NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Misi Rahasia Dengan Kode Merah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Dokter / Permainan Kematian / Psikopat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.

Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.

Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.

Tak ada yang mengira.

apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 35 : Ketakutan atau menuruti perintah

“Ulangi!”

Perintah itu meledak dari gagang ponsel, suaranya serak dan penuh amarah sampai dinding ruang kerja dokter itu seolah ikut bergetar. Jari-jari pria berbaju putih mencengkeram perangkat itu hingga sendinya memutih; napasnya tersengal menahan gemetar yang merayap dari ujung tulang hingga ke tenggorokan.

“Ada yang mencurigai pasien kita, Manager,” suaranya ragu, serak, nyaris hanya bisik.

Ia menunduk, pandangannya tersangkut pada berkas-berkas berantakan di mejanya, lembar demi lembar yang tadi ia lempar saat meledak emosi, sekarang bagai saksi bisu dari kegelisahan yang tak kunjung reda.

“Anak residensi tahun pertama,” lanjutnya pelan, suaranya tercekat oleh rasa takut. “Mahasiswi yang magang di IGD beberapa bulan lalu. Namanya, Victoria.” Kata itu terucap seperti racun di bibirnya, membuat udara di ruangan makin dingin.

Dari ujung telepon, suara Henry meledak; satu dentuman kemarahan yang menampar telinga. “Anak residensi?!” Nada itu seperti palu, menghancurkan sisa-sisa ketenangan yang masih tertinggal di dada dokter. “Jadi eksperimen yang kita bangun bertahun-tahun akan hancur karena kau serampangan setelah turun ke dunia kerja?!” Ia menendang meja imajiner dengan kata-kata, menekan hingga setiap huruf terasa seperti celaan.

Dokter itu hanya mengangguk dalam hati, padahal yang keluar dari mulutnya hanyalah bisik permintaan maaf yang terselip. Tangannya meremas ujung jas putih, kuku menekan hingga kulit terasa panas; tubuhnya bergoyang pelan menahan beban keputusan yang kini menggulung ke arahnya.

“Aku tak pernah ceroboh, Tuan,” gumamnya, suaranya hampir tak terdengar.

“Semua berjalan… awalnya lancar. Tapi belakangan ini, gadis itu sering membawa pasien kecilku keluar; ia bermain dengan anak itu di taman, membiarkannya lari, bahkan—” Napasnya terputus. Keringat mulai bermunculan di pelipis. “Anak itu bilang sesuatu padanya.”

Henry menggeram. “Apa yang dikatakan bocah itu?” tanyanya, suaranya menajam seperti pisau.

Dokter menelan ludah, menatap kosong ke jendela yang memantulkan bayangannya sendiri, wajah kusut, mata cekung. “Dia… mengaku melihat hal-hal aneh, Manager. Bahasa kacau. Tapi jelas, setiap pagi anak itu menghilang dari kamarnya dan ditemukan bermain bersama para residensi di lobi. Victoria ada di sana; aku berkali-kali melihat tangannya menyentuh belakang leher anak itu.” Ucapnya perlahan, seperti mengucap kalimat yang bisa menghancurkan semuanya.

Dalam keheningan berikutnya terdengar suara pecahnya gelas di seberang, lalu dentum amarah yang lebih keras.

“Ouhh dasar brengsek!” Henry mengecam.

Napasnya mendesah panjang, sebuah persetujuan untuk langkah yang dingin dan kejam.

“Kirimkan pesan ke laboratorium. Atur kematian bocah itu lebih cepat.” Suara itu keluar tenang, namun tajam, satu keputusan administratif yang disampaikan tanpa keraguan moral.

Dokter itu menunduk lebih dalam, jantungnya seperti ingin meledak. “Baik, Manager,” jawabnya dengan nada hampir patah.

Ada jeda pendek sebelum Henry menambahkan, nada suaranya kini begitu dingin sehingga membuat udara di seberang menjadi beku. “Dan satu lagi, urus gadis itu.”

Kata-kata itu menggantung seperti kutukan. Dokter terkejut, kata “urus” terasa samar namun mematikan; maknanya jelas tanpa perlu penjelasan panjang. Ia mendesah, bagai ditusuk sesuatu yang tajam di dalam hati.

“U-urus?” suaranya memantul, tidak yakin apakah ia masih ingin hidup atau menolak perintah yang baru saja diterimanya.

“Kau tahu apa maksudku, dokter,” balas Henry, suaranya menempel dingin di telinga. Lalu, hampir tanpa ekspresi: “Aku akan urus residensi lainnya. Dan ingat, jangan biarkan gadis itu terlepas.”

Genggaman dokter pada ponsel mengencang lagi sampai punggung tangannya memucat. Panggilan berakhir dengan bunyi klik dingin; ruang kerja kembali sunyi, namun kini sunyi itu memegangi sesuatu yang lebih mengancam daripada sebelumnya.

Di meja yang berantakan, secarik kertas bertuliskan EXPERIMENTAL — NEUROLINKER menonjol, seolah berbisik tentang rahasia yang harus tetap terkubur.

Dokter itu menatap lembar itu, kemudian menutup matanya. Di balik kelopak, ia menyaksikan wajah Victoria menoleh pada dirinya di taman tatapan penuh arti yang tak ia mengerti dan seketika seluruh keberanian yang pernah dimilikinya luntur, tergantikan oleh ketakutan yang pekat.

1
Vie
lumayan seru juga sebenarnya... penuh dengan rahasia.... 👍👍👍👍
sahabat pena
hey nona sekali lagi tabrakan sama si kuttub Alexander dpt piring pecah loh🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
tiba-tiba horor euy pintu ketutup sendiri🤣🤣🤣🤣
sahabat pena
apakah mereka berjodoh? tabrakan untuk ke-dua kali nya 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!