Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 11: DIIKUTI DAN DIANCAM
Hari pertama skors.
Aku bangun jam tiga pagi kayak biasa. Bantu ayah ke kamar mandi. Mandiin dia. Pakaiin baju. Kembaliin ke kasur.
Tapi pagi ini aku gak berangkat sekolah.
Aku duduk di luar rumah. Natap langit yang masih gelap.
Vanya dan Adrian kemarin udah pulang jam sebelas malem. Kami udah sepakat. Hari ini kami mulai kumpulin bukti lebih banyak.
Aku yang tugas cari tau jadwal Pak Bambang dan Pak Julian. Kapan mereka di sekolah. Kapan mereka ketemu orang tua murid.
Vanya yang tugas dekatin Pak Joko. Minta tolong dia kasih dokumen atau rekaman.
Adrian yang tugas ngawasin anak-anak yang lolos beasiswa. Catat gerak-gerik mereka. Siapa tau ada yang ngomong sesuatu yang penting.
Rencana yang sederhana. Tapi berbahaya.
***
Jam tujuh pagi aku jalan ke sekolah.
Gak masuk ke dalam. Cuma nunggu di luar pagar. Di warung kecil seberang jalan yang jual gorengan sama kopi.
Aku beli kopi sachet lima ratus perak. Aku duduk di bangku plastik. Pura-pura santai. Tapi mata aku natap gerbang sekolah terus.
Jam setengah delapan mobil Pak Bambang masuk. Mobil hitam mewah. Kaca gelap.
Aku catat di buku kecil. Jam setengah delapan. Pak Bambang datang.
Jam delapan kurang Pak Julian datang. Naik motor. Motor gede.
Aku catat lagi.
Aku tunggu sampe jam sembilan. Gak ada yang aneh. Gak ada orang tua murid yang datang.
Aku pulang.
***
Siang itu aku kerja di warung Pak Hadi.
Lebih awal dari biasanya. Dari jam dua belas siang.
Pak Hadi lagi masak di dapur. "Satria, kamu kok gak sekolah? Sakit?"
Aku geleng sambil nyuci piring. "Aku diskors, Pak. Seminggu."
Pak Hadi keluar dari dapur. Mukanya khawatir. "Diskors? Kenapa?"
Aku ceritain semuanya. Tentang beasiswa. Tentang aku gak lolos. Tentang aku marah dan robek pengumuman.
Pak Hadi diem. Terus dia tepuk pundak aku. "Satria... kamu anak yang kuat. Tapi kamu harus belajar sabar. Kemarahan itu seperti api. Kalau gak dikontrol, dia bakar dirimu sendiri."
Aku ngangguk. "Aku tau, Pak. Tapi... tapi aku gak bisa diam aja. Mereka curi hakku. Mereka curi masa depanku."
Pak Hadi senyum sedih. "Aku ngerti. Dunia memang tidak adil, Nak. Orang kaya bisa beli apapun. Termasuk keadilan. Tapi kamu... kamu harus tetap berjuang dengan cara yang benar. Jangan sampai kamu jadi kayak mereka."
Aku lanjutin nyuci piring. Kata-kata Pak Hadi nancep dalam.
***
Jam lima sore aku selesai kerja.
Pak Hadi kasih aku lima puluh ribu. "Ini. Kamu hari ini kerja dari siang. Bagus."
Aku terima uang itu. Aku masukin ke saku celana.
Aku jalan pulang. Langit udah mulai gelap. Orange kemerahan. Indah.
Tapi ada yang aneh.
Aku ngerasa... ngerasa ada yang ngikutin aku.
Aku toleh ke belakang.
Gak ada siapa-siapa.
Cuma jalanan biasa. Orang-orang pulang kerja. Motor lewat.
Aku lanjutin jalan.
Tapi perasaan itu makin kuat.
Ada yang ngikutin.
Aku percepat langkah.
Masuk ke gang. Gang yang biasa aku lewatin. Gang yang lebih sepi. Lebih cepat sampe rumah.
Di tengah gang, aku toleh lagi.
Masih gak ada siapa-siapa.
Mungkin cuma perasaanku aja.
Aku lanjutin jalan.
Tapi tiba-tiba...
GREP!
Seseorang pegang pundak aku dari belakang. Keras.
Aku kaget. Aku mau teriak.
Tapi mulut aku langsung ditutup tangan besar yang kasar.
Aku berontak.
Tapi ada dua orang lagi muncul dari samping. Mereka pegang tangan aku. Kuat banget.
Aku gak bisa gerak.
Mereka seret aku ke gang lebih dalam. Gang buntu. Gelap. Gak ada lampu.
Mereka lempar aku ke tanah.
BRAK!
Punggung aku sakit kena aspal kasar.
Aku liat mereka.
Tiga orang. Gede-gede. Bertato. Muka sangar.
