Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.
Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.
"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.
"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CURHAT
Di kafe tempat Ziva dan teman-teman nongkrong, suara tawa Viola pecah memenuhi sudut ruangan.
Di atas meja, berserakan berbagai macam menu brunch dan beberapa tas belanjaan dari butik ternama yang baru saja mereka kunjungi.
"Sumpah Zi! Jadi si kanebo Kering itu calon suami lo?" tanya Viola memegangi perutnya, tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita Ziva tentang kejadian di bandara dan makan malam horor tadi malam.
"Gak lucu, Vio, dia itu manusia paling menyebalkan, paling angkuh, dan paling kaku yang pernah gue temuin seumur hidup," jawab Ziva menggerutu, sambil menusuk sepotong waffle dengan beringas.
Tiara, yang biasanya paling kalem, hanya bisa geleng-geleng kepala, dia tidak menyangka sahabat nya yang paling jutek dari masa mereka sekolah dulu, kini akan segera menikah dengan pria yang memiliki kepribadian seperti kulkas dua belas pintu.
"Tapi dari segi bibit, bebet, bobot, Damian Alexander itu level dewa, Zi, bahkan di rumah sakit tempat gue kerja, perawat-perawat sering banget ngebahas dia, katanya dia pria idaman di negara ini, dingin tapi bikin penasaran," ucap Tiara, ikut meramaikan suasana.
"Bikin penasaran apanya? Bikin darah tinggi iya!" jawab Ziva cepat.
"Dia bilang pernikahan kita itu kontrak sosial dan bisnis, bayangin Ti! Bayangin! Gue berasa kayak saham yang lagi dia akuisisi," teriak Ziva, frustasi.
Viola menghentikan tawanya, lalu menatap Ziva dengan serius.
"Tapi Zi, lo nggak bisa bantah kan? Maksud gue, ini keluarga Alexander, dan tadi malam lo bilang dia nggak nolak perjodohan ini? Itu aneh banget buat cowok sedingin dia, karena biasanya cowok kayak gitu bakal nantang abis-abisan kalau nggak tertarik," ucap Viola, mode serius.
"Dia itu cuma robot yang patuh sama orang tuanya, Vio, dia nggak punya perasaan," jawab Ziva ketus.
"Tapi cakep kan?" goda Viola sambil menaik-turunkan alisnya.
Ziva terdiam sejenak, bayangan rahang tegas dan mata tajam Damian di bawah lampu restoran tadi malam tiba-tiba melintas
"Ya... kalau fisik, gue akuin dia lumayan, tapi kepribadiannya minus seratus!" jawab Ziva, masih belum reda emosi nya.
"Tapi sumpah Zi, gue masih gak nyangka, di antara kita bertiga ternyata lu duluan yang nikah, aku pikir bakalan Tiara duluan, secara dia yang paling waras di antara kita bertiga," ucap Viola, menggeleng kan kepala nya.
"Lu pikir gue gak waras gitu," jawab Ziva, mendengus kesal.
"Tapi emang iya sih, masa aku udah nikah duluan, sementara kalian masih enak-enak sendiri dan bebas mau ngelakuin apa aja," lanjut Ziva, menekuk wajahnya.
"Tenang aja Zi, walaupun kamu udah nikah dan jadi istri orang, aku dan Vio akan terus ada buat kamu, iyakan Vio?" ucap Tiara, melirik Viola.
"Benar! Kalau perlu nanti kamu kuras aja harta suami mu itu, nanti kita bantuin ngabisin," jawab Viola, tertawa.
"Cih! Itu mau lo," ucap Ziva, mendengus sebal.
Tapi tidak ayal, Ziva menarik garis senyum tipis nya, setidak nya walaupun dia nanti menikah dengan Ceo dingin itu, dia masih punya sahabat seperti Tiara dan Viola, yang akan menjadi pendengar setiap keluh kesah nya.
Ziva melirik jam tangannya. Pukul 13.55. Perasaannya mulai tidak enak.
"Kenapa? Takut si Tuan dingin itu datang?" tanya Tiara menyadari kegelisahan sahabatnya.
"Gue nggak kirim lokasi kafe ini ke diaz, gue sengaja biar dia tahu kalau gue nggak bisa disetir sembarangan," ucap Ziva dengan senyum kemenangan.
Namun, senyum itu tidak bertahan lama.
