Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inspirasi dan Pertemuan Baru
Sesampainya di lokasi seminar, Sekar Arum disambut oleh suasana yang ramai dan meriah. Banyak mahasiswa dari berbagai universitas yang hadir untuk mengikuti seminar tersebut. Sekar Arum melihat para panitia sibuk mempersiapkan segala sesuatu agar acara berjalan dengan lancar.
Aisha sudah menunggunya di depan pintu masuk. "Sekar, akhirnya kamu datang juga!" seru Aisha sambil tersenyum.
"Iya, maaf ya aku telat sedikit. Tadi macet di jalan," kata Sekar Arum.
"Nggak apa-apa. Yang penting kamu sudah sampai," kata Aisha. "Yuk, kita masuk ke dalam!"
Sekar Arum dan Aisha memasuki ruang seminar yang sudah dipenuhi oleh peserta. Mereka mencari tempat duduk yang strategis agar dapat melihat dengan jelas para pembicara.
Tidak lama kemudian, acara seminar dimulai. Para pembicara memberikan presentasi yang sangat menarik dan informatif. Sekar Arum menyimak dengan seksama setiap materi yang disampaikan. Ia mencatat hal-hal penting yang dapat ia gunakan untuk mengembangkan pengetahuannya di bidang komunikasi.
Akhirnya, tiba saatnya Damar Sasongko memberikan presentasinya. Sekar Arum merasa sangat gugup. Jantungnya berdegup kencang. Ia berusaha untuk menenangkan diri dan fokus pada apa yang akan disampaikan oleh idolanya.
Damar Sasongko tampil dengan sangat karismatik. Ia menyampaikan presentasinya dengan gaya yang lugas, jelas, dan menarik. Ia menceritakan tentang pengalamannya sebagai seorang dalang wayang kulit modern dan bagaimana ia berhasil memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan seni tradisional. Ia juga memberikan tips dan trik tentang bagaimana caranya membuat konten yang menarik dan efektif di media sosial.
Sekar Arum sangat terinspirasi oleh presentasi Damar Sasongko. Ia merasa semakin yakin bahwa ia dapat memberikan kontribusi positif bagi pelestarian budaya tradisional melalui media sosial. Ia juga merasa termotivasi untuk terus belajar dan mengembangkan diri agar dapat menjadi seorang komunikator yang handal.
Setelah presentasi selesai, Damar Sasongko membuka sesi tanya jawab. Sekar Arum sangat ingin bertanya kepada Damar Sasongko, tetapi ia merasa terlalu gugup untuk mengangkat tangannya.
Aisha menyadari kegugupan Sekar Arum. "Sekar, ayo tanya! Ini kesempatanmu untuk bertanya langsung kepada Damar Sasongko," bisik Aisha.
"Dengan memberikan dorongan, Aisha membuat Sekar Arum merasa lebih percaya diri. Sekar Arum menarik napas dalam-dalam dan mengangkat tangannya."
Damar Sasongko melihat Sekar Arum mengangkat tangan. Ia tersenyum dan menunjuk Sekar Arum untuk bertanya.
"Selamat siang, Bapak Damar Sasongko. Nama saya Sekar Arum, mahasiswa Ilmu Komunikasi dari Universitas [Sebutkan Nama Universitas Sekar Arum]. Saya sangat terinspirasi oleh Bapak dan karya-karya Bapak. Saya ingin bertanya, bagaimana caranya agar kita dapat menarik minat generasi muda untuk mencintai wayang kulit dan seni tradisional lainnya di tengah gempuran budaya asing?" tanya Sekar Arum dengan suara yang sedikit bergetar.
Damar Sasongko tersenyum mendengar pertanyaan Sekar Arum. Ia tampak senang bahwa ada anak muda yang tertarik dengan wayang kulit.
