmmt.."ucapan Kanaya terpotong ketika Gavin tiba tiba mencium bibirnya, hanya sebuah kecupan, karna setelah itu Gavin langsung melepaskannya.

"Gue minta maaf, gue tau gue salah, tapi bisa kan lo gak usah nyerocos terus, gue janji gue gak akan bikin lo dalam masalah, dan gue akan selalu melindungi lo, apapun yang terjadi. "Jelas Gavin, tak lagi membiarkan Kanaya untuk bicara.

"Nih, lebih baik sekarang lo tutupin kissmark dari gue, kecuali lo mau buat orang lain selain Hera juga ikut histeris melihatnya. "Ucap Gavin, sambil memberikan sebuah benda bulat kecil yang tadi sempat di minta Kanaya. Seolah ingin menggoda Kanaya. Kanaya yang terlanjur kesal langsung merebut benda di tangan Gavin dengan tangan kirinya, lalu tangan kanannya tanpa aba-aba memukul keras kepala bagian samping Gavin.

Bugh...

"Agh..."Gavin seketika ambruk sambil memegang bagian kepalanya yang di pukul oleh Kanaya. Sementara Kanaya melengos pergi begitu saja.

"Agh...sialan lo Nay, sakit anjir."umpat Gavin, yang tak dipedulikan oleh Kanaya .

Sementara di kamar mandi Kanaya kini tengah melihat tubuh bagian atasnya dengan teliti, melihat setiap inci tubuhnya seolah takut ada yang terlewat.

"Lima belas, sembilan belas...dua puluh...agh Gavin brengsek, dia bikin kissmark di tubuh gue sampe dua puluh,,,astaga...dasar cabul, mesum, gak tau diri, brengsek."Jerit  Kanaya yang terus mengumpati Gavin. Kanaya bahkan sudah menghitung berapa tanda yang di buat Gavin di tubuhnya, dan akan Kanaya pastikan, Gavin pun akan mendapatkannya, mendapatkan balasan perbuatannya maksudnya.

Sementara Gavin kini sedang duduk di balkon apartemennya, memikirkan apa yang terjadi padanya dan Kanaya, kenapa dia selalu saja memiliki jalan untuk bertemu dengan gadis itu, dan kenapa Gavin tak bisa mengabaikannya sama seperti gadis lain. Dan kenapa Gavin bahkan tak bisa berbuat apa-apa disaat Kanaya memakinya, bahkan tadi memukulnya, ini pertama kalinya bagi seorang Gavindra Wijaya di perlakukan seburuk itu oleh seorang Gadis.

Pintu kamar mandi terbuka dimana disana terlihat Kanaya  yang baru saja melangkahkan kakinya, Kanaya tampak memperhatikan sekelilingnya mencari keberadaan Gavin, namun ia tak kunjung melihatnya.

Sampai akhirnya ia memutuskan untuk memasuki kamar yang ia tempati semalam, kamar itu belum berubah dari posisi terakhir saat ia tinggalkan, bahkan ranjang yang ia pakai tadi masih terlihat berantakan.

Kanaya memutuskan untuk membereskan ranjang itu terlebih dahulu, sebelum kembali mencari keberadaan Gavin. Kanaya melihat ke arah balkon dimana kini ia bisa melihat keberadaan Gavin disana.

"Gav,,,."panggil Kanaya,Gavin menengok ke arahnya sekilas namun kembali lagi memalingkan wajahnya.

"Bisa anterin gue pulang?"tanyanya pada Gavin, Kanaya merasa sudah tidak ada lagi urusan antara ia dan Gavin, jadi tak ada lagi alasan untuk Kanaya untuk tetap berada di apartemen ini.

Gavin masih diam, seolah tak mendengar ucapan Kanaya."Lo takut dengan ancaman Hera?"tanya Gavin tiba-tiba. Kanaya menghela napas, kenapa Gavin harus membahas masalah itu lagi sih, tanya Kanaya dalam hati.

