Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
Udara di sekeliling mereka tiba-tiba bergetar.
Tanah retak perlahan dari pusat keberadaan Fenrir, menyebar seperti jaring laba-laba. Aura hitam pekat yang bercampur cahaya merah darah mulai mengalir dari tubuh manifestasi itu, membentuk pusaran energi yang membuat langit di atas mereka berputar.
Wakasa menghela napas dalam.
Detak jantungnya kembali stabil.
Rasa sakit yang tadi hampir melumpuhkannya kini lenyap, digantikan oleh sensasi hangat yang menjalar dari inti dadanya hingga ke seluruh tubuh. Otot-ototnya menegang, napasnya berat, dan matanya memancarkan cahaya keemasan redup.
“Kalau ini kekuatanmu yang sesungguhnya…”
Wakasa menurunkan tubuhnya, satu kaki ke depan, tangan mengepal.
“maka aku juga gak akan menahan diri loh.”
Fenrir itu mengeluarkan suara raungan yang sangat kencang.
Yang membuat udara bergetar dan batu-batu kecil terangkat dari tanah. Ketiga pasang matanya menyala bersamaan, memancarkan sinar merah pekat yang menembus kabut.
Dalam sekejap—
Fenrir menghilang.
Wakasa melompat ke samping tepat saat cakaran raksasa menghantam tempat ia berdiri sebelumnya, menciptakan kawah besar dengan ledakan debu dan pecahan batu.
Belum sempat mendarat—
Ekor Fenrir menyerangnya dari arah belakang.
Wakasa memutar tubuhnya di udara, menyilangkan kedua tangan di depan dada.
DUAARR!!
Benturan itu melemparkannya puluhan meter, menghantam dinding tebing hingga retak parah. Debu mengepul tinggi.
Namun dari balik asap—
Wakasa keluar berjalan.
Bajunya robek, darah menetes dari sudut bibirnya, tapi matanya tetap tajam.
“Boleh juga,” gumamnya. “Tapi kekuatannya… benar-benar besar.”
Fenrir tidak memberi waktu.
Puluhan bayangan dirinya muncul bersamaan, mengelilingi Wakasa dari segala arah. Setiap bayangan memiliki aura yang sama.
Sebuah jebakan absolut.
Wakasa menutup matanya.
Lalu membuka kembali.
Cahaya emas dari pupil matanya melebar, membentuk pola lingkaran rumit.
“Mode Resonansi Jiwa… aktif.”
Ledakan energi menyembur dari tubuh Wakasa, menghancurkan seluruh bayangan Fenrir sekaligus. Tanah terbelah, udara robek, dan langit seakan berguncang.
Fenrir asli terdorong mundur.
Untuk pertama kalinya—
Ia terkejut.
Wakasa muncul tepat di hadapannya dalam kilatan cahaya.
Tinju Wakasa menghantam rahang Fenrir.
BOOOM!!
Tubuh raksasa itu terlempar, menabrak bukit kecil hingga hancur berkeping-keping.
Namun Fenrir bangkit perlahan.
Dari luka di wajahnya, energi hitam mengalir dan menyatu kembali.
Ketiga pasang matanya berputar liar, lalu menyatu pada Wakasa.
Fenrir membuka mulutnya lebar-lebar.
Sebuah bola energi merah gelap terbentuk, berdenyut seperti jantung.
Wakasa langsung merasakan tekanan yang luar biasa.
“ini….”
Ia menancapkan kakinya ke tanah.
Kedua tangannya dibentangkan.
“Teknik Leluhur—”
Energi emas berputar di sekeliling tubuhnya, membentuk lapisan pelindung.
“Segel Cahaya Ketujuh!”
Sinar merah Fenrir dilepaskan.
Sebuah serangan kehancuran menyapu medan pertempuran, menghancurkan segala sesuatu yang dilewatinya.
Benturan dua energi itu menciptakan ledakan besar.
Langit terbelah oleh kilatan cahaya.
Gunung di kejauhan hancur hingga berkeping keping.
Gelombang kejut menyebar hingga beberapa kilometer jauhnya.
Saat cahaya mereda—
Wakasa masih berdiri di tempatnya.
Lututnya bergetar, napasnya terengah-engah, segel emas di sekeliling tubuhnya juga terlihat retak-retak.
Namun wakasa tidak jatuh.
Fenrir juga masih berdiri.
Namun auranya sedikit berkurang.
Wakasa tersenyum tipis.
“Jadi bahkan manifestasi kekuatan milik mu pun bisa berkurang ya.”
Ia mengangkat tangan kanannya.
Energi emas berkumpul, membentuk pedang cahaya transparan.
“Kalau begitu…”
Wakasa melangkah maju.
“aku akan menghancurkan mu.”
Fenrir meraung lebih keras dari sebelumnya.