NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:258.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Kiara terbangun lebih dulu. Bukan karena suara alarm, bukan pula karena cahaya matahari yang menyelinap lewat celah gorden. Dia terbangun karena perasaan asing yang hangat dan nyeri pada tubuhnya. Dadanya terasa ringan, seolah ada beban lama yang diam-diam dilepas semalam.

Kiara tak langsung membuka mata.

Beberapa detik, Kiara hanya mendengarkan napas di sampingnya. Teratur, dan dalam, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat ketika ia menyadari, Alvar masih di sini.

Pelan-pelan, Kiara membuka mata.

Cahaya pagi jatuh lembut ke wajah Alvar yang tertidur menghadapnya. Pria itu tampak berbeda saat tidur. Tidak dingin, tidak kaku, garis wajahnya terlihat lebih lembut, alisnya tak lagi berkerut seperti biasanya. Kiara menelan ludah, lalu tanpa sadar tersenyum.

'Ini beneran ya … bukan mimpi.'

Tangannya bergerak pelan, hampir tanpa suara, merapikan ujung selimut yang sedikit bergeser. Saat itulah Alvar bergumam kecil, lalu membuka mata.

Tatapan mereka bertemu, Kiara refleks menarik tangannya, wajahnya langsung memanas.

 “A-aku … aku mau bangun,” katanya gugup, suara terdengar lebih kecil dari biasanya.

Alvar mengedip, seolah masih menyesuaikan diri dengan pagi. Lalu senyum tipis terbit di sudut bibirnya, senyum yang berbeda.

“Pagi,” ucapnya pelan. Satu kata itu membuat Kiara ingin bersembunyi di balik selimut.

“P-pagi,” balas Kiara cepat, lalu berdeham. “Aku mau … ke kamar mandi.”

Kiara mencoba bangun, tapi pergelangan tangannya tertahan lembut.

“Kiara,” panggil Alvar, suaranya rendah dan tenang. Tidak menahan, hanya meminta. Saat Kiara menoleh, Alvar sudah duduk bersandar, menatapnya dengan mata yang sama sekali tak asing lagi.

“Kamu baik-baik aja?” tanyanya sungguh-sungguh.

Pertanyaan sederhana itu membuat Kiara terdiam. Lalu, ia mengangguk pelan.

“Baik,” jawabnya jujur.

“Lebih dari baik.” Kiara tersenyum malu.

Alvar tersenyum kali ini jelas merujuk pada kejadian tadi malam.

“Syukurlah.”

Keheningan kembali jatuh, kali ini canggung tapi manis. Kiara menunduk, memainkan ujung selimut. Alvar memperhatikannya, lalu berdehem kecil.

“Kamu … mau mandi duluan?” tanyanya, mencoba terdengar santai.

Kiara mengangguk cepat. “Iya.”

Kiara berdiri terlalu cepat, nyaris tersandung karpet. Alvar refleks meraih pinggangnya sebentar untuk menahan. Mata mereka kembali bertemu, Kiara langsung membeku.

“Ma—makasih,” katanya cepat, lalu buru-buru masuk kamar mandi tanpa berani menoleh lagi.

Di balik pintu, Kiara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pipinya panas, jantungnya berisik. Dia menatap bayangannya di cermin, rambut sedikit berantakan, mata masih mengantuk, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana.

Sementara itu, di kamar, Alvar tersenyum kecil sendirian. Dia mengusap wajahnya, lalu menatap sekeliling kamar Kiara. Kamar itu kini terasa berbeda baginya, bukan sekadar ruangan penuh kenangan lama, tapi tempat di mana sesuatu yang baru mulai tumbuh.

Beberapa menit kemudian, Kiara keluar dengan rambut masih setengah basah, mengenakan pakaian rumah yang sederhana. Alvar berdiri dari tepi tempat tidur.

“Gantian aku,” katanya.

“Handuknya … yang kemarin,” ucap Kiara sambil menunjuk lemari kecil, lalu berhenti. “Eh—yang bersih maksudnya.”

Alvar terkekeh pelan. “Aku tahu.”

Saat Alvar masuk kamar mandi, Kiara duduk di tepi ranjang. Tangannya meraih ponsel, tapi tak benar-benar dibuka. Pikirannya melayang ke tatapan Alvar pagi ini, ke caranya bertanya apakah ia baik-baik saja.

Tak lama, ketukan pelan terdengar di pintu.

“Kiara,” suara Melati terdengar.

“Sarapan sudah siap.”

Kiara bangkit.

“Iya, Ma.”