"Takut ataupun nggak, gue tetap gak bisa apa-apa kan sekarang?"jawab Kanaya yang justru balik bertanya pada Gavin .

"Sebenarnya tanpa ucapan gue tadi pun, Hera  emang udah benci sama lo?"ucap Gavin, yang membuat Kanaya mengernyit.

"Maksud lo?"tanya Kanaya bingung, sedang Gavin menghembuskan napas kasar.

"Gue tadinya gak mau ceritain ini sama lo, tapi mungkin lebih baik kalo lo juga tau masalah ini. Sebenarnya orang yang merencanakan segala hal buruk semalam ke lo dan Karina itu Hera."jelas Gavin yang membuat wajah terkejut Kanaya langsung terlihat.

"Maksud lo, jadi... Orang yang udah naruh obat itu ke minuman gue, terus orang yang udah nyuruh orang buat ngelakuin sesuatu ke gue juga Karina, itu Hera?"tanya Kanaya dengan raut wajah terkejut.

Gavin mengangguk,."Iya gue dan Alex, denger sendiri pembicaraan mereka, kebetulan tempat mereka gak jauh dari gue dan Alex semalam."jelas Gavin.

"Ko bisa..?"gumam Kanaya pada dirinya sendiri, tubuhnya terasa lemas sekarang, kenapa dia harus mengalami kejadian seperti ini, di tempat yang baru saja di tinggalinya ini.

"Gue gak tau kenapa, tapi Hera emang kayaknya gak suka sama lo sejak awal, apalagi sekarang lo juga dekat dengan musuhnya, dari dulu Karina sana Hera emang gak akur."Jelas Gavin.

Kanaya menghela nafasnya berat tak menyangka akan berada di posisi seperti ini, disaat Kanaya bahkan mengetahui pasti wajah Hera saja baru beberapa saat lalu, tapi mengapa gadis itu bahkan sudah memiliki rencana buruk untuknya, dan sebenarnya apa salahnya pada Hera.

Kanaya hanya bisa mengumpat dalam hati mengingatnya."Ya udah lah, pusing gue, sekarang Lo anterin gue pulang dulu aja."ujar Kanaya pada akhirnya.

"Gue harap Lo lebih berhati-hati sekarang, Nay."ucap Gavin lalu berlalu meninggalkan Kanaya.

"Gue anterin pulang sekarang."lanjutnya, membuat Kanaya segera beranjak mengikuti Gavin.

---

Kini Kanaya dan Gavin sudah berada di dalam mobil Gavin menuju ke kediaman Kanaya, tiba-tiba ponsel Kanaya berdering, menampilkan nama Raihan yang terlihat di ponselnya.

"Halo Rai..." Sapa Kanaya pada Raihan di sebrang sana.

"Nay Lo dimana?"

"Gue... Di jalan Rai, kenapa?"

"Jalan kemana, katanya lo gak ada ngampus hari ini?"

"Oh itu... Gue dari tempat temen, semalam ada urusan, makanya gak sempet ke kampus."jawab Kanaya sambil menggigit bibirnya, kenapa dia jadi harus berbohong seperti ini jadinya.

"Oh pantes gue cari di kampus gak ada, tadinya gue mo ngajakin Lo ke toko buku."

"Oh kapan, kalo sekarang gak bisa Rai, kalo nanti sore gimana?"tanya Kanaya.

"Oh nanti sore Lo bisa, ya udah gue jemput nanti sore gimana?"

"Ok, sampe ketemu nanti sore ya, Rai."jawab Kanaya. Kanaya pun mematikan sambungan telepon dengan Raihan.

Sementara Gavin diam diam menyimak semua pembicaraan gadis yang ada di samping nya itu dengan baik.

"Lo deket banget kayaknya sama Raihan?"tanya Gavin.

"Iya, dia ka temen pertama gue di SMP, dia juga baik banget."jawab Kanaya.

"Lo suka sama dia?"tanya Gavin hati-hati.

"Waktu SMP mungkin iya..."jawab Kanaya.

"Kalo sekarang?"tanya Gavin cepat.

