Judul: Di Balik Tumpukan Digit
Deskripsi:
Pernikahan Arini dan Reihan yang dulunya penuh hangat dan tawa kini mendingin di dalam sebuah rumah mewah yang megah namun terasa hampa. Terjebak dalam ambisi mengejar status dan kekayaan, Reihan perlahan berubah menjadi orang asing yang hanya mengenal angka dan prestasi kerja. Di tengah kemewahan yang melimpah, Arini justru merasa miskin akan kasih sayang. Novel ini mengisahkan perjuangan seorang istri yang berusaha meruntuhkan tembok "kesibukan" suaminya, menagih janji pelukan yang hilang, dan membuktikan bahwa dalam sebuah pernikahan, kehadiran lebih berharga daripada sekadar kemakmuran materi. Sebuah drama domestik yang menyentuh tentang titik jenuh, kesepian di tengah keramaian, dan upaya menemukan kembali detak cinta yang sempat mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syintia Nur Andriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Ratu Es dan Bayang-bayang dari Masa Lalu
Bab 17: Ratu Es dan Bayang-bayang dari Masa Lalu
Satu tahun telah berlalu sejak malam berdarah di griya tawang Dirgantara. Jakarta masih tetap sama—sibuk, bising, dan kejam—namun konstelasi kekuasaannya telah berubah total. Di puncak gedung perkantoran baru yang menghadap langsung ke arah jantung kota, terpampang logo emas berinisial A.A. (Arini Atmadja) Holdings.
Arini berdiri di balik jendela kaca antipeluru setinggi langit-langit. Ia tidak lagi mengenakan gaun sutra lembut yang membuatnya tampak rapuh. Kini, tubuhnya dibalut power suit berwarna abu-abu baja dengan potongan tajam yang menegaskan otoritasnya. Rambutnya dipotong pendek sebahu, memberikan kesan dingin dan tak tersentuh. Wajahnya tetap cantik, namun matanya adalah telaga es yang tidak memantulkan kehangatan sedikit pun.
Ia telah mengambil alih sisa-sisa aset ayahnya yang telah diputihkan oleh tim pengacara terbaik dan menggabungkannya dengan kompensasi besar yang ia dapatkan dari kasus hukum Reihan. Arini kini bukan lagi "istri tiran" atau "putri koruptor"; ia adalah simbol kemandirian wanita yang paling ditakuti di bursa saham.
"Nona Arini, jadwal pertemuan dengan dewan direksi dimulai lima menit lagi," suara sekretarisnya melalui interkom memecah keheningan.
"Batalkan," jawab Arini datar. "Aku punya urusan pribadi."
Ia mengambil tas kulitnya dan berjalan keluar. Langkah kakinya yang menggunakan sepatu hak tinggi berdentum di atas lantai marmer, menciptakan irama yang menuntut rasa hormat dari setiap staf yang berpapasan dengannya. Tidak ada yang berani menatap matanya terlalu lama. Mereka memanggilnya "Ratu Es".
Mobil sedan hitam yang dikemudikan sopir pribadi membawanya ke sebuah lokasi yang sangat ia hindari selama setahun ini: Lembaga Pemasyarakatan Kelas I.
Arini berjalan melewati lorong-lorong yang berbau karbol dan keputusasaan. Setiap pintu besi yang berdentum di belakangnya seolah mengingatkannya pada penjara emas yang dulu ia tempati bersama Reihan. Ia sampai di ruang kunjungan khusus yang dibatasi oleh kaca tebal.
Di sana, duduk seorang pria yang sulit dikenali sebagai Reihan yang dulu. Pria itu kini tampak sangat rapuh. Kulitnya pucat karena kurang sinar matahari, dan tangannya sedikit gemetar saat ia memegang gagang telepon komunikasi. Namun, saat mata mereka bertemu, kilatan obsesi itu masih ada—meski kini bercampur dengan kegilaan yang lebih dalam.
Arini mengangkat teleponnya. Ia hanya diam, menunggu Reihan bicara lebih dulu.
"Kau datang juga, Arini," suara Reihan terdengar serak melalui kabel telepon. "Setiap malam aku bermimpi tentangmu. Tentang kulitmu... tentang aroma rambutmu. Kau tampak sangat kuat sekarang. Jauh lebih kuat daripada saat kau berada di bawah tubuhku."
Arini menatapnya dengan pandangan kosong. "Aku datang bukan untuk mengenang masa lalu yang menjijikkan itu, Reihan. Aku datang untuk memastikan satu hal. Kau akan segera dipindahkan ke fasilitas keamanan maksimum di Nusakambangan minggu depan. Aku yang memastikan prosesnya dipercepat."
Reihan tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti gesekan amplas. "Kau menghabiskan begitu banyak energi dan uang hanya untuk menjauhkanku darimu? Kenapa, Arini? Apakah kau takut jika aku berada di dekatmu, kau akan ingat betapa kau mencintai setiap sentuhanku di tengah rasa benci itu?"
"Cinta itu sudah mati bersama bayi yang kau bunuh, Reihan," desis Arini, suaranya sangat rendah dan penuh racun. "Sekarang, yang tersisa hanyalah kepuasan melihatmu membusuk di sel sempit tanpa pernah melihat matahari lagi."
"Kau salah, Arini," Reihan mendekatkan wajahnya ke kaca, matanya membelalak lebar. "Anak itu... dia memang mati. Tapi dia meninggalkan warisan yang belum kau ketahui. Kau pikir kenapa hartamu mengalir begitu lancar setahun ini? Kau pikir siapa yang membersihkan nama Atmadja di mata para investor sebelum kau melangkah?"
