Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjalani hukuman
Pagi ini si Istana Timur dimulai dengan keheningan yang jarang terjadi karna pada kenyataannya Ruoling tidak pernah bangun sepagi ini hingga merasa terkejut dengan suasana yang di rasakannya.
Embun masih menempel di dedaunan bambu, dan suara burung kecil terdengar sesekali dari taman dekat kediaman yang di tinggalinya seorang diri.
Saat ini Ruoling berdiri di depan cermin besar dari batu giok yang bening, wajahnya memancarkan ketidaksabaran. Rambut panjangnya—yang biasanya dirapikan oleh pelayan khusus setiap pagi—dibiarkan terurai, belum disentuh sisir sama sekali.
“Aku harap pelayan itu mendapatkan hukuman yang lebih berat," gumamnya sambil memandang refleksinya yang tampak tidak seanggun biasanya.
Pelayan pertamanya—yang tugas utamanya merapikan rambut Ruoling—baru bekerja beberapa minggu. Tepat saat Ruoling mulai terbiasa dengan sentuhan lembut gadis itu pada rambutnya, kesalahan besar itu datang, membuat seluruh rutinitasnya berantakan.
Ia menghela napas panjang dan mengangkat sisir kayu cendana. “Baiklah, aku bisa melakukannya sendiri. Rambut hanya rambut… meski panjangnya seperti ekor naga.”
Dengan gerakan sedikit kesal, Ruoling mulai menyisir rambutnya. Satu sisi berhasil ia bagi, namun sisi lain langsung kusut kembali. Ia menariknya sedikit keras hingga membuatnya meringis.
“Apa rambut ini juga ingin membalas dendam padaku hari ini? Padahal beberapa pelayan bodoh itu begitu mudah merapikannya, tapi kenapa aku tidak? Pantas saja pelayan itu mengatakan sudah melakukannya... tidak... tidak... pelayan itu juga salah!"
Ruoling tidak menyerah di mana beberapa menit awal penuh dengan suara gerutuan, tapi Ruoling terus mencoba menata sanggul dasar yang sering kali jatuh. Ia mencoba mengepang bagian atas rambut, tetapi bentuknya miring. Setelah tiga kali percobaan gagal akhirnya sanggulnya rapi.
Tidak sempurna seperti biasanya, tetapi cukup pantas untuk keluar dari kediamannya tanpa rasa malu.
“Ini baru pekerjaan pertama,” katanya menyadarkan dirinya. “Masih ada hukuman menyebalkan lainnya yang menungguku.”
Kemudian, Ruoling mulai merapikan ranjang: menarik selimut, meluruskan alas tidur, merapikan bantal. Pekerjaan yang sederhana itu ternyata menyita waktunya karna berulang kali merasa ranjang itu belum rapi hingga mengulangnya dari awal lagi.
Sebagai tuan putri, Ruoling, seumur hidupnya terbiasa mendapat pelayanan. Tapi beberapa tahun belakangan ini, lebih tepat setelah kasus yang menimpa ibunya, membuat banyak orang berubah.
Mereka yang bekerja untuknya di rasa tidak tulus lagi melayaninya sampai-sampai beberapa orang yang menyimpan sakit hati yang besar pada sang ibu dengan terang-terangan mulai menyakitinya.
Awal-awal Ruoling membiarkannya, tapi lama-kelamaan mulai sadar dan membalas orang-orang itu hingga sering kali mendapatkan hukuman.
Setelah selesai, Ruoling mengumpulkan pakaian kotornya. Biasanya pelayan yang merapikan rambutnya akan membawa keluar, tetapi hukuman ini membuatnya harus melakukan semuanya sendiri. Ruoling memasukkan pakaian-pakaian itu ke dalam keranjang anyaman lalu mengangkatnya dengan dua tangan.
"Beruntungnya mereka juga dapat hukuman," gumam Ruoling sambil melangkah meninggalkan kediamannya menuju tempat pencucian di istana.
Saat tiba di ruangan tertutup dengan saluran air dimana-mana, suara pelayan yang sedang mencuci pakaian semua orang penting di kerajaan mereda. Beberapa dari mereka memandangnya lama—bukan dengan hormat, namun dengan rasa ingin tahu bercampur dengan bisikan-bisikan mencemooh.
Ruoling pura-pura tidak mendengar dengan mendekati tempat kosong sambil memegangi keranjangnya. Ia menghela nafas kasar setelah meletakkan benda itu dan mulai melakukan tugasnya yaitu mencuci pakaiannya sendiri.
"Dia tidak mungkin bisa melakukannya, apa dia pikir mudah mencuci pakaian itu?"
"Ssstt... pelan kan suaramu, nanti di dengar dan kita mendapatkan masalah sama seperti dua pelayan itu."
"Mencuci pakaian itu pekerjaan yang tidak mudah, apa aku salah?"
"Tidak, tapi... kau lupa kalau bukan hanya Tuan Putri saja yang di hukum, tapi dua pelayan itu juga di hukum oleh kepala pelayan karna kelancangan mereka. Intinya mereka sama-sama salah, tapi yang lebih bersalah di sini Tuan Putri sampai menampar Pelayan di depan umum. Padahal dia bisa saja menegur mereka secara baik-baik."
Ruoling mendengar semuanya sempat menghentikan pekerjaannya, lalu mendegus kasar. Menyadari jika di layani maka hukumannya tidak selesai-selesai maka Ruoling membiarkannya saja.