"Pertanyaan yang bagus, Sekar Arum. Menurut saya, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan. Pertama, kita harus membuat wayang kulit menjadi lebih menarik dan relevan dengan kehidupan generasi muda. Kita dapat mengkombinasikan unsur-unsur modern dalam pertunjukan wayang kulit, seperti penggunaan musik modern, efek visual, dan cerita yang mengangkat isu-isu sosial yang . Kedua, kita harus memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan wayang kulit. Kita dapat membuat konten-konten yang menarik dan kreatif di media sosial, seperti video pendek, animasi, dan infografis. Ketiga, kita harus melibatkan generasi muda dalam proses pembuatan wayang kulit. Kita dapat mengadakan workshop atau pelatihan tentang cara membuat wayang kulit dan memainkan gamelan," jawab Damar Sasongko dengan panjang lebar.
Sekar Arum mendengarkan jawaban Damar Sasongko dengan seksama. Ia mencatat semua poin-poin penting yang disampaikan oleh idolanya. Ia merasa sangat beruntung dapat bertanya langsung kepada Damar Sasongko dan mendapatkan jawaban yang sangat bermanfaat.
"Terima kasih banyak, Bapak Damar Sasongko. Jawaban Bapak sangat membantu saya," kata Sekar Arum.
Damar Sasongko tersenyum dan mengangguk. Sama-sama, Sekar Arum. Saya senang bisa berbagi pengalaman denganmu. Saya harap kamu dan teman-temanmu di UNS dapat terus melestarikan wayang kulit dan seni tradisional lainnya."
Setelah sesi tanya jawab selesai, Damar Sasongko turun dari panggung dan menghampiri Sekar Arum.
"Sekar Arum, ya?" tanya Damar Sasongko sambil mengulurkan tangannya.
Sekar Arum terkejut dan gugup. Ia tidak menyangka Damar Sasongko akan menghampirinya. "I-iya, Bapak. Saya Sekar Arum," jawab Sekar Arum sambil menjabat tangan Damar Sasongko.
"Saya senang bertemu denganmu, Sekar Arum. Saya terkesan dengan pertanyaanmu tadi. Kamu terlihat sangat tertarik dengan wayang kulit," kata Damar Sasongko.
"Terima kasih, Bapak. Saya memang sangat tertarik dengan wayang kulit. Saya ingin belajar lebih banyak tentang bagaimana caranya melestarikan wayang kulit di era modern," kata Sekar Arum.
"Kalau begitu, kamu harus sering-sering datang ke pertunjukan wayang kulit. Kamu juga bisa bergabung dengan komunitas wayang kulit di Solo. Di sana kamu bisa belajar dari para dalang senior dan berinteraksi dengan para pecinta wayang kulit lainnya," kata Damar Sasongko.
"Iya, Bapak. Saya pasti akan melakukan itu," kata Sekar Arum.
Tiba-tiba, seorang pemuda menghampiri Damar Sasongko. "Bapak, maaf mengganggu. Ada yang ingin bertemu dengan Bapak," kata pemuda itu.
"Oh, iya. Sekar Arum, kenalkan, ini putra saya, Dirga Ardhani," kata Damar Sasongko sambil menunjuk pemuda itu.
Sekar Arum terkejut. Jadi, pemuda ini adalah Dirga Ardhani, putra Damar Sasongko yang juga tertarik pada wayang kulit.
"Selamat siang, Mbak Sekar Arum. Saya Dirga," kata Dirga Ardhani sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Selamat siang, Mas Dirga. Saya Sekar Arum," jawab Sekar Arum sambil menjabat tangan Dirga Ardhani.
"Saya dengar tadi Mbak Sekar bertanya tentang cara melestarikan wayang kulit ya? Saya juga tertarik dengan hal itu," kata Dirga Ardhani.
"Iya, Mas Dirga. Saya ingin sekali belajar lebih banyak tentang wayang kulit," kata Sekar Arum.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertukar nomor telepon? Kita bisa ngobrol-ngobrol lebih lanjut tentang wayang kulit lain waktu," kata Dirga Ardhani.
