Raka pulang setelah delapan tahun menghilang di Singapura. Bukan karena rindu kampung halaman, tapi karena mimpi yang terus berulang mimpi tentang Maya, sepupunya yang dulu selalu jadi lawan debatnya, teman sekaligus musuh dalam satu tubuh.
Tapi yang dia temukan bukan Maya yang dia kenal. Maya yang dulu ceplas-ceplos kini diam seperti kuburan. Maya yang dulu penuh api kini hanya menyisakan abu. Ditinggal suami tanpa penjelasan, harus membesarkan dua anak sendirian, dan terjebak dalam kesendirian yang dia jaga ketat seperti benteng.
Raka datang dengan niat hanya sebentar. Cukup untuk memastikan sepupunya baik-baik saja. Cukup untuk menghilangkan rasa bersalah karena pergi tanpa pamit delapan tahun lalu. Tapi hidup punya rencana lain.
"Kadang, yang paling kita hindari adalah tempat kita seharusnya kembali. Dan orang yang paling kita lawan adalah cinta yang tak pernah benar-benar pergi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: PAGI YANG BERBEDA
Suara pertama yang kudengar pagi itu bukan alarm di telepon, tapi suara pintu kamar yang dibuka pelan. Aku membuka mata, masih setengah tertidur, dan melihat Kinan berdiri di ujung sofa dengan ekspresi serius.
"Om, jam enam lebih sepuluh," bisiknya, seperti memberi tahu sesuatu yang sangat penting.
Aku mengusap wajah, berusaha fokus. "Terima kasih, Kinan. Mama sudah bangun?"
"Mama masak," jawabnya sambil menunjuk ke arah dapur. Dari ruang tamu, memang terdengar suara panci dan wajan.
Aku duduk, merasakan punggung yang agak pegal karena sofa yang tidak terlalu nyaman. Tapi lebih baik ini daripada hotel yang sepi. "Kakak Bima?"
"Masih tidur. Kakak bangun jam setengah tujuh."
Aku mengangguk, lalu bangun. Sprei yang diberikan Maya kemarin masih rapi aku bahkan tidak bergerak banyak semalam, tidurku nyenyak meski di tempat yang asing.
"Om mau mandi?" tanya Kinan, sudah seperti asisten pribadi kecil.
"Ya, sebentar."
Ketika aku masuk ke kamar mandi kecil di samping dapur, baru kusadari betapa sederhana rumah ini. Sabun yang hampir habis, shampo merek murah, handuk yang sudah mulai lusuh. Tapi semuanya bersih, tertata rapi. Seperti Maya meski kelelahan dan kekurangan, dia tetap menjaga ketertiban.
Setelah mandi dan berganti pakaian, aku masuk ke dapur. Maya berdiri di depan kompor, menggoreng telur. Dia memakai kaos oblong dan celana training yang sudah pudar, rambutnya diikat sembarangan. Tapi di mata yang masih mengantuk ini, dia tetap terlihat... indah. Dalam kesederhanaannya.
"Pagi," sapaku pelan, takut mengagetkannya.
Dia menoleh, memberi senyum kecil. "Pagi. Tidur nyenyak?"
"Cukup. Sofanya lumayan."
"Bohong. Sofa itu keras seperti batu. Tapi terima kasih sudah mencoba bersikap sopan."
Aku tersenyum. Maya yang ini sarkastik, jujur adalah Maya yang kukenal. "Oke, iya, sofanya keras. Tapi lebih baik daripada hotel."
Dia membalik telur dengan hati-hati. "Kamu bisa pilih kamar Bima untuk tidur malam ini. Dia tidak keberatan pindah ke kamarku."
"Tidak perlu repot"
"Bukan repot. Bima sudah setuju tadi malam setelah kamu tidur. Katanya lebih baik Om tidur ditempat yang lebih nyaman."
Aku terdiam. Anak delapan tahun itu sudah memikirkan kenyamananku. "Dia anak yang baik."
"Dia terpaksa tumbuh terlalu cepat," ucap Maya dengan nada datar, tapi aku mendengar kesedihan di baliknya. "Seperti Kinan."
Aku mendekat, berdiri di sampingnya. "Aku bisa bantu masak."
"Sudah hampir selesai. Kamu bisa siapkan meja."
Kami bekerja bersama dalam diam yang nyaman. Aku mengeluarkan piring, gelas, sendok. Maya menyelesaikan menggoreng telur dan mulai membuat roti bakar. Kinan yang sudah mandi dan berganti seragam TK duduk di kursi makan, mengamati kami dengan penuh perhatian.
"Kamu jadwal kerja jam berapa?" tanyaku sambil menyusun sendok.
"biasanya Jam tujuh harus sudah sampai. Tapi hari ini aku masuk siang jam satu sampai sembilan."
