NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Dosen Killer

Istri Rahasia Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Aliansi Pernikahan / Pernikahan Kilat / Beda Usia / Tamat
Popularitas:28.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Desy Puspita

Niat hati mengejar nilai A, Nadine Halwatunissa nekat mendatangi kediaman dosennya. Sama sekali tidak dia duga jika malam itu akan menjadi awal dari segala malapetaka dalam hidupnya.

Cita-cita yang telah dia tata dan janjikan pada orang tuanya terancam patah. Alih-alih mendapatkan nilai A, Nadin harus menjadi menjadi istri rahasia dosen killer yang telah merenggut kesuciannya secara paksa, Zain Abraham.

......

"Hamil atau tidak hamil, kamu tetap tanggung jawabku, Nadin." - Zain Abraham

----

Plagiat dan pencotek jauh-jauh!! Ingat Azab, terutama penulis gamau mikir dan kreator YouTube yang gamodal (Maling naskah, dikasih suara lalu up seolah ini karyanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desy Puspita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 - Dejavu

Tak hanya Amara, Syakil yang tak lain adalah Daddy-nya kini turut menghampiri Zain. Jika istrinya masih bisa bersikap manis, lain halnya dengan Syakil, suaranya menggema.

Pengakuan putranya jika sudah menikah sukses membuat Syakil tersedak ludah. Dia masih tak percaya, marah sekaligus bingung begitu melihat seorang gadis belia yang kini mencoba menunjukkan dirinya.

"Zain ... coba katakan lagi, Daddy ingin dengar."

"Aku sudah menikah, Dad, dan aku membawa istriku ke hadapan Dad_"

Plak

Sesuai dugaan, sebuah tamparan mendarat tepat di pipinya. Zain merasakan panas, dia tahu Daddy-nya akan marah. Seperti yang dia ketahui, pertunangan antara dirinya dan Jessica memang melibatkan peran Syakil yang merupakan sahabat dari papa Jessica.

Jelas saja kepulangannya yang kini membawa istri membuat Syakil terkejut. Bukan karena tidak setuju dengan wanita pilihan Zain, tapi sebagai orang tua, Syakil kecewa saja. "Semudah itu? Bagaimana dengan Jessica, Zain? Hendak bagaimana cara Daddy menghadapi Om Erlan?"

"Tentang Jessica, aku sudah menuntaskannya, Dad ... dan soal Om Erlan, aku yang akan bicara."

"Tidak sesederhana itu, Zain!!"

Syakil pernah diposisi ditinggal begitu saja. Bukan hanya hubungan yang rusak, tapi orangtua juga turut merasakan dendamnya. Syakil hanya tidak ingin, apa yang pernah papanya rasakan dulu, justru dirasakan oleh Erlan, papa dari Jessica.

Lagi pula Syakil tidak mengerti, dari sudut pandangnya, Nadin masih sangat muda. Wajahnya terlalu polos, dan melihat mata bulatnya, Syakil mendadak dejavu dan melihat seseorang di sana.

Syakil beralih pada Nadin, hati pria itu terhenyak. Iba, kasihan dan jelas tidak bisa marah. "Berapa umurmu, Nak?" tanya Syakil penasaran.

"19 tahun, Dad."

Tepat!! Syakil memijat pangkal hidungnya, seolah mengulang sejarah, apa yang putranya lakukan ini persis kelakuan kakaknya sewaktu muda. Usai bertanya, Syakil kembali menatap Zain yang tak pernah melepaskan gengggaman tangan. Seketika, pikiran buruk menguar di otak Syakil.

"Kau ...." Daddy Syakil sengaja menggantung ucapannya, Zain mendongak, memberanikan diri untuk menatap mata tajam papanya. "Kau memanfaatkan kepolosan gadis itu?"

"Tidak, Dad."

"Jangan bilang tidak!! Mana mungkin bentukan seperti ini mau diajak nikah buru-buru jika bukan karena terdesak!!"

Sewaktu masuk, yang panas dingin hanya Nadin. Akan tetapi, begitu di hadapan Daddy-nya, Zain kini ikut-ikutan tersiksa bahkan hendak menghela napas lega saja dia susah.

