NovelToon NovelToon
Ditempat Dimana Salju Berhenti

Ditempat Dimana Salju Berhenti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Yuh! No!

Sinopsis


Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.


Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.


Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.


Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Di Antara Pergi dan Tinggal

(POV: Noah)

Musim semi datang ke Norden tanpa pengumuman.

Tidak ada hari cerah tiba-tiba, tidak ada perubahan drastis. Salju hanya berhenti turun, lalu perlahan menghilang, menyisakan tanah basah dan udara dingin yang tidak lagi menggigit.

Seperti luka lama yang tidak sembuh sempurna, tapi tidak lagi berdarah.

Aku tetap membuka bengkel setiap pagi.

Tetap mengangkat mesin. Tetap mencium bau oli.

Tetap mendengar suara laut dari kejauhan.

Perbedaannya hanya satu:

aku tidak lagi menghitung hari.

Sebelumnya, setiap pagi adalah penantian—entah menunggu cukup uang, cukup keberanian, atau cukup alasan untuk pergi. Sekarang, pagi hanya… pagi.

Pak Hans bilang bengkelku mulai ramai lagi. Kapal nelayan dari kota sebelah datang. Bahkan ada satu kapal wisata kecil yang singgah.

“Kau mulai dikenal,” katanya suatu hari.

Aku tidak menjawab. Aku tidak melakukan apa pun yang berbeda.

Atau mungkin aku hanya berhenti melakukan satu hal: berharap hidup dimulai di tempat lain.

Villa di bukit akhirnya kosong sepenuhnya.

Penyewa terakhir—Alice—secara resmi melepas kontraknya. Aku membantu mengunci jendela terakhir, lalu menyerahkan kuncinya ke agen properti.

Aku tidak naik ke lantai dua.

Tidak perlu.

Beberapa malam, aku masih memikirkan pesan terakhirnya. Bukan karena isinya, tapi karena nadanya. Tidak ragu. Tidak meminta. Tidak bergantung.

Aku menghargai itu.

Dan mungkin… sedikit merindukannya.

Namun rindu yang sehat—yang tidak membuatku berhenti hidup.

Enam bulan berlalu.

Aku hampir lupa bagaimana rasanya menunggu seseorang.

Hampir.

(POV: Alice)

Aku pindah tiga kali dalam setahun.

Bukan karena lari, tapi karena mencari.

Aku bekerja di galeri seni kecil di kota pesisir lain—tidak sejauh Norden, tapi cukup jauh dari bayangan keluargaku. Aku belajar mengatur uang sendiri, menawar sewa, memperbaiki keran bocor, dan hidup dengan ketidakpastian yang nyata.

Tidak mudah.

Tapi jujur.

Aku memutuskan untuk tidak memakai nama belakang Blackwood di dunia profesional. Hanya Alice. Itu cukup.

Kadang aku gagal. Kadang aku pulang ke kamar sempit dengan kaki pegal dan pikiran kosong.

Tapi saat itu terjadi, aku tahu—aku memilih ini.

Dan itu membuat perbedaannya besar.

Aku masih mengingat Norden.

Tidak sebagai tempat pelarian lagi, tapi sebagai titik balik.

Aku dan Noah jarang berkomunikasi. Sesekali pesan singkat. Berita cuaca. Kalimat pendek tanpa muatan emosional berlebih.

Dan itu anehnya terasa lebih intim daripada percakapan panjang yang penuh janji.

Suatu malam, setelah pameran kecil yang tidak terlalu sukses, aku duduk sendirian di galeri yang sudah tutup. Aku menatap lukisan laut dengan warna abu-abu.

Aku tahu warna itu.

Aku tahu bau udara itu.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak bertanya apakah aku akan kembali ke Norden—

tapi kapan.

(POV: Noah)

Aku menerima telepon dari agen properti tentang villa.

“Ada calon pembeli,” katanya. “Mereka ingin melihat kondisi terakhir. Kau bisa membantu?”

Aku mengiyakan.

Hari itu aku naik ke bukit lagi. Angin laut membawa aroma rumput basah. Villa itu terlihat lebih kecil dari yang kuingat.

Aku membuka semua jendela.

Cahaya masuk. Debu menari.

Tidak ada rasa kehilangan.

Hanya kenangan yang sudah menemukan tempatnya.

Saat aku turun dari tangga, ponselku bergetar.

Pesan dari Alice.

Aku akan ke Norden. Minggu depan.

Bukan lama.

Hanya ingin melihatnya sekali lagi.

Aku membaca pesan itu perlahan.

Lalu membalas.

Aku ada.

Tidak lebih.

Tidak kurang.

(POV: Alice)

Bus itu berhenti di terminal kecil Norden dengan suara mendesis lelah.

Udara di sini masih dingin, tapi berbeda. Lebih ringan. Aku menghirupnya dalam-dalam.

Kota ini tidak berubah banyak.

Dan aku juga tidak.

Kami hanya berhenti melukai diri masing-masing.

Aku tidak langsung mencari Noah.

Aku berjalan sendiri. Menyusuri dermaga. Duduk di bangku kayu yang sama. Mendengar suara camar. Mengamati kehidupan yang berjalan tanpa peduli pada kisahku.

Dan itu terasa baik.

Sore menjelang ketika aku akhirnya berjalan ke bengkel.

Pintu terbuka.

