Lima tahun sudah Nadira menjalani sebuah pernikahan. Lima tahun pula rahimnya dijadikan bahan cibiran, saat setiap kali mertuanya melontarkan kata-kata tajam. Mandul. Wanita bermasalah.
"Mas, aku sudah lelah menghadapi ibumu yang selalu menuduhku mandul. Padahal kenyataannya kamu jarang menyentuhku. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" (Nadira)
Namun respon Ardian membuat Nadira terdiam.
"Sudahlah Nadira, gak usah di dengarkan ucapan Ibu. Jadi sabar saja. Lagian aku gak pernah menyembunyikan apapun darimu." (Ardian)
Bersabar, katanya.
Tapi sampai kapan kesabaran itu bisa bertahan?
Apakah dibalik ucapannya, Ardian menyembunyikan sebuah rahasia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Ketenangan Untuk Menerima
Terik pagi yang tadinya lembut kini mulai menguat. Matahari naik lebih tinggi. Nadira yang sedang menunggu kendaraan umum, seketika...
Tin.
Nadira menoleh. “Gama?”
Gama sudah berdiri di dekat motor. “Mau ke rumah makan, Mbak?”
“Iya, nih.”
“Ayo naik.”
“Eh, tapi aku sudah pesan ojek online,” sahut Nadira.
“Dengan nama Nadira?”
Nadira menoleh ke arah pengendara yang baru berhenti. “Iya, saya.”
“Batalkan saja, Mas. Mbak Nadira biar saya yang antar,” ucap Gama cepat.
“Gak bisa dibatalkan,” jawab si pengendara.
Gama merogoh dompet, lalu menyodorkan selembar uang biru. “Saya ganti. Ambil kembaliannya.”
Pengendara itu mengangguk. “Terima kasih.”
Motor ojek pun pergi. Nadira menatap Gama, alisnya terangkat. “Kamu ini…”
“Jangan marah-marah,” balas Gama ringan. “Nanti cantiknya hilang.”
Nadira menghela napas. Percuma berdebat. Ia pun naik ke jok belakang.
Motor melaju, membelah jalan yang mulai ramai. Angin siang menyapu wajah Nadira.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan rumah makan.
“Terima kasih,” ucap Nadira singkat.
Ia berbalik tanpa menunggu jawaban. Namun langkahnya terhenti di ambang pintu. Nadira menoleh kembali.
Keningnya mengernyit, saat mendapati Gama berdiri dibelakangnya. “Kenapa kamu ikut?”
“Gak boleh?” Gama menyeringai. “Aku mau makan siang. Ingat, Mbak. Pembeli itu raja.”
Nadira mendengus pelan. “Ya sudah.”
Ia melanjutkan langkahnya masuk, dan Gama mengikutinya dari belakang.
“Mau makan apa?” tanya Nadira, tangannya sudah bersiap mengambil lauk yang terpajang di etalase.
“Ikan bakar, sambal terasi, sama—”
“Kamu gak bisa makan pedas,” potong Nadira. “Nanti perutmu sakit. Aku buatkan yang gak pedas.”
“Perhatian sekali,” gumam Gama.
“Kalau kamu sakit perut, Tante Rini pasti mengomeli ku,” sahut Nadira kesal.
Gama tertawa kecil.
“Gak lucu,” ketus Nadira.
Beberapa saat kemudian, Nadira menyodorkan sambal khusus itu ke hadapannya. “Nih. Habiskan.”
“Temani aku,” pinta Gama. “Aku takut ada yang menculik ku.”
Nadira melirik malas. “Siapa yang akan menculik mu?”
“Tante-tante,” jawab Gama santai.
Mata Nadira membelalak sejenak sebelum ia memalingkan wajah. ‘Percaya diri sekali,’ batinnya.
“Gama, aku ke ruang kerja dulu. Ada berkas yang harus aku tandatangani.”
Gama hanya mengangguk, pandangannya tak terangkat.
Nadira tersenyum tipis, lalu berbalik meninggalkannya.
Di ruang kerja, langkah Nadira melambat. Pandangannya jatuh pada meja yang dipenuhi berkas pembukuan. Ia meraihnya satu per satu, membaca sekilas angka dan catatan di sana.
Dahinya berkerut.
Seketika ia mendesis, telapak tangannya menekan kening yang berdenyut.
