Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Debu di Atas Jaket Lama
Pagi pertama tanpa deru mesin motor yang bersahut-shutan di bawah jendela markas terasa sangat asing bagi Devan. Ia terbangun di sebuah apartemen kecil yang ia sewa di dekat kampus Lia—jauh dari kebisingan bengkel pusat Black Roses. Sinar matahari menerobos masuk, menyinari butiran debu yang menari di udara, jatuh tepat di atas rompi kulitnya yang kini hanya tergantung kaku di sudut ruangan, seperti sebuah monumen dari masa lalu yang baru saja ia tinggalkan.
Devan duduk di pinggir tempat tidur, meraba bahunya yang masih terasa sedikit kaku akibat luka jahitan. Tidak ada lagi radio panggil yang berisik melaporkan pergerakan geng musuh, tidak ada lagi laporan tentang upeti wilayah Utara. Hanya ada suara kicauan burung dan klakson mobil yang sayup-sayup dari kejauhan. Baginya, keheningan ini justru terasa lebih memekakkan telinga daripada ledakan mesiu.
Ia melangkah menuju cermin, menatap wajahnya sendiri. Rambutnya yang biasanya diikat dengan bandana hitam kini dibiarkan jatuh berantakan. Ia mencoba mengenakan kemeja polos—pakaian yang menurut Lia akan membuatnya tampak "normal".
Namun, saat ia melihat bayangannya, ia merasa seperti seorang aktor yang sedang mengenakan kostum yang salah. Tato mawar di lehernya tetap ada, menjadi tanda permanen bahwa meski ia telah melepas rompi, jiwanya tetaplah seorang pejuang jalanan.
"Normal," gumam Devan pahit. "Mari kita lihat seberapa lama aku bertahan dengan kata ini."
Di sisi lain kota, Lia sedang bersiap dengan semangat yang meluap-luap. Baginya, keputusan Devan untuk mundur adalah sebuah kemenangan besar. Ia tidak lagi harus terjaga setiap malam karena takut menerima telepon yang mengabarkan Devan tewas di jalanan. Ia segera menuju bengkel kecil yang baru saja disewa Devan menggunakan sisa tabungannya.
Bengkel itu terletak di sebuah gang yang cukup luas, dikelilingi oleh pohon-pohon peneduh. Namanya masih belum ada, namun di dalamnya sudah berjajar beberapa motor tua yang berkarat—proyek restorasi pertama Devan sebagai warga sipil.
Saat Lia sampai, ia melihat Devan sedang berlutut di depan sebuah mesin motor Inggris tua tahun 1950-an. Tangannya yang dipenuhi bekas luka kini berlumuran oli hitam. Devan tampak sangat fokus, seolah-olah setiap baut yang ia putar adalah cara baginya untuk melupakan dunia lamanya.
"Selamat pagi, Tuan Mekanik!" sapa Lia ceria sambil membawa dua bungkus nasi uduk dan kopi hangat.
Devan mendongak, dan seketika gurat ketegangan di wajahnya luntur digantikan oleh senyum tipis yang tulus. "Kamu datang di saat yang tepat, Lia. Mesin ini lebih keras kepala daripada Baron."
Mereka duduk di atas lantai semen yang dialasi koran bekas. Lia memperhatikan bagaimana Devan makan dengan lahap. Meski Devan tampak tenang, Lia bisa merasakan ada sesuatu yang hilang dari sorot mata pria itu. Kekuatan yang biasanya memancar dengan dominan kini tampak seperti bara api yang sengaja ditutupi abu.
"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Lia lembut, sambil menyeka noda oli di pipi Devan dengan tisu.
Devan terdiam sejenak, menatap tangannya yang kotor. "Aneh, Lia. Sangat aneh. Seumur hidupku, aku belajar untuk selalu waspada. Setiap ada suara knalpot yang mendekat, tanganku secara otomatis mencari senjata di pinggangku. Tapi sekarang... aku harus meyakinkan diriku sendiri bahwa suara itu hanyalah orang lewat yang ingin membeli pulsa."
Lia menggenggam tangan Devan. "Itu proses, Devan. Kamu tidak bisa menghapus identitasmu dalam semalam. Tapi lihatlah sisi baiknya; semalam aku tidur nyenyak karena aku tahu kamu ada di rumah, bukan di gudang tua pelabuhan."
"Aku tahu," Devan menghela napas panjang, mengecup punggung tangan Lia. "Dan kenyataan bahwa kamu bisa tidur nyenyak adalah satu-satunya alasan yang membuatku tetap berada di bengkel ini."
