NovelToon NovelToon
LINTAS DIMENSI

LINTAS DIMENSI

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Time Travel / Penyeberangan Dunia Lain / Hari Kiamat / Fantasi Wanita
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Fii

Di tahun 3000 terjadi kekacaun dunia. Banyak orang berpendapat itu adalah akhir zaman, bencana alam yang mengguncang dunia, Gempa bumi, lonsor, hujan yang disertai badai..

Saat mata mereka terbuka, dunia sudah berubah. Banyak orang yang tewas akibat tertimpa bangunan yang roboh dan juga tertimbun akibat tanah longsor.

Tapi, ada yang berbeda dengan Orang yang terkena air hujan. Mereka tiba-tiba menjadi linglung, bergerak dengan lambat, meraung saat mencium bauh darah.

Yah, itu Virus Zombie. Semua orang harus bertahan hidup dengan saling membunuh. Kekuatan yang muncul sedikit membantu mereka untuk melawan ribuan Zombie.

Lima tahun berlalu, Dunia benar-benar hancur.. Tidak ada lagi harapan untuk hidup. Sumber makanan sudah habis, semua tanaman juga bermutasi menjadi tanaman yang mengerikan.

Aruna Zabire, memasuki hutan yang dipenuhi hewan dan tumbuhan mutasi. Dia sudah bosan untuk bertahan, tidak ada lagi keluarga dan kerabat. Mereka semua tumbang satu persatu ditahun ketiga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Mutil*si

Keesokan paginya, Rombongan Desa Suning Melanjutkan perjalanan. Mereka tidak ingin membuang banyak waktu, tidak ada alasan untuk tetap tinggal. Tidak seperti warga Desa Qinghe, Kepala Desa menunda sehari lagi, meski kondisi warganya lebih baik. Karena Aruna memberitahunya secara diam-diam, jika dipaksakan untuk lanjut sekarang, obat yang dia berikan akan sia-sia, jika mereka sakit lagi, belum tentu akan bertemu seorang Tabib di jalan.

Ji Mo hanya mengangguk setuju, walau dalam hatinya ada rasa tidak rela. Dia sangat ingin berjalan bersama dengan Desa Suning, tapi dia tidak boleh egois, kesehatan warganya lebih utama. Dia juga sudah tau, dari mana kekayaan itu berasal, semua milik Aruna.

Aruna memberitahu Kakek Ji untuk tidak khawatir. Karena dia sudah membantu Desa Qinghe, dia diam-diam memberikan perbekalan, meletakkannya di atas gerobak milik keluarga Kepala Desa Qinghe. Semalam, para warga Qinghe datang untuk berterima kasih kepadanya, mereka mengumpulkan semua koin yang mereka punya, jumlahnya hampir 200 koin tembaga. Aruna langsung menolak, jika dia menerimanya, warga Qinghe akan kehilangan banyak orang. Aruna menolak dengan mengatakan 'Aku hanya menerima bayaran di atas 1 tael 'intinya, jika di bawah itu, pengobatannya gratis.

Dua hari berlalu, rombongan terus berjalan, jalan yang mereka lalui dihimpit gunung. Kondisi gunung saat itu terlihat masih menghijau, tidak seperti sedang di landa kemarau.

"Mungkin daerah selanjutnya tidak mengalami kemarau panjang!" ucap Chen yang sedang berjalan di samping Aruna.

"Hmm, atau bisa jadi baru tahun ini!" Aruna juga merasakan cuaca yang sudah mulai berubah. Tidak sepanas sebelumnya.

"Ya, semoga saja. Aku sudah merindukan musim hujan." Mata Chen berbinar penuh harapan.

Aruna tak menanggapi, dia hanya mengatakan ingin menemui Kakek Ji yang berada Bagian depan bersama dengan Ozian.

Baru saja ingin mengatakan sesuatu. Tapi, "Sial, mereka sudah sampai!" Aruna sudah merasakan saat memasuki area itu, tapi posisi mereka berada dibalik gunung, jadi dia ingin melewati jalan itu baru istirahat. Dan saat merasakan adanya pergerakan, dia ingin memberitahu Kakek Ji agar berjalan lebih cepat, tapi ternyata orang-orang itu memiliki kekuatan yang lumayan, bahkan Ozian jauh di bawahnya.

"BERHENTI.."

