Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Arlan menarik tubuh Siska menjauh dari garis lurus pintu, menempelkan punggung mereka pada dinding beton lorong lift yang dingin. Detik berikutnya, suara letusan senjata api memecah kesunyian, menembus plat baja pintu lantai dua belas dan meninggalkan lubang-lubang kecil yang berasap.
"Tetap di posisi rendah, jangan bergerak!" bisik Arlan dengan nada otoritas yang tajam.
{Sistem, analisis posisi penembak melalui pantulan suara.}
[Analisis Selesai: Satu subjek berdiri tepat 1,5 meter di depan pintu. Senjata: Pistol semi-otomatis kaliber 9mm. Status mental: Tidak stabil.]
"Siapa yang ada di sana?!" teriak sebuah suara dari balik pintu. Suara itu tidak asing, namun terdengar penuh tekanan dan keputusasaan.
Arlan menyipitkan mata. Ia mengenali suara itu. "Pak Handoko? Salah satu dewan senior federasi?"
Hening sejenak. Langkah kaki di balik pintu terdengar menjauh sedikit, lalu mendekat kembali dengan lebih agresif.
"Kalian tidak seharusnya selamat dari lift itu! Aquila menjanjikan keamanan untuk keluarga saya jika Arlan Corp hancur!" teriak Handoko dengan suara yang pecah.
Siska menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak tidak percaya. Salah satu orang yang tadi duduk tenang di meja rapat adalah orang yang mencoba membunuh mereka.
"Keluarga Bapak tidak akan pernah aman di tangan mereka, Pak Handoko! Anda hanya pion yang akan mereka buang setelah tugas kotor ini selesai!" Arlan mencoba melakukan negosiasi psikologis sambil matanya mencari celah untuk masuk.
[Peringatan: Energi sistem tersisa 5%. Mengaktifkan mode intervensi mekanis terakhir.]
"Bohong! Mereka punya segalanya! Mereka punya langit kita!" teriak Handoko lagi, diikuti rentetan tembakan serampangan yang menghantam langit-langit lorong lift.
Arlan melihat sebuah pipa hidrolik kecil di dekat engsel pintu. Jika ia bisa memicu tekanan pada pipa tersebut, pintu akan terdorong terbuka dengan hentakan keras yang bisa melumpuhkan lawan.
"Mbak Siska, saat pintu ini terbuka, segera lari ke arah tangga darurat di ujung lorong luar. Jangan menoleh ke belakang," perintah Arlan pelan.
"Lalu kamu bagaimana?" tanya Siska dengan cemas.
"Saya akan menyelesaikan ini."
Arlan meraih pipa tersebut, memusatkan sisa energi sistemnya untuk memanipulasi katup tekanan secara paksa. Ia merasakan panas yang luar biasa menjalar dari pergelangan tangannya.
[Sistem: Tekanan Hidrolik Mencapai Titik Jenuh. Lepaskan dalam 3... 2... 1...]
BRAK!
Pintu baja itu terlempar terbuka seolah dihantam buldoser. Handoko yang berdiri terlalu dekat terpental ke belakang, senjatanya terlepas dari genggaman dan meluncur di atas lantai marmer yang licin.
Arlan segera melompat masuk, menyapu kaki Handoko sebelum pria tua itu sempat meraih senjatanya kembali. Dalam hitungan detik, Arlan sudah berada di atas tubuh Handoko, mengunci pergelangan tangannya dengan teknik yang efisien.
"Semuanya sudah berakhir, Pak Handoko. Pengkhianatan Anda sudah terekam dalam log komunikasi yang sedang dianalisis Maya sekarang," ucap Arlan dengan napas yang memburu.
Siska keluar dari lorong lift dengan tubuh gemetar, namun ia segera mengambil senjata yang tergeletak di lantai dan menjauhkannya dari jangkauan Handoko.
"Kenapa, Pak? Kenapa Bapak mengkhianati federasi yang kita bangun susah payah?" tanya Siska dengan nada kecewa yang mendalam.
Handoko hanya bisa terisak di bawah kuncian Arlan. "Mereka... mereka tahu semua rahasia gelap perusahaan saya sebelum bergabung ke federasi. Saya tidak punya pilihan."
Arlan berdiri perlahan setelah memastikan Handoko tidak lagi melawan. Ia menatap ke arah jendela besar di lobi lantai dua belas. Di kejauhan, ia melihat helikopter dengan logo rajawali Aquila sedang berputar-putar di atas pelabuhan udara.
