NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Piring Teracotta

Mansion Willey mungkin punya segalanya, tapi Noah bersikeras membawa Viona belanja kebutuhan dapur sendiri di mall milik keluarganya. Awalnya, suasana terasa menyenangkan. Viona tampak antusias memilih beberapa set piring porselen, sementara Noah mendorong troli dengan gaya tenang namun tetap terlihat berwibawa.

Hingga akhirnya, mata Viona tertuju pada satu set piring unik berwarna teracotta dengan motif handmade. Masalahnya, piring itu hanya tersisa satu set, dan seorang wanita lain sudah memegang ujung kotak yang sama.

"Permisi, saya yang lihat ini duluan!" ketus Viona, tidak mau melepas genggamannya.

Noah yang sedang melihat deretan gelas kristal di lorong sebelah segera menghampiri saat mendengar suara melengking istrinya yang mulai menarik perhatian pengunjung lain.

"Astaga... Vio... stop dulu," kata Noah, memegang pundak Viona mencoba menenangkan. Ia merasa heran, kenapa istrinya ini masih saja punya tingkah laku yang tidak berubah sejak zaman sekolah—selalu ingin menang sendiri.

"Sudahlah, piring lain lebih bagus itu ada di sana. Jangan bikin keributan cuma karena keramik," ucap Noah datar.

Mendengar suaminya justru membela "logika" daripada keinginannya, Viona melepaskan kotak itu dengan kasar. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena dongkol. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan cepat meninggalkan toko tersebut, meninggalkan Noah yang terdiam dengan troli belanjaan mereka.

Viona langsung masuk ke dalam mobil, membanting pintunya keras. Tak lama, Noah menyusul. Ia duduk di kursi kemudi, menatap Viona yang sedang melipat tangan di dada dengan napas memburu.

"Vio, kenapa kayak anak kecil? Cuma gara-gara piring?" tanya Noah, suaranya masih berusaha sabar namun terdengar jengah.

"Gue mau piring itu! Tapi lo malah suruh gue beli yang lain! Lo nggak pernah paham ya kalau gue pengen sesuatu!" gerutu Viona dengan nada yang mulai bergetar.

Noah menghela napas panjang. Ia memperhatikan raut wajah Viona yang lebih sensitif dari biasanya. Mata yang berkaca-kaca itu bukan cuma karena marah.

"Lo lagi PMS ya?" tanya Noah hati-hati.

Viona menoleh tajam, air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh juga, efek hormon yang memang sedang tidak karuan. "Iya! Kenapa?! Lo mau pulangin gue ke mansion Skylar sekarang? Karena lo pasti nggak mau tahu dan nggak mau repot kalau gue sakit menstruasi, kan? Lo cuma mau gue jadi istri yang sempurna dan nggak nyusahin!"

Noah tertegun. Ia tidak menyangka pertanyaannya akan memicu ledakan emosi sedalam itu. Alih-alih menyalakan mesin mobil, Noah justru melepaskan sabuk pengamannya dan mendekat ke arah Viona.

Tanpa diduga, tangan besar Noah menarik tengkuk Viona pelan, membawa kepala istrinya itu untuk bersandar di bahunya.

"Siapa yang bilang mau pulangin lo?" bisik Noah rendah, tangannya mulai mengusap rambut Viona dengan lembut, sebuah gestur yang sangat jarang ia lakukan. "Gue nanya karena gue mau tahu kenapa istri gue tiba-tiba jadi singa. Kalau sakit, bilang. Bukan malah ngajak berantem orang di toko piring."

Viona terisak pelan di bahu Noah. Kebenciannya pada sikap diktator Noah mendadak luntur oleh kehangatan yang pria itu berikan.

"Gue... gue cuma mau piring itu, Noah," gumam Viona lirih.

"Iya, besok gue suruh manajer mall-nya kirim sepuluh set yang sama ke rumah. Puas?" sahut Noah, senyum miringnya muncul kembali. "Sekarang kita pulang. Gue nggak mau lo pingsan di jalan cuma karena mikirin piring teracotta."

"Lo juga nyebelin banget di kampus! Jangan gangguin gue di kampus, Noah!" semprot Viona sembari membenahi posisi duduknya yang tidak nyaman karena perutnya mulai melilit.