“Kenapa akhir-akhir ini pusing terus?” gumamnya lirih. “Apa karena cuaca?”
Ia mengembuskan napas pelan.
Sunyi di ruang kerja itu terasa menekan, seolah merambat masuk ke dadanya.
Kling.
Nadira meraih ponsel yang bergetar di atas meja. Satu nama muncul di layar.
Wisnu.
Alisnya berkerut saat pesan itu terbuka.
Deg.
Jantungnya serasa berdebar dari biasanya. Napasnya tersendat, jemarinya bergetar menggenggam ponsel.
“Gak mungkin,” bisiknya lirih.
Kakinya melemah. Ia terduduk perlahan di kursi, punggungnya bersandar, pandangannya kosong menatap meja. Layar ponsel masih menyala di tangannya, sementara dadanya naik turun tak beraturan.
...
Hari-hari berlalu. Rutinitas kembali berjalan, tapi sunyi terasa menempel di setiap sudut rumah.
Siang itu, Nadira tengah bersantai di ruang tamu ketika suara langkah terdengar dari arah pintu. Ia menoleh, lalu bangkit.
“Mas Ardian?” panggilnya pelan.
Ia melangkah mendekat saat suaminya baru saja masuk, tubuhnya masih rapi dalam balutan pakaian dinas. Nadira mengambil tas dari tangan Ardian.
“Akhirnya Mas pulang juga,” ucapnya tenang. “Mas sudah makan?”
“Sudah.”
Nadira mengangguk. “Istirahatlah, Mas. Pasti capek.”
Ardian hanya berdeham singkat, lalu melangkah pergi menuju kamar. Nadira menatap punggung itu hingga menghilang di balik pintu, napasnya terlepas perlahan.
Beberapa detik ia diam, lalu menyusul suaminya ke kamar.
Setibanya di kamar, Nadira mendapati Ardian sedang melepas jas formalnya. Bahkan tanpa menoleh kearahnya, hanya untuk mencari tahu siapa yang masuk.
“Mas Ardian.”
“Apa?”
Nadira melangkah mendekat, lalu memeluknya dari belakang. Tubuh itu terasa dingin. “Ternyata aku gak bisa jauh dari Mas,” ucapnya pelan. “Boleh aku ikut Mas saja, kalau Mas mau pergi Dinas?”
Ardian diam sesaat. “Rumah makan mu bagaimana?”
“Aku minta orang jaga, lagian aku punya banyak karyawan yang terpercaya,” jawab Nadira cepat.
Tangan Ardian bergerak, memaksanya melepas pelukan. Ia melangkah mundur.
“Gak bisa, Nadira.”
Nadira mendongak. Napasnya tercekat. “Kenapa, Mas?” suaranya bergetar. “Takut perempuan itu pergi karena tahu Mas sudah punya istri? Atau jangan-jangan dinas keluar kota itu bukan buat kerja… tapi buat ketemu calon maduku?”
Tangannya menepuk dada Ardian. Air mata jatuh tanpa izin. “Apa gak bisa sedikit saja bersabar, Mas? Sedikit saja?”
“Aku gak mengerti maksudmu. Nadira.”
Nadira mengusap pipinya kasar. Jemarinya gemetar saat membuka ponsel, lalu mengangkatnya ke depan wajah Ardian. “Kalau ini, Mas mengerti maksudku?”
Wajah Ardian berubah. “Kamu dapat dari mana foto itu?”
Nadira tersenyum getir. “Jadi benar.”
“Ini salah paham. Aku dan Siska—”
Nadira mengangkat tangan, menghentikannya. Dadanya sesak. Tanpa menunggu penjelasan, ia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan kamar dengan langkah yang nyaris goyah.
Sementara Ardian, ia menatap pintu yang baru saja tertutup. Dalam. Enggan untuk mengejar istrinya.
...
Di pelataran rumah, Nadira berdiri mematung. Jemarinya bergetar saat menekan satu nama di layar ponsel.
Tak lama, sambungan tersambung.
“Gama,” ucapnya lirih.
“Mbak kenapa?” suara itu terdengar cemas.
Nadira menelan ludah. “Bisa ketemu? Aku tunggu di taman. Sekarang.”
Tanpa menunggu jawaban, ia mematikan panggilan. Jaket diraih, disampirkan cepat ke tubuhnya. Nadira melangkah melewati gerbang, langkahnya tegas, meski dadanya masih terasa perih.