"Kenapa?"
"Shift berubah. Kadang pagi, kadang siang." Dia mengangkat bahu. "Bergantung pada kebutuhan percetakan."
"Lalu Kinan?"
"Diantar ke tetangga, Bu Sari. Kalau shift pagi, Bima yang antar jemput. Kalau shift siang seperti hari ini, aku yang antar sebelum kerja."
Rutinitas yang rumit. Penuh dengan ketergantungan pada tetangga dan anak yang seharusnya masih diurus, bukan mengurus.
"Nanti aku yang anterin Kinan," kataku tiba-tiba.
Maya berhenti mengoleskan mentega pada roti. "Kamu serius?"
"Kenapa tidak? Aku tidak ada acara pagi ini. Dan aku ingin berguna."
Dia memandangku, seakan memindai motivasiku. "TK-nya tidak jauh. Tapi..."
"Aku tahu jalan. Dulu aku juga sekolah di TK yang sama, kan?"
Itu membuatnya tersenyum, senyum asli, yang membuat matanya berbinar. "Iya. Kita sekelas bahkan. Kamu selalu menangis karena tidak mau pisah dari ibumu."
"Dan kamu yang selalu menghiburku," kenangku. "Bilang kalau nanti kita bisa main bersama."
"Lalu kita bertengkar karena berebut mainan."
"Dan berdamai karena disatukan guru."
Kami tertawa kecil. Kenangan itu datang begitu saja, seperti foto lama yang tiba-tiba ditemukan. Kinan melihat kami dengan mata penuh rasa ingin tahu, seperti tidak pernah melihat ibunya tertawa seperti itu.
"Oke," akhirnya Maya mengangguk. "Kamu antar Kinan. Tapi janji hati-hati."
"Janji."
Setelah sarapan di mana Bima akhirnya muncul dengan mata masih mengantuk kami mulai bersiap. Kinan dengan seragam TK-nya yang merah putih, tas kecil berisi bekal. Maya dengan baju kerja sederhana. Bima dengan seragam sekolah yang sudah disetrika rapi (oleh Maya, aku yakin).
"Bima, kamu berangkat sendiri ya?" tanya Maya sambil merapikan kerah baju anaknya.
"Iya, Ma. Teman-teman sudah nunggu di ujung jalan."
"Aku antar saja," tawarku lagi.
Bima menggeleng. "Tidak usah, Om. Aku sudah biasa. Toh sekolahnya dekat."
Aku mengangguk, menghargai kemandiriannya. "Oke. Kalau begitu sampai nanti."
Mengantar Kinan ke TK adalah pengalaman yang... mengharukan. Anak kecil itu memegang tanganku erat, sesekali melompat-lompat kecil sambil bercerita tentang teman-temannya, tentang gurunya, tentang bagaimana dia tidak suka warna merah pada seragamnya.
"Kenapa tidak suka merah, Kinan?"
"Karena merah warna marah. Adek nggak suka lihat orang marah."
Kalimat itu membuat langkahku terhenti sebentar. "Siapa yang sering marah, Kinan?"
Dia diam, lalu menjawab pelan, "Papa dulu. Terus Mama kadang. Tapi sekarang Mama jarang marah. Cuma kadang sedih."
Aku berjongkok, hingga sejajar dengan wajahnya. "Kinan, kalau Mama sedih, kamu harus apa?"
"Peluk Mama. Terus bilang 'Adek sayang Mama'." Dia tersenyum kecil. "Itu selalu bikin Mama senyum."
"Kamu anak pintar," kataku sambil mengelus kepalanya. "Sangat pintar."
TK Dharma Putra masih seperti yang kuingat gedung putih dengan halaman bermain di depan. Beberapa anak sudah bermain di sana, ditemani orang tua mereka. Kinan melepaskan tanganku dan berlari ke seorang perempuan paruh baya yang berdiri di pintu gerbang.
"Bu Guru Lina!" panggilnya riang.
Guru itu tersenyum, lalu menatapku dengan penasaran. "Ini siapa, Kinan?"
"Om Raka! Sepupu Mama!"
Aku mendekat, mengangguk sopan. "Selamat pagi, Bu. Saya Raka, keluarga Maya."
"Oh," ekspresinya berubah menjadi seperti mengenali sesuatu. "Jadi Anda... Raka. Maya sering cerita."
Aku sedikit terkejut. "Cerita apa, Bu?"
"Tentang sepupunya yang pergi ke Singapura. Yang dulu sering main ke sini waktu kecil." Bu Lina tersenyum, tapi ada sesuatu di matanya belas kasihan, mungkin. "Senang Anda kembali. Kinan... dan Maya... butuh dukungan."
"Ya, Bu. Saya akan berusaha."
