NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Transmigrasi Gadis Kota Menjadi Petani

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.

Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.

Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.

Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.

Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.

Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab16

Malam harinya, Alya duduk di teras rumah, angin malam berhembus pelan, menggerakkan ujung hijabnya. Lampu bohlam kecil di sudut teras menyala redup, cukup untuk menemani sunyi yang sejak sore terasa menempel di dadanya. Pikirannya masih bercabang, tentang ladang, tentang ketidakpastian, tentang lelah yang tak sempat ia ucapkan.

dan tidak lama terdengar suara langkah dari di depan, Pelan, ragu, tapi jelas. Suara itu sudah tidak asing lagi.

Alya mendongak.

 Bayu berdiri beberapa langkah dari pagar, mengenakan jaket tipis, tangannya menyelip di saku celana. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya tetap sama, tenang, seolah selalu tahu kapan harus datang.

“Kok belum tidur?” tanyanya, suaranya rendah.

Alya menggeleng. “Masih pengin duduk sebentar.”

Bayu mengangguk, lalu tanpa basa-basi yang berlebihan, berkata, “Aku mau ngajak kamu keluar sebentar.”

Alya menatapnya, sedikit heran. “Keluar?”

“Cuma makan,” jawab Bayu cepat, seperti takut Alya keburu menolak. “Nasi pecel. Warung Bu Sarmi masih buka.”

Alya terdiam sesaat. Di tengah semua masalah yang mengimpit, ajakan itu terdengar sederhana, nyaris remeh. Tapi justru karena kesederhanaannya, dadanya terasa menghangat.

“Kamu nggak capek?” tanyanya pelan.

Bayu tersenyum tipis. “Capek. Makanya ngajak kamu.”

Alya akhirnya berdiri. “Tunggu sebentar.”

Mereka berangkat dengan motor tua Bayu. Jalan desa malam itu lengang, hanya diterangi lampu-lampu rumah yang temaram. Angin menyentuh wajah Alya, membawa aroma tanah basah dan daun pisang. Untuk sesaat, pikirannya berhenti berlari.

Di warung kecil pinggir jalan, mereka duduk berhadapan. Piring pecel diletakkan di tengah meja kayu, sambal kacangnya kental, hangat. Alya tersenyum kecil tanpa sadar.

“Kamu masih ingat,” katanya.

Bayu mengangkat bahu. “Kamu makannya selalu habis kalau pecel.”

Alya terkekeh pelan. “Merhatiin banget.”

Bayu tidak langsung menjawab. Ia menyuap perlahan, lalu berkata, “Aku cuma… pengin kamu makan dengan tenang malam ini.”

Kalimat itu sederhana, tapi Alya tahu ada perhatian di baliknya. Mereka makan dalam diam yang tidak canggung. Hanya suara sendok, angin malam, dan sesekali motor lewat.

Setelah beberapa saat, Alya berkata lirih, “Soal ladang itu… aku takut.”

Bayu mengangguk. “Aku juga.”

Alya menatapnya. “Takut kehilangan.”

“Bukan cuma ladang,” jawab Bayu jujur.

Alya menahan napas. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi juga banyak yang belum siap ia dengar. Bayu melanjutkan dengan suara lebih pelan, “Makanya malam ini aku ngajak kamu keluar. Biar nggak semuanya berat.”

Alya tersenyum, kali ini lebih tulus. “Terima kasih.”

Bayu menatapnya lama, lalu berkata, “Apa pun yang terjadi nanti, jangan hadapi sendiri.”

Kata-kata itu sederhana, tapi bagi Alya, itu seperti janji kecil yang tak perlu diucapkan keras-keras.

Dalam perjalanan pulang, Alya duduk membonceng dengan perasaan yang berbeda. Masalah masih ada. Ladang masih terancam. Masa depan masih samar. Tapi malam itu, di bawah langit desa yang tenang, Alya merasa tidak sepenuhnya sendirian.

☘️☘️☘️☘️☘️

Motor Bayu berhenti di depan rumah Alya. Mesin dimatikan, tapi tak satu pun dari mereka langsung turun. Malam terasa terlalu tenang untuk diputus begitu saja.

Alya masih duduk membonceng, tangannya berpegangan ringan di sisi jok. Bayu berdiri di samping motor, membuka helm, lalu menatap jalan desa yang sunyi.

“Kamu tahu,” kata Bayu akhirnya, suaranya rendah, “aku jarang ngajak orang keluar malam begini.”

Alya mengangkat wajah. “Kenapa?”

Bayu menghela napas pelan. “Karena biasanya aku nggak tahu harus ngomong apa.”

Alya tersenyum kecil. “Tapi tadi kamu banyak ngomong.”

“Iya,” Bayu mengangguk. “Karena sama kamu… rasanya nggak perlu mikir panjang.”

Kalimat itu membuat Alya terdiam. Ia turun dari motor, berdiri berhadapan dengan Bayu di bawah cahaya lampu teras yang temaram. Wajah Bayu tampak lebih jelas sekarang garis lelah di bawah matanya, sorot yang jujur tapi tertahan.

“Aku juga bukan orang yang gampang dekat sama siapa pun,” ujar Alya pelan. “Aku sering terlalu mikir. Takut kecewa.”

Bayu menatapnya tanpa menyela.

“Aku sering ngerasa harus kuat sendiri,” lanjut Alya. “Padahal capek.”