Sekar Arum merasa sangat senang. Ia tidak menyangka akan mendapatkan kesempatan untuk berkenalan dengan Dirga Ardhani. "Boleh, Mas Dirga. Ini nomor telepon saya," kata Sekar Arum sambil menyebutkan nomor teleponnya.
Dirga Ardhani mencatat nomor telepon Sekar Arum di ponselnya. "Nanti saya hubungi ya, Mbak Sekar. Saya senang bisa bertemu dengan Mbak Sekar," kata Dirga Ardhani.
"Saya juga senang bertemu dengan Mas Dirga," kata Sekar Arum.
Damar Sasongko tersenyum melihat keakraban antara Sekar Arum dan putranya. "Sekar Arum, Dirga ini memang sangat tertarik dengan wayang kulit. Dia bahkan sedang membuat penelitian tentang wayang kulit di UNS," kata Damar Sasongko.
"Wah, keren sekali, Mas Dirga!" kata Sekar Arum.
"Iya, Mbak. Saya berharap penelitian saya bisa bermanfaat untuk melestarikan wayang kulit," kata Dirga Ardhani.
"Saya yakin penelitian Mas Dirga pasti bermanfaat. Saya doakan semoga penelitian Mas Dirga lancar dan sukses," kata Sekar Arum.
"Terima kasih, Mbak Sekar. Oh ya, Bapak harus segera pergi karena ada urusan lain. Mbak Sekar dan Dirga hati-hati ya," kata Damar Sasongko.
"Iya, Bapak. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk bertemu dengan kami," kata Sekar Arum.
Damar Sasongko tersenyum dan berpamitan kepada Sekar Arum dan Dirga Ardhani. Setelah Damar Sasongko pergi, Dirga Ardhani mengajak Sekar Arum untuk berkeliling di sekitar lokasi seminar.
"Mbak Sekar sudah lama tertarik dengan wayang kulit?" tanya Dirga Ardhani.
"Sebenarnya tidak terlalu lama, Mas Dirga. Saya baru tertarik dengan wayang kulit setelah melihat pertunjukan Bapak di YouTube. Saya kagum dengan bagaimana Bapak bisa menggabungkan unsur tradisional dan modern dalam pertunjukan wayang kulit," kata Sekar Arum.
"Oh, ya? Bapak memang selalu berusaha untuk membuat wayang kulit tetap relevan dengan zaman sekarang. Dia ingin agar generasi muda juga mencintai wayang kulit," kata Dirga Ardhani.
"Saya setuju dengan Bapak. Wayang kulit itu seni yang sangat indah dan bernilai tinggi. Sayang sekali kalau generasi muda tidak mengenalnya," kata Sekar Arum.
"Iya, Mbak. Makanya saya ingin berkontribusi dalam melestarikan wayang kulit. Saya berharap penelitian saya bisa membantu untuk meningkatkan minat generasi muda terhadap wayang kulit," kata Dirga Ardhani.
"Saya yakin penelitian Mas Dirga pasti bermanfaat. Saya juga ingin ikut berkontribusi dalam melestarikan wayang kulit. Saya sedang belajar tentang komunikasi dan media sosial. Saya ingin memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan wayang kulit," kata Sekar Arum.
"Wah, itu ide yang bagus, Mbak Sekar. Media sosial itu sangat efektif untuk menjangkau generasi muda. Kalau Mbak Sekar bisa memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan wayang kulit, pasti banyak anak muda yang akan tertarik dengan wayang kulit," kata Dirga Ardhani.
"Saya juga berharap begitu, Mas Dirga. Saya ingin membuat konten-konten yang menarik dan kreatif di media sosial tentang wayang kulit," kata Sekar Arum.
"Mbak Sekar punya ide apa saja?" tanya Dirga Ardhani.
