Mereka datang ke desa untuk KKN dengan niat mengabdi.
Yang tak mereka sangka, kepulangan mereka justru membawa trauma.
Setiap suara malam dianggap teror, setiap bayangan jadi horor, padahal tak satu pun hantu benar-benar ada. Semua kekacauan terjadi karena ketakutan, kepanikan, dan imajinasi para mahasiswa itu sendiri.
Sebuah kisah horor komedi tentang KKN yang gagal menakutkan hantu,
karena manusianya sudah panik duluan.
Datang untuk mengabdi, pulangnya trauma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.25
...MALAM PALING MENCEKAM...
Malam kembali datang, namun ia tidak langsung menyerang, hanya menunggu. Seperti kucing liar yang duduk di atap, diam, sabar, dan tahu bahwa kepanikan manusia selalu datang lebih dulu daripada keberanian. Angin desa berembus malas. Dari kejauhan, suara jangkrik bersahutan tidak beraturan, seolah sedang rapat darurat yang hasilnya tidak pernah disepakati. Malam ini bukan malam yang gelap total, bulan bersinar tapi hanya seolah muncul dengan setengah hati membentuk huruf D dilangit gelap. Seperti seseorang yang ingin membantu tapi ragu-ragu.
Setelah insiden rumah kosong yang ternyata rumah orang hidup, lengkap dengan bapak tua berlampu dan ekspresi bingung, rombongan KKN kembali ke posko dengan langkah cepat, bahu saling bersenggolan, dan mulut terkunci rapat. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang menyindir. Bahkan Ani, yang biasanya punya minimal tiga komentar per menit, memilih diam dengan ekspresi setengah malu, setengah masih menimbang kemungkinan bahwa kejadian tadi hanya pemanasan. Langkah mereka tidak sama. Ada yang terlalu cepat, ada yang sengaja menunda, berharap orang lain sampai lebih dulu. Tidak ada yang mau jadi yang terakhir. Posisi belakang adalah zona rawan, secara psikologis, metafisik, dan ekonomi jika tiba-tiba disuruh beli rokok sendirian.
Palui beberapa kali menoleh ke belakang, bukan karena melihat sesuatu, tapi karena takut kalau tidak menoleh, sesuatu akan memutuskan untuk muncul. Bodat berjalan dengan tangan dimasukkan ke saku jaket, sok santai, tapi rahangnya mengeras. Surya berkali-kali membersihkan tenggorokan, padahal tidak ada dahak. Itu refleks orang panik yang ingin terdengar sibuk.
Pintu posko akhirnya terlihat, bangunan satu lantai dengan cat yang dulunya putih tapi sekarang lebih mirip konsep “putih nostalgia.” Terasnya sempit, lampunya menggantung rendah, dan kusen pintunya berderit pelan seolah menyambut mereka dengan komentar pasif-agresif.
Setelah semuanya masuk, pintu posko pun ditutup dan segera dikunci. Lalu mereka mendorong lemari kayu tua yang bunyinya lebih menyeramkan daripada fungsinya sebagai kunci kedua pintu posko tersebut. Lemari itu sebenarnya lemari biasa. Kayu tua, pintu geser satu yang sudah lama tidak lurus, dan kaki yang goyah karena salah satu paku menyerah pada kehidupan. Tapi dalam kondisi malam seperti itu, suara nyreeeet dari kaki lemari yang menggesek lantai terdengar seperti pengumuman bahwa keputusan hidup sedang diambil dan tidak bisa dibatalkan.
“Ini lebay,” kata Udin sambil mengatur napas, mendorong lemari sampai kakinya menggesek lantai dan mengeluarkan suara nyeret yang membuat semua orang refleks menoleh. “Tapi… lebih aman.”
Nada suaranya berusaha rasional, tapi jeda sebelum kata lebih aman terlalu panjang untuk disebut meyakinkan. Itu jeda orang yang berharap logika mau kerja sama, meski sudah ditinggal sejak magrib.
“Kalau setan mau masuk,” sahut Bodat tanpa menoleh, “lemari bukan penghalang.”
Kalimat seperti sendok yang jatuh ke lantai dapur. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat semua orang berhenti mengunyah pikiran masing-masing.
“BODAT, TOLONG,” keluh Surya. “Kalau kamu mau jujur, jujurnya besok pagi aja.”
Bodat mengangkat bahu. Ia tidak bermaksud menakut-nakuti. Ia hanya tipe orang yang terlalu realistis untuk kondisi yang butuh kebohongan kecil demi ketenangan bersama. Dalam situasi normal, itu kualitas bagus. Dalam situasi horor komunal, itu dosa sosial. Jam dinding berdetak keras. Atau mungkin mereka saja yang terlalu memperhatikannya. Jam itu tergantung miring, sedikit ke kiri, seolah ikut capek menopang waktu. Detiknya berdetak tidak konsisten, kadang cepat, kadang ragu, membuat siapa pun yang memperhatikannya merasa waktu sedang bercanda tidak lucu.
