Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Wat Pha Rakam
Keesokan paginya, setelah tidur pulas tanpa gangguan spiritual, Freen dan Nam langsung menjalankan rencana terakhir mereka: menyingkirkan Patung Kayu medium pertukaran jiwa.
"Kita tidak bisa membuang waktu. Patung ini terlalu berbahaya untuk disimpan di rumah," kata Freen, menatap Patung yang terbungkus kain hitam di meja ruang tamu.
"Kita akan kembali ke Chiang Mai. Kita akan menemui Phra Khru di Kuil Agung. Beliau yang memimpin ritual penyucian di Wat Pha Rakam, dan Beliau pasti tahu cara terbaik untuk menyegel atau menghancurkan artefak seperti ini."
Nam dengan cepat menyetujui. "Aku akan pesan tiket pesawat dan menghubungi Phra Khru. Kita akan bilang bahwa kita membawa artefak kuno yang perlu disucikan, sebagai kelanjutan dari janji restorasi kita."
****
Dalam beberapa jam, mereka sudah berada di pesawat menuju Chiang Mai lagi. Kali ini, perjalanan terasa lebih santai, karena tidak ada tekanan waktu, dan mereka membawa solusi, bukan masalah.
Setibanya di Chiang Mai, mereka tidak langsung menemui Biksu. Mereka menyempatkan diri mengunjungi Wat Pha Rakam, kuil yang baru saja mereka restorasi.
Freen dan Nam mendaki jalur yang kini sudah lebih mudah diakses berkat pekerjaan mereka. Wat Pha Rakam terlihat indah di bawah sinar matahari. Bangunan kayu telah direnovasi, halaman kuil telah dibersihkan, dan di sekitar Patung Buddha utama, terdapat persembahan bunga segar dari penduduk desa setempat.
Freen merasakan kehangatan dan kedamaian spiritual yang luar biasa di kuil itu. Tidak ada lagi aura marah atau kesedihan.
Saat mereka berlutut di depan altar, Freen merasakan kehadiran Yay, Roh Penjaga Kuil, yang kini terasa tenang dan protektif, bukan agresif.
"Terima kasih, Yay," bisik Freen dalam hati.
"Kami menepati janji kami."
Setelah memberikan persembahan, mereka segera menuju Kuil Agung di kota. Nam telah mengatur pertemuan dengan Phra Khru.
Phra Khru menyambut mereka dengan senyum tenang. Beliau sudah mendengar tentang kebaikan hati Freen dan Nam dalam memulihkan Wat Pha Rakam.
Freen menjelaskan situasinya dengan hati-hati, hanya menggunakan istilah spiritual.
"Phra Khru, kami membawa sebuah objek kuno. Sebuah patung kayu yang digunakan dalam ritual transfer energi jiwa yang tidak pantas. Objek ini kini mengandung energi yang sangat kacau dan harus dinonaktifkan secara permanen."
Freen membuka bungkusan kain hitam itu dan menunjukkan Patung Kayu yang dingin dan kosong itu kepada Phra Khru.
Phra Khru mengamati Patung itu dengan mata yang dalam.
"Ini adalah Patung dengan niat buruk. Ini bukanlah benda suci, tetapi alat transfer yang diciptakan oleh keserakahan manusia. Energi jiwanya sudah menghilang, tetapi potensinya untuk mengulang ritual masih ada."
"Apa yang harus kami lakukan, Phra Khru?" tanya Freen.
Phra Khru memberikan instruksi.
"Patung ini tidak boleh dihancurkan dengan api atau palu. Ia harus 'dikunci' dalam kedamaian. Kalian harus menempatkannya di ruang suci di bawah stupa yang baru dibangun di Wat Pha Rakam. Di sana, di bawah lindungan Patung Buddha dan di bawah pengawasan Roh Penjaga, energi kekacauan ini tidak akan pernah bangkit lagi."
Freen dan Nam lega. Mereka telah menemukan solusi yang sempurna.
***
Keesokan harinya, Freen dan Nam kembali ke Wat Pha Rakam bersama beberapa Biksu. Mereka melakukan ritual penempatan Patung Kayu itu. Patung itu disegel di sebuah kotak batu dan diletakkan di ruang bawah tanah stupa baru, dikelilingi oleh jimat suci dan ditutup rapat.
Dengan penyegelan Patung Kayu itu, Freen akhirnya merasakan beban terakhir terangkat dari pundaknya.
"Selesai, Nam," kata Freen, saat mereka meninggalkan kuil untuk terakhir kalinya.
"Semua misi terselesaikan, semua janji ditepati, dan semua artefak berbahaya tersegel."
"Dan rekening bank kita penuh," tambah Nam, tersenyum lebar.
Freen mengangguk, melihat ke arah pegunungan yang diselimuti kabut. "Sekarang, kita bisa kembali ke Nonthaburi dan mengambil cuti panjang. Aku tidak akan membuka handphone-ku selama sebulan penuh. Tidak ada Dewi Hantu, tidak ada Cermin, tidak ada Jiwa Tertukar. Hanya Freen dan pizza."
Misi terakhir mereka telah selesai. Freen Sarocha dan Nam akhirnya mendapatkan istirahat yang pantas mereka dapatkan.