Semua orang mengenal Genta sebagai Presma (Presiden Mahasiswa) yang berwibawa. Tapi hanya Rara yang tahu kalau kakinya lemas setiap kali harus berpidato.
Berawal dari rahasia di balik panggung, Rara terjebak dalam kesepakatan rumit: Menjadi "support system" mental sang idola kampus secara offline, sambil menjaga rahasia bahwa sang pangeran es sebenarnya adalah Paladin manja yang ia kenal di dunia maya.
Satu hal yang Genta pelajari: Berakting cool itu mudah, tapi menyembunyikan detak jantung di depan Rara itu mustahil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leel K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Festival Olahraga Kampus
Gelanggang Olahraga (GOR) Universitas Nusantara sore itu nampak seperti kawah gunung berapi yang siap meledak. Udara di dalam ruangan tertutup itu terasa panas dan pengap, dipenuhi oleh aroma keringat, parfum murah, dan adrenalin yang meluap dari ribuan mahasiswa yang memadati tribun. Suara tabuhan genderang dari pendukung masing-masing fakultas bersahutan, menciptakan kebisingan yang sanggup membuat jantung siapa pun berdegup dua kali lebih kencang.
Di tengah lapangan parket yang mengilat di bawah sorotan lampu halogen, Genta Erlangga berdiri dengan tegak. Ia mengenakan jersey basket berwarna biru tua dengan aksen emas, warna kebanggaan fakultasnya. Nomor punggung 10 terpampang di dadanya. Rambut hitamnya yang biasanya rapi kini dibiarkan sedikit acak-acakan karena keringat yang mulai membasahi pelipisnya.
Secara visual, Genta adalah definisi dari kesempurnaan atletis. Bahunya lebar, kakinya jenjang, dan gerakannya saat melakukan pemanasan terlihat sangat lihai. Namun, Rara yang duduk di barisan paling depan tribun penonton, tepat di belakang garis lapangan, menyadari sesuatu yang luput dari pandangan ribuan orang lainnya.
Genta tidak sedang melakukan pemanasan. Genta sedang mencoba bertahan hidup.
Rara memperhatikan bagaimana tangan Genta mencengkeram bola basket itu dengan tenaga yang tidak wajar. Ujung jari-jarinya memutih. Setiap kali suara peluit wasit melengking atau teriakan penonton memuncak, bahu Genta nampak sedikit berjengit. Pria itu terus menunduk, menghindari kontak mata dengan massa yang terus meneriakkan namanya seolah ia adalah gladiator yang tak punya rasa takut.
"Gila, Kak Genta benar-benar serba bisa ya." Maya, teman Rara, berseru di tengah kebisingan. "Udah Presma, pinter, jago basket pula. Kayaknya Tuhan emang pilih kasih pas nyiptain dia."
Rara hanya tersenyum tipis, matanya tetap terpaku pada Genta. Bukan pilih kasih, May, batin Rara. Tuhan cuma kasih dia armor yang terlalu berat buat dia bawa sendirian.
Pertandingan dimulai. Genta memimpin timnya sebagai point guard. Namun, sejak menit pertama, ada yang salah dengan permainannya.
Genta yang biasanya dikenal sebagai penembak jitu, kini nampak kehilangan sentuhannya. Tembakan tiga angka pertamanya meleset jauh, hanya mengenai pinggiran ring. Saat melakukan dribble, bolanya sempat terlepas karena tangannya yang licin oleh keringat dingin. Ia nampak ragu-ragu dalam mengambil keputusan, sering kali terlambat memberikan operan karena perhatiannya teralih oleh sorak-sorai penonton yang menghakiminya.
"Yah... kok meleset?" bisik-bisik mulai terdengar dari tribun.
"Tadi itu harusnya masuk lho. Genta lagi nggak fokus ya?"
"Mungkin dia kecapekan urus BEM."
Kekecewaan mulai merayap di udara. Kania, yang duduk di tribun VIP bersama jajaran petinggi universitas, nampak meremas tas tangannya dengan cemas. Wajahnya tegang. Baginya, kegagalan Genta di lapangan adalah noda pada citra sempurna BEM yang selalu ia jaga. Ia terus memberikan isyarat dari jauh agar Genta lebih tenang, namun Genta sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
Genta terjebak dalam dunianya sendiri. Di kepalanya, suara riuh GOR berubah menjadi dengungan lebah yang memusingkan. Ia merasa ribuan pasang mata itu bukan sedang mendukungnya, melainkan sedang menunggu saat yang tepat untuk menertawakan kegagalannya. Dunianya mulai menyempit, napasnya terasa pendek, dan penglihatannya mulai mengalami tunnel vision.
Skor tertinggal sepuluh poin di akhir kuarter kedua. Genta berjalan menuju bangku cadangan dengan kepala tertunduk, mengusap wajahnya dengan handuk berkali-kali seolah ingin menghapus rasa malu yang membakar kulitnya.
Saat para pemain kembali ke lapangan untuk kuarter ketiga, suasana hati tim Genta nampak sangat lesu. Lawan mereka sudah di atas angin, dan para penonton mulai kehilangan minat untuk bersorak.
