Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Debu di Kaki Gunung dan Penyangkalan yang Perih
Harapan adalah obat yang paling mujarab, namun juga bisa menjadi pedang bermata dua. Bagi Gus Hannan, informasi sekecil apa pun tentang keberadaan istrinya adalah nyawa baru yang dipompa masuk ke dalam jantungnya yang nyaris mati. Tanpa menunggu fajar menyingsing, tanpa membawa pengawal, dan tanpa memedulikan tubuhnya yang sebenarnya masih lemah, Hannan langsung menyiapkan mobilnya.
"Mas, tunggu!" teriak Aisyah yang berlari keluar dari ndalem saat melihat kakaknya menghidupkan mesin mobil dengan terburu-buru. "Mas mau ke mana di jam sedini ini?"
Hannan menurunkan kaca jendela. Matanya yang biasanya redup kini bersinar tajam. "Mas menemukan petunjuk, Aisyah. Mas harus ke Jawa Barat sekarang juga. Sampaikan pada Abah dan Ummi, Mas tidak akan pulang sebelum membawa Amara kembali."
"Tapi Mas, perjalanan ke Ciremai itu jauh! Mas belum istirahat!"
"Doakan saja, Aisyah. Doakan istrimu dan... anakku," ucap Hannan sebelum memacu mobilnya keluar dari gerbang pesantren, meninggalkan Aisyah yang terpaku mendengar kata 'anakku'.
Selama perjalanan melintasi jalur Pantura yang padat, pikiran Hannan melayang jauh. Ia menghitung hari. Dua bulan sejak kejadian di pemakaman, dan jika benar Amara sedang mengandung, maka usia janin itu sekitar delapan atau sembilan minggu. Hatinya bergetar hebat. Rasa bersalah karena membiarkan wanita hamil berjuang sendirian di pengasingan membuat air matanya menetes.
"Maafkan aku, Amara... Maafkan aku," bisiknya berulang kali sambil menggenggam kemudi dengan erat.
Sementara itu, di sebuah madrasah berdinding kayu di kaki Gunung Ciremai, suasana pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut tebal masih menyelimuti jalanan setapak. Amara, yang kini dikenal sebagai Mbak Siti, berdiri di depan kelas kecilnya. Wajahnya di balik cadar tampak sangat pucat.
Sejak tadi pagi, rasa mual yang luar biasa menghantamnya. Kepalanya berputar, dan perutnya terasa melilit. Namun, melihat wajah anak-anak desa yang ceria menunggunya mengajar, Amara memaksakan diri untuk tetap berdiri.
"Ayo anak-anak... kita lanjutkan hafalan Surat Ad-Duha-nya," suara Amara terdengar lemah, bergetar menahan lemas.
Wad-duha... Wal-laili idza saja...
Suara anak-anak itu menggema merdu. Namun, di pertengahan ayat, pandangan Amara mendadak gelap. Suara anak-anak itu terdengar semakin menjauh, seolah ia berada di bawah air. Tangannya mencoba meraih pinggiran meja untuk bertumpu, namun jemarinya sudah kehilangan tenaga.
Bruk!
Tubuh Amara ambruk ke lantai tanah madrasah.
"Ustadzah! Ustadzah Siti pingsan!" teriak salah satu santri ketakutan.
Anak-anak itu berlarian keluar memanggil warga sekitar. Beberapa ibu yang sedang mencuci di sungai dekat madrasah segera berlari masuk. Mereka mengangkat tubuh Amara yang ringan ke atas balai-balai kayu. Salah seorang warga, Bu RT setempat, dengan perlahan membuka cadar Amara agar ia bisa bernapas lebih lega.
Saat cadar itu terbuka, para warga tertegun. Mereka baru pertama kali melihat wajah asli "Mbak Siti". Wajah yang sangat cantik namun sangat tirus dan pucat pasi.
"Ya Allah, kasihan sekali anak ini. Dia sepertinya sedang hamil muda tapi kurang gizi," ujar Bu RT sambil mengoleskan minyak kayu putih ke hidung Amara.
