Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Murong Chen terkejut. Ia belum pernah melihat jurus yang begitu penuh dengan kesedihan dan keputusasaan. Seolah-olah golok itu sendiri sedang menangis.
Ia terpaksa menarik pedangnya untuk melindungi dada, namun ujung Golok Sunyi tetap berhasil menggores bahunya.
CRASHH!!!
Darah segar membasahi jubah biru Murong Chen.
Pria itu melompat mundur, wajahnya pucat. Bukan karena luka di bahunya, tapi karena ia merasakan hawa dingin yang aneh merayap dari luka itu ke nadinya.
"Cukup," ucap Murong Chen, menyarungkan pedangnya dengan tangan yang sedikit gemetar. "Aku datang ke sini bukan untuk bertarung sampai mati. Murong Feilong ingin kau tahu, bahwa di jamuan besok malam, dia akan menunggumu."
Liang Shan tetap diam sambil memegang gagang goloknya erat-erat. Ia tidak bisa bicara. Darah hangat sudah naik ke tenggorokannya.
Murong Chen berbalik dan menghilang dalam kegelapan malam dengan teknik meringankan tubuh yang mumpuni.
Begitu lawan menghilang, Liang Shan langsung memuntahkan darah hitam. Ia jatuh bertumpu pada goloknya.
Ia menatap langit malam Heiyun yang tertutup awan hitam.
Besok malam, ia akan memasuki sarang macan. Liang Shan tahu, mungkin dia tidak akan keluar dalam keadaan hidup, tapi api dendam yang membakar hatinya jauh lebih panas daripada racun yang menggerogoti tulangnya.
###
Keesokan harinya, Kota Heiyun berpesta. Kediaman Klan Zhao yang luas kini dipenuhi oleh lampion emas dan aroma masakan mewah. Tokoh-tokoh dunia persilatan dari berbagai penjuru hadir dengan pakaian terbaik mereka.
Di tengah aula besar, sebuah kotak kayu cendana diletakkan di atas meja tinggi. Di dalamnya, sebuah permata berwarna merah delima memancarkan cahaya redup yang mempesona.
Permata Tiga Hati!
Liang Shan datang. Ia tidak lagi menggunakan jubah abu-abu kusam, melainkan pakaian hitam legam dengan ikat pinggang perak, seperti seorang pendekar yang sedang berduka.
Kehadirannya segera memancing perhatian. Keheningan merayap di aula saat ia berjalan melewati kerumunan.
Di meja utama, duduk tiga orang yang menjadi pusat gravitasi malam itu.
Murong Feilong, dengan keangkuhannya yang tak tertutup.
Xu Ruomei, seorang wanita cantik yang dikenal sebagai "Bunga Berduri" dari Klan Xu, matanya tajam dan penuh perhitungan.
Dan Zhao Kun, ketua Klan Zhao yang bertubuh tambun namun memiliki tatapan sekeras batu karang.
"Ternyata kau punya nyali untuk datang, sobat kecil," kata Murong Feilong sambil berdiri dan memegang cangkir araknya. "Aku dengar kau sempat berselisih dengan sepupuku di jembatan. Jarang ada orang yang bisa melukai Murong Chen dan tetap bisa berjalan masuk ke sini."
Liang Shan berhenti tepat di tengah aula. Ia tidak melihat ke arah makanan atau permata. Matanya hanya tertuju pada tiga orang itu.
"Lima belas tahun lalu," suara Liang Shan bergema, tenang namun mengandung getaran yang membuat cangkir-cangkir di atas meja berdenting.
"Di bawah langit yang retak, sebuah keluarga dihancurkan hanya karena segenggam ambisi. Malam ini, aku datang untuk menagih hutang itu."
Zhao Kun tertawa terbahak-bahak, tawanya mengandung tenaga dalam yang menekan dada semua orang yang hadir.
"Hutang? Anak muda, di dunia persilatan, hutang hanya dibayar dengan kekuatan. Jika kau ingin menagih sesuatu, tunjukkan apakah golokmu cukup tajam untuk memotong harga diri kami!"
Xu Ruomei tersenyum manis, namun tangannya diam-diam menyentuh kipas suteranya.
"Jangan terlalu kasar, Kakak Zhao. Mungkin pemuda ini ingin menunjukkan kepada kita jurus legendaris dari Keluarga Liang yang sudah punah itu."
Liang Shan perlahan menarik Golok Sunyi Mengoyak Langit dari punggungnya. Bilah hitam itu tidak mengeluarkan suara, namun udara di aula seketika menjadi dingin.
"Aku hanya punya lima puluh jurus untuk diberikan malam ini," ucap Liang Shan pelan, matanya mulai memerah karena racun yang ia biarkan mengalir untuk meningkatkan kekuatannya secara paksa.
"Siapa yang ingin menjadi orang yang pertama merasakan kesunyian?"
Murong Feilong melempar cangkirnya hingga pecah di lantai.
"Aku sendiri yang akan mengirimmu menyusul orang tuamu!"
