Tiga kali mengalami kehilangan calon bayinya saat usia kandungan hampir melewati trimester pertama, membuat Ainur, calon ibu muda itu nyaris depresi.
Jika didunia medis, katanya Ainur hamil palsu, tapi dia tidak lantas langsung percaya begitu saja. Sebab, merasa memiliki ikatan batin dengan ketiga calon buah hatinya yang tiba-tiba hilang, perut kembali datar.
Apa benar Ainur hamil palsu, atau ada rahasia tersembunyi dibalik kempesnya perut yang sudah mulai membuncit itu ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09 : Untuk pertama kalinya
Napasnya sudah berbunyi seperti penderita penyakit asma. Wajah dipenuhi keringat, bibir kering. Ainur kelelahan, tapi tekadnya masih sama kuatnya kala memutuskan memasuki hutan.
Parang dalam genggaman diayunkan, membabat ilalang serta tumbuhan putri malu. Sesekali ia menahan perih ketika duri halus menggores punggung tangan.
“Jadi seperti ini rasanya bekerja keras?” sempat-sempatnya dia memikirkan beberapa orang pergi ke ladang, memanggul cangkul yang dulu sering diperhatikan melalui balkon lantai dua hunian Sugianto. Kata ibunya, mereka pekerja kasar.
Pukulan itu serampangan, hampir saja dirinya tersungkur dikarenakan asal mengayunkan parang.
Ainur menyibak bagian ilalang yang tidak sanggup lagi dia babat. Melangkah hati-hati, berusaha waspada terhadap sekitar.
Tanpa dia sadari, instingnya bekerja maksimal, melebihi orang normal belum pernah menjelajahi hutan sendirian.
Badan Ainur terasa gatal, rambutnya lepek. Dia berhenti di tengah-tengah tumbuhan liar, lalu memandang ke segala arah seraya memutar badan.
‘Apa itu?’ Ainur meletakkan telapak tangan kanan guna memperjelas penglihatan. ‘Disana jendelanya!’
Pada ketinggian sekitar sepuluh meter, dia melihat dua jendela terbuka lebar. Semangatnya kembali berkobar, sekarang tengah memikirkan bagaimana caranya naik ke sana.
Sedikit tidak sabaran, kakinya melangkah maju, dia ingin mencapai bagian rimbun tumbuhan daun menjalar.
Sayup-sayup terdengar suara desisan. Tubuh Ainur menegang, kedua tangan mengeratkan pegangan pada parang. ‘Tolong jangan mendekat, aku takut Ular. Tikus saja diriku takut!’
Ainur berbalik membelakangi tumbuhan menjalar, tidak berani mendongak maupun menunduk.
‘Apa ini yang bergerak-gerak?’ batinnya bertanya takut, punggungnya seperti bertambah mundur padahal tadi sudah bersandar di dedaunan merambat.
Badan Ainur oleng, melesak kedalam sewaktu sebuah batu besar berputar lambat seperti pintu dibuka dari dalam.
Hmmm ….
Dia menggigit bibir supaya tidak berteriak. Kehilangan keseimbangan membuatnya terjengkang, bokong menghantam sesuatu lembut dan membal.
Dalam gelapnya ruangan yang tidak dia ketahui, tangan meraba-raba mencari parang yang terlepas. ‘Ini apa? Kok licin?’
Ainur ketakutan, tapi tidak menjerit, cuma menambah tenaga menggigit bibirnya. Pelan-pelan dia meraba bagian pinggang, mencari sesuatu yang tadi sempat diselipkan.
Kotak korek api lengkap dengan kayu berujung coklat berbahan kimia. Dia tarik satu, lalu geseknya ke bagian samping kotak.
Nyala kecil itu berbau tajam, tidak akan bertahan lama, tapi cukup membuat Ainur melihat sekitarnya dalam sekejap.
Ia menunduk, melihat apa yang didudukinya, bersamaan dengan itu sebuah kepala pipih, mulut panjang, mata bulat kecil tengah menengadahkan kepalanya.
Ainur sontak melompat, mengesot ke belakang tanpa mengandalkan penerangan. Ternyata dia menduduki Ular melingkar sebesar lingkar pinggangnya.
‘Aku harus kemana?!’ pertama yang dilakukannya adalah menangis dalam diam.
Desisan Ular itu seperti sangat dekat. ‘Siapapun, tolong aku!’
Ainur merintih dengan tubuh bergetar hebat, dia terus mundur tanpa bisa melihat apapun.
Gwwarrr …
Geraman terasa seperti di belakang badannya. Takut-takut ia menoleh, bertemu pandang dengan sepasang mata kuning kehijauan, menyala di kegelapan.
‘Apa lagi ini?!’ ritme jantungnya menggila. Buliran keringat bersatu dengan air mata. Ainur tidak berani memejamkan mata, takut tiba-tiba ditelan Ular atau apapun wujud sepasang mata tertuju kepadanya.