Arini mengernyit. "Apa maksudmu?"
"Aku masih memegang kendali, Arini. Bahkan dari balik jeruji ini. Aku punya orang-orang yang tetap setia padaku karena mereka tahu aku akan kembali. Aku memberikanmu perusahaan itu sebagai hadiah perpisahan. Aku ingin kau membangunnya menjadi sangat besar, agar saat aku keluar nanti, aku punya takhta yang lebih megah untuk kita duduki bersama."
Arini meletakkan gagang telepon itu dengan kasar. Ia tidak ingin mendengar kegilaan Reihan lebih lama lagi. Ia berbalik dan berjalan cepat keluar dari penjara itu, merasa udara di sekitarnya mendadak sangat tipis.
Malam harinya, Arini mengundang Bima ke apartemennya. Bima kini menjadi kepala keamanan di perusahaannya, satu-satunya orang yang ia percayai. Mereka duduk di balkon sambil menikmati wine, namun pikiran Arini masih tertinggal di ruang kunjungan penjara tadi.
"Ada apa, Arini? Kau tampak gelisah sejak pulang dari sana," tanya Bima sambil menyentuh tangan Arini dengan lembut.
"Dia bilang dia masih mengendalikan segalanya, Bima. Dia bilang kesuksesanku adalah 'hadiah' darinya," Arini menatap Bima dengan mata yang mulai berkaca-kaca, pertahanan esnya mulai retak. "Apakah aku hanya pindah dari satu permainan ke permainan lain? Apakah aku tidak akan pernah benar-benar bebas darinya?"
Bima menarik Arini ke dalam pelukannya. Kehangatan Bima adalah satu-satunya hal yang masih bisa dirasakan Arini sebagai manusia. "Dia hanya mencoba meracuni pikiranmu, Arini. Dia sudah kalah. Dia hanya sampah yang mencoba terlihat seperti raja."
Gairah yang selama setahun ini dipendam Arini meledak malam itu. Di bawah pengaruh ketakutan dan kerinduan akan perlindungan, Arini menyerahkan dirinya pada Bima. Namun, berbeda dengan Reihan, setiap sentuhan Bima adalah sebuah pemujaan. Tidak ada kekerasan, tidak ada dominasi yang menyakitkan.
Di atas ranjang yang luas, di tengah panasnya cumbuan mereka, Arini mencoba melupakan bayang-bayang Reihan. Ia membiarkan Bima mengeksplorasi tubuhnya, mencari sisa-sisa kebahagiaan yang terkubur di bawah trauma. Panas yang mereka ciptakan malam itu adalah upaya untuk membakar kenangan pahit. Bima mencium setiap inci tubuh Arini dengan penuh pengabdian, seolah ingin menghapus jejak-jejak tangan Reihan yang pernah mencengkeramnya dengan kasar.
Namun, di tengah puncak kenikmatan itu, Arini tiba-tiba teringat kata-kata Reihan: "Aku mencintai setiap sentuhanku di tengah rasa benci itu."
Arini mencengkeram punggung Bima, air matanya luruh. Ia menyadari bahwa meski tubuhnya bersama Bima, jiwanya masih terjebak dalam perang batin yang diciptakan Reihan. Rasa bersalah dan rasa benci bercampur menjadi satu, membuat gairah itu terasa menyakitkan sekaligus melegakan.
Keesokan paginya, Arini terbangun dan menemukan sebuah kotak kecil di atas meja nakasnya. Bima masih tertidur di sampingnya. Dengan tangan gemetar, ia membuka kotak itu.
Isinya adalah seuntai kalung dengan liontin berbentuk bunga lili putih—bunga kesukaan ibunya Reihan. Di dalamnya ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal:
"Hadiah pertama untuk hari kebebasanku yang sebentar lagi tiba. Selamat atas malam panasmu dengan 'anjing penjaga' itu, Arini. Aku selalu mengawasimu. — R"
Arini menjatuhkan kalung itu ke lantai seolah-olah itu adalah ular berbisa. Ia menatap Bima yang tertidur, lalu menatap sekeliling apartemennya yang canggih. Ia menyadari bahwa pengawal-pengawal yang ia sewa, sistem keamanan yang ia bangun, semuanya mungkin telah disusupi.
Reihan tidak berbohong. Penjara bukan penghalang baginya.
Arini berdiri di depan cermin, menatap dirinya sendiri. Ia menyentuh perutnya yang kini rata, teringat akan bayi yang hilang. Kemarahan yang dingin kembali mengisi dadanya.
"Jika kau ingin bermain di duniaku, Reihan," bisik Arini pada bayangannya di cermin, "maka aku akan memastikan kali ini bukan darahku yang mengalir di atas sutra, tapi darahmu yang akan membasahi lantai selmu sendiri."
Ia mengambil kalung itu, memegangnya erat hingga telapak tangannya berdarah karena ujung liontin yang tajam. Arini menyadari bahwa kedamaian adalah kemewahan yang tidak akan pernah ia miliki selama Reihan masih bernapas.
Babak baru peperangan dimulai. Dan kali ini, Arini tidak akan menunggu untuk diserang. Ia akan menjadi pemburu yang lebih kejam daripada siapa pun yang pernah dikenal Reihan.
Ketegangan kembali memuncak! Reihan ternyata masih memiliki kekuatan di luar penjara.