"Kita harus bawa ke bidan desa. Tapi suaminya di mana? Selama ini dia bilang suaminya sedang tugas jauh," sahut warga lain.
Amara perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit di perut bagian bawahnya. Ia melihat sekeliling, lalu menyadari cadarnya telah dilepas. Dengan tangan gemetar, ia segera menutup kembali wajahnya dengan tangan.
"Jangan... jangan lihat wajah saya," rintihnya lemah.
"Tenang, Mbak Siti. Kami hanya ingin membantu. Mbak pingsan tadi. Sebaiknya Mbak jangan mengajar dulu, kandungannya butuh istirahat," ucap Bu RT lembut.
Amara hanya bisa menangis dalam diam. Rasa takut akan keguguran mulai menghantuinya. Ia tidak punya uang banyak, asupannya hanya nasi dan garam beberapa hari terakhir karena ia tidak mau merepotkan warga desa.
Di saat yang sama, mobil Hannan mulai memasuki wilayah Majalengka. Ia terus bertanya pada penduduk sekitar tentang madrasah kecil di kaki gunung. Pencariannya membawa Hannan ke sebuah jalan setapak yang hanya bisa dilalui satu mobil.
Tiba-tiba, ia melihat kerumunan orang di depan sebuah bangunan kayu sederhana yang di atasnya terdapat papan nama "Madrasah Al-Falah". Jantung Hannan seolah berhenti berdetak saat ia melihat beberapa ibu-ibu sedang membopong seorang wanita yang mengenakan jilbab lebar berwarna cokelat—jilbab yang sangat familiar di matanya.
Hannan langsung menghentikan mobilnya secara mendadak. Ia melompat keluar, berlari tanpa memedulikan sandal yang tertinggal di mobil.
Langkah Hannan terasa berat namun pasti saat kakinya menginjak tanah merah yang lembap di pelataran Madrasah Al-Falah. Jantungnya bertalu hebat, seirama dengan deru napasnya yang memburu.
Di depannya, kerumunan warga tampak sibuk mengerumuni seorang wanita yang duduk lemas di bangku kayu panjang. Wanita itu mengenakan gamis gelap dan cadar hitam—penampilan yang sangat berbeda dari Amara yang ia kenal—namun ikatan batin yang kuat membuat Hannan yakin sejuta persen.
"Amara!" teriak Hannan, suaranya pecah oleh kerinduan yang membuncah.
Wanita bercadar itu tersentak. Bahunya menegang, dan tangannya yang memegang perut perlahan gemetar. Ia mendongak, menatap pria yang berdiri beberapa meter darinya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Di balik cadar itu, napas Amara tercekat. Ia ingin berlari, ingin memeluk pria itu, namun bayangan kemarahan Kiai Abdullah dan kehancuran masa depan Hannan kembali muncul bagaikan tembok raksasa.
Hannan melangkah mendekat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Amara... Alhamdulillah, akhirnya aku menemukanmu. Pulang, Sayang... kita pulang sekarang."
Saat Hannan hendak mengulurkan tangan untuk menyentuh bahunya, wanita itu mundur dengan gerakan mendadak. Ia menundukkan kepala, menghindari tatapan tajam Hannan yang penuh kasih.
"Maaf, Tuan... Anda salah orang," suara wanita itu terdengar parau, sangat lirih, dan berusaha diubah nadanya agar terdengar asing. "Nama saya Siti. Saya bukan Amara yang Anda cari."
Hannan terpaku di tempatnya. Ia menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak. Suaramu, matamu... meskipun kamu menutupinya, aku tahu itu kamu, Amara. Jangan menyiksa dirimu dan aku lagi.
Mas sudah tahu semuanya. Mas sudah tahu kamu menyelamatkan Aisyah, Mas sudah tahu segalanya!"
Warga desa mulai berbisik-bisik. Bu RT yang berada di samping wanita itu menatap Hannan dengan curiga.