Noah hanya menaikkan sebelah alisnya, tetap fokus pada jalanan Seoul yang mulai padat. "Gangguin gimana? Gue cuma menjalankan tugas sebagai dosen yang perhatian sama mahasiswinya."

"Perhatian pala lo peyang!" balas Viona tidak santun, persis seperti saat mereka masih SMA. "Kenapa sih musti manggil gue ke ruangan lo cuma buat nanya cara memesan makanan? Lo itu Willey! Lo punya asisten, sekretaris, bahkan supir. Masa pesan makanan lewat aplikasi aja nggak tahu? Itu modus receh banget tahu nggak!" gerutu Viona panjang lebar.

Noah terkekeh rendah, suara tawa yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Viona meremang. "Gue tahu cara pakainya, Vio. Gue cuma mau mastiin lo nggak lagi makan siang sama si Yohan-Yohan itu di kantin. Makanya gue panggil lo ke ruangan gue."

Viona melotot, menoleh sepenuhnya ke arah Noah.

"Jadi lo beneran cemburu? Demi piring teracotta yang tadi gue rebutin, Noah Sebastian Willey yang terhormat cemburu sama mahasiswa tingkat dua?"

"Bukan cemburu," potong Noah cepat, suaranya kembali datar namun tegas. "Gue cuma menjaga aset. Apa pun yang udah jadi milik gue, orang lain nggak boleh punya akses, bahkan buat sekadar ngajak makan siang."

Viona mendengus kasar, ia kembali menyandarkan kepalanya ke kaca mobil. "Diktator. Egois. Posesif."

"Dan suami lo," tambah Noah santai.

Hening sejenak, sebelum akhirnya Viona meringkuk sedikit karena rasa sakit di perutnya mulai menusuk lagi. Noah yang menyadari perubahan raut wajah istrinya langsung mengecilkan suhu AC mobil.

"Masih sakit banget?" tanya Noah, kali ini nadanya tidak lagi menjengkelkan, tapi tulus khawatir.

"Hm," jawab Viona singkat, memejamkan mata.

"Tahan sebentar. Kita mampir ke apotek dulu beli obat dan bantalan pemanas. Setelah itu pulang, dan gue janji nggak bakal bahas soal kampus atau piring lagi malam ini," ucap Noah lembut, sembari mengarahkan mobilnya menepi.

Viona tidak menjawab, tapi dalam hatinya ia sedikit tersentuh. Ternyata di balik sifat posesifnya yang gila, Noah tetaplah Noah yang selalu tahu kapan harus berhenti menjadi "lawan" dan mulai menjadi "pelindung".

———

Suasana di dalam rumah yang biasanya dipenuhi perdebatan sengit itu mendadak berubah tegang. Begitu kaki mereka melangkah melewati pintu utama, pertahanan Viona runtuh. Rasa sakit yang tadi coba ia tahan di mobil kini meledak, mencengkeram perut bagian bawahnya hingga ia tidak sanggup lagi berdiri tegak.

Viona menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu yang mewah, meringkuk membentuk bola dengan wajah pucat pasi. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

“Aduhh Noah... sakit!!!!" Teriaknya nyaring, suaranya parau menahan perih yang membuat otot perutnya terasa kaku seperti ditarik paksa. Kedua tangannya mencengkeram erat bantal sofa, seolah-olah itu bisa memindahkan rasa sakitnya.

Noah, yang baru saja meletakkan kunci mobil di meja, langsung membuang semua sikap acuh tak acuhnya. Ia bergerak secepat kilat, menghampiri Viona dengan raut wajah yang jarang sekali ditunjukkan: kepanikan yang terukur.

“Vio, hei... liat gue," ucap Noah rendah, berlutut di samping sofa. Namun, melihat Viona yang bahkan tidak sanggup menjawab dan hanya terus merintih, Noah tidak membuang waktu lagi.

Tanpa aba-aba, Noah menyelipkan satu lengannya di bawah leher Viona dan lengan lainnya di bawah lutut istrinya. Dengan satu gerakan mantap, ia mengangkat tubuh Viona ke dalam dekapannya dengan gaya bridal style.