Alvar keluar tak lama kemudian. Rambutnya masih sedikit basah, kemejanya rapi. Ia menoleh ke Kiara, lalu mengulurkan tangan tanpa berkata apa-apa.

Kiara ragu sepersekian detik lalu menggenggamnya.

Di meja makan, suasana terasa lebih hangat dari biasanya. Tuan Rahmat tersenyum melihat mereka duduk bersebelahan. Melati memperhatikan dari balik cangkir teh, lalu berdeham kecil.

“Kalian kelihatan … lebih segar,” katanya sambil tersenyum penuh arti.

Kiara hampir tersedak.

Alvar menoleh, lalu menjawab tenang, “Tidurnya cukup, Ma.”

Kiara menunduk, senyum kecil tak bisa disembunyikan.

Saat tangan Alvar menyentuh punggung tangannya di bawah meja, sekadar sentuhan singkat Kiara menoleh, dan mereka saling tersenyum kecil. Tak ada kata, tapi ada pemahaman yang diam-diam lahir di sana.

“Kalau kamu sudah di Jakarta, Alvar, Papa harap kamu bisa mulai bekerja,” ujarnya.

“Ilmu kamu sayang kalau tidak dipakai.”

Alvar meletakkan sendoknya perlahan. Ia tidak langsung menjawab, justru melirik ke arah Kiara yang duduk di sampingnya. Tatapan itu singkat, tapi sarat makna.

“Maaf, Pa,” kata Alvar akhirnya, suaranya tenang.

“Aku belum mau memegang ibu bersalin sebelum istriku.”

Kalimat itu membuat Kiara sedikit tersentak. Dia refleks menoleh, lalu tanpa sadar menyela.

“Tapi kamu pernah membantunya, Mas.”

Sekonyong-konyong suasana jadi hening. Semua mata tertuju padanya. Kiara langsung menyesal. Pipinya memanas, ia buru-buru menunduk.

“Maksud aku—” ia menarik napas kecil, mencoba menata kata-kata.

“Mas Alvar pernah bantu waktu di desa,” lanjutnya cepat, jelas menahan malu. Ia bisa merasakan tatapan Alvar, juga sorot mata Melati yang seolah membaca sesuatu yang lain dari ucapannya.

Alvar tersenyum tipis. Bukan senyum mengejek, melainkan senyum yang menenangkan.

“Aku tidak memegangnya, Pa,” jelasnya. “Aku hanya memantau. Yang menangani langsung Dokter Hesti.”

“Oh begitu,” Rahmat mengangguk pelan, lalu berpikir sejenak.

“Kalau begitu, tidak perlu memegang persalinan dulu. Kamu buka praktik pemeriksaan kehamilan saja. Papa bisa rekrut bidan dan dokter kandungan lain. Untuk bersalin, pasien bisa dirujuk ke rumah sakit. Papa punya kenalan kalau kamu mau.”

Alvar terdiam, dia kembali melirik Kiara, lebih lama kali ini.

Pandangannya membuat Kiara gugup. Seolah-olah keputusan besar itu kini juga berada di tangannya.

“Aku belum bisa putuskan segera, Pa,” ucap Alvar akhirnya.

“Sekarang aku sudah punya istri. Apa pun yang ingin aku lakukan, aku akan berdiskusi dulu dengan Kiara.”

Ucapan itu membuat Melati mengangkat alis, lalu menoleh ke putrinya.

“Nah, Kiara lihat! Harusnya sebelum jadi karyawan Darius kamu tanya dulu sama Alvar.”

“Ma…” Kiara merengek pelan, nada suaranya terdengar kecil dan manja tanpa ia sadari.

Alvar langsung menimpali, “Nggak apa-apa, Ma. Aku yang akan antar Kiara kerja nanti.” Ia menoleh ke Kiara, senyumnya lembut. “Lagipula Kiara cuma bantu, kan? Begitu desainnya selesai, dia juga nggak akan kerja lagi.”

“Mas…” Kiara berbisik, separuh kaget, separuh tersipu.

“Kita bicarakan nanti,” balas Alvar pelan, hanya untuknya.

Di seberang meja, Tuan Rahmat memperhatikan mereka dengan senyum samar. Ada sesuatu yang membuat dadanya terasa lega. Ia melihat bagaimana Alvar tidak memaksakan kehendak, tapi juga tidak melepas tanggung jawab.

Begitu selesai makan, Kiara bersiap ke kantor.