Noah sedang membungkuk di atas mesin. Tangannya kotor. Rambutnya sedikit lebih panjang. Bahunya lebih santai.

Dia melihatku.

Tidak terkejut.

Hanya mengangguk.

“Halo, Alice.”

“Halo, Noah.”

Kami berdiri berhadapan tanpa tergesa.

Tidak ada jarak tegang.

Tidak ada euforia palsu.

“Apa kabarmu?” tanyanya.

“Nyata,” jawabku.

Dia tersenyum kecil. “Bagus.”

Aku membantu membersihkan bengkel sore itu.

Bukan karena dia meminta, tapi karena aku mau.

Tanganku kembali kotor. Tapi aku tidak merasa asing.

Malam datang pelan.

Kami duduk di luar bengkel, minum kopi murah.

“Aku tidak datang untuk menetap,” kataku jujur.

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak tahu apakah aku akan kembali lagi.”

Dia mengangguk. “Aku juga tidak tahu.”

Kami membiarkan ketidakpastian itu ada—tanpa mencoba menaklukkannya.

(POV: Noah)

Kami berjalan ke tepi laut.

Langit Norden berwarna kelabu keunguan. Indah dengan caranya sendiri.

Alice berdiri di sampingku. Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

“Kau berubah,” katanya.

“Aku berhenti berharap hidupku dimulai nanti,” jawabku.

Dia tersenyum. “Aku juga.”

Kami berdiri lama.

Tidak ada pengakuan cinta.

Tidak ada janji.

Tapi ada sesuatu yang lebih sulit didapat—

kejujuran tanpa ketergantungan.

Saat dia pergi malam itu, aku tidak berdiri lama menatap punggungnya.

Aku tahu dia akan pergi.

Dan aku tahu aku akan baik-baik saja.

(POV: Alice)

Aku meninggalkan Norden keesokan paginya.

Tidak berat.

Tidak hampa.

Aku melihat kota itu dari kejauhan dan menyadari satu hal:

Beberapa tempat tidak dimaksudkan untuk menjadi tujuan akhir.

Mereka ada untuk mengajarkanmu cara berhenti berlari.

Dan beberapa orang—

tidak datang untuk menyelamatkanmu.

Mereka datang untuk berdiri sejajar.

Jika suatu hari aku kembali,

itu bukan karena aku butuh perlindungan.

Itu karena aku memilih.

(POV: Noah)

Musim dingin tidak pernah benar-benar pergi dari Norden.

Ia hanya belajar berhenti mendominasi.

Salju tidak lagi turun, tapi udara tetap dingin, laut tetap kelabu, dan kota ini tetap berjalan dengan ritmenya sendiri—pelan, jujur, dan tidak pernah berusaha menjadi sesuatu yang lain.

Aku menutup bengkel lebih awal hari itu.

Bukan karena sepi. Justru sebaliknya. Kapal-kapal nelayan datang silih berganti. Mesin-mesin tua minta diperhatikan. Norden hidup, dengan caranya sendiri.

Aku hanya… ingin pulang lebih cepat.

Villa di bukit sudah lama terjual. Digantikan oleh rumah kayu kecil yang kutempati sekarang, tidak jauh dari bengkel. Sederhana. Hangat. Tidak ada ruangan yang terasa terlalu besar untuk satu orang.

Aku sedang menuang kopi ketika ponselku bergetar.

Pesan singkat.

Aku di Norden.

Tidak ada tanda tanya.

Tidak ada permintaan.

Aku membaca pesan itu sekali, lalu meletakkan ponsel tanpa membalas.

Aku tahu di mana dia akan berada.

Langit sudah mulai gelap ketika aku sampai di dermaga.

Lampu-lampu kecil menyala di sepanjang kayu tua. Bau laut, oli, dan kayu basah bercampur menjadi aroma yang terlalu akrab untuk diabaikan.

Alice berdiri di ujung dermaga.

Mantelnya gelap. Rambutnya terikat sederhana.

Tidak ada kesan gadis kota yang tersesat. Yang ada hanya seseorang yang tahu ke mana dia melangkah.

Aku berdiri di sampingnya.

“Kau datang lagi,” kataku.

“Ya.”

Tidak ada keheningan canggung. Hanya ruang.

“Kau tinggal di mana?” tanyaku.

“Untuk sementara, di penginapan kecil dekat stasiun,” jawabnya. “Aku tidak ingin mengganggumu.”

Aku mengangguk. “Kau tidak mengganggu.”

Dia menatap laut. “Aku tidak datang untuk menguji apa pun.”

“Aku tahu.”

“Aku juga tidak datang untuk pergi,” tambahnya pelan.

Aku menoleh padanya.

Dia menatapku balik—tenang, utuh, dan tidak menunggu penilaian.

“Kau tidak harus menjelaskan,” kataku.

Dia tersenyum kecil. “Aku ingin.”

Kami berjalan menyusuri dermaga. Langkah kami sejajar. Tidak saling mendahului. Tidak saling menarik.

“Aku ditawari kontrak tetap di galeri,” katanya. “Cabangnya akan dibuka di kota ini.”

“Norden?”

“Ya.”

Aku berhenti berjalan.

Dia ikut berhenti.

“Bukan karena kau,” lanjutnya cepat, jujur. “Aku menolaknya dua kali. Tapi kali ini… rasanya tepat.”

Aku mengangguk pelan. “Kau akan tinggal.”

“Aku akan mencoba.”

Itu cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!