Mendengar suara yang begitu nyaring dengan sedikit tekanan, membuat semua warga terkejut dan ketakutan, apalagi melihat jumlah mereka sangat banyak.

"Kalian siapa?" Kakek Ji bertanya dengan badan bergetar.

"Hee,, pasti kalian salah satu Desa yang pergi mengungsikan.? Jadi, kalian tidak perlu tau siapa kami!"

"Benar,, kalian tak perlu tau. Eh, eh, ketua lihat itu! Dia sangat cantik!" matanya berbinar penuh nafsu.

"Hahahaha sungguh berlian yang bersembunyi ditumpukan jerami. Cantik— Sangat cantik.!" Sosok yang dipanggil Ketua tertawa terbahak-bahak, benar-benar berlian.

"Tunggu apalagi! Ketua, kita bawa dia pergi sekarang, Bos besar pasti sangat senang. Haahah!"

"Jangan terburu-buru, jangankan Bos besar, Tuan muda pasti sangat menyukainya! Tapi, aku juga penasaran bagaimana rasanya, pasti sangat manis dan bergairah. Hahahah!" Air liurnya sudah menetes melihat Aruna yang berdiri di samping Kakek Ji.

Warga Suning sangat marah mendengar omongan orang-orang itu, sangat keterlaluan dan blak-blakan, tangan mereka mengepal kuat, kepada siapa lagi kata-kata itu tertuju jika bukan untuk Aruna? Mereka tau, dan Mereka tidak setuju penyelamat Desa Suning dihina, ingin maju untuk menyerang, tapi Ozian melarang mereka.

Apakah Aruna marah? Tentu, ada kilatan dingin melintas di matanya. Siapa yang tidak marah dilecehkan seperti itu? Tapi dia tetap tenang, lalu berkata "Kalian pergi sendiri atau aku yang mengantar kalian pergi!" 'Ke alam baka'.

Mendengar suara Aruna yang lembut tapi tegas membuat nafsunya makin meninggi..Dia sudah lama tak bermain-main, gadis muda yang mereka tangkap sebelumnya sangat buruk, kurus, kering membuatnya tak berselera...

"Hahahah, kenapa? Apa kau sudah tidak sabar ingin pulang denganku?"

"Hei gadis cantik, jika kau patuh kami tidak akan melukai yang lainnya, tapi jika kamu melawan, apa boleh buat!"

Pesan tersirat, jika kamu ingin warga Suning selamat, maka ikutlah tanpa dipaksa. Tapi, jika kamu memberontak, gadis-gadis warga Suning juga akan mereka bawa.

"Ozian, bawa mereka semua mundur sejauh mungkin!"

"Tidak, aku akan melawan mereka!" Ozian menolak dengan tegas, meski dia tau kekuatan orang-orang itu lebih kuat darinya.

"Aku yang akan melawan mereka, banyak anak kecil, bawa mereka mundur! Jangan sampai buat mereka melihatnya!"

"Biar Kakek yang membawa mereka pergi, biarkan Ozian di sini!" Kakek Ji juga tidak setuju, bagaimana bisa mereka meninggalkan Aruna sendiri, dan mereka pergi seperti segerombolan pengecut.

"Tidak, Ozian pergilah. Dan Kakek tak perlu khawatir, aku akan membuktikannya," Inilah saatnya memperlihatkan kekuatannya, agar dimasa depan mereka tak perlu takut jika dirinya ada masalah.

Dengan enggan, Ozian dan Kakek Ji berbalik dan meminta mereka semua untuk mundur sejauh mungkin. Mendengar banyak anak kecil yang menangis ketakutan langsung berkata "Orang-orang itu sangat suka dengan anak kecil yang suka menangis." Seketika semua diam, mereka tak lagi berani mengeluarkan suara, hanya terus berjalan tak berani untuk menoleh.

"Kepala Desa! Kenapa Anda meninggalkan Nak Aruna sendiri?" seseorang bertanya dengan bingung.

Kepala Desa mendengus, siapa yang meninggalkannya? "Tunggulah, kalian akan tau sendiri jawabannya". Dia sangat yakin, Aruna bisa mengalahkan mereka semua, tapi Aruna tetap perempuan, kecemasan dimatanya terlihat sangat jelas. Mereka semua benar-benar pengecut.

Begitupun dengan Ozian, dia sangat marah. Marah pada dirinya sendiri karena ternyata kekuatannya sangat lemah, seharusnya dialah yang yang ada di posisi Aruna, melawan para bajingan itu.

