NovelToon NovelToon
PELAKOR UNTUK MADU-KU

PELAKOR UNTUK MADU-KU

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:80.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Almira Abimanyu, di hari ia mengetahui kehamilannya, wanita itu berniat memberi kejutan untuk Gilang, suaminya.

Namun, Gilang justru pulang membawa kejutan yang menghancurkan segalanya. Seorang wanita bernama Lila diperkenalkan sebagai istri keduanya. Dan lebih menyakitkan, Lila juga tengah mengandung.

Saat itu Almira sadar, pernikahannya selama ini hanyalah sandiwara.

Dengan air mata yang diseka dan senyum yang terbit perlahan, Almira mulai menyusun langkah. Bukan untuk meratap, melainkan untuk membalas.

Karena ketika seorang wanita berhenti menangis, sesungguhnya ia sedang bersiap melakukan sesuatu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Jabatan yang Diturunkan

.

Laksmana Abimanyu memijat pelipisnya. Hatinya perih membayangkan betapa hancurnya Almira saat mengetahui Gilang berselingkuh. Ia merasa gagal sebagai seorang ayah karena tidak bisa melindungi putrinya dari rasa sakit.

Nyonya Anastasia Wijaya, istrinya, yang adalah putri dari konglomerat Prabu Wijaya, mendekat dan meletakkan tangannya di bahu suaminya. “Kenapa Papa tidak memberikan pelajaran pada laki-laki tidak tahu diri itu? Mama tidak rela. Dia sudah berani menyakiti putri kita.” ucapnya geram.

Laksmana Abimanyu menghela napas panjang. Diambilnya tangan sang istri dan dicium lembut. "Aku tahu kamu marah, Ana," jawab Laksmana. "Tapi selama Almira tidak meminta bantuan kita, kita tidak boleh ikut campur."

"Tapi, Pa..."

"Mama percaya saja pada Almira," potong Laksmana Abimanyu. "Putri kita tidak selemah itu. Dia pasti bisa menghadapi masalahnya sendiri. Almira juga bukan orang yang akan diam jika diinjak. Papa rasa dia juga sudah mulai bertindak. Bukankah Sifa juga bilang begitu pada Mama?"

Nyonya Anastasia Wijaya menatap suaminya dengan tatapan tidak setuju. Menurutnya Almira terlalu lamban. Ia ingin suaminya segera bertindak untuk melindungi putrinya. Namun, ia juga harus menghormati keputusan suaminya.

"Baiklah," ucap Nyonya Anastasia Wijaya akhirnya. "Tapi jika kita dengar sesuatu terjadi pada Almira, Papa harus segera bertindak."

Laksmana Abimanyu mengangguk. "Iya, iya," jawab Laksmana. "Papa juga sudah memerintahkan beberapa orang untuk mengawasi putri kita.”

*

Sementara itu, di toko pakaian miliknya, Almira baru saja tiba. Begitu ia membuka pintu kaca, para karyawan menyambutnya dengan senyum cerah dan sapaan penuh semangat.

"Hore… Bu Almira datang!"

"Akhirnya Ibu datang juga…”

"Kita kangen tahu, Bu…"

Sambut mereka serentak.

Almira tertawa mendapatkan sambutan itu. “Bagaimana kabar kalian?"

"Kami baik, Bu.”

Almira mengangguk dan tersenyum. Matanya langsung menyapu seluruh ruangan, mengamati setiap sudut toko. Pemandangan yang menyambutnya membuatnya merasa bangga dan bahagia. Tokonya ramai dipenuhi pelanggan yang sedang memilih pakaian.

Di salah satu sudut, beberapa karyawan terlihat sibuk mengambil foto produk baru untuk promosi online, kilatan lampu flash kamera sesekali menyilaukan mata.

Di sudut lain, suara lakban yang ditarik-tarik oleh beberapa karyawan bagian packing terdengar bersahutan, menandakan banyaknya pesanan yang harus segera dikirim.

