fiksi sejarah Kisah Para Pemimpin sebuah Pulau bernama The Horn Land. cerita dalam rentang waktu 110 tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sutrisno Ungko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27 Kesatria Keluarga
Di dalam ruangan Owen masih bersama dengan Master Sorush.
“Kamu mengenal baik The Horn Land dan sejarahnya? “ tanya Owen .
Secangkir anggur diletakan disampingnya oleh Sorush.
“Aku pernah menjadi pelajar semasa muda. Usiaku kini 54 tahun. Lebih dari 10 tahun aku mengabdi pada seorang Master di Pulau Selatan. Dari sanalah aku mendapatkan pengetahuan dan gelar master yang aku sandang saat ini. ” kata Sorush.
“Juga belajar ilmu pengobatan? “ tanya Owen lagi.
“Keluarga kami menguasai ilmu pengobatan, ayahku adalah seorang tabib. Namun ia sudah lama meninggal, begitupun ibuku. Aku mendapatkan semua ilmu pengobatan secara otodidak dari mereka. Saat ini ilmu pengobatanku ini sedang aku ajarkan pada keponakanku Theon. Juga seni menulis. Aku ajarkan pada anak itu. Keluarga kami hanya tak pandai bertarung, kami tidak belajar ilmu pertarungan. Kakakku dulu pernah belajar pada seorang Master pedang namun terjadi kecelakaan pada sebuah laga. Ia meninggal saat itu juga..” kata Sorush terkenang.
“Jadi kau tak punya keahlian bertarung? apakah tak khawatir dengan situasi yang ada saat ini?” tanya Owen lagi.
“Aku punya keyakinan seperti kebanyakan pria yang mulia : Pria tidak pernah takut mati, mereka hanya takut menjadi tidak berguna.” kata Sorush, Ia tersenyum. Owen membalas senyuman itu.
“Kau pernah menikah?” tanya Owen. sambil menyeruput anggur.
“Aku pernah hampir menikah diusia 30 tahun. Namun calon istriku meninggal tak lama setelah kami merencanakan pernikahan , usianya saat itu beranjak 25 tahun. Setelah itu sampai saat ini aku belum lagi menemukan jodoh. Diusia saat ini, aku mungkin tak akan mencari wanita lagi,..” kata Sorush. Ia kemudian membelokan tema pembicaraan..
“Yang mulia tak akan lama lagi menjadi pemimpin bagi kami, aku merasa bangga bisa berada disampingmu mencatat sejarah yang akan kita tuliskan nanti. Seperti apa pemerintahanmu nanti? “ tanya Sorush.
“Aku belum lagi punya rencana tatanan pemerintahan. Namun yang pasti aku tak akan mendirikan pemerintahan dengan sistem kepemimpinan seperti di masa lalu. Yang aku inginkan adalah pemerintahan seseorang yang dipercaya pengikutnya. Yang kuat, yang bisa memberikan keadilan bagi semua.. “ kata Owen .
“Tuan tak mau menjadi Raja?” tanya Sorush. Serius
“Sepertinya tidak.”
Sorush sesaat termenung. Tanpa kata-kata. Aneh rasanya memiliki pemimpin yang tak ingin menjadi raja. Belum lagi ia mampu memberikan sanggahan, Owen sudah menambahkan.
“Sorush, tugasmulah menyusun sistem pemerintahan kita nanti.” Terdengar tegas penyataan Owen kini.
“Aku akan membantu Ser.” Jawab Sorush.
Pintu diketuk dari luar. Sesaat kemudian Jhuma masuk ke dalam ruangan bersama Regen Manollion.
“Saatnya sudah tiba yang mulia. Kita akan bergerak. Semua sudah dipersiapkan. 27 kesatria dan 6 sahabat yang lain menunggumu didepan.” kata Jhuma.
***
Hari itu tanggal 26 di bulan pertama tahun 111. Di halaman rumah Master Sorush para pejuang itu telah bersiap diri. Mereka sepakat akan menuju Kastel Kaitaia dengan damai. Meskipun perlengkapan pertarungan juga di sudah di siapkan masing-masing. Langkah mereka akan dilakukan secara terbuka seperti yang diinginkan Owen, tidak dengan sembunyi-sembunyi.
Master Sorush mencatat nama-nama mereka yang berbaris pagi ini\*) 27 Kesatria Keluarga.
\*) Uon Bloodstone, Berin Balyn, Hud Pathania, Sasan Stoneheart, Nero Talindurum, Avaris Ashara, Het Damollie, Osiris Phagan, Nefertari Imborn, Mycene Levant, Cyrus Laera, Phidias Ryan, Periklles Crane, Hannibal Lyon, Mago Queen, Delayer Moon, Pompey Damodar, Capri Rush, Arius Mandon, Rugila Loaun, Atiila Winter, Merv Balaena, Thor Mayanna, Charles Kaemon, Olga Darvo, Atil Blackwood, dan Khagan Datharian.
Sementara itu para pengikut awal Owen juga sudah bersiap diri ; Jhuma, Regen Manollion, Lauren Lamalurra, Angurey Wayn, Oliver Pho-bela, dan Aragon Balyn. Total ada 34 orang.
“Tuan-tuan, hari yang bersejarah ini telah tiba. Kita akan menuju Kastel dengan terbuka. Meminta Earl untuk meletakan jabatannya dan memberikan wilayah Kaitaia bagi kita. Wilayah ini akan menjadi pijakan kita. Aku menginginkan kita akan memperlihatkan niat baik kita untuk melawan penindasan, dengan tidak menindas orang yang menyerah atau perempuan dan anak-anak. Juga tak ada bumi hangus. Sebisa mungkin kita hindari kekerasan. Namun persiapkan juga diri kita pada pertumpahan darah demi niat yang telah kita buat hari ini. Kalian semua adalah perwakilan bagi keluarga masing-masing, Sejarah akan mencatat peran setiap yang terlibat hari ini. Dan jika aku mati dilangkah awal ini, pilihlah pemimpin yang kuat dan layak diantara kalian. terutama diantara pendamping pertamaku sejak menyeberangi lautan. Kita tak berniat mendirikan Kerajaan bagi satu keluarga atau bagi keturunanku. Kita akan mendirikan negara bagi semua. Bagi warga dengan pemimpin yang bijaksana. Selamat berjuang tuan-tuan.” demikian pidato Owen yang menggugah semua pengikutnya.
Ia kemudian turun ke halaman Kastil, langsung menuju kuda yang sudah dipersiapkan Lauren Lamalurra. penampilannya dia atas kuda sungguh gagah. dengan pedang The King disamping sabuknya.
“Ayo bergerak..” komando Lauren memberikan aba-aba, ia berada disamping kuda Owen .