Setelah menitipkan Kinan, aku berdiri sebentar di luar pagar, melihat anak-anak itu bermain. Kinan sudah bergabung dengan teman-temannya, tertawa riang. Dunia anak-anak sederhana, polos, penuh tawa.
Tapi aku tahu, begitu dia pulang ke rumah, dunia itu akan berubah lagi. Dia akan menjadi anak yang terlalu mengerti untuk usianya. Anak yang khawatir tentang ibunya. Anak yang ingat bahwa warna merah adalah warna marah.
Ketika aku kembali ke rumah, Maya sedang membereskan dapur. Dia menoleh saat aku masuk.
"Lancar?"
"Lancar. Kinan langsung lari ke Bu Lina."
"Bu Lina guru baik. Selalu perhatian pada Kinan." Maya mengeringkan tangannya dengan lap. "Dia tahu... situasi keluarga kami."
Aku mengangguk. "Dia bilang kamu sering cerita tentangku."
Maya berhenti, lalu tersenyum kecil. "Kadang. Waktu ngobrol sambil nunggu Kinan pulang. Dia bertanya apakah Kinan punya keluarga besar. Aku bilang ada sepupu di Singapura."
"Tapi tidak pernah datang," lengkapku dengan suara pelan.
"Tidak pernah datang," dia mengulang. "Sampai kemarin."
Dia mengambil tas kerjanya yang sudah disiapkan di kursi. "Aku harus berangkat sebentar. Ke pasar belanja kebutuhan mingguan."
"Aku ikut."
"Tidak usah"
"Biar aku yang bawa belanjaan," potongku. "Dan aku ingin lihat pasar lagi. Sudah lama."
Maya tampak ragu, lalu akhirnya mengangguk. "Oke. Tapi siap-siap dengan keramaian."
Pasar Pagi Teratai tidak berubah banyak. Masih sama bau campuran ikan, sayuran, daging, dan ratusan manusia berkeringat. Masih sama suara tawar-menawar yang riuh. Masih sama jalanan becek yang harus dihindari.
Tapi berjalan di samping Maya, melihat dia memilih sayuran dengan hati-hati, menawar dengan sopan, tersenyum pada pedagang yang sudah mengenalnya ini berbeda. Ini intim. Ini seperti melihat potongan kehidupan sehari-harinya yang selama ini tidak aku ketahui.
"Bu Maya, ini suaminya?" tanya seorang pedagang sayur tua sambil melirikku.
Maya tersenyum, tapi aku melihat pipinya memerah sedikit. "Bukan, Pak. Ini sepupu saya, Raka."
"Wah, mirip sekali! Saya kira suami yang baru."
Kami terus berjalan, meninggalkan si pedagang. Maya tidak berkata apa-apa tentang komentar itu, tapi aku melihat telinganya masih merah.
"Orang-orang sini banyak omong," kataku mencoba meringankan suasana.
"Selalu begitu. Tapi mereka baik. Banyak yang membantu ketika... ketika Rangga pergi."
Aku ingin bertanya lebih banyak tentang Rangga. Tentang pernikahan mereka. Tentang kenapa dia pergi. Tapi aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Tidak di tengah pasar yang ramai.
Setelah belanjaan cukup banyak sayuran, buah, telor, ayam, dan beberapa kebutuhan pokok kami berjalan keluar. Aku membawa dua kantong plastik besar, sementara Maya membawa satu.
"Biasanya kamu bawa sendiri semua ini?" tanyaku tak percaya.
"Iya. Atau Bima yang bantu kalau dia libur."
"Berat."
"Hidup memang berat, Raka," ucapnya sambil tersenyum getir. "Tapi kita harus tetap jalan."
Di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba hujan turun. Bukan gerimis, tapi hujan lebat khas Makassar yang tiba-tiba datang. Kami berlari mencari tempat berteduh, akhirnya masuk ke sebuah warung kopi kecil.
"Minum kopi dulu, biar hujan reda," usulku.
Maya mengangguk, masih terengah-engah. Rambutnya basah, beberapa helai menempel di pipinya. Aku tiba-tiba teringat masa kecil berapa kali kami kehujanan bersama, lalu pulang dengan basah kuyup dan dimarahi orang tua?
Kami duduk di kursi dekat jendela. Aku memesan dua kopi panas. Di luar, hujan semakin deras, membentuk tirai air yang mengaburkan pandangan.
"Ini seperti dulu," ucap Maya tiba-tiba, menatap hujan. "Waktu kita SD, kehujanan pulang sekolah, lalu mampir ke warung Pak Haji minum teh panas."
"Kamu ingat itu?"
"Dari sekian banyak kenangan, yang itu yang paling sering aku ingat." Dia menoleh padaku. "Karena saat itu, kita bicara tentang masa depan. Kamu bilang mau jadi pilot. Aku bilang mau jadi guru."
