NovelToon NovelToon
SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

SALAH TARGET! AKU MALAH DINIKAHI SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Alana, agen intelijen terbaik, melakukan kesalahan fatal saat menyamar. Bukannya mendapatkan data rahasia, ia malah tertangkap basah oleh Arkano Dirgantara, raja mafia paling berbahaya.
Hanya ada dua pilihan bagi Alana: Mati di tangan Arkano, atau menjadi istrinya.
Terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh intrik, Alana harus berpura-pura menjadi istri yang patuh sambil terus menjalankan misinya. Namun, saat Arkano mulai menunjukkan sisi posesif yang gelap sekaligus mempesona, Alana terjebak di antara tugas negara atau perasaan hatinya.
"Kau mangsaku, Alana. Dan seorang predator tidak akan pernah melepaskan tangkapannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: HAKIM DI RUANG HAMPA

Hujan turun dengan derasnya, menyapu debu-debu di jalanan kota, seolah-olah alam sedang mencoba membersihkan dosa yang baru saja terjadi di Klub Golf Emerald. Namun, di dalam gudang bawah tanah milik klan Dirgantara, udara terasa kering dan pengap. Aroma karat besi bercampur dengan bau amis darah yang samar.

Di tengah ruangan yang hanya diterangi oleh satu lampu gantung yang bergoyang, Komisaris Hendra terduduk di sebuah kursi besi. Tangannya terikat rantai ke belakang, dan wajahnya yang biasanya tampak berwibawa kini hancur, lebam, dan bersimbah darah.

Alana berdiri di kegelapan, memperhatikan pria yang selama sepuluh tahun ini ia anggap sebagai pengganti ayahnya. Ia masih mengenakan gaun malam emerald green yang kini ujungnya sedikit terkena noda lumpur. Di sampingnya, Arkano berdiri dengan tenang, melipat lengan di depan dada, memperhatikan mangsa mereka dengan tatapan predator.

"Sepuluh tahun, Hendra," suara Alana memecah keheningan, terdengar sangat dingin dan tenang. "Sepuluh tahun aku memanggilmu 'Paman'. Aku menghormatimu, aku mempertaruhkan nyawaku untuk setiap misi yang kau berikan. Ternyata, aku hanya sedang membersihkan jejak kakimu yang kotor."

Hendra terbatuk, meludahkan darah ke lantai semen. Ia mendongak, mencoba tertawa meski rahangnya tampak miring. "Kau... kau hanya anak kecil yang naif, Alana. Orang tuamu mati karena mereka terlalu vokal. Di dunia ini, kebenaran tidak ada harganya jika kau tidak punya kuasa."

PLAK!

Alana melayangkan tamparan keras ke wajah Hendra. Napasnya mulai memburu, kemarahan yang ia tahan sejak di paviliun kini meluap. "Kuasa? Kau menyebut membunuh warga sipil dan memelihara korupsi sebagai kuasa? Kau hanyalah pengecut yang bersembunyi di balik lencana!"

Arkano melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Alana, mencoba memberikan ketenangan yang posesif. "Jangan kotori tanganmu lebih jauh, Sayang. Biarkan Marco yang melakukan bagian yang kasar. Kita di sini hanya untuk mendengar pengakuannya."

Arkano kemudian menatap Hendra dengan mata yang berkilat kejam. Ia mengeluarkan sebuah alat perekam kecil dan meletakkannya di meja depan Hendra. "Buku besar itu sudah di tangan kami. Foto-foto transaksi, nama-nama menteri yang kau suap, hingga rekaman sabotase rem mobil orang tua Alana... semuanya sudah kami amankan. Jika kau ingin mati dengan cepat, sebutkan di mana kau menyimpan kunci enkripsi untuk server cadanganmu."

Hendra menyeringai sinis. "Kau pikir aku akan memberitahukannya? Begitu aku bicara, aku mati. Selama aku diam, aku masih punya nilai tawar."

Arkano tertawa rendah, sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Alana berdiri. "Kau salah menilai posisimu, Hendra. Di sini, aku adalah hakim, jaksa, sekaligus algojunya. Aku tidak butuh nilai tawarmu. Aku hanya butuh alasan untuk tidak menyiksa sisa keluargamu yang tinggal di luar negeri."

Mendengar itu, wajah Hendra berubah pucat. "Jangan... jangan sentuh mereka. Mereka tidak tahu apa-apa!"

"Maka bicaralah!" bentak Alana, ia maju dan mencengkeram kerah baju Hendra. "Bicaralah tentang bagaimana kau memerintahkan pembunuhan orang tuaku! Katakan di depan kamera ini, agar seluruh dunia tahu siapa monster yang sebenarnya!"