Dia takut, Daddy-nya marah besar dan tidak mungkin dia jujur tepat di hadapan Nadin. Sayangnya, hendak berbohong Zain juga bingung, karena memang sejak dulu dia ketahui, Daddy-nya serba tahu segala hal.

"Jawab!!"

Sama sekali tidak ada santai-santainya, teriakan Syakil menggema hingga Zain mundur selangkah lantaran khawatir pria itu sampai hati memukulnya.

"Kenapa? Mulutmu bisu?!!"

"Sayang sudah, Zain baru pulang ... berikan waktu untuknya agar bisa lebih tenang, lagi pula tidak enak pada Nadin."

Putranya baru saja mengingkari sebuah pertunangan, dan menikahi wanita lain, tapi Amara justru terlihat santai. Mungkin karena sesayang itu pada Zain sampai-sampai tidak bisa marah sekalipun membuat panik seisi rumah.

"Jangan terlalu dimanjakan, Ra, lihat jadinya."

"Iya tahu, tapi ada waktunya dan tidak sekarang ... mereka butuh istirahat."

Ingin Zain peluk mommy-nya sekuat tenaga. Sejak dahulu memang tidak pernah berubah, pengertian bukan main dan Zain benar-benar merasa beruntung lahir dari rahim wanita sebaik Amara.

"Kepalaku sakit sekali, masuklah ... nanti malam temui Daddy, Zain."

Begitu mendengar perintah sang Daddy, Zain segera berlalu pergi membawa Nadin ke kamarnya. Masih di tempat yang sama, Syakil terus memerhatikan punggung putranya.

Wajar saja dia mimpi buruk terus, selalu gelisah dan tidak mengerti apa yang menjadi penyebabnya.

"Astaga ... apa ini maksud mimpi burukku?"

"Mimpi? Mimpi apa memangnya?"

"Aku bermimpi, Zain datang dan mengacaukan rumah kita." Syakil menghela napas berat, dia mengusap kasar wajahnya dan mulai mencurigai makna mimpi itu.

"Mungkin cuma bunga tidur, atau bisa jadi karena kamu terlalu merindukannya."

"Tidak, Amara, firasatku tidak mungkin salah."

Ya, Syakil sangat yakin dengan firasatnya saat ini. Tak perlu waktu lama untuk berpikir, segera dia merogoh ponsel dan menghubungi seseorang di sana.

"Periksa CCTV apartemen Zain dua minggu terakhir, kirimkan padaku secepatnya."

.

.

"Orangtua kamu nggak suka aku ya, Mas?"

Setelah melewati rintangan terberat dalam hidupnya, Nadin baru kembali bicara ketika di kamar. Suasana hatinya masih kacau, tidak ada tenang-tenangnya. Walau tidak ada perkataan buruk dari orangtua Zain, tapi amarah Daddy-nya membuat wanita itu lemas tentu saja.

"Suka, buktinya Daddy lembut ketika bertanya padamu."

Benar, Daddy-nya memang sangat lembut ketika bicara pada Nadin. Ya, sebenarnya Zain merasakan perbedaaan itu. Hanya saja, Nadin yang pada dasarnya gak enakan jelas saja khawatir jika kehadirannya ke sini tidak begitu diterima.

Sudah dapat penjelasan, Nadin masih diam. Bahkan pakaiannya belum ditata sebagaimana anjuran Zain, mungkin dia berpikir andai nanti diusir ya tinggal pergi saja.

Sejenak dia menepis kekaguman pada kamar Zain yang empat kali lipat lebih besar dari kamar kostnya. Tidak ada waktu untuk itu, Nadin masih berpikir tentang orangtua Zain, itu saja.

Berbeda dengan Nadin, di sisi lain Zain justru santai saja. Napasnya benar-benar lega lantaran berhasil membawa istrinya ke rumah utama. Dengan mommy sebagai pembela yang dia anggap akan bisa melindungi sepenuhnya.

Seolah tanpa beban, pria itu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Memandangi punggung sang istri yang sejak tadi masih duduk di depannya, entah apa yang dia pikirkan.

"Nad."

Dipanggil tetap diam, Nadin masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. "Nadin," panggil pria itu lagi, dan tetap saja Nadin masih diam tanpa bereaksi apa-apa.

