NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SIAPA YANG LEBIH TEGA?!

Maira tidak membalas dengan emosi. Ia hanya menegakkan tubuh, sambil menatap Bu Neni dan Vina bergantian.

“Saya hanya mau mengingatkan, Bu. Tidak ada seorang istri yang ikhlas uang empat puluh lima jutanya diberikan suami sendiri ke perempuan lain tanpa berkata apapun pada istrinya? Oleh karena itu saya bertanya, apa dia ke sini untuk membayar hutang?” Ketus Maira, sorot matanya tajam tertuju pada Vina.

“Em—empat puluh lima juta?!” Bu Neni tergagap. Wajahnya menegang seketika. Ia menoleh cepat ke arah Farid, lalu kembali menatap Maira. “Itu maksudnya… Farid kasih uang sebanyak itu ke Vina?”

Tatapan sinis Maira tak berubah. Ia mengangguk kecil. “Iya.”

Vina menunduk, pura-pura menyibukkan diri merapikan tasnya. Ia tak bisa menatap Bu Neni untuk saat ini. Sementara Farid merasa kikuk, ia tak tahu harus menjawab apa ketika matanya bertemu dengan tatapan ibunya yang mendadak tajam dan penuh kekecewaan.

“Bu…” Gumamnya pelan, mencoba untuk mengingatkan ibunya tujuan kedatangan mereka ke rumah Maira.

Dalam hati Bu Neni sungguh sangat kesal bukan main. Uang sebanyak itu dengan mudah diberikan oleh Farid ke perempuan lain, sementara ia harus menunggu-nunggu kiriman bulanan yang tak kunjung di transfer.

Seolah menyadari celah itu, Bu Neni langsung mengganti arah pembicaraan. “Jadi… maksud kamu bulan ini tidak transfer ke Ibu itu karena… kamu marah pada Farid karena masalah uang itu?” Tanyanya, nadanya lebih lembut, tapi masih menyiratkan tekanan.

Maira tersenyum miring. “Tidak.” Ia melipat tangannya di dada. “Aku hanya merasa… untuk apa aku terus transfer ke orangtua yang padahal kalau dipikir bukan menjadi kewajibanku. Apalagi yang di transfer suka nyinyirin dan mencap aku sebagai wanita yang pelit." Ketus Maira.

"Kalau Ibu kesini hanya untuk membahas masalah transferan, silakan bicarakan langsung dengan Farid. Karena ke depannya aku tidak akan mentransfer sepeser pun lagi." Lanjut Maira.

Ucapan itu langsung memantik api dalam diri Bu Neni. Ia mengangkat tangannya dan memukul lututnya sendiri dengan keras—suatu kebiasaannya saat sedang menahan amarah.

“Tega kamu lakuin itu sama mertua kamu sendiri Maira! Kamu itu memang menantu yang nggak tahu diri! Udah tahu nggak bisa ngasih anak, masih juga belagu! Harusnya kamu itu sadar diri!” Sentaknya lantang, membuat ruangan mendadak senyap.

Maira tercengang, matanya membelalak. Untuk beberapa detik, ia bahkan tak bisa berkata-kata. “A-apa maksud ibu?” Ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan yang keluar dari kerongkongannya yang tercekat.

Bu Neni menyeringai. “Farid udah kasih tahu ibu kalau kamu itu bermasalah!"

Dengan susah payah Maira menelan ludahnya. Jantungnya berdetak kencang. Ia menoleh ke arah Farid, seolah meminta klarifikasi.

Farid yang terlihat gelisah langsung merogoh saku dalam celananya dan mengeluarkan secarik kertas—hasil pemeriksaan medis yang sesaat dilupakan oleh Maira.

Pandangan Farid menunduk, suaranya pelan tapi cukup jelas. “Mas… mas nggak sengaja nemu surat ini di lantai. Mas baca karena penasaran… dan mas…”

“Kamu kasih tahu ibumu?” Potong Maira cepat, suaranya mulai bergetar. Ada rasa malu, ada marah, dan ada kecewa bercampur dalam tatapannya.

