Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.
Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.
Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.
Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.
follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17- dihukum lagi
Di bawah pohon angsana besar, tepat tiga meter di hadapan mereka, berdiri Arlan, Barra, dan Darrel. Arlan berdiri paling tengah dengan tangan bersedekap di dada, menatap mereka dengan tatapan tangkapan besar yang sangat mengintimidasi. Ternyata sedari tadi mereka tidak benar-benar kembali ke kelas, melainkan sengaja menunggu para penyusup ini masuk ke dalam jebakan.
"Mampus..." gumam Belva lemas, tangannya gemetar meremas ujung seragamnya
Arlan melangkah maju, auranya sebagai Ketua OSIS sekaligus pemimpin The Shadow benar-benar terasa menekan udara di sekitar mereka. Ia berhenti tepat di depan Aluna, membuat gadis itu terpaksa mendongak untuk menatap mata tajam di balik wajah kulkas itu.
"Barra, bawa Belva ke halaman depan. Pastikan semua daun kering bersih sampai tidak ada satu pun yang tersisa. Pakai tangan kalau perlu, jangan ada yang tertinggal," perintah Arlan tanpa pengampunan.
"Siap, Bos," sahut Barra sambil memberikan kode pada Belva yang hanya bisa pasrah.
"Darrel, bawa Sesya ke koridor utama. Pel lantai satu sampai lantai tiga sampai kinclong. Kalau gue masih lihat ada bekas sepatu, suruh dia ulang dari awal," lanjut Arlan. Darrel menyeringai tipis, lalu menggiring Sesya yang tampak ingin menangis.
Kini tinggal Arlan dan Aluna yang tersisa di area depan gedung sekolah yang sepi itu. Aluna mencoba memberanikan diri, meski lututnya masih agak gemetar.
"Kak, dengerin dulu... Gue tadi beneran hampir kecelakaan..."
"Gue nggak butuh alasan, Aluna," potong Arlan dingin. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, membuat Aluna mundur hingga punggungnya menyentuh tembok. "Karena lo yang jadi otak rencana manjat tembok ini, lo dapet tugas istimewa."
Aluna menelan ludah. "A-apa?"
"Ikut gue lo bersihkan semua toilet perempuan di sana. Sendiri. Jangan keluar sebelum baunya hilang dan lantainya bisa buat ngaca," ujar Arlan mutlak.
"Karena lo nggak pernah kapok melanggar aturan," jawab Arlan datar tanpa ekspresi. Ia melirik jam tangannya sebentar. "Tiga puluh menit dari sekarang. Kalau gue cek masih ada noda lo gue tambah lagi hukumannya. Jalan."
Aluna hanya bisa mengepalkan tangan, menatap punggung Arlan dengan dendam kesumat saat cowok itu mulai berjalan mendahuluinya. Di dalam hatinya, Aluna sudah menyumpah serapah 'Awas lo, Arlan Robot! Liat aja pembalasan gue nanti!' batin Aluna.
Aluna berjalan dengan langkah berat di belakang Arlan, matanya terus menusuk punggung tegap cowok itu. Sesekali ia meniru gerakan mulut Arlan saat berbicara tanpa suara, mengejek gaya bos yang menurutnya sangat menyebalkan.
Sesampainya di depan toilet perempuan, Arlan berhenti mendadak dan berbalik, membuat Aluna hampir menabrak dadanya.
"Ini," Arlan menyodorkan sebuah ember plastik berisi sikat lantai, cairan pembersih berbau karbol tajam, dan sarung tangan karet. "Pakai sarung tangannya. Gue nggak mau besok lo izin sakit lagi gara-gara alasan kulit tangan lo iritasi."
Aluna menyambar ember itu dengan kasar. "Oh, ternyata robot ini tahu kalau manusia bisa sakit? Gue kira lo cuma tahu cara ngasih hukuman!"
Arlan tidak menanggapi sindiran itu. Ia hanya bersandar di tembok koridor samping pintu toilet, melipat tangannya di depan dada dengan pose yang sangat cool namun menyebalkan bagi Aluna. "Waktu lo sisa dua puluh tujuh menit. Mulai."
Sementara itu, di Halaman Depan...
Belva menatap hamparan daun kering di bawah pohon mahoni dengan tatapan ingin mati. Halaman ini sangat luas, dan dia hanya dibekali sebuah sapu lidi dan satu tong sampah besar.
"Ayo, Bel. Jangan bengong aja. Itu daun di pojokan sana udah dadah-dadah minta dipungut," celetuk Barra yang duduk santai di atas kursi taman sambil memainkan kunci motornya.
"Kak Barra, jahat banget sih lo! Ini kan luas banget, mana panas lagi!" keluh Belva sambil menyeka keringat di dahinya.
Barra berdiri, melangkah mendekati Belva. Ia mengambil satu daun kering, lalu menjatuhkannya tepat di depan kaki Belva. "Hukuman itu buat dinikmati, bukan dikeluhin. Semangat ya, Calon Orang Sukses. Orang sukses itu harus tahan banting, termasuk tahan panas."
"Sukses pala lo peyang!" umpat Belva.
Barra tertawa renyah, tawa yang jarang ia tunjukkan di markas The Shadow. Ia diam-diam memperhatikan Belva yang wajahnya sudah memerah karena matahari pagi. "Yaudah, kalau lo bisa selesain ini sebelum jam pertama abis, gue beliin es teh manis di kantin. Gimana?"
Mata Belva sedikit berbinar. "Sama bakso?"
"Dikasih hati minta jantung. Oke, bakso juga. Tapi gerak cepat!"
Di Koridor Lantai Dua...
Sesya sedang berjuang dengan alat pel yang berat. Ia sudah berhasil menyelesaikan lantai satu, dan sekarang kakinya mulai terasa pegal di lantai dua.
"Sya, itu di sudut dekat lab fisika masih ada bekas sepatu. Belum kinclong," ujar Darrel yang berjalan di belakangnya seperti mandor proyek.
Sesya berhenti mengepel, menumpukan tangannya di gagang pel sambil menatap Darrel tajam. "Kak Darrel, lo beneran mau gue pel sekalian sama muka lo ya? Capek tahu!"
Darrel menyeringai tipis, mempermainkan saku celananya. "Galak banget. Padahal kalau lo diem sambil ngepel gitu, aura bidadari lo lumayan keluar dikit."
Sesya tertegun, pipinya mendadak terasa panas bukan karena capek. "Nggak usah gombal! Gue tahu lo cuma mau ngerjain gue."
"Siapa yang gombal? Gue cuma observasi," jawab Darrel santai. Ia mengambil botol air mineral dari tasnya dan menyodorkannya pada Sesya. "Minum dulu. Nanti kalau lo pingsan, gue yang repot harus gendong ke UKS. Berat lo pasti kayak dosa."
"KAKKK DARREEELLL!!!" teriak Sesya kesal, tapi ia tetap menyambar botol minum itu.