Sekar Arum mulai menceritakan ide-idenya kepada Dirga Ardhani. Ia ingin membuat video pendek tentang wayang kulit, animasi tentang tokoh-tokoh wayang, dan infografis tentang sejarah dan filosofi wayang kulit. Ia juga ingin membuat kuis dan giveaway tentang wayang kulit di media sosial.
Dirga Ardhani sangat antusias mendengar ide-ide Sekar Arum. Ia memberikan masukan dan saran kepada Sekar Arum tentang bagaimana caranya merealisasikan ide-idenya.
"Ide-ide Mbak Sekar sangat bagus dan kreatif. Saya yakin kalau Mbak Sekar merealisasikan ide-ide ini, pasti banyak anak muda yang akan tertarik dengan wayang kulit," kata Dirga Ardhani.
"Terima kasih, Mas Dirga. Saya senang Mas Dirga menyukai ide-ide saya," kata Sekar Arum.
Setelah berkeliling di sekitar lokasi seminar, Dirga Ardhani mengajak Sekar Arum untuk makan siang di sebuah restoran dekat kampus UNS. Mereka melanjutkan obrolan mereka tentang wayang kulit sambil menikmati makanan.
"Mbak Sekar kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi ya?" tanya Dirga Ardhani.
"Iya, Mas Dirga. Saya baru semester tiga," jawab Sekar Arum.
"Wah, sama dong dengan saya. Saya juga kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi di UNS," kata Dirga Ardhani.
"Wah, kebetulan sekali!" seru Sekar Arum.
"Iya, Mbak. Mungkin nanti kita bisa ketemu di kampus," kata Dirga Ardhani.
"Saya senang sekali kalau kita bisa ketemu di kampus, Mas Dirga. Jadi, kita bisa ngobrol-ngobrol tentang wayang kulit setiap hari," kata Sekar Arum sambil tersenyum.
Dirga Ardhani membalas senyuman Sekar Arum. "Saya juga senang sekali, Mbak Sekar. Saya merasa kita punya banyak kesamaan," kata Dirga Ardhani.
Setelah makan siang, Dirga Ardhani mengantar Sekar Arum kembali ke kampusnya. Sebelum berpisah, mereka bertukar janji untuk bertemu lagi di kampus.
Sekar Arum merasa sangat bahagia. Ia tidak hanya mendapatkan ilmu dan inspirasi dari seminar Damar Sasongko, tetapi ia juga mendapatkan teman baru yang memiliki minat yang sama dengannya. Ia merasa bahwa hidupnya semakin berwarna dan bermakna.
Sesampainya di kos, Sekar Arum langsung menghubungi Aisha. Ia menceritakan semua pengalamannya di seminar kepada Aisha.
"Aisha, kamu tahu nggak? Aku tadi bertemu dengan Damar Sasongko dan putranya, Dirga Ardhani!" seru Sekar Arum dengan gembira.
"Wah, serius kamu, Sekar? Keren banget!" kata Aisha.
"Iya, Aisha. Dirga Ardhani itu ternyata juga kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi di UNS. Kami punya banyak kesamaan. Dia juga sangat tertarik dengan wayang kulit," kata Sekar Arum.
"Wah, ini sih namanya jodoh!" goda Aisha.
"Ih, apaan sih kamu, Aisha!" kata Sekar Arum sambil tertawa. "Tapi, aku senang banget bisa bertemu dengan Dirga Ardhani. Aku merasa dia adalah orang yang tepat untuk diajak kerjasama dalam melestarikan wayang kulit," kata Sekar Arum.
"Aku setuju denganmu, Sekar. Aku yakin kalian berdua bisa melakukan hal yang hebat untuk wayang kulit," kata Aisha.
"Semoga saja, Aisha. Aku akan berusaha semaksimal mungkin," kata Sekar Arum.
Malam itu, Sekar Arum tidur dengan nyenyak. Ia bermimpi tentang wayang kulit, Damar Sasongko, dan Dirga Ardhani. Ia merasa bahwa masa depannya cerah dan penuh dengan harapan.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*