Namun, dunia lama Devan tidak benar-benar membiarkannya pergi begitu saja. Menjelang siang, sebuah motor sport hijau yang sangat dikenal berhenti di depan bengkel. Itu bukan Baron. Itu adalah beberapa anak buah Raka yang dulu sempat setia namun kini merasa kehilangan arah tanpa pemimpin yang tegas di divisi mereka.
Pria yang turun bernama Galang. Ia adalah salah satu eksekutor lapangan yang paling beringas. Ia menatap bengkel kecil Devan dengan pandangan menghina.
"Jadi ini masa depan Sang Serigala Hitam?" sindir Galang sambil meludah ke samping. "Mengurus motor rongsokan di gang sempit? Benar-benar memalukan."
Devan berdiri perlahan, tubuhnya yang tegap langsung memberikan tekanan meski ia tidak mengenakan jaket kulitnya. "Aku sudah selesai dengan urusan kalian, Galang. Pergilah."
"Kamu mungkin sudah selesai, tapi kami tidak!"
Galang melangkah maju, masuk ke area bengkel tanpa izin. "Sejak kamu mundur, Baron menjadi terlalu lembek. Dia melarang kami melakukan 'bisnis' di wilayah Utara. Kami butuh uang, Devan. Kami butuh pemimpin yang berani berdarah, bukan pemimpin yang sibuk bermain rumah-rumahan dengan gadis berkacamata ini."
Lia berdiri di samping Devan, hatinya bergetar namun ia mencoba tetap tegar. Ia melihat bagaimana Galang menatapnya dengan penuh kebencian, menyalahkan kehadirannya atas runtuhnya kejayaan mereka.
"Baron adalah ketua kalian sekarang. Ikuti aturannya atau keluar," ucap Devan dingin, suaranya mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
"Kami datang ke sini bukan untuk berdebat," Galang memberikan kode kepada dua temannya di motor.
Salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah kaleng cat semprot dan dengan cepat menyemprotkan simbol mawar yang dicoret silang di dinding depan bengkel Devan. "Ini peringatan, Devan. Jika kamu tidak kembali memimpin atau setidaknya memberi kami izin untuk menguasai Utara secara mandiri, bengkel kecilmu ini akan menjadi kuburan pertamamu sebagai orang biasa."
Galang kemudian menatap Lia dengan tatapan yang membuat bulu kuduk merinding. "Jagalah pacarmu baik-baik, Devan. Karena di jalanan, tidak ada jaminan keamanan bagi seorang pengkhianat."
Mereka melesat pergi dengan suara knalpot yang memekakkan telinga, meninggalkan debu yang beterbangan dan rasa pahit di mulut Devan. Lia menatap coretan di dinding itu dengan perasaan sedih. Ia baru menyadari bahwa meski Devan sudah keluar, dendam dan ambisi orang-orang di sekitarnya tidak akan pernah padam.
"Devan, apa kita harus lapor polisi?" tanya Lia cemas.
Devan menggeleng. "Polisi tidak mengerti hukum jalanan, Lia. Ini urusan internal Black Roses.
Raka mungkin sudah tumbang, tapi benih-benih pemberontakan yang dia tanam masih tumbuh subur. Mereka merasa aku meninggalkan mereka demi kepentingan pribadiku."
Sore harinya, Devan menutup bengkelnya lebih awal. Ia merasa perlu bicara dengan Baron. Lia bersikeras ikut, namun Devan melarangnya. "Ini urusan pria, Lia. Aku tidak ingin kamu mendengar hal-hal yang tidak perlu. Tunggu aku di rumah, oke?"
Dengan berat hati, Lia setuju. Devan pun memacu motor klasiknya menuju markas besar. Saat ia sampai, suasana markas terasa berbeda. Tidak ada lagi sorak-sorai saat ia datang. Hanya ada pandangan-pandangan canggung dari anggota-anggota muda yang belum pernah benar-benar mengenal sosok Devan sebagai pahlawan mereka.
Di lantai atas, ia menemukan Baron sedang duduk di depan meja ketua yang dulu adalah miliknya. Baron tampak sangat lelah, rambutnya yang biasanya rapi kini berantakan.
"Bos," sapa Baron, ia langsung berdiri hendak memberikan kursinya, namun Devan menahannya.
"Duduklah, Baron. Kamu ketuanya sekarang," kata Devan sambil duduk di sofa depan meja. "Galang menemuiku tadi."