Hendra menatap Alana, ada secercah ketakutan yang nyata di matanya. Akhirnya, dengan suara parau dan patah-patah, ia mulai bercerita. Ia mengakui segalanya—tentang bagaimana ia merasa terancam oleh investigasi ayah Alana, tentang bagaimana ia memalsukan laporan kecelakaan, hingga bagaimana ia sengaja merekrut Alana ke kepolisian agar bisa memantau gerak-gerik gadis itu agar tidak pernah mencari tahu kebenaran.

Setiap kata yang keluar dari mulut Hendra terasa seperti belati yang menyayat hati Alana. Air mata kemarahan mengalir di pipinya, namun ia tidak terisak. Ia hanya merasakan kekosongan yang amat sangat. Segala hal yang ia bela selama ini ternyata adalah kebohongan besar.

Setelah pengakuan itu berakhir, Arkano mematikan alat perekamnya. Ia menoleh pada Marco yang berdiri di sudut ruangan. "Kirim rekaman ini ke saluran berita nasional dan internasional secara anonim satu jam lagi. Pastikan semua orang melihatnya sebelum kepolisian pusat bisa memblokirnya."

"Baik, Tuan," sahut Marco patuh.

Arkano kemudian menarik Alana keluar dari ruangan itu, meninggalkan Hendra yang mengerang dalam keputusasaan. Mereka berjalan menyusuri lorong bawah tanah yang dingin menuju lift yang membawa mereka kembali ke area hunian mansion yang mewah.

Di dalam lift yang berdinding cermin, Alana menatap pantulan dirinya. Ia melihat seorang wanita dengan gaun mahal, namun dengan tatapan mata yang sudah kehilangan cahayanya. Ia merasa asing dengan dirinya sendiri.

"Kau melakukannya dengan baik, Alana," bisik Arkano. Ia menarik Alana ke dalam pelukannya, membelai rambutnya dengan lembut. "Keadilan sudah ditegakkan. Sekarang, kau tidak perlu lagi memikirkan pria itu."

Alana menyandarkan kepalanya di dada bidang Arkano. "Apa yang akan terjadi padanya?"

"Dia akan membusuk di penjara—itu pun jika dia bisa bertahan hidup dari amukan para pejabat yang namanya dia sebutkan dalam rekaman tadi," jawab Arkano dengan nada acuh tak acuh. "Tapi bagiku, dia sudah mati sejak dia menyentuhmu semalam."

Langkah mereka sampai di kamar utama. Arkano tidak membiarkan Alana menjauh. Ia justru membimbingnya menuju balkon, tempat mereka bisa melihat kota yang sedang diguyur hujan.

"Dunia akan berubah besok pagi, Alana," ujar Arkano, suaranya terdengar sangat dalam dan magnetis. "Hendra akan jatuh, dan faksi kepolisian yang korup akan dibersihkan. Tapi itu artinya, kau juga tidak bisa kembali ke sana sebagai agen. Kau adalah bagian dari skandal ini sekarang."

Alana mendongak, menatap mata Arkano. "Aku tahu. Aku sudah tidak punya tempat lagi di sana."

Arkano menggenggam tangan Alana, lalu mencium jemarinya satu per satu. "Kau punya tempat di sini. Di sisiku. Kau bukan lagi pelayan hukum yang buta. Kau adalah wanita yang memegang kendali atas nasibmu sendiri."

Alana merasakan desiran aneh di dadanya. Seharusnya ia merasa takut berada di dekat pria yang bisa dengan mudah menghancurkan hidup orang lain. Namun, di dalam dekapan Arkano, ia justru merasa aman. Pria ini adalah satu-satunya yang jujur padanya, meski kejujuran itu pahit.

"Kenapa kau begitu yakin aku akan memilihmu?" tanya Alana lirih.

Arkano menyeringai tipis, sebuah seringai yang penuh kepastian. "Karena kita terbuat dari bahan yang sama, Alana. Kita adalah dua orang yang dikhianati oleh dunia dan memilih untuk membangun dunia kita sendiri. Dan di duniaku, kau adalah satu-satunya yang berhak memakai mahkota ini."

Arkano menarik Alana lebih dekat, menghapus sisa air mata di pipinya dengan ibu jarinya. "Malam ini, tidurlah. Besok, kita akan menonton bagaimana kerajaan Hendra runtuh. Dan setelah itu... kita akan memulai babak baru."

Malam itu, di bawah rintik hujan yang belum reda, Alana menyadari satu hal. Ia telah melewati garis batas. Ia bukan lagi Alana yang penuh idealisme. Ia telah menjadi bagian dari kegelapan yang ia cintai. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa menyesal.

Di kamar yang luas itu, Arkano menemani Alana hingga ia terlelap. Pria itu menatap istrinya dengan obsesi yang kini bercampur dengan rasa memiliki yang sangat dalam. Alana adalah senjatanya, perisainya, dan kini... separuh jiwanya. Dan Arkano bersumpah, siapa pun yang mencoba memisahkan mereka, akan berakhir lebih buruk daripada Hendra.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!