“Kumohon, tolong jangan ganggu aku. Aku cuma ingin mencari tahu tentang mimpi yang sudah dua kali singgah dan terasa nyata,” bisiknya menderu, dada turun naik.
Geraman rendah nan dalam sekaligus misterius itu kembali terdengar.
Tiba-tiba lampu obor menyala dengan sendirinya, letaknya sama seperti dalam mimpi.
Ainur menoleh ke samping kanan, kali ini dia tak berhasil membungkam mulutnya.
Akhhh!
Seperti memiliki kekuatan super – Ainur berdiri lalu berlari menyusuri lorong panjang menanjak.
Hewan yang dia tidak tahu apa namanya, tapi memiliki postur dua kali lipat dari tubuh mungilnya itu berlari lambat seolah-olah mengejek sekaligus menjaga dalam jarak aman.
“Aku mau pulang, tunjukan jalannya!” teriaknya tanda menyerah, tidak lagi bertenaga berlari sementara persendiannya berdenyut-denyut.
Ainur terpojok, punggungnya sudah menekan tanah sampai kaosnya berwarna coklat.
Hewan berwarna hitam pekat, mata bak Kucing itu maju perlahan. Semakin dekat jarak mereka, Ainur dapat mencium aroma kayu dan segarnya rumput hijau.
Bak terhipnotis, netranya memandang lekat manik mempesona yang tadi membuatnya ketakutan setengah mati.
“Dwipa ….” satu kata sebelum kesadarannya lenyap, badan merosot.
Macam kumbang berubah wujud menjadi sosok pria berkulit coklat gelap, tak mengenakan baju hanya celana hitam panjang. Rambut ikalnya terurai, dia mendekati wanita lemah yang tak sadarkan diri.
Cukup satu tangan, Ainur sudah ada diatas bahu kokoh, dipanggul layaknya karung.
Jari besar berkuku pendek menyentuh permukaan tanah, sebuah pintu bergeser ke samping.
Kaki tak beralas menginjak dedaunan kering, berjalan di bawah naungan teduh hutan pinus bersih tidak semak belukar.
“Den Dwipa.” Seseorang menunduk dalam, mengikuti langkah sang tuan menuju paviliun yang pernah hampir dimasuki oleh Ainur.
Badan ringan itu dibaringkan di atas tikar anyaman daun pandan. Si pria mundur, tatapannya tetap datar memandang tanpa ekspresi wajah pucat pasi Ainur.
“Keadaannya mendekati kritis. Dia nyaris tak bisa membedakan mana nyata dan hanya halusinasi semata. Ramuan kotor itu perlahan menyatu dengan darahnya,” ucap sebuah suara serak-serak basah.
Dwipangga mendengus tanda tidak suka, orang kepercayaannya mundur kala merasakan aura pekat berbahaya.
Sosok wanita bersuara serak-serak basah tadi menahan punggung Ainur sehingga posisinya separuh duduk. Sesuatu dalam cawan tembaga dimasukkan ke dalam mulut.
Jakun Ainur naik turun, dia pingsan tapi alam bawah sadarnya merespon.
Sesudahnya, Ainur dibaringkan lagi. Masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Kembalikan dia sebelum seseorang merasakan kejanggalan berakhir mengetahui kalau dirinya tidak ada ditempat seharusnya. Biarkan semesta menunjukkan apa yang semestinya sudah waktunya terungkap. Takdirlah yang akan menuntunnya kesini.”
Kabut tebal mengelilingi tubuh Ainur, membawa sosoknya lenyap kembali ke hunian yang menyimpan sejuta misteri.
***
Wanita yang tadi berlari bak orang kesetanan, untuk pertama kalinya berani mengambil keputusan diluar kebiasaannya, mulai mengerjapkan mata. Yang pertama kali dilihatnya adalah; ruangan bernuansa lembut, furniture kayu coklat mengkilap.
“Kamar? Bukankah tadi aku dikejar-kejar binatang buas di dalam gua?” ia berbisik.
“Sayang, kamu sudah bangun. Syukurlah, mas kira dirimu pingsan.” Daryo yang sedang mengaduk cangkir teh di meja rias cepat-cepat menghampiri istrinya.
“Aku kenapa, mas? Sejak kapan kamu sudah ada disini ...?”
.
.
Bersambung.
Ki Ageng dgn mbak Neneng
apa hubungan badan dgn Tukiran waktu itu di ketahui Ki Ageng ??
untung nyawamu 1 wesa
klo bisa hidup pasti di siksa smpai monster itu puass
Ki Ageng menjadikan arkadewi
istri nya ??
semoga Raden Dwipangga datang menolong istrinya
tp jgm pula aq di bikin misuh2 ya 🤣🤣🤣
jal
arep piye meneh nur nasib mu apes temen
apa.yg sudah di lakukan dgm iblis itu sehinga merubah sosok.bayi layak nya monster