Nethaniel adalah pria muda tampan, sukses, dan berkarisma. Lahir di tengah keluarga konglomerat dan hidup berkelimpahan. Namun ada yang kurang dan sulit diperoleh adalah pasangan hidup yang tulus mencintainya.
Ketika orang tua mendesak agar segera berkeluarga, dia tidak bisa mengelak. Dia harus menentukan pilihan, atau terima pasangan yang dipilih orang tua.
Dalam situasi terdesak, tanpa sengaja dia bertemu Athalia, gadis cantik sederhana dan menarik perhatiannya. Namun pertemuan mereka membawa Nethaniel pada pusaran konflik batin berkepanjangan dan menciptakan kekosongan batin, ketika Athalia menolaknya.
》Apa yang terjadi dengan Nethaniel dan Athalia?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "I Miss You Because I Love You."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03. IMU coz ILU
...~•Happy Reading•~...
Setelah berbicara dari hati ke hati dengan Opahnya, dinasehati dan mendapat restu, Ethan merasa suasana hati dan cara pandangnya berubah.
Mencari pasangan hidup bukanlah beban, tapi suatu tindakan untuk menjaga kelangsungan hidup. Agar apa yang dirintis oleh Opah, Omah dan orang tuanya tidak berakhir sia-sia.
Dia kembali ke rumah dengan suasana hati yang tenang, berjalan pelan sambil menikmati suasana rumah yang nyaman dan lama ditinggalkan.
Tanpa menemui orang tuanya, dia menuju kamar dan mulai memikirkan cara memperoleh pasangan hidup dengan serius. Sesuatu yang telah diabaikan dan dianggap tidak terlalu penting.
Tok tok. "Ethan, Papah bisa masuk?" Terdengar ketokan dan suara Papahnya memanggil dari luar kamar.
Ethan berjalan cepat ke pintu. "Aku kira Papah dan Mamah sudah istirahat." Ethan membiarkan Papahnya masuk ke dalam kamar.
"Papah menunggumu. Apa Opah mengatakan sesuatu untuk kau berkantor di mana?" Papah Ethan langsung bertanya pada intinya.
"Tidak, Pah. Hanya berikan sedikit nasehat buat hati-hati jalani hidup." Ethan tidak mau merinci pembicaraannya dengan Opah.
"Kau serius mau pindah kerja di sini?"
"Serius, Pah. Mau ganti suasana kerja bersama orang-orang yang berbeda. Kalau Papah mau tempatkan seseorang di Singapore, silahkan."
"Tidak usah. Kau bisa bolak-balik. Yang mau Papah tanyakan, di sini kau mau berkantor di pusat atau di cabang?"
Ethan diam sejenak memikirkan mana yang lebih baik dan sesuai dengan rencananya. "Sebenarnya, aku belum pikirkan, Pah. Tapi lebih baik di cabang saja." Ethan putuskan, ingat pembicaraan dengan Opahnya.
"Ok. Papah ingin tahu itu, supaya bisa atur tempatnya sebelum kau masuk."
"Terima kasih, Pah. Sementara ini, aku mau istirahat dan berkantor di sebelah." Ethan mengutarakan niatnya, mau pergunakan ruang kerja di mansion. Papahnya mengangguk, lalu keluar kamar.
~••~
Ke esokan hari ; Ethan meminta Rion, asistennya datang ke mansion untuk mengatur strategi. Karena dia telah menetapkan hati untuk lebih banyak bekerja di Jakarta.
Dan dia sudah membuka hati, menerima pendekatan untuk mencari calon pendamping yang sepadan baginya.
"Boss, mau menyamar?" Tanya Rion serius setelah mendengar tujuan Ethan memintanya datang.
"Masuk ke ruangan. Ada yang mau saya bicarakan empat mata dan penting." Ucap Ethan serius.
"Jadi nanti boss tidak masuk kantor?" Rion terkejut dengar ide dan rencana bossnya.
"Saya masuk kerja, tapi tidak berkantor di ruangan yang sudah disiapkan. Siapkan jabatan dan ruangan lain buat staff atau apa...." Ethan menjelaskan rencananya dan apa yang harus dilakukan Rion di kantor sehubungan dengan penyamarannya.
"Astaga. Apa Papah dan boss besar tidak marah, pada kita, boss?"
"Jika ketahuan, itu tanggung jawab saya. Kau atur yang saya minta tadi."
"Kalau begitu, lebih baik cepat bicara dengan Papah boss, karena beliau mau persiapkan acara untuk mengumumkan dan memperkenalkan boss yang sudah kembali."
"Kau dengar dari siapa?"
"Asisten Papah boss yang menanyakan schedule boss, sebelum menetapkan tanggal perkenalan."
"Ok. Jangan kasih tahu schedule saya. Nanti saya bicara dengan beliau." Ucap Ethan tegas.
"Jadi kapan boss mulai bekerja dengan jabatan baru?"