**

"Hahahahah, sungguh berbakti. Ketua, lihatlah, mereka benar-benar pergi meninggalkan si cantik ini sendiri"

"Yaa, tak disangka, mereka sangat penurut. Tidak seperti dengan gadis-gadis sebelumnya yang menangis banyak drama, ujung-ujungnya keluarga mereka jadi korban."

"Ketua, tunggu apalagi? Ayo kita pergi!"

Sang ketua jalan mendekat untuk meraih tangan Aruna, dia sebenarnya merasa ada yang janggal dengan warga Desa Suning yang pergi begitu saja. Tapi dia tidak tau, di mana letak keganjalan itu.

Makin dekat dengan Aruna, air liurnya makin deras. Dia tak pernah melihat gadis secantik ini seumur hidupnya, hampir satu bulan lamanya dia tak pernah menyentuh wanita, dan sekarang melihat yang bening membuat andalannya meronta.

Aruna makin jijik, kurang dari satu meter, dia menatap orang itu dengan niat membunuh. "Orang sepertimu, hanya menjadi sampah masyarakat!"

Ketua tersinggung, tapi nafsunya lebih tinggi. Saat ingin melangkah lagi, dia merasakan tatapan Aruna yang sangat menusuk, dia mengusap tengkuknya karena tiba-tiba cuaca disekitarnya menjadi dingin.

Dia merasa ada yang tidak beres, baru saja ingin mengatakan sesuatu, tapi dia sudah tersungkur dengan keras.

Bruukkk...

"Arrrrggghhh,, brengsek. Dasar wanita ja—"

Plak

"Berani-beraninya kau.."

Aruna menendangnya, dan menampar mulutnya. "Tentu aku berani, hanya seorang sampah, mana bisa membuatku takut!"

"Dasar bodoh,, kenapa kalian diam? Bunuh dia!" pintanya sambil menatap anak buahnya yang hanya berdiri mematung. Dia sangat malu dan marah dijatuhkan oleh seorang gadis.

Orang-orang itu berjumlah sepuluh orang dengan sang Ketua. Melihat ketua mereka jatuh hanya dengan satu kali tendangan membuat yang lainnya menatap Aruna dengan ngeri. Kekuatan Ketua mereka yang paling tinggi saja kalah, apalagi mereka yang hanya anak buah.

Mendengar teriakan ketua, mereka menyerbu Aruna secara bersamaan. Aruna hanya sendiri, dan mereka bersembilan, mana mungkin bisa dikalahan begitu saja, di mana wibawa mereka sebagai bandit jika dikalahan oleh seorang wanita.

"Bunuuuuuhh....."

Mereka berlari mengerumungi Aruna, tapi mereka terkejut saat melihat sebuah kapak tiba-tiba muncul di tangan Aruna. Adegan seperti itu tidak pernah mereka lihat dilakukan oleh orang Desa, jadi kemungkinan Aruna bukan orang sembarangan.

Di saat pikiran mereka melayang, terdengar suara teriakan yang meraung kesakitan.

"Aarrgghh..."

Kapak itu sudah tertancap di dada orang yang melihat Aruna pertama kali. Darah segar mengalir tanpa henti. "Kau,, kau, kau" dia tak tau harus berkata apa, dia hanya bisa menatap Aruna dengan tatapan penuh kebencian.

Yang lainnya diam mematung, badan mereka bergetar, ini dilakuakan oleh seorang gadis. Dia tak takut sama sekali. "Beraninya kau melukai saudaraku..!"

"Hmm, aku hanya membela diri, masa aku hanya diam jika ada yang mencoba membunuhku.!"

Khiyaaakkk..

Dia berlari sambil menghunuskan pedangnya, berharap pedangnya itu langsung tembus di jantung Aruna. Tapi sayang sekali, Aruna menghindar dengan santai.

Aruna juga mengeluarkan pedang, dia hanya ingin bermain. Sudah lama rasanya tidak bertarung.

Teng..

Tengg..

Tengg..

"Lemah" Ucapnya tanpa bersuara.

Orang yang bertarung dengan Aruna makin emosi, dia bisa melihat dengan jelas gerakan mulut Aruna.