"Dan lihat sekarang kamu jadi guru, meski tidak di TK lagi. Dan aku... bukan pilot."
"Tapi kamu berhasil ke Singapura. Itu impianmu juga, kan? Melihat dunia lebih luas."
Aku mengangguk. "Iya. Tapi ternyata melihat dunia tidak membuatku lebih bahagia."
Kopi datang. Kami minum dalam diam, ditemani suara hujan dan gemericik air dari atap seng yang bocor.
"Maya," akhirnya aku memecah keheningan. "Boleh aku tanya sesuatu?"
"Tergantung pertanyaannya."
"Tentang Rangga. Kenapa dia pergi?"
Maya menatap cangkir kopinya lama. Aku berpikir dia tidak akan menjawab. Tapi akhirnya, dengan suara pelan yang hampir tenggelam oleh suara hujan, dia mulai bercerita.
"Dia tidak pergi sekaligus. Itu proses. Mulai dari sering pulang larut, lalu tidak pulang semalaman, lalu pergi berhari-hari. Awalnya alasan kerja. Lalu alasan bisnis. Lalu... tidak ada alasan sama sekali."
Dia menghela napas. "Aku tahu ada perempuan lain. Dari parfum yang bukan milikku. Dari pesan di telepon yang disembunyikan. Tapi setiap aku tanya, dia marah. Bilang aku tidak percaya padanya. Bilang aku terlalu posesif."
"Dan kamu?"
"Aku percaya. Atau pura-pura percaya. Karena punya dua anak kecil. Karena takut. Karena... karena aku mencintainya, meski sekarang itu terasa bodoh untuk diakui."
Air mata mulai menggenang di matanya lagi, tapi kali ini dia tidak menangis. Hanya diam, membiarkan kesedihan itu ada.
"Lalu suatu hari, dia bilang dapat tawaran kerja di Jakarta. Katanya gajinya besar. Katanya akan mengirim uang setiap bulan. Katanya akan pulang sesering mungkin."
"Dan kamu percaya lagi."
"Aku harus. Karena apa pilihanku? Melarangnya dan hidup dalam kemiskinan? Atau melepaskan dan berharap dia menepati janji?" Dia menggeleng. "Jadi aku melepas. Dengan doa. Dengan harapan."
"Hingga delapan bulan lalu."
"Hingga delapan bulan lalu," dia mengangguk. "Uang terus dikirim tiga bulan pertama. Lalu berkurang. Lalu berhenti sama sekali. Telepon tidak diangkat. Pesan tidak dibalas. Aku tahu alamat kantornya di Jakarta teman Rangga yang kasih. Aku suruh Bima telepon dari nomor lain, dan yang angkat perempuan."
Dia menatapku, matanya penuh luka yang belum sembuh. "Perempuan itu bilang, 'Rangga sedang sibuk, siapa ini?' Dan Bima anak delapan tahun harus mendengar itu. Harus mendengar bahwa ayahnya sudah punya kehidupan baru."
Aku meraih tangannya di atas meja. Dia tidak menariknya.
"Aku minta cerai lewat pengacara. Tapi prosesnya lambat. Dan mahal. Dan Rangga... dia tidak muncul di pengadilan. Tidak menanggapi surat. Seperti menghilang."
Hujan mulai reda. Tetesan terakhir jatuh dari atap, seperti titik akhir pada cerita yang menyedihkan.
"Aku minta maaf," kataku, meremas tangannya pelan. "Maaf karena tidak ada ketika kamu melalui semua itu."
"Kamu tidak bisa meminta maaf untuk sesuatu yang tidak kamu ketahui," jawabnya. "Tapi... terima kasih. Untuk ada sekarang."
Kami duduk seperti itu beberapa saat, tangan masih terpegang, kopi sudah dingin. Dunia di luar warung kopi mulai hidup lagi pedagang membuka kembali lapak mereka, motor mulai lewat, kehidupan berjalan seperti biasa.
Tapi di dalam warung kopi kecil ini, sesuatu telah berubah. Sebuah kepercayaan telah diberikan. Sebuah luka telah diperlihatkan. Dan sebuah hubungan telah mulai diperbaiki, satu kata, satu cerita, satu hujan pada suatu waktu.
"Sudah reda," kata Maya akhirnya, melepaskan tanganku. "Kita pulang ya. Bima dan Kinan pasti sudah menunggu."
Aku mengangguk, membayar kopi. Ketika kami keluar, udara terasa segar setelah hujan. Jalanan masih basah, tapi langit mulai cerah.
Dan dalam perjalanan pulang, dengan belanjaan di tangan dan sepupu yang mulai tersenyum di sampingku, aku merasa sesuatu yang telah lama hilang dari hidupku harapan perlahan mulai kembali.