"Gue gak lagi memikirkan masalah kayak gitu sekarang."jawab Kanaya santai.

"Maksudnya?"tanya Gavin.

"Gue saat ini gak dalam posisi yang  memikirkan perasaan-perasaan semacam itu ,kita cuma teman sekarang dan cuma itu."tegas Kanaya.

"Kenapa,?"tanya Gavin.

"Karna gue emang gak mau aja memiliki hubungan seperti dulu untuk saat ini."jawab Kanaya.

"Karna orang yang namanya Rangga?"tanya Gavin.

Deg.

Kanaya langsung menatap ke arah Gavin, terkejut.

"Kok lo... Lo tau darimana soal Rangga?"tanya Kanaya cepat, selama ini Kanaya merasa tak pernah sekalipun menyebut nama Rangga di depan orang lain. Lalu dari mana Gavin tau?

"Lo pernah cium gue, dengan menyebut nama cowok itu."jawab Gavin, yang membuat Kanaya menutup mulutnya tak percaya.

"Lo... Lo... Serius?"tanya Kanaya .

Gavin menolehkan kepalanya singkat pada Kanaya sambil mengangguk."Yah, kiss first kita berdua."yang di lanjutkan dengan kerlingan mata genit ke arah Kanaya, membuat Kanaya menganga.

Kanaya menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang dirinya lakukan dengan Gavin, kenapa Kanaya selalu berakhir dengan pria badboy ini?

"Gav, gue gak tau apa yang terjadi sama gue, gue rasa akhir-akhir ini ada yang salah sama di gue kayaknya."Guman Kanaya, kini Kanaya merasa ada yang salah dengan dirinya, kenapa dia bisa melakukan hal segila itu dengan pria yang baru di kenalnya.

Gavin tertawa mendengar penuturan Kanaya,"Mungkin karna Lo emang di takdirkan buat gue Nay, bahkan di saat kita belum lama bertemu, kita udah bisa seintim itu, iya gak sih?"jawab Gavin, yang membuat Kanaya memalingkan wajahnya malu. Kenapa Gavin harus bicara sejelas itu sih.

"Lo tau, sama seperti Lo, gue juga merasa ada yang salah Nay, kenapa tuhan kayak selalu memberi jalan buat kebersamaan kita, bahkan kita udah melakukan hal hal yang lebih, tanpa kita sengaja."lanjut Gavin.

"Apalagi setelah kejadian di apartemen dimana Hera mengira kalo Lo adalah pacar gue, gue semakin gak bisa gak peduli sama Lo, gue ngerasa ikut andil untuk selalu ada buat Lo, dan buat jagain Lo."

"Apapun status hubungan kita sekarang, gue harap Lo selalu ingat, kalo gue akan selalu ada buat Lo."ucap Gavin, yang hanya di balas keheningan oleh Kanaya.

Kanaya masih setia diam tanpa suara, dengan mata yang tak berani melihat ke arah Gavin, Gavin pun tak lagi mengatakan apapun setelah itu, mereka setia dalam keheningan.

Sampai mobil yang mereka tumpangi kini memasuki pekarangan rumah Kanaya, Kanaya masih setia dengan kediamannya dan sepertinya tak menyadari bahwa kini, mereka telah sampai di tempat tujuan.

"Nay..."panggil Gavin, membuat Kanaya tersentak.

"Eh, udah sampai ya."ucap Kanaya sambil melihat ke sekelilingnya. Namun pandangan Kanaya tiba-tiba berhenti ke arah mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya, mobil yang sangat ia kenali, mobil yang memiliki banyak kenangan di dalamnya. Namun kenapa mobil itu ada disini?

Kanaya masih setia memandang ke depan, dengan pandangan kosong, membuat Gavin heran.

"Kenapa Nay, gak mau turun?"tanya Gavin, sementara Kanaya masih mematung dengan pandangan tak lepas dari mobil di hadapannya.