"Punten, Mas... Mbak Siti ini sudah dua bulan di sini. Beliau guru mengaji anak-anak kami. Mungkin Mas memang salah lihat."
"Saya tidak salah!" suara Hannan meninggi karena frustrasi, namun ia segera meredamnya. Ia berlutut di depan wanita itu, meski wanita itu terus memalingkan wajah. "Amara, lihat aku. Lihat suamimu. Kenapa kamu menyangkal dirimu sendiri? Apa kamu masih takut pada Abah? Abah sudah menyesal, Amara. Beliau memintaku membawamu pulang."
Amara mencengkeram kain gamisnya. Hatinya seperti diiris sembilu. Mendengar kata 'suamimu' dan 'Abah sudah menyesal' membuatnya ingin luruh saat itu juga. Namun, ia merasa dirinya sudah terlalu kotor dan hancur untuk kembali ke kehidupan suci seorang Gus.
"Tuan... tolong pergi," ucap Amara, kali ini dengan nada yang lebih tegas meski bergetar. "Saya hanya seorang guru desa yang miskin. Saya tidak mengenal Anda. Jangan mengganggu ketenangan desa ini. Silakan cari istri Anda di tempat lain."
"Amara, cukup!" Hannan berdiri, dadanya naik turun. "Kenapa kamu berbohong? Jika kamu bukan Amara, kenapa tanganmu gemetar saat melihatku? Kenapa kamu menangis di balik cadar itu?"
Amara berdiri dengan sisa tenaganya, bermaksud masuk ke dalam madrasah untuk bersembunyi. Namun, saat ia melangkah, rasa pening yang luar biasa kembali menyerang. Perutnya melilit hebat, seolah janin di dalamnya ikut merasakan gejolak batin sang ibu.
"Aakh..." Amara mengerang kecil sambil memegangi perutnya. Tubuhnya limbung.
Hannan dengan sigap menangkap tubuh itu sebelum menyentuh tanah. Kali ini, ia tidak akan membiarkan Amara menjauh. Saat mendekap tubuh istrinya, Hannan merasakan betapa kurusnya wanita ini. Ia juga merasakan sesuatu yang hangat dan lembap merembes di bagian bawah gamis Amara.
Hannan melihat tangannya. Ada bercak darah.
"Darah?" wajah Hannan seketika pucat pasi. "Amara! Kamu berdarah!"
Dalam kondisi setengah sadar, Amara mencengkeram kerah baju koko Hannan. Pertahanannya runtuh.
"Mas... hiks... selamatkan... selamatkan anak kita... jangan biarkan dia pergi..." bisiknya sebelum akhirnya matanya terpejam sempurna.
Hannan mematung. Anak kita. Kalimat itu mengonfirmasi segalanya. Penyangkalan Amara hancur oleh naluri seorang ibu yang ketakutan kehilangan buah hatinya.
"Cepat! Di mana rumah sakit terdekat?!" teriak Hannan kepada warga dengan nada panik yang luar biasa. "Istri saya pendarahan! Tolong!"
Tanpa menunggu jawaban lama, Hannan menggendong tubuh Amara menuju mobilnya. Ia memacu kendaraannya menuruni lereng gunung dengan kecepatan tinggi, mengabaikan jalanan yang berlubang. Di sepanjang jalan, satu tangannya memegang kemudi, sementara tangan lainnya menggenggam jemari Amara yang dingin.
"Bertahanlah, Amara... Bertahanlah, Nak," isak Hannan. "Jangan tinggalkan Mas lagi. Mas berjanji, kali ini tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, bahkan dunia sekalipun."
Penyangkalan Amara berakhir di titik nadir antara hidup dan mati. Di dalam mobil yang melaju kencang itu, Hannan menyadari bahwa pencariannya belum benar-benar berakhir. Ia baru saja menemukan raganya, kini ia harus berjuang untuk menyelamatkan nyawa istri dan calon anaknya yang terancam oleh kelelahan dan duka yang terlalu dalam.