"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: MATA YANB TIDAK PERNAH BERKEDIP
Mansion Valerius pagi ini diselimuti kabut tipis, membuat bangunan megah itu tampak seperti kastil tua yang terisolasi dari peradaban. Namun bagi Arunika, keindahan arsitektur itu hanyalah kamuflase dari sebuah penjara teknologi yang canggih. Sejak kegagalannya di butik tempo hari—yang ternyata merupakan skenario licik Adrian untuk menguji kesetiaannya—setiap helai udara di rumah ini terasa mengandung muatan listrik yang mengawasi.
Arunika duduk tegak di depan meja rias mahoni yang permukaannya mengkilap seperti kaca. Jemarinya yang ramping memegang sisir gading, menyisir rambut hitamnya yang panjang dengan gerakan mekanis. Matanya menatap pantulannya sendiri di cermin, namun ia tidak sedang mengagumi kecantikannya. Ia sedang mencari.
Ia mencari sesuatu yang lebih kecil dari lubang jarum. Sesuatu yang terus memberinya perasaan bahwa kulitnya sedang diraba oleh ribuan pasang mata meski ia sedang sendirian di kamar.
Di mana lagi dia menyembunyikannya? batin Arunika. Jantungnya berdegup kencang, sebuah simfoni ketakutan yang kini menjadi teman setianya setiap hari.
Ia teringat ucapan Adrian tadi malam saat pria itu memeluknya dari belakang. "Aku tahu kau tidak tidur nyenyak semalam, Sayang. Kau berbalik ke sisi kiri tujuh kali dan bergumam kecil di pukul tiga pagi."
Kalimat itu bukan perhatian. Itu adalah pengakuan. Sebuah pengakuan bahwa bahkan dalam tidurnya yang paling rapuh sekalipun, Arunika sedang berada di bawah mikroskop Adrian.
Arunika bangkit dari kursi, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet Persia yang tebal. Ia mulai berjalan mengelilingi kamar luas itu dengan mata yang liar. Ia mulai memperhatikan detail-detail yang sebelumnya luput dari perhatian. Sebuah lubang kecil yang tersembunyi di balik ukiran rumit bingkai foto pernikahan mereka. Titik hitam yang tidak wajar di tengah hiasan kristal lampu gantung plafon. Bahkan, ia menatap curiga pada mata boneka porselen kuno koleksi ibu Adrian yang dipajang di sudut ruangan.
Rasa paranoid itu merambat naik dari tulang belakangnya, mencekik kerongkongannya. Ia merasa ingin berteriak, namun ia tahu suara teriakannya pun akan direkam, dianalisis, dan dijadikan data statistik oleh suaminya.
Ia melangkah masuk ke kamar mandi, berharap mendapatkan sedikit privasi. Ia mengunci pintu dengan tangan gemetar, lalu menyalakan keran wastafel hingga air meluap dengan suara gemericik yang keras. Ia berharap suara air itu bisa menjadi tameng baginya.
Arunika menanggalkan jubah mandinya perlahan. Saat bahunya yang pucat terekspos udara dingin, ia mendadak membeku. Di cermin kamar mandi yang mulai beruap, ia melihat sebuah titik cahaya merah yang sangat kecil, hampir tidak kasat mata, berkedip dari balik lubang ventilasi udara yang gelap.
Napas Arunika tercekat. Ia segera menarik kembali jubah mandinya, menutup tubuhnya rapat-rapat. Rasa mual yang hebat menghantam perutnya. Bahkan di saat ia paling telanjang dan rentan, Adrian sedang menontonnya. Pria itu mungkin sedang duduk di ruang kerjanya yang mewah, menyesap wiski, sambil menatap monitor yang menampilkan setiap inci kulit istrinya.
Kemarahan mulai menggantikan rasa takut. Dengan langkah penuh tekad yang nekat, Arunika keluar dari kamar mandi. Matanya tertuju pada meja kerja pribadi Adrian yang berada di sudut kamar—sebuah area terlarang yang selama ini tidak pernah berani ia dekati.
Adrian sedang pergi ke kantor pusat, atau setidaknya begitulah yang pria itu katakan. Arunika tahu ini adalah kesempatannya. Ia harus tahu sejauh mana ia "ditelanjangi" oleh sistem ini.
Ia mencoba menarik laci meja tersebut. Terkunci. Arunika merogoh tas riasnya, mengambil sebuah penjepit rambut baja yang kuat. Berbekal tutorial yang pernah ia baca secara iseng di masa lalu, ia mencoba mengutak-atik lubang kunci itu.
Klik.
Suara logam yang bergeser itu terasa seperti kemenangan kecil. Arunika menarik laci paling bawah. Di dalamnya, tidak ada dokumen perusahaan. Hanya ada sebuah tablet hitam yang tipis dan sebuah buku catatan bersampul kulit hitam yang terlihat sangat eksklusif.
Arunika membuka buku itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, tertulis tulisan tangan Adrian yang rapi, tajam, dan sangat terorganisir.