Dan sesuatu yang tak pernah Kanaya kira terjadi,,saat tiba-tiba seseorang yang tak pernah ia harapkan untuk bisa ia lihat lagi dalam hidupnya, kini terlihat berjalan ke arah mobil yang di tumpangi Kanaya dan Gavin.

Kanaya menggeleng tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, orang yang paling Kanaya benci terlihat jelas di hadapannya sekarang.

"Gav, mundur putar balik mobilnya, gue gak mau pulang!"ucap Kanaya pada Gavin panik.

Gavin yang tak mengerti dengan apa yang tengah terjadi di buat semakin bingung dengan sikap Kanaya.

"Nay, ini udah sampe Lo tinggal turun loh."ucap Gavin.Tak menggubris ucapan Kanaya yang menyuruhnya untuk memutar balik mobilnya.

"Gav... Please kali ini, jangan banyak tanya, tolong bawa gue pergi sekarang juga, gue gak mau pulang sekarang Gav, please tolongin gue."jawab Kanaya dengan mata berkaca-kaca dan terlihat sangat panik.

Sementara pria yang kini berada di luar mobil Gavin, tampak mengetuk-ngetuk kaca mobil Gavin sambil memanggil nama Kanaya.

"Nay ... please keluar ya, aku udah liat kamu, please kita harus bicara Nay, jangan terus-terusan menghindar Nay."panggil orang yang berada di luar mobil Gavin, sementara Kanaya semakin panik mendengar ucapan orang itu.

"Gav, ayo cepetan gue gak mau di sini Gav, please bawa gue pergi sekarang, gue mohon."ucap Kanaya yang membuat Gavin tak tega melihatnya.

Gavin pun mulai memundurkan mobilnya, namun orang yang berada di luar mobil Gavin, sepertinya tau niatnya, orang itu tiba-tiba berlari dan langsung berdiri di belakang mobil Gavin sehingga Gavin tak bisa lagi memundurkan mobilnya.

Orang itu tampak merentangkan tangannya menghalangi pergerakan mobil Gavin.

"Nay, please kita harus bicara, tolong Nay kamu keluar dulu, aku harus ngomong sama kamu."ucap pemuda itu dengan memohon.

"Gav..!"Kanaya menatap Gavin dengan air mata yang terurai, sambil terus menggelengkan kepalanya.

"Nay, sayang please, aku mohon, aku mau bicara sama kamu sayang, tolong dengerin penjelasan aku dulu sayang."panggil orang yang kini masih setia memukul mukul kaca mobil Gavin.

Gavin semakin bingung dengan kondisinya saat ini, dia tak mungkin memaksa Kanaya untuk turun dari mobilnya, dia pun tak bisa pergi meninggalkan tempat ini ketika mobilnya kini di halangi dan tak bisa lagi bergerak kecuali bila dia memaksa, dan bisa saja menabrak pemuda yang sepertinya sangat ingin berbicara dengan Kanaya itu.

"Nay, kita gak bisa ke mana-mana, Lo harus turun Nay, bicara sama dia, gue disini gue bakal selalu nemenin Lo."ucap Gavin, karna merasa hanya itu jalan satu-satunya.

Sementara Kanaya kembali menggeleng,"Gue gak bisa ketemu sama dia, gue belum bisa, please Gav, bantu gue biar bisa pergi dari sini."jawab Kanaya, membuat Gavin semakin serba salah sekarang.

"Nay... Kalo kamu pergi ninggalin aku tanpa bicara lagi, kamu bakal lihat aku mati sekarang juga Nay."ucap pemuda itu, yang membuat Gavin tersentak, dia lihat pemuda yang kini berada di depan mobil Gavin itu terlihat membawa sebuah pisau, yang membuat Gavin panik sementara Kanaya mematung.

"Nay, ini gak bisa... Cowok itu gila anjir."ucap Gavin cepat.

"Nay... sekarang kamu keluar dari mobil itu kita bicara,kalo ngga...."

-Bersambung

1
Supri Yanto
bagus alur ceritanya menarik pingin baca terus kelanjutannya😊
Supri Yanto
lanjut👍
D
Lanjut
D
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!