“Mas nggak bermaksud… cuma Ibu pernah nanya kenapa kamu sampai sekarang belum kasih keturunan untuk Mas."

Sebuah tawa mengejek terdengar dari arah Bu Neni. “Makanya, Vina. Kamu ini pilihan yang jauh lebih baik. Setidaknya kamu bisa kasih cucu untuk keluarga ini!” Ucapnya tiba-tiba, langsung melihat ke arah Vina dan mengelus tangan wanita itu.

Ucapan itu seperti palu godam menghantam dada Maira. Matanya langsung menatap ke arah Vina, yang kini tersenyum malu-malu dan juga senyum mengejek yang ia arahkan pada Maira.

“Farid akan menikah dengan Vina bulan ini. Sudah waktunya kamu turun tahta, Maira. Sekarang biarkan yang muda dan subur yang menggantikan tugasmu!” Lanjut Bu Neni tanpa ampun.

Maira terdiam, badannya membeku kaku seperti patung. Pandangannya kabur seketika, seolah semua suara di sekelilingnya mendadak menghilang. Yang tersisa hanyalah perasaan sesak di dadanya.

Sudah sejauh itu? pikirnya. Farid, suaminya… pria yang pernah ia cintai begitu dalam… benar-benar akan menikah dengan wanita yang kini berada di depannya?

Ia tak tahu mana yang lebih menyakitkan—pengkhianatan Farid yang akhirnya terbongkar atau penghinaan dari Bu Neni.

Namun kalimat menyakitkan Bu Neni tak hanya berhenti sampai disitu. “Tapi tenang saja, kamu tidak akan diceraikan. Farid masih tetap suami kamu.” Ia melirik Farid sekilas lalu kembali menatap Maira dengan senyum licik.

“Karena kamu tidak bisa memberikan putra saya seorang anak, ya… nanti mungkin Vina bisa mengizinkan kamu untuk membantu mengurus anaknya.” Ucapannya seolah menunjukkan belas kasihan, padahal tak lebih dari penghinaan terang-terangan.

Vina menunduk, tapi senyum tipisnya tak bisa disembunyikan. Ia tampak bangga—seolah sudah memenangkan sebuah kompetisi.

Nafas Maira tercekat. Untuk pertama kalinya, matanya berkaca-kaca setelah semua masalah yang dilaluinya. Tapi ia tidak menangis atau lebih tepatnya ia tak ingin terlihat lemah.

“Baik.” ucap Maira dengan suara tenang namun dingin, “Tapi aku punya syarat…”

Pandangan Farid langsung berubah—menyelidik, khawatir. Ia menatap istrinya dengan hati-hati, seperti seseorang yang sedang berjalan di atas ranjau darat.

Maira tersenyum simpul. “Aku mau Mas kembalikan semua uang dengan jumlah seratus empat puluh lima juta yang dipinjam oleh kakakmu… dan juga wanita ini.” Nada suaranya sengaja tidak menyebut nama. Ia hanya melirik singkat ke arah Vina, yang langsung memalingkan wajah.

Mata ketiga orang di hadapan Maira—Farid, Vina, dan Bu Neni—langsung membelalak. Tapi Maira belum selesai.

“Aku juga minta nafkah yang selama ini tidak pernah Mas kasih padaku. Setiap bulan Mas terima gaji penuh, tapi sudah dua tahun aku tidak pernah diberi sepeserpun, padahal semua pengeluaran rumah tangga aku yang urus. Kalau dijumlahkan, total semua yang aku minta itu 200 juta.”

Farid terduduk lemas, tangannya memegang kening. “Maira… dari mana Mas punya uang sebanyak itu? Mana mungkin bisa dapat 200 juta dalam seminggu!” Desahnya putus asa.

Senyum Maira kembali muncul. Kali ini lebih dingin. “Terserah Mas mau mendapatkannya dari mana. Mau berhutang, menjual aset, atau pinjam sama perempuan yang mau Mas nikahin itu… semua

urusan Mas. Yang jelas, kalau Mas bener mau nikah lagi… aku minta uang sebanyak itu. Dan Mas hanya punya waktu satu minggu.”

