Dylan adalah seorang dokter bedah ilegal. Banyak orang di dunia bawah tanah mengandalkannya ketika ada anggota kelompok mereka yang terluka.
Masa kecilnya begitu kelam, seluruh harta kekayaan ibunya dijual oleh ayahnya untuk membangun sebuah perusahaan. Tapi ternyata, pengorbanan ibunya dibalas dengan pengkhianatan yang sangat menyakitkan.
Setelah ibunya meninggal, ayahnya terpaksa harus membuang Dylan, karena selingkuhannya tidak mau menerima kehadirannya.
Dylan berjanji, suatu hari nanti dia akan membalas perbuatan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DF_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sore ini setelah pulang bekerja, Dylan mendapatkan panggilan telepon dari salah satu klan mafia langganannya, Klan Wolves. Klan tersebut memang sering mengandalkannya ketika ada anggota yang terluka.
Meskipun dia adalah seorang dokter ilegal, tapi dia tetap memegang prinsip bahwa dia harus menyelamatkan nyawa siapapun yang menjadi pasiennya. Tak peduli latar belakang pasien itu seperti apa.
Saat ini dia sedang mengobati dua orang pasien yang terluka. Setelah selesai mengobati pasien wanita bernama Jesika. Kini, giliran dia mengobati pasien pria bernama Lucas.
Setelah beberapa saat memeriksa, Dylan menarik napas lega. Tidak ada tanda-tanda patah tulang atau cedera kepala sang pasien.
Dylan bergegas membersihkan bekas luka di wajah Lucas agar tidak terjadi infeksi. Beberapa bagian kulit sudah mulai lecet dan mengeluarkan cairan, jadi dia harus hati-hati membersihkannya satu per satu.
Setelah itu, Dylan mengoleskan salep antiinflamasi dan membungkus area yang paling parah dengan perban elastis untuk mengurangi pembengkakan.
Tiba-tiba seorang wanita datang, diikuti suaminya dari belakang. Wanita itu adalah Yuna, salah satu pemimpin klan tersebut. Dia bertanya dengan nada khawatir, "Bagaimana keadaan mereka, Dokter?"
"Kedua teman Anda sudah saya obati, luka mereka tidak cukup parah," jawab Dylan.
Wanita itu sangat bernapas lega, "Terimakasih, Dokter."
"Sama-sama," jawab Dylan. Kemudian dia memberikan beberapa obat padanya. "Ini obat untuk pereda nyeri dan mengurangi pembengkakan pada kedua teman Anda."
Beep...
Beep...
Beep...
Tiba-tiba ponselnya Dylan berbunyi. Dia mendapatkan pesan dari Sinta.
[Dylan, kamu dimana? Sekarang sedang ada rentenir di rumah Tante. Mereka bersikukuh ingin menyita rumah jika hutang Tante tidak dibayar.]
...****************...
Setelah mendapat pesan tersebut, Dylan bergegas pergi ke rumah calon mertuanya itu.
"Sudah aku transfer 100 juta. Jadi kalian jangan datang kesini lagi. Hutang Tante Sinta sudah lunas," ucap Dylan pada seorang rentenir.
Rentenir tersebut tersenyum puas saat mengecek mbanking di ponselnya. "Oke. Urusan kita sudah selesai."
Lalu rentenir itu memberikan kode pada anak buahnya untuk segera pergi dari rumah Sinta.
Setelah rentenir itu pergi, Sinta segera menghampiri Dylan. Bukannya berterimakasih, dia malah mengungkit-ungkit jasanya di masa lalu. "Anggap saja itu sebagai balas budi. Kamu dari kecil sudah menumpang di rumah ini, Dylan."
Dylan tersenyum dengan sopan. "Iya, aku tahu, Tante. Aku tidak akan pernah melupakan jasa Om Jefri dan Tante yang sudah merawat dan membesarkanku."
Sinta berkata dengan nada sinis, "Baguslah. Kamu memang harus tahu balas budi."
Tiba-tiba Sinta membahas tentang hubungan Dylan dengan putrinya. "Tante harap kamu jangan terburu-buru menikahi Niken. Kamu harus mapan dulu. Kamu harus cari pekerjaan yang lebih terjamin. Niken sudah diangkat menjadi karyawan tetap lho di rumah sakit. Dia menjadi seorang dokter sekarang. Setidaknya kamu harus memiliki penghasilan yang lebih besar darinya."
Sinta menambahkan, "Bahkan sudah ada pria-pria yang jauh lebih mapan tertarik pada Niken."
Dylan hanya diam. Mungkin Sinta lupa, bahwa selama ini Dylan yang membiaya adiknya Niken yang masih sekolah. Dia juga yang membantu Niken sampai lulus kuliah. Bukan hanya itu, dia juga yang memenuhi kebutuhan mereka. Apakah semua itu tidak cukup?
