Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Pendamping dari Lembah Beku
Perjalanan menuju wilayah utara membawa Xiao Chen melintasi Pegunungan Salju Abadi.
Di sini, udara bukan lagi sekadar dingin, melainkan menusuk hingga ke sumsum tulang. Namun, bagi seorang ahli racun yang memiliki Qi korosif di dalam tubuhnya, suhu ekstrem ini hanyalah katalisator untuk memurnikan energinya.
Tujuan Xiao Chen adalah mencari Bunga Salju Beracun, sebuah tanaman langka yang hanya tumbuh di atas bangkai monster tingkat tinggi yang terkubur es. Tanaman ini adalah kunci baginya untuk menembus hambatan Ranah Langit.
Saat mendaki lereng yang curam, telinga tajam Xiao Chen menangkap suara desis lemah dari balik tumpukan salju. Ia mendekat dan menemukan seekor ular kecil berwarna putih transparan. Panjangnya tak lebih dari dua jengkal, tubuhnya kurus, dan salah satu taringnya patah.
Ular itu tampak sekarat, membeku karena tidak mampu bertahan di habitatnya yang keras sendiri. Ini adalah Ular Es Kecil, spesies paling lemah yang biasanya hanya menjadi mangsa bagi elang gunung.
"Makhluk malang," gumam Xiao Chen sambil berjongkok. "Kau mengingatkan pada diriku sepuluh tahun lalu. Lemah, terbuang, dan menunggu maut menjemput."
Ular itu mencoba mematuk tangan Xiao Chen dengan sisa tenaganya, namun gerakannya sangat lambat. Xiao Chen tidak menghindar. Sebaliknya, ia membiarkan ular itu menggigit jarinya.
Bagi manusia biasa, gigitan itu mungkin hanya menyebabkan mati rasa. Tapi saat taring itu menembus kulit Xiao Chen, ular itu justru tersentak. Aliran darah Xiao Chen yang mengandung esensi ribuan racun mengalir masuk ke dalam tubuh ular tersebut.
"Jika kau ingin hidup, telanlah racun ini dan lahir kembali." bisik Xiao Chen.
Ia duduk bersila di tengah badai salju, meletakkan ular itu di pangkuannya. Xiao Chen mulai mengalirkan Qi ungu gelapnya secara perlahan. Ia melakukan sesuatu yang dianggap gila oleh para pendekar: Evolusi Paksa melalui Kontaminasi.
Xiao Chen mengeluarkan sebuah botol kecil berisi sari empedu Raja Kalajengking yang ia simpan. Ia meneteskan cairan pekat itu ke mulut si ular, lalu membungkus tubuh kecil itu dengan energi inti buminya.
Proses itu mengerikan untuk dilihat. Kulit ular yang tadinya putih transparan mulai pecah dan mengelupas.
Tulang-tulangnya terdengar berderak, memanjang dan menguat. Ular itu mengejang hebat, mengeluarkan cairan hitam dari pori-porinya—semua kotoran dan kelemahannya dibuang paksa oleh racun Xiao Chen.
Tiga jam berlalu. Badai salju di sekitar mereka seolah membentuk pusaran yang terpusat pada Xiao Chen.
Tiba-tiba, ular itu membuka matanya. Pupilnya tidak lagi hitam, melainkan berwarna ungu menyala dengan kilatan emas di tengahnya.
Tubuhnya kini berwarna perak metalik dengan pola garis-garis hitam yang tampak seperti tulisan kuno. Ukurannya memang masih kecil, namun aura yang dipancarkannya mampu membuat serigala salju di kejauhan lari ketakutan.
Ular itu tidak lagi mencoba menyerang. Ia justru melilitkan tubuhnya di pergelangan tangan Xiao Chen dengan lembut, lidahnya yang bercabang menjilat noda darah di jari sang majikan.
"Mulai sekarang, namamu adalah Bai," ucap Xiao Chen pelan. "Kau bukan lagi mangsa. Kau adalah pemangsa yang akan membuat langit gemetar."
Kini, dengan Bai yang melilit di lengannya seperti gelang perak, Xiao Chen melanjutkan pendakian. Kehadiran ular itu membantunya mendeteksi keberadaan Bunga Salju Beracun. Bai mampu merasakan hawa kematian yang dipancarkan oleh tanaman tersebut.
Setelah beberapa jam, mereka tiba di sebuah gua es yang tertutup kristal tajam. Di tengah ruangan, tumbuh sebuah bunga berwarna biru pucat yang memancarkan uap dingin yang mematikan. Namun, bunga itu dijaga oleh seekor Beruang Es Raksasa yang telah mencapai puncak Ranah Inti Bumi.
Beruang itu meraung, suaranya menggetarkan dinding gua. Namun, Xiao Chen hanya berdiri dengan tenang.
"Bai, pergilah. Tunjukkan hasil dari kelahiran kembalimu."
Ular kecil itu melesat dari lengan Xiao Chen secepat kilat. Gerakannya hampir tak terlihat oleh mata telanjang. Dalam satu kedipan mata, Bai sudah berada di punggung beruang raksasa itu dan menancapkan taring barunya.
Hanya butuh satu detik.
Beruang raksasa yang memiliki pertahanan kulit setebal baja itu tiba-tiba mematung. Seluruh tubuhnya berubah menjadi warna ungu dalam sekejap, dan matanya meleleh menjadi cairan. Tanpa sempat mengeluarkan raungan kedua, makhluk raksasa itu hancur menjadi debu beku.
Xiao Chen berjalan melewati sisa-sisa beruang itu dan memetik Bunga Salju Beracun. "Bagus, Bai. Racunmu sekarang jauh lebih murni dari yang kubayangkan."
Ia memakan kelopak bunga itu satu per satu, duduk di tengah gua es, dan mulai bermeditasi. Energi dingin yang luar biasa dari bunga tersebut bertabrakan dengan energi panas dari racun di dalam tubuhnya. Ledakan energi terjadi di dalam inti jiwanya.
KRAK!
Sebuah penghalang di dalam pikirannya hancur. Aura di sekitar gua es itu terhisap masuk ke dalam tubuh Xiao Chen. Langit di atas gunung tiba-tiba tertutup awan ungu yang berputar-putar, disertai petir yang menyambar-nyambar.
Xiao Chen membuka matanya. Tekanan energinya kini jauh lebih besar, lebih luas, dan lebih mendalam.
"Ranah Langit," bisiknya.
Dengan kekuatan barunya dan pendamping mematikannya, Xiao Chen menatap ke arah selatan, ke arah sekte-sekte yang lebih besar yang sedang menantinya. Balas dendamnya bukan lagi sekadar serangan diam-diam; ia sekarang memiliki kekuatan untuk meratakan sebuah kota hanya dengan napasnya.
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.