Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Perjalanan menuju Lembah Kabut Beracun jauh lebih mudah dengan kerja sama mereka.
Dugaan Lin Xiao tepat. Kombinasi mereka mematikan.
Saat sekelompok Serigala Angin menyerang, Su Mei mengibaskan pedangnya. "Jaring Kabut Es!" Udara membeku, gerakan serigala-serigala itu melambat drastis, kaki mereka tertanam di tanah yang menjadi es.
Detik berikutnya, Lin Xiao melesat. Sret! Sret! Sret! Pedang hitamnya—yang masih belum mengeluarkan teknik penuh—memenggal kepala serigala-serigala itu dengan efisiensi robotik.
Mereka bergerak cepat, meninggalkan jejak bangkai beku di belakang mereka.
Setelah satu jam berlari tanpa henti, mereka tiba di bibir tebing yang menghadap ke Lembah Kabut Beracun.
Pemandangan di bawah sana membuat napas Su Mei tercekat.
Lembah itu luas, biasanya tertutup kabut hijau mematikan. Tapi hari ini, kabut itu tersedot ke dalam sebuah pusaran raksasa di tengah lembah.
Di pusat pusaran itu, sebuah gerbang batu kuno setinggi dua puluh meter telah muncul dari dalam tanah. Gerbang itu berukir naga dan burung feniks, memancarkan cahaya biru misterius.
Di sekitar gerbang, ribuan monster berkumpul. Mereka tidak saling menyerang, melainkan bersujud menghadap gerbang itu, seolah menyembah dewa.
"Itu... Makam Kuno!" bisik Su Mei takjub. "Energi spiritualnya sangat murni!"
"Makam Master Gu," koreksi Lin Xiao dalam hati. Dia bisa melihat simbol Teratai Api di gerbang itu.
"Tapi... bagaimana kita bisa masuk?" Su Mei menunjuk lautan monster di depan gerbang. "Ada ribuan monster. Dan lihat itu... yang menjaga pintu..."
Di depan gerbang batu, ada dua ekor monster raksasa yang berdiri seperti patung penjaga.
Satu adalah Harimau Emas Bersayap (Winged Golden Tiger). Satu lagi adalah Kalajengking Tanah Raksasa (Giant Earth Scorpion).
Keduanya adalah Monster Tingkat 3 Awal (Setara Ranah Inti Emas Awal)!
"Dua monster level Boss," desis Su Mei. Wajahnya pucat. "Kita harus mundur. Ini mustahil."
Lin Xiao menatap kedua monster itu. Dia merasakan getaran aneh dari Kitab Keabadian di jiwanya. Kitab itu... lapar.
"Tidak mustahil," kata Lin Xiao. Dia menunjuk ke langit.
Awan hitam bergulung di atas lembah. Petir menyambar-nyambar di sekitar gerbang batu. Itu bukan petir alam, itu adalah Petir Formasi yang menjaga makam.
"Gerbang itu akan terbuka penuh sebentar lagi. Saat terbuka, akan ada ledakan energi yang membuat monster-monster itu linglung sesaat. Itu celah kita," jelas Lin Xiao.
"Itu gila! Kita harus berlari melewati dua monster Tingkat 3 dalam waktu beberapa detik?"
"Percaya padaku," Lin Xiao menoleh, menatap mata Su Mei dalam-dalam. "Atau kau bisa menunggu di sini dan melihatku mengambil semua harta itu sendirian."
Jantung Su Mei berdegup kencang. Tatapan Lin Xiao... tatapan itu penuh keyakinan mutlak yang menular. Entah kenapa, dia merasa aman meski berada di mulut singa.
"Baiklah, Tuan Gila," Su Mei menarik napas panjang, memegang erat pedangnya. "Aku ikut."
DUARRR!
Tiba-tiba, petir menyambar gerbang batu itu. Gerbang itu bergetar hebat, lalu perlahan mulai terbuka. Cahaya biru menyilaukan meledak keluar.
Ribuan monster meraung, tapi mereka tidak berani mendekat karena takut pada tekanan energi itu. Bahkan dua monster penjaga itu mundur selangkah, menutupi mata mereka.
"Sekarang!" teriak Lin Xiao.
Dia melompat dari tebing, tubuhnya meluncur deras ke bawah. Su Mei mengikuti di belakangnya, menggunakan teknik meringankan tubuh.
Mereka mendarat di tengah lautan monster yang sedang buta sesaat.
"Lari!"
Lin Xiao berlari paling depan. Pedang hitam Xuan di tangannya menyala dengan aura biru gelap.
Teknik Pedang Naga Langit: Naga Membelah Laut!
Dia mengayunkan pedangnya ke depan, membelah gelombang kejut energi yang menghalangi jalan mereka.
Mereka berlari melewati monster-monster yang kebingungan. Jarak ke gerbang tinggal 50 meter.
Tiba-tiba, Harimau Emas Bersayap pulih dari keterkejutannya. Matanya yang tajam melihat dua semut manusia berlari menuju pintu tuannya.
ROAAARR!
Harimau itu mengepakkan sayapnya, menciptakan badai angin yang tajam, dan menerkam ke arah Lin Xiao.
"Lin Xiao! Awas!" jerit Su Mei.
Lin Xiao tidak berhenti. Dia tidak melambat.
"Su Mei! Bekukan kakinya! Sekarang!" perintah Lin Xiao tanpa menoleh.
Su Mei bertaruh segalanya. Dia membakar 80% Qi-nya dalam satu serangan. "Penjara Es Abadi!"
Dia menembakkan sinar biru ke arah kaki belakang harimau yang sedang melompat.
Krek! Es tebal membungkus kaki harimau itu di udara. Itu tidak cukup untuk menghentikannya, tapi cukup untuk mengganggu keseimbangannya.
Harimau itu terhuyung di udara.
Kesempatan sepersekian detik!
Lin Xiao melompat. Bukan menjauh, tapi ke arah wajah harimau itu.
"Tidur lagi sana, Kucing Besar!"
Lin Xiao memusatkan seluruh kekuatan fisiknya dan Qi-nya ke dalam satu tinju kiri.
Tinju Penghancur Gunung!
BUM!
Tinju itu menghantam hidung harimau itu dengan telak. Harimau itu, yang keseimbangannya sudah goyah, terpelanting ke samping, menabrak Kalajengking Raksasa di sebelahnya.
Dua monster raksasa itu bertabrakan dan bergulingan. Jalan terbuka!
Lin Xiao mendarat, menyambar tangan Su Mei yang lemas karena kehabisan tenaga, dan menariknya masuk ke dalam celah gerbang batu yang bercahaya.
Tepat saat mereka masuk, gerbang itu terbanting menutup kembali dengan suara dentuman keras, mengunci mereka di dalam, dan memisahkan mereka dari dunia luar yang penuh monster.
Kegelapan menelan mereka.
Mereka berhasil.