Viona yang biasanya akan protes karena diperlakukan seperti anak kecil, kali ini hanya bisa menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Noah, mencari perlindungan. Aroma parfum maskulin Noah yang menenangkan seolah menjadi sedikit obat penenang di tengah rasa sakitnya.

Noah menaiki anak tangga satu per satu dengan langkah lebar namun tetap stabil, memastikan kepala Viona tidak terguncang. Ia menendang pintu kamar mereka hingga terbuka dan perlahan meletakkan Viona di atas kasur king size yang empuk.

"Tahan sebentar, jangan banyak gerak dulu," perintah Noah. Suaranya tidak lagi terdengar seperti dosen yang sedang mengajar, melainkan seperti seorang suami yang benar-benar tidak rela melihat miliknya menderita.

Noah dengan cekatan melepaskan sepatu Viona, lalu menyelimuti tubuh istrinya hingga sebatas dada. Ia berbalik, berniat mengambil air hangat dan obat yang tadi dibelinya, namun tangan lemas Viona sempat menarik ujung kemejanya.

"Noah... jangan lama-lama," bisik Viona lirih.

Noah tertegun sejenak, menatap mata Viona yang sayu. Ia mengusap dahi Viona lembut sebelum mengecupnya singkat, sebuah kecupan yang penuh dengan janji perlindungan. "Gue di sini. Nggak ke mana-mana. Gue cuma ambil kompres hangat buat lo."

Memori itu berputar kembali di kepala Noah seperti klise film lama. Noah menatap wajah pucat Viona yang kini sudah terbaring di atas seprai sutra, dan seketika ia merasa seperti ditarik kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu.

Tahun kedua SMA, acara berkemah tahunan di kaki Gunung Bukhan. Di saat siswa lain sibuk bernyanyi di depan api unggun atau bersembunyi untuk berkencan, Noah justru sibuk mondar-mandir di depan tenda medis dengan wajah frustrasi.

Viona, ratu sekolah yang biasanya paling berisik, tiba-tiba menghilang dari barisan. Noah menemukannya meringkuk di dalam tenda yang gelap, menangis tanpa suara sambil memegangi perutnya.

"Noah... sakit banget, gue mau mati aja," rintih Viona saat itu, keringat dingin membasahi seragam olahraganya.

Noah, yang saat itu masih remaja laki-laki yang kaku, tidak punya pilihan lain. Ia mengabaikan aturan jam malam, menggendong Viona melewati jalanan setapak yang licin, dan membawanya ke pos kesehatan pusat. Ia bahkan rela begadang semalaman, duduk di atas rumput hanya untuk menggenggam tangan Viona dan mengganti botol air hangat setiap jam.

Teman-teman mereka sering menjuluki Noah sebagai "911 Pribadi Viona". Karena memang selalu begitu polanya: Viona yang mencari masalah atau tertimpa musibah, dan Noah yang datang sebagai unit gawat darurat.

———

"Dari dulu lo emang nggak pernah berubah, Vio," bisik Noah pelan.

Ia tersenyum getir sambil menempelkan kompres hangat ke perut bawah Viona. Sepuluh tahun berlalu, status mereka sudah berganti menjadi suami istri, namun peran Noah masih tetap sama, menjadi satu-satunya orang yang tahu persis seberapa rendah ambang batas rasa sakit istrinya.

Viona yang setengah sadar merasakan sentuhan hangat itu. Ia membuka matanya sedikit, menatap bayangan Noah yang tampak kabur karena air mata.

"Noah... kenapa lo selalu ada pas gue lagi kacau?" tanya Viona lirih, suaranya nyaris hilang.

Noah terdiam sejenak. Ia mengusap pipi Viona dengan punggung tangannya, sebuah gerakan yang jauh lebih lembut daripada instruksi dosennya di kampus.

"Karena kalau bukan gue, lo pasti udah hancur sama kecerobohan lo sendiri," jawab Noah, mencoba terdengar ketus namun gagal karena matanya memancarkan kasih sayang yang dalam. "Lagian, siapa lagi yang sanggup ngadepin lo selain gue?"

Viona menarik napas panjang, mencoba meredam nyeri yang perlahan mulai berkurang berkat kompres itu. Ia merasa aman. Di balik semua sifat diktator Noah, ada satu kepastian yang tidak pernah berubah sejak SMA: Noah tidak akan pernah membiarkannya menderita sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!