Bayu mengangguk pelan. “Aku ngerti capek itu.”

Alya tersenyum tipis. “Kamu ngerti karena…?”

“Karena aku juga begitu,” jawab Bayu. “Lama hidup sendiri, lama nggak berharap apa-apa. Sampai akhirnya ketemu orang yang bikin hari biasa jadi beda.”

Alya menelan ludah. “Orang seperti siapa?”

Bayu terdiam. Matanya berpindah ke ujung jalan, lalu kembali pada Alya. “Orang yang kalau lagi diam, tetap terasa ada.”

Alya merasa dadanya menghangat, sekaligus berdebar. Ia ingin tertawa, ingin bertanya lebih jauh, tapi juga takut jika kata-kata itu dilanjutkan terlalu jauh.

“Kamu tahu nggak,” kata Alya pelan, “kadang aku takut kalau merasa nyaman.”

“Kenapa?”

“Karena nyaman bikin orang lupa jaga jarak.”

Bayu tersenyum samar. “Jarak itu perlu. Tapi terlalu jauh juga bikin dingin.”

Alya menatapnya lama. Ada sesuatu di antara mereka—bukan janji, bukan pengakuan, hanya perasaan yang sama-sama tumbuh diam-diam.

“Alya,” panggil Bayu tiba-tiba, suaranya lebih serius.

“Iya?”

“Aku nggak tahu ke depan gimana. Masalah ladang, hidup… semua bisa berubah.”

Alya mengangguk. “Aku tahu.”

“Tapi,” Bayu melanjutkan, lalu berhenti sejenak, seolah menimbang kata yang tepat, “selama kamu di sini, aku pengin kamu tahu satu hal.”

Alya menahan napas. “Apa?”

Bayu tersenyum kecil, menunduk sebentar, lalu berkata, “Aku senang kamu ada.”

Hanya itu. Tidak lebih. Tidak kurang.

Alya mengangguk pelan. “Aku juga.”

Malam itu tidak ada sentuhan, tidak ada janji yang diucapkan. Tapi di antara mereka, sesuatu telah diletakkan, pelan, hati-hati, seperti benih yang belum disiram, tapi sudah pasti akan tumbuh.

Dan di tengah-tengah ladang yang sedikit bermasalah, malam ini membawa kenyamanan tersendiri, entah cinta yang mulai tumbuh seiring waktu, atau rasa nyaman, semuanya masih tersimpan rapih di dasar hati keduanya.

Bayu, menatap wajah Alya, pria itu seolah ingin memastikan jika perempuan dihadapannya itu malam ini merasa tenang.

"Yo wes, kalau begitu, aku pamit dulu ya," ucapnya pelan. "Sudah malam, dan ingat jangan mikir macem-macem, karena kamu tidak sendiri."

Alya tersentuh, hatinya berdebar, namun ia masih takut untuk menyimpulkan perasaannya itu. "Makasih untuk malam ini," ujarnya.

"Sama-sama," sahut Bayu.

Alya pun masuk ke dalam pintu, namun sebelum pintu tertutup perempuan itu menyempatkan untuk mengucapkan selamat malam.

"Bay," panggilnya pelan.

"Iya."

"Selamat malam," ucapnya sambil melambaikan tangan.

Bayu pun menanggapi itu dengan hangat pria itu tersenyum lebar, senyum yang membuat hati Alya bergetar, dan di saat pintu sudah tertutup, senyum Alya muncul dengan sendirinya, hatinya mulai bergetar aneh, mungkin dunia yang sekarang ia pijak, tidak selalu aman, tapi ditengah-tengah itu perasaan timbul tanpa diminta.

Bersambung ....

1
Dew666
💐💐💐💐💐
Dew666
💜💜💜💜💜
Dew666
🏆🏆🏆🏆🏆
ari sachio
makin penasaran dg bayu
PanggilsajaKanjengRatu: Halo kak, kalo berkenan yuk mampi juga ke cerita ku, judulnya “Cinta Yang Tergadai ”🙏
total 1 replies
Wanita Aries
wah bayu sama alya sama2 trluka berrti bsa saling menyembuhkan
ari sachio
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Wanita Aries
semangat trus alya menuju sukses
Wanita Aries
kl sudah tiada baru terasaaa
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Wanita Aries
penasaran ma khidupan bayu
Sartini 02
ditunggu updatenya kak...😍
Wanita Aries
halimah kocak😁
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
Wanita Aries
sabar yaa al smua akan indah pada wktnya
Dew666
🍎👑
Wanita Aries
kabar keluarga alya gmn thor masa gk nyariin
Ayumarhumah: sabar Kakak ....
total 1 replies
Wanita Aries
wahh apa bayu jodoh alya.

thor novelnya jgn trllu kaku dong
Ayumarhumah: owalah iya kak makasih sarannya
total 3 replies
Wiwik Susilowati
biasa baca bahasa jawa halus tiba2 ada bahasa jawa yg lain msh bingung ngartiinny...lanjut thor💪💪
Ayumarhumah: iya kak, ini bahasa Osing khasnya Banyuwangi. he he
total 1 replies
Dew666
💜💜💜💜💜
Wanita Aries
lanjut thor
Ayumarhumah: OK kakak ...
total 2 replies
Supryatin 123
lnjut thor 💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!