Beberapa saat kemudian, Nadira tiba lebih dulu di taman. Ia duduk di bangku kayu, menatap kosong ke arah jalan setapak yang mulai sepi. Lampu taman memantulkan cahaya pucat, sementara pikirannya berputar tanpa arah.
Ia meremas jemarinya sendiri.
Setiap kali ia terlalu dekat dengan pria lain, rasa bersalah selalu datang lebih dulu. Namun mengapa balasan yang ia terima justru pengkhianatan? Dadanya terasa sesak. Belum lagi ucapan ibu mertuanya yang tajam, menancap tanpa sisa.
“Hapus air matamu, Mbak.”
Nadira tersentak. Ia mendongak.
Gama berdiri di hadapannya. Sebuah sapu tangan terulur. Nadira meraihnya, menekan kain itu ke sudut matanya yang panas.
“Ada apa?” tanya Gama, suaranya lebih pelan. “Menangis gak akan menyelesaikan apa-apa.”
Nadira menatapnya. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya terbuka.
“Mas Ardian… ternyata bermain di belakangku.”
Rahang Gama mengeras. “Mbak punya bukti?”
Nadira tak menjawab. Ia hanya membuka ponsel, menunjukkan layar itu. Gama membaca sekilas, lalu napasnya terdengar berat.
“Bedebah,” gumamnya. “Hanya pria bermental lapuk yang tega mempermainkan perempuan.”
Ia melangkah maju. “Ayo, Mbak. Aku hajar dia.”
Refleks Nadira menahan lengan Gama. Genggamannya erat. “Jangan.”
“Kenapa?”
“Aku capek,” ucapnya lirih. “Aku gak mau ribut. Aku minta kamu datang, karena aku butuh teman.”
Gama menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk. “Baik. Aku temani sampai Mbak tenang.”
Sunyi kembali menyelimuti taman. Angin malam menyapu kulit Nadira, dingin tapi menenangkan. Ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Gama.
“Gak apa-apa kan?” tanyanya pelan.
“Gak apa-apa,” jawab Gama santai. “Mau di pangkuan juga—”
“Berhenti bicara,” potong Nadira.
“Iya, iya. Jadi sekarang apa?”
“Ibu mertua sudah memikirkan pernikahan kedua untuk Mas Ardian,” ucapnya.
“Mbak terima?”
Nadira menggeleng. “Gak ikhlas, Gama. Aku sudah berjuang selama lima tahun ini.”
“Mbak masih mau bertahan?”
“Bagiku, pernikahan hanya sekali seumur hidup,” ucap Nadira.
“Kan masih banyak pria yang menunggu, mungkin aku salah satunya,” ucap Gama.
“Ah—sakit, Mbak. Jangan cubit,” keluh Gama.
“Salah siapa—ih, geli! Berhenti!” Nadira tertawa, tubuhnya berkelit saat jemari Gama menggelitik pinggangnya.
...
Beberapa saat kemudian.
“Hati-hati di jalan,” ucap Nadira.
“Siap!” balas Gama ringan.
Motor itu melaju, suaranya menjauh hingga benar-benar hilang. Senyum Nadira masih tertinggal beberapa detik, sebelum akhirnya ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Begitu pintu tertutup, langkahnya terhenti.
Ardian duduk di ruang tengah. Tatapannya tajam, menusuk.
“Habis dari mana?” tanyanya dingin.
Nadira tak menjawab. Ia memilih melangkah menuju tangga.
“Nadira, aku belum—”
“Membuang hal buruk,” potong Nadira. Ia berhenti di anak tangga, lalu menoleh. “Kalau Mas mau menikah lagi, silakan.”
Dada Nadira naik turun. Tangannya mengepal di sisi tubuh.
“Iya, aku sadar,” lanjutnya lirih. “Aku gak berguna. Mandul. Aku akui itu.” Sudut bibirnya terangkat tipis, pahit. “Jadi terserah Mas saja. Mau menikah lagi atau enggak.”
Setelah itu, Nadira membalikkan badan. Langkahnya naik tanpa ragu, tanpa menunggu jawaban.
Ia lelah.
Dan untuk pertama kalinya, ia tak ingin menahan apa pun lagi, termasuk suaminya.