Rara menyadari bahwa Genta sudah berada di titik nadir. Jika tidak ada yang menariknya keluar dari lubang hitam kecemasannya sekarang, Genta mungkin akan benar-benar tumbang di tengah lapangan.
Rara menarik napas panjang. Ia mengabaikan rasa malunya sendiri. Ia berdiri dari kursinya, melangkah maju hingga tepat di belakang garis pembatas, hanya berjarak beberapa meter dari posisi Genta yang sedang bersiap melakukan inbound pass.
Di tengah keheningan sejenak sebelum wasit meniup peluit, suara Rara melengking nyaring, membelah kebisingan GOR.
"Woi, Paladin! Gunakan skill 'Divine Strike' sekarang! Jangan biarin HP-mu habis di depan Slime!"
Seluruh tribun di sekitar Rara mendadak sunyi. Orang-orang menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung. "Paladin? Divine Strike? Dia ngomongin apa sih?" bisik mereka. Bahkan wasit sempat terhenti sejenak, mengira ada gangguan teknis.
Namun, efeknya pada Genta sungguh luar biasa.
Genta tersentak. Kepalanya menoleh secepat kilat ke arah sumber suara. Matanya menemukan sosok Rara yang sedang berdiri tegak dengan tangan mengepal ke udara, memberikan tatapan yang seolah berkata: 'Jangan berani-berani kalah di depanku.'
Istilah game itu, kode rahasia mereka, bekerja seperti sihir. Seketika, Genta tersadar bahwa ia tidak sedang berdiri di depan ribuan orang asing yang menakutkan. Ia sedang berada di Fantasy World. Lapangan basket ini adalah Hidden Grove, dan naga yang harus ia kalahkan bukanlah penonton, melainkan rasa takutnya sendiri. Dan di sana, di pinggir lapangan, Healer-nya baru saja memberikan buff keberuntungan yang paling kuat.
Sebuah senyum lebar, senyum yang sangat jujur dan langka, terukir di wajah Genta. Ia tertawa kecil, membuat rekan setimnya kebingungan.
"Oke, Ra," gumam Genta pelan, meski ia tahu Rara tidak bisa mendengarnya. "Perisai diaktifkan."
Apa yang terjadi selanjutnya menjadi pembicaraan di kampus selama berminggu-minggu.
Genta berubah menjadi monster di lapangan. Ia bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, melewati pemain lawan seolah mereka hanya rintangan diam. Ia mencetak tembakan tiga angka berturut-turut, membuat jaring ring bergetar tanpa henti. Gerakannya tidak lagi kaku, ia menari di atas parket dengan gairah yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya.
"DIVINE STRIKE!" teriak Genta dalam hati setiap kali ia melakukan lay-up yang spektakuler.
Ia tidak lagi mendengar bisikan penonton. Satu-satunya suara yang bergema di kepalanya adalah suara Rara yang memberinya semangat. Ketegangan di bahunya lenyap, digantikan oleh energi murni yang meluap-luap.
Di menit terakhir, skor menjadi imbang. Genta memegang bola di detik-detik krusial. Ia melompat tinggi di depan ring lawan, melakukan slam dunk yang begitu kuat hingga ring basket bergetar hebat.
BZZZZZZT!
Bel tanda berakhirnya pertandingan berbunyi tepat saat bola melewati jaring. Tim Genta menang tipis dengan selisih dua poin.
GOR meledak. Mahasiswa fakultasnya tumpah ke lapangan, merayakan kemenangan epik itu. Rekan setim Genta memeluknya, mengangkatnya ke bahu mereka. Kania berlari turun dari tribun VIP dengan senyum penuh kebanggaan, siap untuk melakukan sesi foto kemenangan bersama sang Presiden Mahasiswa.
Namun, di tengah kepungan kamera dan orang-orang yang mencoba menyentuhnya, Genta mencari satu orang.
Ia membelah kerumunan, mengabaikan jabatan tangan dari dewan fakultas, dan berhenti tepat di depan Rara yang masih berdiri di tribun paling depan. Genta terengah-engah, keringat membanjiri wajahnya, namun matanya bersinar terang.
Genta tidak bicara. Ia hanya mengangkat tangannya, memberikan sebuah jempol mantap tepat di depan wajah Rara, lalu menyentuh dadanya sendiri, tepat di mana jimat Slime Blue biasanya ia simpan.
Rara tertawa lepas, matanya berkaca-kaca melihat kemenangan Paladin-nya. Di tengah ribuan orang yang memuja sosok "Presma Sempurna", hanya mereka berdua yang tahu bahwa kemenangan sejati hari ini bukanlah soal skor di papan digital, melainkan tentang seorang pria yang akhirnya berani tersenyum di bawah teriknya sorotan lampu dunia nyata.
"Heal-nya masuk, kan?" tanya Rara tanpa suara melalui gerak bibir.
Genta mengangguk mantap sebelum akhirnya ia ditarik kembali oleh kerumunan fans, membawa rahasia hangat yang kini kian erat mengikat mereka dalam satu aliansi yang tak terkalahkan.