"Oey, Sayang!!" Tak hanya dengan bibirnya, Zain melemparkan bantal dan tepat mengenai punggung Nadin hingga sang istri menoleh pada akhirnya.

"Apasih? Kan bisa panggil baik-baik." Dia yang tuli, tapi masih bisa marah hingga Zain menarik sudut bibirnya tipis, sangat amat tipis hingga nyaris tak terlihat.

"Mikirin apa? Hm?"

"Mikirin lemari, ditaro mana tadi?" kesal lantaran Zain lempar pakai bantal, Nadin kini bertanya asal dan tidak lagi pada makna yang sebenarnya.

"Sini."

Ditanya apa jawabnya apa, Zain tak segera menjawab pertanyaan sang istri, melainkan menepuk sisinya demi meminta Nadin untuk mendekat segera. "Aku tidak nga_hoaam."

Semesta memang tidak merestuinya untuk berbohong. Nadin menolak ajakan sang suami dengan alasan tidak mengantuk, tapi jelas-jelas dia menguap hingga membuat Nadin mendekat juga pada akhirnya.

Jelas kedatangannya disambut hangat, Zain merentangkan lengan dan menyingkirkan bantal yang ada di sampingnya. "Buka jilbabnya," tidak hanya menjebak Nadin untuk membantalkan lengannya, Zain juga sudah berani meminta sang istri membuka kerudungnya.

"Kenapa harus dibuka?"

"Aku takut ketusuk jarumnya."

"Yang kali ini tidak pakai jarum, Mas," jawab Nadin tersenyum simpul, tapi dia paham maksud Zain hingga ketika sang suami memasang wajah datarnya tanpa aba-aba Nadin mengabulkan permintaam Zain segera. "Dasar, bilang aja mau lihat rambut, Pak," gumamnya begitu pelan, setengah berbisik malah.

"Apa kamu bilang?"

"Eng-enggak, ini ikat rambutnya kekencengan ... capek deh!! Gitu."

.

.