"Kau akan menyesal"

Aruna hanya tersenyum geli, merekalah yang seharusnya menyesal karena sudah bertemu dengannya. Tanpa membuang waktu lagi, Aruna menggunakan sedikit tenaga dalamnya, dan menyerang mereka satu persatu.

Krak..

Krak..

Arrghhhh..

Bukk..

Bukk..

Arrrggg..

Tak butuk waktu lama, semua sudah jatuh tersungkur, ada yang patah kaki dan tangan. Mereka ingin kabur, tapi tenaga mereka benar-benar sudah terkuras, hanya bisa menunggu kematian saja.

"Dasar sampah, orang-orang seperti kalian tak perlu ada di dunia!"

"Kau, kau mau apa? Tolong jangan bunuh kami! Kami menyesal!" Sang ketua yang kakinya sudah patah langsung bersujud merendahkan diri. Dia benar-benar takut, melihat Aruna membantai mereka semua dengan mudah.

"Oh memang seharusnya menyesal," Aruna menatapnya dengan jijik. Dia jalan mendekat dan langsung menendang selangkangannya.

Aarrgghh..

"Tolong, ampun, ampun. Jangan siksa lagi.." Badannya bergetar menahan sakit, tak ada harapan lagi. Dia sudah berusaha meminta bantuan, tapi tenaga dalamnya seakan terkunci, dia tak tau apa yang terjadi, tapi ini semua pasti karena ulah Aruna, badannya makin bergetar.

Aruna sudah menghancurkan aliran tenaga dalam mereka, jadi tidak bisa meminta bantuan melalui batu komunikasi. Dia mengambil kapaknya yang masih tertancap.

Aargghhh

Orang itu kesakitan saat Aruna mencabut kapaknya, dia langsung tak sadarkan diri, mungkin sudah mati karena rasa sakit, atau mungkin kehilangan banyak darah..

Yang lainnya berusaha menjauh dengan menyeret badan mereka, meski sudah bersusah payah, badan mereka tak berpindah sedikitpun.

Aruna berjalan mendekat, tanpa membuang banyak waktu, dia mematahkan kaki dan tangan mereka, tak lupa dibagian selangkangan yang sudah berbuat banyak dosa.

" Arrghhhh, to loongg,"

Tak tak tak tak

"Bu bunuh saja kami"

Tak tak tak tak

"Aaampuunn, jaa ja jangan"

Suara kapak Aruna beradu dengan lolongan mereka yang meminta untuk langsung dibunuh, sangat mengerikan. Mereka sering membunuh, tapi baru kali ini melihat cara membunuh yang sangat sadis.

Setelah mematahkan tangan dan kaki, aruna mencincangnya seperti memotong daging. Aruna tak membiarkan mereka pingsan atau menutup mata, jadi semua adegan mutilasi itu dilihat langsung dengan raut wajah penuh ketakutan.

Aruna beranjak, lalu menyeringai dengan puas. Padahal, dia ingin hidup tanpa pertumpahan darah, tapi sayang sekali, mereka datang sendiri kepadanya.

Aruna mengganti kapaknya dengan sebuah belati. Jika ingin kejam, ya kejam saja, jangan setengah-setengah.

"Kau yang pertama kali menatapku dengan nafsu bejatmu itu!"

Jleeb Jleeb

"Arrrggg,, tolonggg. Aaa mmpuun.. Bunuh, bunuh saja!"

Jleeb Jleeb..

Bukan suara kapak lagi yang terdengar, tapi tusukan belati yang menusuk di bola mata mereka. "Mata yang menatapku dengan nafsu, tak akan pernah melihat dunia lagi!"

Jleeb Jleebb..

Aruna menghentikan aksinya, Setelah melihat mereka sudah tak berbentuk. Dia hanya membiarkan satu orang, dan memasukkannya ke batu penyimpanan. Lalu mengumpulkan mayat mereka dan membakarnya menggunakan Api dari Elemen Petirnya. Hanya hitungan detik, semua mayat-mayat itu melebur sampai ke tulang, dan tak menyisakan abu sedikitpun.

1
Andira Rahmawati
ceritanya sgt keren
Andira Rahmawati
kerennnn👍👍👍👍
lanjut thorr💪💪💪
Chen Nadari
luar biasa thor👍
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Chen Nadari
👍👍👍👍👍
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
semangat up my Thor
Chen Nadari
ayo Thor lanjut 👍👍👍👍
Fauziah Daud
trusemangattt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!