"Secepatnya dan berhenti panggil boss, bess, bass. Kalau kau keceplosan menyebut itu, saya potong tunjanganmu."
"Astaga, boss. Jangan tega."
"Satu kali boss." Ucap Ethan sambil mencatat angka satu di note yang berada di depannya.
"Astaga, boss. Tunjangan saya bisa abis."
"Dua kali boss." Ethan mencatat angka 2 sambil tersenyum dalam hati melihat Rion panik.
"Jangan sekarang mulainya, bo... Saya perlu berlatih." Rion mengangkat dua jari setelah menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Jadi saya harus panggil siapa, jika ada yang tanya nama, Pak?" Rion cemas dengan tanggung jawab barunya.
"Sebentar, saya pikirkan." Ethan jadi berpikir, karena nama Ethan sudah sangat dikenal di kalangannya. "Kau juga bantu pikir, agar bisa cepat."
Beberapa saat kemudian, mereka berdua diam dalam ruang kerja, berpikir nama yang cocok. "Tidak usah pikir lagi." Ethan menjentikan jari. "Saya sudah temukan nama yang pas dan tidak menimbulkan resiko." Ethan kembali menjentikan jari sambil tersenyum dalam hati.
"Siapa, Pak?" Rion berhenti berpikir dan penasaran dengan nama baru bossnya yang harus dihafal.
"Mulai sekarang di depan orang lain, selain Papah, Mamah dan Opah, panggil Niel. Jika kau salah sebut, ingat ancaman tadi."
"Baik, Pak Niel. Saya akan ingat. Simple." Ucap Rion, karena nama singkat dan mudah diingat.
"Kau mengerti mengapa pakai nama itu?"
"Mengerti, Pak. Kita akan muda ngeles, karna masih bagian dari nama Pak Nethaniel."
"Good. Sekarang mulai siapkan ruangan dan jabatan barunya. Saya tidak punya banyak waktu."
"Pak, lebih baik, saya siapkan ruangan yang tebus ke ruang kerja yang sudah disiapkan...." Rion menjelaskan rencananya tentang jabatan dan ruang kerja Ethan.
"Ok. Kerjakan saja. Saya siapkan yang lain. Sekarang sudah bisa tinggalkan saya." Ethan merasa puas mendengar rencana Rion.
"Baik, Pak. Terus bagaimana dengan sopir?" Rion mulai berlatih.
"Saya ganti mobil, tapi tidak sopir. Kalau mobil sudah dikirim, saya info supaya urus di kantor."
"Baik, Pak. Saya permisi." Rion segera meninggalkan mansion setelah paham rencana bossnya.
Setelah ditinggal Rion, Ethan segera hubungi Papahnya untuk memberitahukan rencananya. Awalnya tidak disetujui, tapi setelah dia mengatakan sudah mendapat persetujuan Opah, Papanya terpaksa terima.
~••~
Seminggu kemudian ; Sebelum masuk bekerja di kantor, Ethan bersama sopir ke daerah gedung kantor cabang untuk latihan menyamar. Dia mau memastikan, penampilannya bisa dikenal oleh orang yang ada di sekitar kantor atau tidak.
"Pak, ini mau berakhir waktu istirahat siang, jadi mulai ramai. Saya tunggu di sini, atau cari tempat parkir?" Tanya sopir yang sudah dibriefing oleh Ethan tentang penyamarannya.
"Cari tempat parkir. Ingat tugasmu. Jangan sampai gagal di awal." Ethan mengingatkan sebelum turun dari mobil.
Dia mengenakan kacamata hitam, topi dan tongkat putih di tangan untuk berjaga-jaga.
Setelah mobilnya menjauh, dia hendak menyeberang ke coffee di seberang gedung kantor. Namun ketika hendak menyeberang, ada yang menarik tangannya. Jantung Ethan seakan berhenti berdetak, memikirkan penyamarannya diketahui.
"Pak, mengapa tidak pergunakan white canenya sebelum menyebrang?" Suara teguran marah seorang wanita membuat Ethan tidak jadi melangkah dan bisa bernafas lepas. Refleks dia membuka lipatan tongkat dan memperbaiki gestur tubuh, tanpa melihat ke arah sumber suara yang menegur.
Sebelum itu, Athalia baru turun dari ojol setelah jalani istirahat siang. Dia tidak jadi melangkah menuju gedung kantor, karena melihat seorang pria mengenakan jaket longgar, kacamata hitam dan tongkat putih di tangan. Dia berkesimpulan, pria itu penyandang tuna netra dan baru pernah ke tempat itu.
Ketika melihatnya hendak menyeberang tanpa menggunakan tongkat putih, Athalia segera berlari kecil ke arahnya untuk menolong. Karena jalanan di depannya sedang ramai dengan kendaraan lalu lalang dua arah.
"Mari saya bantu. Lain kali, hati-hati di jalan seperti ini. Nanti dikira, anda sengaja mau ...." Athalia tidak jadi meneruskan yang dia pikirkan.
...~•••~...
...~•○♡○•~...