Preman.
Yang di tengah jongkok di depan aku. Dia senyum. Senyum yang menyeramkan.
"Lu Satria Bumi Aksara?"
Suaranya berat. Serak.
Aku gak jawab. Jantung berdetak cepat banget.
"GUE TANYA! LU SATRIA BUMI AKSARA?!"
Dia teriak sambil tampar pipi aku.
PLAK!
Pipi aku panas. Perih.
"I... iya... aku Satria..."
Preman itu senyum lagi. "Bagus. Berarti gue gak salah orang."
Dia berdiri. Dia liat dua temennya. "Ajarin dia."
Sebelum aku ngerti apa maksudnya...
BUK!
Tendangan keras ke perut aku.
Aku langsung melipat. Napas hilang. Sakit banget.
BUK!
Tendangan lagi. Kali ini ke rusuk.
Aku jatuh miring. Mulut kebuka. Gak bisa napas.
BUK! BUK! BUK!
Tendangan bertubi-tubi. Ke perut. Ke dada. Ke punggung.
Aku cuma bisa melindungi kepala pake tangan.
Sakit.
Sakit banget.
Aku pengen teriak. Tapi suara gak keluar.
"Cukup."
Suara preman yang pertama.
Tendangan berhenti.
Aku terbaring di tanah. Napas tersengal-sengal. Badan sakit semua.
Preman itu jongkok lagi. Dia pegang rambut aku. Angkat kepala aku paksa.
"Denger baik-baik, Bocah. Ini peringatan. Jangan coba-coba ngutak-ngatik urusan beasiswa. Jangan coba-coba nyelidikin orang-orang besar. Lu cuma anak miskin. Lu gak ada apa-apanya. Lu gak punya kekuatan. Lu gak punya koneksi. Kalau lu masih nekat... nyawa lu yang melayang. Ngerti?!"
Dia benturkan kepala aku ke tanah.
BRAK!
Dahi aku sakit. Pusing.
"Ngerti gak gue bilang?!"
Dia benturkan lagi.
BRAK!
Aku ngangguk lemah. "Nge... ngerti..."
"Bagus."
Dia lepas rambutku. Kepala aku jatuh ke tanah.
Dia berdiri. Dia ambil tas aku yang jatuh.
Dia buka tas aku. Dia keluarin semua isi. Buku. Pulpen. Amplop berisi foto-foto bukti yang aku fotokopi dari Vanya.
Dia ambil amplop itu.
Dia buka. Dia liat foto-foto di dalamnya.
Dia senyum. "Ini yang dicari."
Dia keluarin korek api dari saku.
Dia bakar foto-foto itu.
Satu per satu.
Api menjilat kertas. Foto-foto itu jadi abu. Melayang di udara.
"Bukti kalian udah musnah. Jadi kalian gak punya apa-apa lagi. Jangan coba-coba bikin ulang. Gue tau dimana lu tinggal. Gue tau dimana temen-temen lu tinggal. Gue bisa dateng kapan aja."
Dia lempar abu foto-foto itu ke muka aku.
"Inget. Ini peringatan pertama. Peringatan kedua... gak bakal se-ringan ini."
Mereka bertiga jalan pergi. Ninggalin aku tergeletak di gang gelap.
***
Aku gak tau berapa lama aku terbaring di sana.
Rasanya lama banget. Tapi mungkin cuma beberapa menit.
Badan aku sakit semua. Gak bisa gerak.
Mata aku setengah merem. Penglihatan kabur.
"Satria?! SATRIA?!"
Suara dari jauh.
Aku kenal suara itu.
Pak Hadi.
Langkah kaki cepat mendekat.
"SATRIA! YA ALLAH! APA YANG TERJADI?!"
Pak Hadi jongkok di sebelah aku. Dia pegang pundak aku.
"Pak... Pak Hadi..."
Suaraku pelan. Serak.
"Satria, siapa yang lakuin ini?! Siapa?!"
Aku gak bisa jawab. Mulut aku sakit. Bibir pecah. Ada darah.
Pak Hadi langsung gendong aku. Dia kuat meskipun dia udah tua.
"Bertahan, Nak. Bapak bawa kamu ke puskesmas."
Dia bawa aku keluar gang. Dia bawa aku ke jalan raya. Dia berhentiin angkot.
"Pak sopir! Tolong bawa kami ke puskesmas! Cepat! Anak ini terluka!"
Angkot berhenti. Pak Hadi masukkin aku ke dalam. Aku duduk di kursi. Kepala bersandar ke jendela.
Sepanjang jalan aku cuma ngerasain sakit. Sakit di badan. Sakit di hati.
Mereka... mereka tau aku lagi nyelidikin.
Mereka tau.
Dan mereka gak ragu buat ngancam.
Bahkan... bahkan nyakitin.