Tapi... meskipun hati Dylan terluka dengan kata-kata calon mertuanya itu, setidaknya dia sedikit terobati saat mendengarkan kabar bahwa Niken telah berhasil diangkat menjadi dokter tetap di rumah sakit tempat dia bekerja.
Bagaimana pun juga dia yang membantu Niken berjuang dari nol, untuk mencapai mimpinya. Tentu saja, dia sangat ikut bahagia.
...****************...
Setelah pulang ke rumah kontrakan, Dylan langsung membersihkan diri. Setelah berpakaian lengkap, dia membaringkan tubuhnya di kasur lantai. Hatinya masih tidak tenang memikirkan bagaimana caranya melunasi hutang pada pemilik Barack Mal.
"Dari mana aku mendapatkan uang 500 juta dalam satu bulan? Aku mendapatkan uang 100 juta saja butuh waktu berbulan-bulan."
Dylan teringat kembali dengan bagaimana mengerikannya kepribadian pemilik mal tersebut. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika dalam satu bulan dia tidak bisa membayar uang 500 juta itu. Bisa-bisa pemilik mal itu akan meminta seluruh organ tubuhnya.
Beep...
Beep...
Beep...
Tiba-tiba ponselnya Dylan berdering, dia mendapatkan pesan dari Niken.
[Dylan, aku ingin bertemu denganmu. Aku tunggu kamu di taman kota jam tujuh malam.]
Saat melihat tanggal di ponselnya, Dylan tiba-tiba teringat bahwa hari ini adalah tanggal jadian dia dengan Niken yang kelima tahun.
"Mengapa aku bisa lupa? Sekarang ulang tahun hubungan kami yang ke lima tahun."
Menjalani hubungan selama lima tahun tentu tidak mudah, pasti ada banyak rintangan yang mereka lalui. Tapi Dylan adalah seorang pria yang selalu memperlakukan kekasihnya dengan baik. Bahkan dia sangat menjaga kehormatan kekasihnya itu.
Dylan segera memacu motor bebeknya. Sebelum menuju taman, dia mampir ke sebuah toko perhiasan untuk membeli hadiah untuk Niken.
"Mbak, berapa kalung yang ini?" tanya Dylan sambil menunjuk sebuah kalung yang sangat cantik.
"Sepuluh juta, Mas," jawab pelayan toko dengan ramah.
Beruntung tadi Dylan mendapatkan job, jadi dia memiliki uang untuk membeli kalung tersebut. "Aku ingin membelinya."
...****************...
Dylan telah tiba di taman yang dijanjikan. Dia bergegas memarkirkan motornya. Lalu memasuki area taman untuk menemui Niken.
Dylan pun tersenyum saat melihat Niken yang sedang duduk di kursi besi. Dia sangat berharap Niken menyukai hadiah darinya.
"Niken," panggilnya.
Niken segera berdiri. Dia memandangi Dylan yang sedang berjalan mendekatinya.
Dylan tersenyum lebar, dia ingin memberikan sebuah paper bag pada Niken. "Maaf terlambat. Tadi aku habis... "
Tapi Dylan langsung berhenti bicara saat mendengar perkataan kekasihnya itu, membuatnya terpaku.
"Dylan, maafkan aku. Aku rasa hubungan kita sampai disini."
ahh author nya pasti riset dl ini👍👍👍@DF_14 ᴶᵘʳᵃᵍᵃⁿ ᴱˢ ᴮᵃᵗᵘ good job thor👍
I know you gonna make it, Dy 👏...
Biancaaaa kasih reward special untuk Dylan yaakkk /Drool/....
Awass ditagih lho janjinya wkwkwkwk...
Selalu melarikan diri dari kenyataan dan lari dari tanggu gjawab 😡👊✊...
Mental pecundang telah mendarah daging ☹️....
Luar biasa, nasib baik masih menyertaimu Miler...
Biarkan yang berkompeten saja yang turun tangan menangani pasien....
Jangan berisik dan nyrimpeti...
Cukup diam, anteng, dan renungi kesalahan yang seringkali terjadi ketika menangani pasien..
Siap2 menerima konsekuensi..
Karena kecerobohan dan kelalaianmu...
Yang sudah berada di level yang sangat membahayakan pasien 😱😡...
Meski ada yang sedang meregang nyawa di depan mata /Panic/...
Lakukan sesuatu semaksimal mungkin papa, semampu yang Anda bisa..
Langkah awal ini akan sangat berarti sebagai salah satu dukungan moral untuk Dylan...
Percayalah papa itu akan menjadi hal luar biasa yang akan selalu diingat oleh Dylan sepanjang hidup..
Bobby sebentar lagi keangkuhanmu akan digantikan dengan penyesalan seumur hidupmu😩