[Log Observasi: Subjek A (Arunika) - Minggu ke-3]
Pukul 02:15: Subjek mengalami fase REM yang terganggu. Indikasi mimpi buruk terkait trauma masa lalu.
Pukul 08:30: Subjek menolak sarapan protein. Upaya pembangkangan pasif terdeteksi. Perlu penyesuaian intensitas pengawasan.
Catatan Khusus: Subjek mulai mencari kamera di area ruang tamu. Alihkan perhatian dengan memberikan hadiah fisik (perhiasan).
Arunika menjatuhkan buku itu ke atas meja seolah benda itu baru saja membakar tangannya. Ia bukan seorang istri. Ia adalah subjek. Ia adalah tikus laboratorium yang kebetulan diberi gaun sutra dan tinggal di mansion mewah. Adrian sedang membedah jiwanya setiap hari, mencatat setiap tetes air matanya sebagai variabel penelitian.
Tiba-tiba, tablet di atas meja itu menyala sendiri. Cahayanya biru pucat, menyinari wajah Arunika yang pucat pasi. Sebuah notifikasi muncul di layar: [Live Feed: Master Bedroom - Active].
Dengan rasa penasaran yang menyakitkan, Arunika menyentuh layar itu. Layar terbagi menjadi delapan kotak kecil. Sudut-sudut yang mustahil. Satu kamera menyorot tepat ke atas ranjang mereka. Satu menyorot meja rias. Satu lagi berada di dalam walk-in closet. Dan satu kotak menampilkan pemandangan dari sudut langit-langit tepat di atas kepalanya saat ini.
Di layar itu, Arunika bisa melihat dirinya sendiri yang sedang membungkuk di depan meja kerja Adrian, tampak kecil dan ketakutan.
"Menarik, bukan?"
Suara Adrian bergema. Bukan dari tablet, melainkan dari speaker tersembunyi di plafon kamar yang tersamarkan oleh ornamen emas. Suaranya terdengar sangat jernih, tenang, dan memiliki nada otoritas yang tidak bisa dibantah.
Arunika tersentak, tablet itu terlepas dari tangannya dan menghantam lantai. Ia menoleh ke sekeliling dengan napas tersengal, mencari lubang suara itu. "Adrian! Kau gila! Kau monster yang sakit!"
"Aku hanya mencintaimu, Arunika. Dan cinta berarti mengetahui segalanya tentang dirimu. Tidak boleh ada rahasia di antara kita," suara Adrian terdengar seperti bisikan di telinganya, meski pria itu tidak ada di sana. "Aku melihatmu menghancurkan kunci laciku. Itu melanggar Aturan No. 34: Dilarang menyentuh barang pribadi suami tanpa izin."
"Ini bukan cinta! Ini obsesi! Kau mengurungku seperti binatang!" teriak Arunika, air mata kemarahan mulai mengalir di pipinya.
"Binatang tidak diberi berlian, Sayang. Binatang tidak tidur di atas kain sutra seharga ribuan dolar," Adrian terkekeh pelan, suara tawa yang sangat dingin. "Letakkan kembali buku itu. Rapikan lacinya. Aku akan memaafkanmu kali ini jika kau bersikap manis saat makan malam nanti."
Arunika berdiri diam di tengah ruangan yang terasa semakin sempit. Ia merasa telanjang bulat meski ia masih mengenakan jubah mandi yang tebal. Ia menyadari satu hal yang paling mengerikan: tidak ada satu pun inci di rumah ini yang tidak dimiliki oleh Adrian. Bahkan pikiran pribadinya pun seolah sudah diantisipasi oleh sistem ini.
Ia menatap kamera yang tertanam di bingkai foto pernikahan mereka. Ia membayangkan Adrian sedang duduk di kantornya, menatap layar besar, tersenyum melihat penderitaannya.
Arunika berjalan perlahan menuju meja rias. Ia mengambil gunting kecil yang biasa ia gunakan untuk merapikan alis. Dengan tatapan menantang langsung ke arah kamera, ia berjalan menuju tempat tidur mewah yang baru saja dirapikan oleh pelayan.
Sretttt!
Dengan satu gerakan kuat, ia merobek sprei sutra itu. Ia terus menusuk dan mengoyak kain mahal itu, mengubahnya menjadi serpihan-serpihan benang yang hancur.
"Jika kau suka menonton, maka tontonlah ini, Adrian!" teriak Arunika sambil terus merobek sprei itu dengan kalap. Ini adalah satu-satunya cara ia bisa menyatakan bahwa ia masih memiliki kendali atas tangannya sendiri.
Di gedung pusat Valerius, bermil-mil jauhnya dari mansion, Adrian duduk di kursinya yang empuk. Ia menatap dinding monitor yang menampilkan aksi Arunika. Bukannya marah, Adrian justru mengusap dagunya perlahan.
"Semakin kau memberontak, semakin cantik kau terlihat di mataku, Arunika," gumam Adrian pada layar itu. Ia menekan sebuah tombol di tabletnya. "Panggil Sandra. Beritahu dia untuk membatalkan pengiriman bunga sore ini. Kita akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih... edukatif untuk istriku."