***
Puskesmas.
Aku dibawa ke ruang gawat darurat. Perawat langsung periksa aku.
"Ada luka memar di perut, dada, punggung. Bibir pecah. Luka di dahi. Tapi sepertinya tidak ada tulang yang patah. Hanya lebam-lebam."
Perawat bersihkan luka-luka aku. Perih banget. Aku gigit bibir bawah biar gak teriak.
Setelah selesai, aku dibawa ke ruang rawat inap. Kasur putih. Bersih. Wangi obat.
Pak Hadi duduk di sebelah kasur. Mukanya khawatir banget.
"Satria... siapa yang lakuin ini sama kamu? Apa ini ada hubungannya sama beasiswa yang kamu ceritain tadi?"
Aku ngangguk pelan. "Mereka... mereka preman suruhan. Mereka tau aku lagi... lagi kumpulin bukti. Mereka ancam aku. Mereka bakar buktinya..."
Pak Hadi tutup muka pake tangan. "Ya Allah... Satria... kenapa kamu nekat? Kamu tau mereka orang berbahaya. Kenapa kamu masih lawan?"
Aku liat Pak Hadi. "Karena aku gak punya pilihan lain, Pak. Kalau aku diem... mereka menang. Mereka terus curi hak anak-anak kayak aku. Aku... aku gak mau diem."
Pak Hadi nangis. "Tapi kamu bisa mati, Satria... kamu bisa mati..."
Pintu ruangan terbuka.
Vanya dan Adrian masuk. Napas mereka ngos-ngosan. Muka mereka panik.
"SATRIA!"
Mereka lari ke kasur aku.
Vanya langsung nangis liat muka aku yang lebam. "Sat... siapa yang lakuin ini...? Siapa...?"
Adrian pegang tangan aku. Tangannya gemetar. "Sat... lu... lu gak papa?"
Aku senyum lemah. "Aku gak papa. Cuma... cuma dipukulin dikit."
"DIKIT?! MUKA LU KAYAK GINI LU BILANG DIKIT?!"
Adrian teriak. Matanya merah. Marah.
Vanya duduk di tepi kasur. Dia pegang tangan aku yang satunya. "Sat... ini gara-gara kita kan? Gara-gara kita nyelidikin mereka..."
Aku geleng. "Bukan gara-gara kalian. Ini gara-gara mereka yang jahat. Mereka yang korupsi. Mereka yang curi. Bukan kalian."
Adrian ngepal tangan. "Gue gak terima. Gue gak terima mereka sakitin lu. Gue... gue mau balikin!"
"Jangan, Dri. Lu gak bisa lawan mereka sendirian. Mereka preman. Mereka berbahaya."
"Terus kita harus gimana?! Kita diem aja?! Kita nyerah?!"
Aku liat Adrian. Liat Vanya. Liat Pak Hadi.
Aku tarik napas dalam. Sakit di dada. Tapi aku tahan.
"Kita gak nyerah. Ini bukan menghentikan kita. Ini malah bukti... bukti kita benar. Mereka takut. Mereka tau kalau kita lanjut, mereka bisa ketahuan. Makanya mereka ancam kita."
Vanya liat aku. Matanya berkaca-kaca. "Tapi Sat... bukti kita udah dibakar. Foto-foto yang aku kasih ke lu... udah gak ada."
Aku senyum. "Foto yang aku bawa memang udah dibakar. Tapi... tapi kan masih ada foto asli di hape lu. Dan kita bisa cetak lagi. Kita bisa fotokopi lagi. Mereka gak bisa bakar semuanya."
Adrian senyum. "Bener. Lu bener, Sat. Kita cetak lagi. Kita simpen di banyak tempat. Biar mereka gak bisa musnahin semuanya."
Vanya ngelap air matanya. Dia senyum. "Oke. Kita lanjutin. Tapi kali ini... kita harus lebih hati-hati. Kita gak boleh ceroboh lagi."
Aku ngangguk.
Kami bertiga pegang tangan. Erat.
"Buat keadilan," bisik aku.
"Buat keadilan," ulang Vanya dan Adrian.
***
Di sudut ruangan, ada seorang cewek berdiri di balik pintu kaca.
Cewek berkacamata tebal. Rambut pendek. Badannya kurus. Bajunya lusuh.
Dia natap kami bertiga.
Matanya... matanya penuh dengan sesuatu. Tekad. Keinginan. Dan... dan sesuatu yang lain.
Dia keluarin buku kecil dari tasnya. Dia tulis sesuatu.
Terus dia masukkin buku itu balik. Dia jalan pergi.
Gak ada yang sadar dia di sana.
Gak ada yang tau... bahwa dia udah ngawasin kami dari awal.
Dan dia punya sesuatu. Sesuatu yang bisa merubah semuanya.
***
*