Mobil melaju pelan meninggalkan halaman rumah Pratama. Pagi itu Jakarta belum terlalu padat, udara masih menyisakan sisa hujan semalam. Di dalam mobil, suasana justru terasa lebih sunyi daripada jalanan di luar.

Alvar menyetir dengan satu tangan, satunya lagi bertumpu santai di setir. Sesekali ia melirik Kiara dari sudut matanya. Senyum kecil muncul tanpa sadar.

“Kiara,” panggilnya pelan.

“Hm?” Kiara menoleh, lalu buru-buru kembali menatap ke depan ketika mata mereka bertemu terlalu lama.

“Kamu kenapa?” tanya Alvar, pura-pura polos.

“Kenapa apa?” jawab Kiara cepat.

“Kok dari tadi diam.”

Kiara mendengus pelan. “Biasa aja.”

Alvar tertawa kecil. “Semalam juga kamu bilang biasa aja.”

Kiara langsung menoleh tajam. “Mas!”

Alvar menahan senyum. “Iya, iya. Aku fokus nyetir.”

“Ternyata…” ia berhenti sejenak, lalu melirik Alvar sekilas, “pria desa yang dingin, cuek, pendiam itu bisa protektif … dan agresif juga, ya.”

Alvar langsung mengangkat alis, lalu menoleh sebentar ke arahnya.

“Oh?”

Kiara menggigit bibir, merasa terlalu jujur. “Aku cuma komentar.”

Mobil melambat di lampu merah. Alvar memanfaatkan momen itu, menatap Kiara lebih jelas. Tatapannya tidak lagi dingin seperti dulu ada kehangatan, juga godaan yang terang-terangan.

“Tapi kamu suka, kan?” ujarnya tenang.

Kiara terdiam.

Alvar tersenyum miring.

“Semalam,” lanjutnya santai, “banyak sekali lukisan desain yang kamu buat di punggungku.”

“Mas Alvar!” Kiara sontak memukul lengan Alvar, tidak keras, lebih ke refleks karena malu.

Alvar tertawa kecil, suara rendahnya memenuhi kabin mobil.

“Tenang, aku pegang setir kok.”

“Kamu tuh—” Kiara kehabisan kata. Ia kembali memalingkan wajah ke jendela, tapi kali ini bibirnya melengkung tanpa sadar.

“Kenapa?” goda Alvar.

“Nyebelin,” jawab Kiara pelan.

“Tapi kamu senyum.”

Kiara tidak membantah.

Lampu hijau menyala, mobil kembali melaju. Di antara bunyi klakson dan hiruk-pikuk kota, ada sesuatu yang berubah di antara mereka bukan lagi canggung karena terpaksa, melainkan canggung karena mulai peduli.

Begitu mobil berhenti di depan gedung perusahaan, Kiara langsung membuka sabuk pengamannya dan turun. Gerakannya sedikit terburu-buru, seolah ingin menyembunyikan sesuatu, padahal justru itulah yang membuatnya terlihat berbeda.

“Mas, kamu pulang aja,” katanya sambil menutup pintu mobil.

Alvar ikut turun, bersandar santai di pintu mobil. “Nggak.”

Kiara menoleh. “Kenapa nggak?”

“Aku tunggu di sini.”

“Mas,” Kiara menghela napas kecil, “aku cuma kerja sekitar satu jam. Nanti jam makan siang aku udah balik.”

Alvar melirik jam tangannya. “Sekarang jam sepuluh.”

“Ya, sekitar jam sebelas atau setengah dua belas aku selesai.”

Alvar mengangguk pelan, lalu menatap Kiara dari ujung kepala sampai kaki. Ada senyum kecil yang tak bisa ia sembunyikan.

“Semangat,” ucapnya singkat.

Kiara terdiam, lalu balas tersenyum. Senyum yang berbeda, yang lebih lembut.

“Iya.”

Sebelum berbalik pergi, Alvar menambahkan pelan, “Jangan capek-capek.”

Kiara mengangguk lagi, kali ini tanpa menatapnya, takut pipinya makin memanas. Ia melangkah cepat menuju pintu masuk, jantungnya berdebar aneh.

Baru beberapa langkah masuk ke lobi, suara ceria itu menyapanya.

“Kiara!”

Delia berdiri dengan tas di bahu, matanya menyipit penuh selidik.

“Kamu tuh kenapa sih hari ini?”

Kiara berhenti. “Kenapa?”

“Beda,” Delia mendekat, memutar Kiara pelan seperti menilai. “Auranya beda. Senyum kamu juga beda.”

Kiara refleks tersenyum, lalu buru-buru menunduk. “Biasa aja.”