[Sistem: Misi Berhasil. Anda mendapatkan bukti keterlibatan Dewan Senior.]
[Status: Hubungan dengan Federasi Logistik Terbuka mencapai level 'Kepemimpinan De Facto'.]
"Mbak Siska, hubungi Kapten Bramanto. Katakan padanya kita punya satu tersangka lagi di sini," kata Arlan sambil mengusap noda oli di wajahnya.
Arlan berjalan menuju meja resepsionis lobi yang kini kosong. Ia mengambil telepon kabel yang masih berfungsi dan menekan nomor internal ke ruang rapat Pak Ketua.
"Halo, Pak Ketua? Penjaga pintu Bapak sudah diamankan. Sekarang, mari kita bicara soal bagaimana cara menjatuhkan Aquila Logistics dari langit kita malam ini juga."
Matahari mulai tenggelam, membiaskan cahaya jingga yang kontras dengan asap hitam yang masih membumbung di kejauhan. Arlan menyadari bahwa setiap langkah ke depan akan membawanya ke puncak yang lebih tinggi, namun juga ke jurang yang lebih dalam.
"Mbak Siska, siapkan tim teknologi kita. Jika mereka ingin perang udara, kita akan berikan mereka perang satelit yang tidak akan pernah bisa mereka menangkan," ucap Arlan dengan senyum dingin yang penuh determinasi.
Arlan berdiri di depan jajaran peladen cadangan yang terletak di bunker bawah tanah Arlan Corp. Ruangan itu dipenuhi desis pendingin udara yang bekerja maksimal, kontras dengan keheningan mencekam yang menyelimuti tim teknis di belakangnya. Maya duduk dengan jemari yang menari liar di atas papan tik, wajahnya disinari cahaya biru dari enam monitor yang menampilkan matriks data kompleks.
"Koneksi satelit Aquila sudah terkunci, Arlan. Mereka menggunakan enkripsi militer tingkat tinggi untuk mengontrol seluruh pergerakan armada kargo udara kita di radar," lapor Maya tanpa mengalihkan pandangan.
Arlan melangkah mendekat, matanya menyipit menatap gelombang frekuensi yang saling bertabrakan di layar utama.
{Sistem, aktifkan Protokol Pemutus Rantai. Cari celah pada *firmware* transmisi mereka.}
[Analisis Selesai: Terdeteksi *backdoor* pada satelit komunikasi kargo akibat integrasi paksa sistem Aquila. Peluang infiltrasi: 88%.]
"Maya, jangan menyerang dinding api mereka. Masuklah melalui protokol sinkronisasi cuaca yang mereka gunakan. Itu adalah titik terlemah dalam sistem integrasi otomatis mereka," perintah Arlan dengan nada dingin.
"Masuk lewat sistem cuaca? Itu jenius, Arlan! Mereka tidak akan menyangka kita menyusup lewat data suhu dan kelembapan," sahut Maya, semangatnya kembali berkobar.
Siska masuk ke dalam ruangan dengan membawa beberapa dokumen digital yang baru saja dikirim oleh Kapten Bramanto. Wajahnya terlihat sangat serius di bawah temaram lampu bunker.
"Arlan, Kapten Bramanto sudah mengamankan Pak Handoko. Dari interogasi singkat, terungkap bahwa Aquila berencana mematikan seluruh sistem navigasi kargo nasional tepat pada pukul dua belas malam nanti. Mereka ingin menciptakan kekacauan total agar pemerintah terpaksa memberikan hak kontrol penuh kepada mereka," bisik Siska dengan nada cemas.
"Mereka ingin menyandera langit kita untuk memaksa penyerahan kekuasaan," jawab Arlan sambil mengepalkan tangan.
[Misi Darurat: Operasi Langit Bersih]
[Tujuan: Mengambil alih kontrol satelit Aquila dan mengembalikan navigasi nasional.]
[Batas Waktu: 45 Menit.]
Arlan meletakkan telapak tangannya di atas meja sensor biometrik. Seketika, arus data yang sangat besar mengalir melalui penglihatannya, menghubungkan kesadarannya langsung dengan arsitektur sistem Arlan Corp yang paling dalam.