Maira mengangkat dagunya pelan, sorot matanya tajam menatap ke arah Farid seperti bilah silet.

“Kalau tidak, aku akan tuntut Mas Farid ke perusahaan tempat Mas bekerja. Aku tahu di perusahaan kalian itu ada aturan tegas soal etika karyawan. Termasuk larangan memiliki istri lebih dari satu.”

Ruangan seketika membeku. Farid menoleh cepat, wajahnya penuh tekanan. “Mai… kamu tega?” Suaranya parau, seperti tak percaya dengan ancaman istrinya sendiri.

Maira berdiri dari duduknya, sorot matanya tajam menusuk. Tanpa ragu ia menjawab, “Jelas aku tega!” Nada bicaranya tak meninggi, tapi tegas, dingin, dan menyakitkan.

“Kamu saja tega mengkhianati pernikahan kita. Tega meminjamkan uang puluhan juta ke perempuan lain tanpa sepengetahuan istrimu. Tega berduaan dengan perempuan lain di rumahnya, lalu sekarang dengan teganya meminta ijin mau nikah dengan perempuan lain? Siapa yang lebih tega disini, Mas?!"

Farid tertunduk, tak sanggup menjawab. Tapi Maira belum selesai.

“Dan kalau kamu sampai kamu di-PHK pun, aku juga tidak peduli.” Lanjutnya.

“Kamu mau menghancurkan hidup suami sendiri, Maira?!” Bentak Bu Neni, setengah bangkit dari duduknya, matanya melotot, wajahnya menegang. Nada bicaranya seperti menantang, berharap Maira ciut atau paling tidak, menunjukkan rasa bersalah.

Namun Maira tak sudi memberikan reaksi apa pun. Matanya menatap lurus, wajahnya datar, dingin seperti batu. “Sudah. Aku kira itu cukup untuk menjadi syarat kalau kamu—” tatapannya kini tertuju pada Farid, “—mau menikah lagi. Aku masih banyak urusan. Silakan keluar dari rumah ini.”

Tanpa menunggu jawaban atau reaksi dari siapa pun, Maira berbalik. Langkahnya tegas, nyaris tak berbunyi, dan dalam hitungan detik, ia sudah menghilang ke balik pintu kamarnya yang tertutup rapat.

Suasana di ruang tamu mendadak muram dan canggung. Farid menunduk, Vina mengepalkan tangan di pangkuannya, dan Bu Neni masih berdiri sambil bergumam sendiri penuh amarah.

Namun di balik pintu kamar lain, dua pasang telinga ikut menyimak semua yang baru saja terjadi.

“Rasain kamu, Maira!” Ujar Bu Susi dengan suara tertahan, nyaris berbisik.

Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar seolah baru saja menyaksikan sebuah pertunjukan yang memuaskan hatinya.

“Ini balasan untuk anak durhaka dan pelit sama orang tua. Bahkan suami yang dia bela selama ini malah menduakan dia kan, Pak!” Katanya lagi sambil menoleh ke suaminya, yang hanya mengangguk kecil namun tak menyembunyikan senyum tipis di wajahnya.

“Dia pikir dia siapa, sok berkuasa, sok kaya… tau-tau ditinggal juga!” Desis Bu Susi, semakin senang.

Pak Bowo hanya berdehem. Tapi di hatinya juga merasa sedikit senang dengan apa yang terjadi pada anak tirinya itu.

1
Aerik_chan
duh jadi deg degan
Aerik_chan
lah kok marah 🤭
Aerik_chan
katanya nominalnya kecil kok minjam 🤭🤭🤭
Aerik_chan
yeeee

semangat kak 💪 iklan untukmu
Aerik_chan
minta mamakmu lah

semangat ya thor satu bunga untukmu nih biar ssmangat
Aerik_chan
enteng bener mulutnya...


kak yuk saling dukung
Nesakoto: Siap kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!