“Bohong.” Delia menyeringai. “Kamu kelihatan … bahagia.”

Kiara spontan menarik tangan Delia. “Udah ah, masuk. Banyak orang lihatin kita.”

Delia tertawa kecil, membiarkan dirinya diseret.

“Fix,” katanya pelan tapi menggoda, “ada sesuatu yang terjadi semalam.”

Kiara tak menjawab. Tapi cara ia menggenggam tangan Delia sedikit lebih erat dan senyum malu-malu yang tak hilang dari wajahnya sudah cukup menjadi jawaban.

Alvar masih bersandar di mobilnya, tatapannya sesekali mengarah ke pintu lobi tempat Kiara menghilang.

Tiba-tiba ponselnya berdering, nama Ibu muncul di layar.

Alvar langsung mengangkatnya. “Iya, Bu?”

Suara di seberang terdengar gemetar, napas ibunya tak beraturan.

[Var … gudang bawang kita … kebakar tadi malam.]

Tubuh Alvar menegang seketika.

“Apa?” suaranya turun, berat. “Kebakar gimana, Bu?”

[Api dari belakang gudang. Warga udah bantu padamkan, tapi … hampir semua habis. Bawang yang mau dikirim minggu ini … habis, Var.]

Tangan Alvar mengepal kuat, rahangnya mengeras. Gudang itu, hasil kerja keras berbulan-bulan, tumpuan hidup banyak orang desa.

“Bu tenang dulu,” katanya menahan emosi. “Sekarang kondisinya gimana? Ada yang luka?”

[Alhamdulillah nggak ada korban. Tapi … kerugiannya besar, Var.]

Alvar menutup mata sejenak, napasnya berat, dadanya terasa sesak.

Di kepalanya, bayangan wajah Kiara yang tadi tersenyum masih jelas dan kini bertabrakan dengan kenyataan pahit dari desa.

“Aku urus,” ucapnya akhirnya, tegas meski suaranya tertahan.

“Aku nggak akan lepas tangan.”

Telepon terputus.

1
Aditya hp/ bunda Lia
ternyata yang julid para dokter senior kalah pamor kalah cerdas mentang2 senior ...
Ariany Sudjana
tetap semangat yah dokter Alvar, Dan tunjukkan kamu jadi dokter yang kompeten dan berintegritas. tapi harus selalu waspada yah, banyak dokter senior yang tidak suka sama kamu
suryani duriah
yg senior hrsnya bangga sama yg masih muda tapi kompeten ini malah iri😔
dyah EkaPratiwi
dr Bram tambah iri ini sama alvar
Teh Euis Tea
dr bram sepertinya iri sm alvar nih
Rokhyati Mamih
begitulah profesi kalau kita maju dan bertanggung jawab justru ada aja yang menjegal 💪💪💪💪 buat Alvar
tiara
semangat Alvar tapi tetap waspada ya
Nar Sih
dr bram iri dgn mu alvar ,tetap hti,,dan waspada org yg ngk suka slalu cri jln buat jatuhin lawan nya ,semagatt akvar💪😊
Hendra Yana
lanjut
Oma Gavin
dokter bram sengaja menjebak alvar dan ingin menjatuhkan tapi sayangnya alvar berhasil operasi dgn sukses
Nar Sih
sabarr ya alvar ,org baik pasti bnyk ujian
Esther
pasienmu itu dokter Bram, jangan pura2 lupa ya
Esther
malah saling tuduh, tangani dulu pasiennya itu lho
tiara
bukannya cepat ditangani malah ribut ini para dokter senior, semoga masalahnya dapat segera diatasi ya
Aditya hp/ bunda Lia
ini para senior malah saling tuduh pasien udah kritis pula dasar gak ngotak ntar Alvar yang tangani dia jadi tambah harum namanya kalian lebih sirik lagi ....
Siti Amyati
ujian buat alvar smoga cepat kembali seperti semula ,emang pingin sukses banyak rintangan apalagi penyakit hati bikin daeting
Narti Narti
maa baru mampir kak🤭🤭🤭
Nar Sih
semoga kebahagiaan yg seperti ini terus berjalan di rmh tangga mu ya alvar kiara ,dan gk ada ujian yg berat lgi😊
Gadis misterius
Bermacam2 tipe orang yg ada dialam semesta ini, slah satunya yg iri dengki meliht orang lain bahagia mlah panas ada orang yg melihatt orang lain bahagia ikut bahagia jd hati2 krn manusia seperti yg iri dengki
Esther
pasien terakhir, pasien istimewa ya Alvar
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!