Baron menghela napas kasar, ia melemparkan korek apinya ke meja. "Dia memang pembangkang. Dia mengumpulkan orang-orang dari Utara dan Timur yang tidak puas dengan kebijakan baruku. Mereka ingin kembali ke cara lama—pemerasan, obat-obatan, dan kekerasan. Aku sudah berusaha menekan mereka, tapi tanpamu... mereka tidak punya rasa takut."
"Kamu harus tegas, Baron. Jika kamu membiarkan satu orang membangkang, seluruh organisasi akan runtuh," Devan memberikan saran.
"Masalahnya, mereka menggunakan namamu," ucap Baron pelan. "Mereka bilang kamu mundur karena kamu sudah kaya dan tidak peduli lagi pada anak-anak yang kelaparan di jalanan. Mereka menyebarkan kebohongan bahwa kamu mencuci otakku agar menjadi lemah demi keselamatan Lia."
Devan mengepalkan tangannya. "Aku mundur untuk memberikan mereka kesempatan hidup yang lebih baik, bukan untuk membiarkan mereka menjadi kriminal rendahan."
"Aku tahu itu, Bos. Tapi bagi mereka, kekuasaan adalah segalanya," Baron menatap Devan dengan tatapan memohon. "Mungkin... mungkin sesekali kamu perlu muncul di sini? Hanya untuk menunjukkan bahwa kamu masih memantau? Itu akan membantu meredam mereka."
Devan terdiam cukup lama. Ia teringat janjinya pada Pak Gunawan. Ia teringat binar mata Lia saat melihatnya bekerja di bengkel restorasi. Jika ia kembali muncul di markas, meski hanya sekali, itu akan menjadi pintu masuk baginya untuk terseret kembali ke dalam kegelapan.
"Aku tidak bisa, Baron," jawab Devan akhirnya. "Sekali aku melangkah masuk, aku tidak akan bisa keluar lagi. Kamu harus membuktikan bahwa kamu layak memimpin mereka. Gunakan caramu sendiri."
Malam harinya, saat Devan pulang ke apartemen, ia menemukan Lia sedang memasak makan malam.
Aroma tumis kangkung dan ayam goreng memenuhi ruangan, menciptakan suasana rumah yang begitu hangat. Lia menyambutnya dengan pelukan erat, seolah-olah ia takut Devan tidak akan kembali.
"Bagaimana dengan Baron?" tanya Lia.
"Dia bisa menanganinya," bohong Devan demi menenangkan hati Lia. Ia tidak ingin Lia tahu bahwa ancaman dari Galang dan kawan-kawannya sebenarnya jauh lebih serius daripada sekadar coretan di dinding.
Mereka makan malam dalam keheningan yang nyaman. Namun, di dalam hati Devan, ada gejolak yang hebat. Ia menyadari bahwa hidup "normal" yang ia impikan ternyata memiliki harga yang sangat mahal. Ia harus menelan harga dirinya saat dihina, ia harus menahan amarahnya saat diancam, dan ia harus membiarkan saudaranya berjuang sendirian demi menjaga sebuah janji.
Setelah makan, Lia mengajak Devan duduk di balkon sambil melihat pemandangan kota. Lia menyandarkan kepalanya di bahu Devan, sementara Devan melingkarkan tangannya di pinggang Lia.
"Aku bangga padamu, Devan," bisik Lia. "Aku tahu ini berat bagimu. Aku tahu kamu merindukan kebebasan di jalanan. Tapi pengorbananmu ini adalah hal terindah yang pernah dilakukan seseorang untukku."
Devan mencium puncak kepala Lia. "Aku melakukannya karena aku ingin melihatmu menua di sampingku tanpa ada rasa takut, Lia. Jika harganya adalah aku harus belajar menjadi orang biasa, maka akan kulakukan."
Namun, di kegelapan bawah apartemen mereka, sebuah motor sport hijau melintas perlahan. Galang menatap ke arah balkon tempat Devan dan Lia berada. Ia mengeluarkan sebilah pisau dan menggoreskan tanda silang pada sebuah foto Lia yang ia pegang.
"Nikmati malam tenangmu, Devan," gumam Galang
dengan senyum iblis. "Karena besok, aku akan menunjukkan padamu bahwa serigala yang kehilangan taringnya tidak lebih dari sekadar anjing yang menunggu untuk disembelih."
Malam itu berakhir dengan Lia yang tertidur pulas di pelukan Devan, sementara Devan tetap terjaga, menatap pintu kamar dengan waspada, menyadari bahwa meski ia telah melepaskan jaket kulitnya, peperangan untuk melindungi cintanya baru saja memasuki babak yang paling berdarah.