Di sudut lain lagi, seorang karyawan sedang membantu pelanggan memilih ukuran yang tepat, sementara yang lain sedang melayani pembayaran di kasir dengan cekatan. Aroma kain baru berpadu, menciptakan suasana yang khas dan menyenangkan.

"Bagaimana penjualan hari ini?" tanya Almira pada salah seorang karyawan yang sedang lewat.

"Alhamdulillah, Bu," jawab karyawan itu dengan senyum lebar. "Ramai sekali hari ini. Produk baru kita laris manis!"

Almira mengangguk puas. Ia merasa senang karena bisnisnya terus berkembang dengan baik. Semua kerja kerasnya selama ini tidak sia-sia.

*

Di kantor, Gilang sedang menyeka keringatnya. Berkas proposal yang ia anggap sudah sempurna ternyata tak membuat pak Sudarto puas.

Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya diketuk. Gilang mendongak dan melihat seorang karyawan berdiri di ambang pintu.

"Maaf, Pak," ucap karyawan itu. "Bapak dipanggil menghadap Pak Sudarto sekarang."

Jantung Gilang berdegup kencang. Ia merasa firasat buruk akan segera terjadi. Dengan langkah berat, ia meninggalkan ruangannya dan menuju ruangan Pak Sudarto.

Sesampainya di sana, ia mengetuk pintu dengan ragu.

"Masuk," terdengar suara Pak Sudarto dari dalam.

Gilang membuka pintu dan melangkah masuk. Ia melihat Pak Sudarto duduk di kursi kerjanya dengan wajah serius.

“Bapak memanggil saya?" Suara Gilang terdengar bergetar.

"Silakan duduk, Gilang," ucap Pak Sudarto tanpa basa-basi.

Gilang duduk di kursi di depan meja Pak Sudarto dengan perasaan tidak tenang.

"Gilang, saya ingin bicara tentang kinerja kamu belakangan ini," ucap Pak Sudarto dengan nada tenang namun tegas.

Gilang menelan ludahnya dengan susah payah. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi.

"Saya perhatikan, kinerja kamu semakin menurun," lanjut Pak Sudarto. "Laporan kamu kacau, kamu sering terlambat, dan kamu tidak fokus pada pekerjaan kamu."

Gilang terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Yang dikatakan pak Sudarto memang benar. Semenjak Almira tak lagi mau membantunya, ia seperti kehilangan pegangan. Bingung dengan apa yang harus ia kerjakan.

"Saya sudah memberikan kamu banyak kesempatan," kata Pak Sudarto lagi. "Tapi sepertinya kamu tidak bisa memanfaatkan kesempatan itu dengan baik."

Gilang menundukkan kepalanya, merasa malu, bersalah, sekaligus kesal.

"Karena itu," ucap Pak Sudarto dengan nada yang semakin tegas, "dengan berat hati, saya harus mengambil tindakan tegas."

Gilang mengangkat kepalanya dengan tatapan penuh tanya. Tindakan tegas? “Maksud Bapak?” tanya Gilang. Ludahnya bagai tercekat di tenggorokan.

"Saya terpaksa menurunkan jabatan kamu menjadi staf biasa," ucap Pak Sudarto tanpa basa-basi. "Dan tentu saja, gaji kamu juga akan disesuaikan dengan jabatan kamu yang baru."

Gilang terkejut bukan main. Jabatannya diturunkan? Itu berarti ia akan kehilangan semua fasilitas dan keistimewaan yang selama ini ia nikmati.

"Tapi, Pak," protes Gilang dengan nada tidak terima. "Saya sudah mengabdi di perusahaan ini selama tiga tahun. Saya sudah memberikan yang terbaik untuk perusahaan ini."

"Itu dulu, dan kemarin, Gilang," jawab Pak Sudarto dengan nada menyesal. "Sedangkan sekarang, kinerja kamu benar-benar mengecewakan. Saya juga tidak bisa bersikap tidak adil. Jika saya membiarkan kamu di posisi sekarang, itu akan jadi contoh yang buruk bagi yang lain."