- To Be Continued -

1
Nurul Aisyah
nah loh ditagih kan wkwkwk 🤣
Zaara
aska bikin bengek mulu🤣🤣🤣
Zaara
serius q bacanya ngakak ga jdi sedih 🤣🤣🤣
Nurul Aisyah
cie cie wkwkwk
Bucinnya Baekhyun🐶
bener bener sih zain 🤣🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙡𝙞𝙢 𝙩𝙥 𝙣𝙜𝙪𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙚 𝙠𝙖𝙩𝙖 𝙝𝙚𝙬𝙖𝙣 𝙜𝙞𝙩𝙪 𝙠𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙩𝙧𝙨 𝙢𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙣𝙮𝙖𝙡𝙖𝙝𝙞𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣 𝙡𝙖𝙜...
mira maryati
kerennnn musibah membawa berkah 🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙥𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙜𝙖 𝙨𝙪𝙠𝙖 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙮𝙜 𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙚𝙩 𝙩𝙥 𝙨𝙚𝙜𝙖𝙡𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙖𝙡𝙞𝙖𝙨 𝙩𝙚𝙧𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙤𝙫𝙚𝙧 𝙠𝙚𝙥𝙤𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙩𝙚𝙢𝙚𝙣𝙣𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙜𝙖 𝙢𝙖𝙪 𝙘𝙚𝙧𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙜𝙖 𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙩𝙧𝙨2𝙖𝙣 𝙣𝙮𝙚𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙣𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙜𝙖 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙖𝙙𝙖𝙗.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙮𝙪𝙠𝙪𝙧𝙡𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙡𝙜 𝙝𝙖𝙢𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙗𝙡𝙤𝙠𝙞𝙧 𝙨𝙖𝙟𝙖 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙖𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙣𝙩𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙜𝙖 𝙥𝙚𝙣𝙩𝙞𝙣𝙜 𝙢𝙖𝙝 𝙣𝙜𝙖𝙥𝙖𝙞𝙣𝙨𝙝 𝙙𝙞𝙨𝙞𝙢𝙥𝙖𝙣 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙤 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙢𝙚𝙙𝙨𝙤𝙨𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙨𝙖𝙢𝙖2 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝, 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙡𝙖𝙣𝙜𝙨𝙪𝙣𝙝 𝙢𝙖𝙧𝙖𝙝 𝙩𝙖𝙣𝙥𝙖 𝙗𝙞𝙘𝙖𝙧𝙖 𝙥𝙚𝙡𝙖𝙣2 𝙙𝙪𝙡𝙪 𝙢𝙖𝙚𝙣 𝙟𝙖𝙢𝙗𝙖𝙠 𝙩𝙧𝙨 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖 𝙠𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙞𝙨𝙩𝙧𝙞𝙗𝙨𝙚𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙩𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙠𝙧𝙣 𝙖𝙙𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨 𝙣 𝙗𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙗𝙚𝙙𝙖 𝙟𝙜𝙣 𝙖𝙥𝙖2 𝙙𝙞 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙨𝙚𝙥𝙚𝙡𝙚 𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙜 𝙨𝙚𝙧𝙞𝙪𝙨/𝙣𝙚𝙧𝙘𝙖𝙣𝙙𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙗𝙞𝙟𝙖𝙠 𝙣𝙮𝙞𝙠𝙖𝙥𝙞 𝙥𝙙 𝙩𝙚𝙢𝙥𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙤𝙬𝙝 𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙣𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙬𝙣𝙜𝙖𝙠𝙪𝙖𝙣 𝙩𝙪𝙝 𝙣𝙖𝙙.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙝𝙖𝙙𝙚𝙪𝙪𝙝𝙝 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙞 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙙𝙜𝙣 𝙣𝙜𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙥 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙬𝙖𝙣𝙞𝙩𝙖 𝙧𝙚𝙣𝙙𝙖𝙝𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙗𝙞𝙡 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙖𝙬𝙖 𝙙𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙡𝙚𝙡𝙪𝙘𝙤𝙣 𝙖𝙥𝙖, 𝙖𝙥𝙖 𝙡𝙖𝙜𝙞 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙙𝙚𝙥𝙖𝙣 𝙨𝙪𝙖𝙢𝙞𝙣𝙮𝙖 𝙮𝙖 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨 𝙖𝙪𝙩𝙤 𝙣𝙜𝙖𝙢𝙪𝙠 𝙡𝙖𝙝 𝙨𝙞𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙥𝙖𝙠 𝙖𝙥𝙖... 𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖𝙧𝙖 𝙢𝙪𝙡𝙪𝙩𝙢𝙪 𝙣 𝙠𝙚𝙥𝙞𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙧𝙩𝙖 𝙠𝙚𝙙𝙪𝙙𝙪𝙠𝙖𝙣𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙙𝙤𝙨𝙚𝙣 𝙜𝙖 𝙨𝙚𝙨𝙪𝙖𝙞 𝙙𝙜𝙣 𝙖𝙠𝙝𝙡𝙖𝙠𝙢𝙪.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙡𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙟𝙞𝙝𝙖𝙣 𝙖𝙣𝙚𝙝 𝙗𝙞𝙖𝙧𝙥𝙪𝙣 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙢𝙖𝙣 𝙙𝙚𝙠𝙖𝙩𝙣𝙮𝙖 𝙣𝙖𝙙𝙞𝙣𝙚 𝙩𝙥 𝙪𝙩𝙠 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙗𝙖𝙙𝙞 𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙭 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙖𝙪 𝙠𝙧𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙥𝙧𝙞𝙫𝙖𝙨𝙞.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙯𝙖𝙞𝙣 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠 𝙗𝙤𝙘𝙖𝙝 𝙮𝙜 𝙢𝙞𝙣𝙩𝙖 𝙙𝙞 𝙗𝙚𝙡𝙞𝙞𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙬𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙘𝙤𝙠𝙡𝙖𝙩 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙚𝙣𝙜𝙚𝙠𝙣𝙮𝙖.😄
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
𝙬𝙖𝙙𝙪𝙪𝙪𝙝𝙝𝙝 𝙨𝙚𝙧𝙚𝙢 𝙖𝙢𝙚𝙩 𝙝𝙪𝙠𝙪𝙢𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖.😄
NORA SAFITRI
oooooeh, Zain😍😍
Maya Mawardi
somplak emang
Maya Mawardi
mati kutu
Maya Mawardi
menarik dan menghibur banget
Maya Mawardi
ya ampuuun beneran pasangan somplak ini mah ketawa terus jadinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!