Begitu selesai bicara, dia melompat dari meja utama, pedangnya mengeluarkan hawa panas yang berlawanan dengan hawa dingin Liang Shan.
Pedang Murong Feilong menderu, membelah udara dengan hawa panas yang sanggup mengeringkan tetesan arak di lantai.
Jurus itu bernama "Matahari Membakar Rimba", sebuah ilmu warisan Klan Murong yang mengandalkan keganasan tenaga dalam Yang.
Liang Shan tidak bergeming. Baginya, kebisingan serangan itu adalah tanda kelemahan.
Liang Shan menggeser kakinya hanya tiga inci. Ujung pedang Feilong menyambar ujung jubah hitamnya, namun tubuh Liang Shan sudah meluncur seperti bayangan hantu. Ia menggunakan Langkah Terakhir di Jalan Tak Bernama.
TRANGG!!!
Golok Sunyi beradu dengan pedang. Bukan hantaman keras, melainkan gesekan halus yang mengeluarkan suara berdenging panjang.
Murong Feilong merasa tangannya tiba-tiba mati rasa, seolah-olah hawa dingin kutub merayap melalui pedangnya.
"Kau ..., tenaga dalam apa ini?!" seru Feilong dengan wajah memerah.
Liang Shan tidak menjawab. Matanya mulai memerah akibat gejolak racun menatap tajam.
Golok hitam itu lalu berputar dan menciptakan lingkaran cahaya gelap. Murong Feilong terpaksa mengeluarkan jurus simpanannya, "Awan Melindungi Puncak", untuk menangkis.
Benturan hebat terjadi!
DUAARR!!!
Meja-meja di sekitar mereka hancur berkeping-keping. Para tamu undangan melompat mundur dengan wajah pucat.
Liang Shan merasakan dadanya sesak. Setiap kali ia mengerahkan tenaga untuk menekan Feilong, Racun Tapak Sepuluh Ribu Tulang seperti memahat tulangnya dari dalam. Darah mulai merembes dari sudut bibirnya, namun ia menelannya kembali.
Tiba-tiba, dari arah samping, sebuah jarum perak melesat dengan suara siulan tipis.
Xu Ruomei telah bergerak!
Wanita itu tidak sudi melihat pahlawan dari klannya dipermalukan. Kipas suteranya terbuka, dan dari sela-selanya, jarum-jarum beracun menghujani titik buta Liang Shan.
Liang Shan memutar tubuhnya di udara. Jurus Bayangan Sunyi di Balik Hujan dimainkan. Goloknya bergerak begitu cepat hingga menciptakan dinding angin yang memukul jatuh semua jarum itu.
Namun, di saat yang sama, pukulan berat dari Zhao Kun datang dari arah berlawanan.
"Mati kau, tikus kecil!" raung Zhao Kun.
Pukulannya membawa tenaga ribuan kati!
WUSHH!!!
Saat itu, Liang Shan berada di tengah kepungan tiga tokoh muda paling berbakat di Heiyun.
Ia memejamkan mata sejenak. Kesunyian total merasuki jiwanya.
Liang Shan mengingat kata-kata gurunya: "Dunia adalah kebisingan, dan golokmu adalah jawaban bagi keheningan itu."
Satu tarikan napas kemudian, Liang Shan menghentakkan kakinya. Lantai aula retak. Ia tidak menghindar, melainkan menerjang ke arah Murong Feilong yang paling dekat dan mengabaikan serangan Zhao Kun yang menyambar punggungnya.
"Serpihan Dendam di Angin Malam !"
Sinar golok hitam melesat lurus. Murong Feilong menjerit. Pedangnya patah menjadi dua, dan sebuah garis merah tercipta dari bahu hingga dadanya. Feilong terhempas menabrak kotak kayu berisi Permata Tiga Hati.
Di saat yang sama, pukulan Zhao Kun menghantam punggung Liang Shan.
BUKK!!!
Liang Shan terlempar ke depan dan memuntahkan darah hitam yang berceceran di atas karpet merah. Namun, dengan gerakan yang mustahil bagi orang yang terluka parah, ia menyambar Permata Tiga Hati dari dalam kotak yang hancur itu, lalu melesat menuju jendela aula.
"Kejar! Jangan biarkan dia membawa permata itu!" teriak Zhao Kun murka.
Tapi Liang Shan sudah berada di atap. Ia berdiri di bawah siraman cahaya bulan sambil memegang permata merah yang berdenyut di tangannya. Matanya menatap tajam ke arah Xu Ruomei yang baru saja akan melompat mengejarnya.
"Malam ini, kalian selamat," kata Liang Shan dengan suara dingin, namun berat karena luka dalam. "Tapi sampaikan pada orang tua kalian, hutang darah Keluarga Liang tidak bisa dibayar dengan permata. Permata ini hanya kunci untuk membuka borok busuk kalian!"
Dengan satu sentakan kaki, ia menghilang di kegelapan malam Heiyun.