"Tapi, Pak, kenapa harus diturunkan jabatan?" tanya Gilang dengan nada memohon. "Seharusnya Bapak bisa memberi kesempatan untuk saya. Saya pasti bisa memperbaiki semuanya!" Gilang masih tidak terima.

Pak Sudarto menghela napas panjang. "Saya sudah memberikan kamu banyak kesempatan, Gilang," jawab Pak Sudarto. "Tapi kamu tidak bisa memanfaatkannya dengan baik. Sekarang, saya beri kamu pilihan. Turun jabatan, atau silakan ajukan pengunduran diri!”

Gilang terdiam membisu. Pikirannya berkecamuk, mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang menimpanya. Namun, semua terasa buntu. Menolak diturunkan, artinya dia harus keluar. Keluar artinya ia tak lagi memiliki penghasilan. Akhirnya, dengan berat hati, Gilang hanya bisa mengangguk pasrah.

"Baik, Pak," ucap Gilang lirih, nyaris tak terdengar. "Saya terima."

Pak Sudarto mengangguk pelan, raut wajahnya sama sekali tidak menunjukkan rasa iba. "Saya harap kamu bisa menjadikan ini sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri."

Gilang hanya bisa mengggguk singkat sebagai jawaban. Ia tak sanggup berkata apa-apa lagi. Dengan langkah gontai, pria itu keluar dari ruangan Pak Sudarto. Tubuhnya lunglai, pikiran yang kalut. Dunia terasa runtuh di sekelilingnya.

*

Sampai di ruangannya, Gilang menghempaskan tubuh di atas kursi yang setelah ini tak lagi bisa ia duduki. Situasi ini benar-benar membuatnya frustasi.

“Ini semua gara-gara Almira," umpatnya kesal. "Kalau saja dia mau membantuku mengerjakan proposal-proposal itu, ini pasti tidak akan terjadi. Awas saja kamu, Mira!"

1
sukensri hardiati
kasihan rini...mira....kenapa ngorbanin rini...
sukensri hardiati
naaah gituu...hrs kuat...jangan buang sia2 airmata...hempaskan semua penghianat
sukensri hardiati
ooo....ternyata gilang anak mama juga...
Nar Sih
slh sendiri gilang sekarang nikmati derita mu🤣
Cindy
lanjut
dewi rofiqoh
Ternyata gilang terusir oleh pemilik baru rumah yang mereka tinggali🤣🤣🤣
Dew666
👑👑👑👑👑
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
lagian hdp sm wanita2 yg g bs produktif semua by hdp itu mahal wlpn cm makan kl ksh makan pengangguran y bkl hbs mau gaji besar pun..nyahok km gilang lg d atas sombong main nikah lagi pdhl miskin e g ktlngan..lah emng tu orgtua sok kaya g pnya rumah sm skali y
𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒
kok bagaimana bisa lah emng rnhe sp mak lampir, ora kroso tuku manggon seenak e. org waras ngontrak dan bayar..lah mra udh out mlh rmh d tempati mantan
ora
Yang kamu alami sekarang nggak ada apa-apanya dari perbuatan yang sudah kamu lakuin ke Almira....
ora
Masih nanya kenapa😏
ora
Masa bodo lah mau kamu tinggal dimana🤭
dewi rofiqoh
Wah ada kejutan apalagi buat gilang?
vj'z tri
gak papa telat sadar nya 🤧🤧🤧🤧
ora
Kejutan apa lagi ini. Gilang jantungnya masih aman kan😆😆
Cindy
lanjut
mery harwati
Kami adalah pembeli rumah Ibu Almira 😛
Bongko langsung Gilang 😀
Rosidah langsung stroke
Lila langsung brojol bayine
Riana langsung semaput, ternyata pas diperiksa semaput mergo meteng
Wis paket komplit arep riyoyo siap dinikmati 😀😀
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: /Joyful//Joyful//Joyful/
total 2 replies
Hary Nengsih
terusir dr rumah nih
dewi rofiqoh
🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 🤣 Ada-ada aja si rini.
Gagal maning gagal maning... Kagak jadi belah duren lagi si gilang🤣🤣🤣
astr.id_est 🌻
ngakak 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!