Pukul 22.34. Angka itu menggantung di kepala masing-masing seperti batas aman yang sudah terlewati. Bukan jam keramat. Bukan waktu mistis. Tapi cukup larut untuk membuat otak mulai lelah, imajinasi mulai liar, dan logika memilih cuti sepihak. Jam di mana orang biasanya sudah berada di zona “kalau dengar apa pun, lebih baik pura-pura tidak dengar.”
Mereka duduk melingkar di ruang tengah. Lampu menyala redup, bukan karena bohlamnya rusak, tapi karena listrik desa seperti sedang galau. mau stabil tapi masih punya trauma masa lalu. Bayangan mereka menempel di dinding dengan bentuk yang tidak proporsional. Kepala terlalu besar, leher terlalu panjang bahkan ada yang terlihat seperti monster padahal cuma Palui.
Palui sempat menoleh ke bayangannya sendiri, mengernyit, lalu menggeser posisi duduk beberapa senti ke kanan. Bayangannya ikut bergeser, namun ia merasa tetap aneh.
“Ini bukan bayangan aku yang salah, kan?” gumamnya pelan.
Tidak ada yang menjawab. Dalam situasi seperti itu, mengakui melihat hal yang sama justru lebih menakutkan daripada berpura-pura tidak sadar. Anang membagikan mi instan di mangkuk plastik satu per satu, gerakannya hati-hati seolah takut mie itu menjerit saat dituang. Bungkus mi diremas terlalu pelan. Air panas dituangkan tanpa bunyi plup yang biasanya melegakan. Bahkan aroma mi yang biasanya jadi penyelamat moral malam-malam KKN kali ini datang dengan ragu, seperti tidak yakin mau membantu atau tidak.
“Makan dulu,” katanya. “Biar nggak panik.”
Itu kalimat standar, kalimat universal, kalimat yang sudah dipakai sejak zaman manusia pertama sadar bahwa lapar dan takut adalah kombinasi berbahaya. Tidak selalu berhasil, tapi selalu dicoba. Palui menerima mangkuknya dengan keseriusan seorang auditor.
“Ini dari stok pribadi atau kas?” tanyanya curiga.
Dalam kondisi lain, pertanyaan itu akan memancing tawa. Malam ini, hanya beberapa sudut bibir yang bergerak setengah milimeter.
“Pribadi.”
“Syukur. Kalau ini dari kas, aku nggak tenang makannya.” Palui mengangguk lega.
Ia mulai menyedot mi dengan suara kecil, penuh konsentrasi. Bukan karena lapar, tapi karena kalau mulut sibuk, pikiran tidak sempat lari ke mana-mana.
Ithay duduk bersandar ke dinding, rambutnya dikuncir seadanya. Biasanya dia sibuk selfie, edit filter, atau minimal memeriksa apakah ada sinyal yang bisa disalahgunakan. Kali ini ponselnya mati. Bukan low batre. Bukan error. Tidak mau nyala sama sekali. Ia menekan tombol power lagi. Lebih lama. Sedikit lebih keras. Lalu menatap layar hitam itu dengan ekspresi tidak percaya, seperti seseorang yang baru sadar bahwa benda paling setia dalam hidupnya memutuskan untuk mogok tanpa pamit.
“Kenapa HP-ku mati, ya?” gumamnya, lebih ke diri sendiri.
Kalimat itu melayang di udara terlalu lama.
“Jangan bilang gitu,” kata Moren cepat. “Nanti HP lain ikut trauma.”
Beberapa orang tertawa kecil. Tawa refleks. Tawa tipis yang lebih mirip usaha bertahan hidup daripada ekspresi bahagia. Tapi cukup. Sedikit. Setidaknya malam itu belum sepenuhnya menang. Angin tiba-tiba meniup jendela samping. Daun pisang di luar berdesis, bukan keras, tapi cukup ritmis untuk membuat otak mulai mencari pola. Sesuatu tentang suara berulang di malam hari selalu memicu dua kemungkinan; ingin tidur, atau ingin lari.
“Eh… kita sepakat ya,” kata Ani pelan tapi tegas. “Nggak ada yang keluar posko malam ini. Ke belakang, ke depan, ke mana pun.”
“Termasuk kalau ada suara?” tanya Surya.
“Terutama kalau ada suara.” Udin mengangguk. “Kalau ada suara, kita anggap itu… desa bernapas.”
“Desa bernapas kok kayak penderita asma,” komentar Bodat.
“BODAT.”
“Oke, oke.”
Mereka kembali diam. Mi instan berkurang perlahan. Jam dinding masih berdetak. Lampu masih ragu-ragu. Dan malam itu masih menunggu. Bukan untuk menyerang
tapi untuk melihat siapa yang lebih dulu menyerah pada pikirannya sendiri.
...🍃🍃🍃...
Bersambung....