Tiba-tiba, suasana kafe yang tadinya santai berubah menjadi sedikit tegang, bahkan ada beberapa pengunjung wanita di meja lain mulai berbisik-bisik dan menoleh ke arah pintu masuk.
Melihat kericuhan itu, Ziva, Viola, dan Tiara serentak ikut menoleh.
Duar.
Seorang pria jangkung dengan setelan jas hitam custom-made yang membalut tubuh atletisnya berjalan masuk dengan langkah yang sangat tenang namun mengintimidasi.
Di belakangnya, seorang asisten berkacamata mengikuti dengan sigap, dan jangan lupakan ada beberapa bodyguard yang menunggu di luar pintu kafe.
Aura pria itu seolah membekukan udara di sekitar kafe, dia tidak menoleh ke kiri atau ke kanan, matanya yang tajam langsung mengunci target, meja tempat Ziva duduk.
"Mampus, itu dia kan?" bisik Viola dengan mata melotot.
"Zi, dia beneran nyata! Dan dia jauh lebih cakep daripada di majalah!" jerit Viola, tertahan.
"Gimana dia bisa tahu gue di sini? Gue kan nggak kirim alamatnya!" gumam Ziva mematung.
Damian berhenti tepat di depan meja tiga gadis cantik itu, dia tidak menyapa Viola atau Tiara, tatapannya hanya tertuju pada Ziva yang masih memegang garpu dengan kaku.
"Jam dua tepat," ucap Damian dengan suara beratnya yang bergema.
"Sesuai kesepakatan, kita pergi sekarang," ucap Damian, langsung pada intinya.
Ziva mencoba mengumpulkan keberaniannya, dia bersandar di kursi dan melipat tangan di dada.
"Aku belum selesai mengobrol dengan sahabat-sahabat ku, Tuan Alexander, dan seingat ku, aku tidak memberimu alamat tempat ini," ucap Ziva, dengan wajah menantang.
Damian melirik sedikit ke arah Riko, lalu kembali menatap Ziva.
"Menemukanmu bukan hal sulit bagiku gadis nakal, dan aku tidak suka mengulang perintah! Kita ada janji fitting jam setengah tiga, Ayo!" jawab Damian tegas dan dingin.
"Wih, dingin banget," gumam Viola pelan, hampir tidak terdengar, tapi dia menatap Damian dengan pandangan takjub.
Sementara Tiara hanya bisa menyikut lengan Viola agar sahabat nya itu diam.
Ziva berdiri dengan wajah memerah karena kesal sekaligus malu di depan sahabat-sahabatnya.
"Kalian lihat kan? Dia benar-benar nyebelin!" seru Ziva, menatap tajam pada Damian.
"Udah sana Zi, kamu pergi aja, lihat muka calon suami mu itu udah kayak mau nelen orang idup-idup..." cicit Viola, lirih.
"Oke, kita pergi, tapi jangan harap aku akan bersikap manis di depan desainer butik nanti!" ucap Ziva menyambar tasnya, lalu menatap Damian dengan sengit.
Damian tidak menanggapi protes Ziva, dia hanya berbalik dan mulai berjalan keluar, memberikan isyarat agar Ziva mengikutinya.
"Guys, gue duluan ya! Doain gue nggak khilaf buat nyekek dia di mobil!" ucap Ziva pada dua sahabatnya sebelum melangkah cepat mengejar punggung lebar Damian.
"Duh, Zi! Gue rasa hidup lo bakal seru banget setelah ini!" teriak Viola sambil melambaikan tangan, sementara Ziva hanya bisa membalasnya dengan gerutuan dalam hati.
"Silahkan Nona," ucap Riko, membuka pintu mobil untuk Ziva.
Sebelum masuk ke dalam mobil Ferarri itu, Ziva sempat menatap tajam pada Riko, membuat pria itu menunduk kan kepala nya.
"Huh! Sama saja kau seperti Tuan mu!" gerutu Ziva, masuk ke dalam mobil Damian.
Begitu pintu mobil Ferrari ditutup oleh Riko dari luar, keheningan yang menyesakkan langsung menyelimuti kabin mobil yang kedap suara itu.
abang posesif vs clon suami kutub....🤣🤣🤣
crazy up dpng thorrrrr
koreksi ya semangat
bru brbgi air mnum aja udh baper...
kbyang nnti kl udh nkah,trs tnggal srumah....atw sekamar pula.....🤭🤭🤭