"Tegar, bagaimana posisi armada kargo federasi di lapangan?" tanya Arlan melalui saluran komunikasi nirkabel.
"Semua pilot sudah dalam posisi siaga manual, Mas Arlan! Mereka hanya menunggu perintah Anda untuk menyalakan mesin," jawab Tegar dari pusat kendali lapangan.
"Bagus. Maya, sekarang! Kirimkan paket data 'Ghost Protocol' ke satelit mereka!" perintah Arlan.
Layar monitor mendadak berubah menjadi merah pekat. Barisan kode bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, melompati setiap lapisan keamanan Aquila. Di penglihatan Arlan, ia melihat menara pertahanan digital Aquila mulai runtuh satu per satu.
"Mereka mencoba memblokir kita! Arlan, mereka mendeteksi keberadaan kita!" teriak Maya dengan panik saat melihat serangan balik berupa virus penghapus data mulai menyerang server mereka.
{Sistem, alihkan beban server ke jaringan terdistribusi milik armada truk kita di seluruh Indonesia. Gunakan kekuatan komputasi kolektif mereka sebagai perisai.}
[Protokol Perisai Kolektif Aktif. Beban terbagi. Pertahanan stabil.]
"Arlan, apa yang kamu lakukan? Server kita tiba-tiba mendapatkan lonjakan tenaga dari luar!" tanya Maya dengan takjub.
"Setiap truk Arlan Corp sekarang menjadi bagian dari komputer raksasa kita, Maya. Aquila tidak melawan satu server, mereka melawan puluhan ribu kendaraan kita," jawab Arlan dengan senyum tipis yang penuh kemenangan.
Tepat saat jam menunjukkan pukul dua belas malam, layar utama menampilkan grafik koneksi yang berubah dari merah menjadi hijau cerah. Kendali satelit Aquila kini sepenuhnya berada di tangan Arlan Corp.
"Akses navigasi nasional telah pulih! Arlan, kita berhasil memutus kendali mereka!" teriak Siska sambil memeluk tabletnya dengan lega.
Namun, Arlan tidak berhenti di situ. Matanya masih tertuju pada koordinat rahasia yang baru saja terbuka di dalam sistem Aquila.
"Ini bukan hanya soal satelit, Mbak Siska. Lihat ini. Aquila menyimpan seluruh data suap untuk pejabat internasional di dalam peladen cadangan ini," ucap Arlan sambil menunjuk ke arah barisan dokumen rahasia yang terenkripsi.
"Jika kita sebarkan ini, Megantara Global akan hancur hingga ke akar-akarnya di seluruh dunia," sahut Siska dengan mata yang berbinar penuh dendam.
"Lakukan sekarang, Maya. Kirimkan salinannya ke otoritas keamanan internasional dan seluruh media utama dunia. Biarkan mereka jatuh dari langit yang mereka coba curi," perintah Arlan.
[Misi Selesai: Kedaulatan Langit Terjaga.]
[Hadiah: Peningkatan Kekayaan Aset menjadi 1,5 Miliar Rupiah. Reputasi Internasional: Aktif.]
Arlan melangkah keluar dari bunker menuju balkon gedung saat fajar mulai menyingsing kembali. Ia melihat pesawat kargo pertama dengan logo Federasi Logistik Terbuka lepas landas dengan tenang menuju cakrawala.
Siska berdiri di sampingnya, menatap matahari yang terbit dengan penuh harapan. "Kita benar-benar melakukannya, Arlan. Kita memulai dari map biru murahan itu, dan sekarang kita memiliki langit."
"Ini baru pos pertama, Mbak Siska. Musuh yang sebenarnya tidak akan tinggal diam setelah kehilangan aset miliaran dolar ini," ucap Arlan sambil menatap ponselnya yang bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor internasional yang tidak dikenal.
[Aquila Global: Selamat, Arlan. Anda baru saja memenangkan pertempuran kecil. Sampai jumpa di dewan pengadilan dunia.]
Arlan hanya tersenyum dingin dan menghapus pesan itu. Ia tahu, mulai detik ini, ia bukan lagi sekadar analis atau pengusaha daerah. Ia adalah pemain kunci dalam catur ekonomi global yang tidak akan pernah bisa dijinakkan oleh siapa pun.
"Tegar, siapkan jet pribadi perusahaan. Kita punya janji di Singapura besok pagi," ucap Arlan dengan nada yang penuh wibawa.