Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.
Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.
Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan Kendali
**
"Bagaimana situasinya?" Tanya Elle begitu pintu terbuka, bahkan Darrion yang hendak bertanya mengurungkan niatnya dengan sedih. "Kau baik-baik saja?" Tanya Elle seraya tersenyum kecil, maju untuk mengusap kepalanya.
"Kakak, aku mengkhawatirkanmu. Tapi yang kau tanyakan pertama kali bukan aku." Ucapnya merajuk. Tapi melihat Elle sehat tanda terlihat luka sedikitpun, ia akhirnya menghela nafas lega.
"Baiklah, aku tahu kau akan baik-baik saja. Bukankah paman Jergh selalu bersamamu? Justru para penyintas itu, apa mereka keluar dan masuk tepat waktu?" Tanya Elle.
"Ada beberapa orangtua dan anaknya yang bebal, mereka mati dicabik zombie. Sisanya selamat, sekitar 38 an orang lagi sedang menunggu dilantai 3." Ucap Sam, yang bertugas dengan Luca untuk mengamankan penyintas dilantai 3.
Elle mengangguk, tidak bersimpati sama sekali terhadap orang-orang yang mati. Lagipula mereka sudah diberi kesempatan untuk selamat, tapi tidak mendengarkan yang menyelamatkan. Memang pantas, pikir Elle. Ia tidak datang untuk menjadi orang suci. Ia hanya menyelamatkan orang yang memang ingin diselamatkan. Tidak ada toleransi berlebih setelahnya.
"40 orang! Ada dua orang dilantai 4." Sela Darrion menambahkan. Membuat Elle mengernyit.
"A-anu, nona... Kami berempat tidak sempat ke lantai 3." Ucap Paman Jergh, menatap Darrion dengan mata melotot. Membuat Darrion menggaruk belakang lehernya dengan canggung, ia tidak sengaja mengatakannya.
"Katakan padaku, apa yang terjadi?" Tanya Elle menatap adiknya tanpa ekspresi.
"Anu, ada seorang kakek yang tidak mau keluar karena kakinya tidak berguna, dan cucunya ingin tetap disamping kakeknya. Aku menunggu mereka beberapa waktu tapi akhirnya aku menggendongnya. Lalu zombie datang, kami hanya bisa memasuki rumah dilantai 4." Ucap Darrion dengan rasa bersalah. "Kakak... Jangan marah, aku bukannya tidak mendengarkanmu... Aku hanya teringat kakek dan kamu." Lanjutnya seraya menundukkan kepalanya.
Elle menghela nafas dalam-dalam. Ia sempat membuang muka selama beberapa detik sebelum akhirnya dirinya sendiri merasa tenang. Perintahnya sangat jelas sebelum operasi ini dilakukan, jika ada yang tidak mau diselamatkan, tidak perlu diselamatkan. Selain menjadi beban, hal ini juga bisa menjadi hal yang mencelakakan diri sendiri di hari kiamat ini. Banyak orang seperti ini egois, mereka tidak ingin diselamatkan, tapi ketika telah diselamatkan dan terdesak bisa saja mereka mendorong penyelamat mereka ke neraka.
"Kakak, mereka berbeda. Aku akan menjamin mereka." Ucap Darrion bersungguh-sungguh. Membuat Elle menghela nafas berat untuk kedua kalinya.
"Jangan bodoh, Darrion. Kau juga masih bergantung padaku." Ucap Elle dengan nada tegas. Sorot matanya jelas menunjukkan penolakan. "Kali ini, aku maafkan. Kembalikan mereka berdua pada penyintas lainnya setelah ini." Ucap Elle menghela nafas. "Sam, bawa paman Jergh untuk membelah kepala zombie, ambil kristal didalamnya." Lanjutnya, kemudian keluar dari ruangan tersebut, berjalan meninggalkan lantai 5 untuk pergi ke lantai 4 lebih dulu, melihat dua orang yang diselamatkan adiknya.
Begitu sampai, yang terlihat adalah seorang remaja perempuan dan kakeknya yang disebutkan sebelumnya yang tidak terlalu tua. Tubuhnya masih terlihat prima saat ini, meski kakinya disebut tidak berguna. Elle menatap kakinya, dan mengerti. Dagingnya telah diambil untuk dimakan, ia mungkin melindungi cucunya ini dan merelakan kakinya.
Memang cukup berprinsip. Tapi, Elle tetap enggan menanggung orang yang tidak mau diselamatkan. Mentalnya telah terganggu, ia sudah ditahap putus asa, cucunya adalah satu-satunya orang yang menahannya untuk tetap hidup.
"Kakak, kakak, aku mohon... Beri mereka kesempatan!" Ucap Darrion, berlari dari belakang menyusul Elle.
Elle menatapnya dengan tajam. "Kau tahu kau hampir kehilangan nyawa tadi?" Tanyanya dingin.
"A-aku... Kakak..." Ucapnya sedih.
"Aku sudah bilang akan mengembalikan mereka berdua ke kumpulan penyintas yang tersisa. Akan ada yang datang untuk menyelamatkan mereka dalam 3 hari. " Ucap Elle menjelaskan.
**
"Nona, jangan marah... Tuan muda hanya belum mengalami hal-hal menjijikkan seperti dikhianati. Seiring berjalannya waktu, ia pasti akan tumbuh lebih dewasa dan berpikir lebih cerdas." Ucap Paman Jergh, yang melihat kedatangan Elle ke lantai 5 lagi.
Elle menggelengkan kepalanya, "Tidak tahu kapan pengalaman pahit hidup itu datang padanya, tapi ia tetap adikku. Paman, bantu aku mengawasinya saja. Aku lihat mata anak itu tidak jernih, aku takut ia menyakiti Darrion." Ucap Elle dengan mata gelap. Kakeknya memang cukup baik, tapi tidak dengan cucunya.
Ia bahkan tidak ada niat membela Darrion tadi ketika ia sedang dimarahi. Tidak ada maaf dan ampun yang keluar karena sudah menyulitkan Darrion. Mungkinkah ia merasa bahwa sudah sepantasnya Darrion datang dan menyelamatkannya? Oh, mungkinkah ia mengira jika ia masih menjadi seorang nona besar? Pikir Elle merasa lucu. Jika demikian, maka Darrion benar-benar harus diberi pelajaran.
Jadi setelahnya ia berbicara beberapa hal dengan paman Jergh, merencanakan sebuah rencana untuk Darrion. Sementara Sam, Luca, dan Avin membedah otak zombie dihadapan keduanya yang mengobrol intens.
"Pergilah, aku serahkan padamu paman." Ucap Elle, membuat paman Jergh mengangguk dengan serius. Ia juga sedikit bersemangat dengan tugasnya kali ini. Karena bukan saja ia memberi pelajaran pada orang asing uang mencoba merusak tuan mudanya, juga ia akan berperan penting dalam perubahan hidup tuan mudanya.
Paman Jergh adalah pengurus rumah tangga yang selalu setia pada ayahnya, karena ia diselamatkan olehnya, dan menyatakan bahwa nyawanya sampai akhir akan menjadi miliknya. Lalu, ayahnya meninggal. Kini ia mengikuti Elle dan Darrion, selain mengurus urusan rumah tangga, ia juga selalu mengurus keduanya, mengganti peran ayahnya meski hanya seperempatnya saja. Karena meski ia sudah mengurus keduanya sejak kecil, karena tidak ada hubungan darah dan statusnya sebagai pengurus rumah, banyak larangan yang menurut prinsipnya tidak bisa dilanggar dan tidak boleh melewati batas.
Inilah alasan Elle tetap mempertahankannya. Pamannya dan Sam adalah satu-satunya yang setia sampai akhir hidupnya. Mereka bahkan menyerahkan nyawa untuk melindungi kakak beradik ini di kehidupan sebelumnya, dibandingkan keluarga pamannya yang jelas-jelas punya hubungan darah. Tapi malah menusuk keduanya dari belakang.
Paman Jergh dan Sam setia, seolah keduanya telah meminum obat, akan selalu melindungi keduanya dengan nyawanya masing-masing. Seolah keduanya cinta mati pada Elle dan Darrion.
"Apa kegunaan benda ini?" Tanya Luca pada Elle seraya menyodorkan inti kristal padanya.
Elle menatapnya dengan jijik, tangannya juga dengan cepat menutupi hidung begitu tangan Luca yang kotor memegang inti kristal disodorkan didepan wajahnya.
"Ugh bajingan! Bersihkan itu!" Pekik Elle berbalik dan muntah. Membuat Luca mengernyitkan dahinya diatas raut wajahnya yang tanpa ekspresi.
Benar saja, tubuhnya belum terbiasa. Meski sudah banyak membunuh, ketika melihat tangan Luca yang kotor, penuh dengan otak dan darah hitam zombie, lambungnya tetap bergejolak.
"Kau kehilangan kendali." Ucap Luca datar, membuat Elle melotot tajam. Mengepalkan kedua tangannya, hendak memukul Luca. Tapi begitu berbalik dam melihat wajah datar tak bersalahnya, ia benar-benar tak berdaya. Ia langsung membaca beberapa patah kata dalam hati agar emosinya terkendali, dibanding mengeluarkan kekesalannya.
**