Aku mengalami kecelakaan saat menyelamatkan anak dari kakak laki-lakiku. Aku yang saat itu melihat Keponakanku nyaris ditabrak oleh mobil yang melaju kencang di jalanan, refleks mendorong dia menjauh sehingga aku yang ditabrak mobil. Secara samar-samar aku melihat kakak laki-lakiku datang dan meneriakkan namaku. Akan tetapi, pandanganku sudah gelap. 'Apakah aku akan bertemu Papa dan Mama sekarang?'
Begitu membuka mata, aku berada di sebuah tempat yang hanya ada satu cahaya terang tepat di atas kepalaku tetapi di sekelilingku gelap. Sebuah suara mengatakan bahwa aku bisa kembali, asalkan aku harus bisa melaksanakan misi kehidupan dari diriku yang dulu.
Ini kan tubuh Azalea Lorienfield, teman pemeran utama perempuan dalam novel favoriteku yang mati di ending novel! Apakah maksud suara misterius itu aku harus menyelamatkan diriku agar tidak mati seperti dalam novel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azalea Rhododendron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 : Kebohongan Dalam Kejujuran
...Happy Reading^^...
...💮...
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku menangis, bahkan tangisanku sampai sekarang belum berhenti-henti. Aku menutupi wajahku dengan kedua tangan yang sudah bisa aku gerakan tanpa rasa sakit sedikit pun.
Suara itu pun sudah menghilang semenjak aku mulai menangis, tampaknya dia memberikan privasi dan waktu untuk diriku sendiri.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan membuatku membuka mataku dan menjauhkan kedua tangan dari wajahku.
Siapa itu? batinku bertanya.
Lalu, secara perlahan aku mulai berusaha duduk. Dengan sapu tangan milikku sendiri dengan lambang keluarga Lorienfield, sapu tangan itu aku gunakan untuk menghapus jejak air mata yang ada di wajahku.
"Siapa?!" seruku pada orang yang mengetuk itu.
"Ini aku! Asher kakakmu!" jawab suara dari balik pintu kamarku itu.
Untuk apa Asher Lorienfield datang ke kamarku?
"Masuklah, kak!" seruku padanya. Aku penasaran kenapa Asher menemuiku, tidak seperti biasanya? Bukankah dia sedang sibuk ya akhir-akhir ini. Apalagi dia juga tengah membereskan kekacauan perampokan itu ditambah melatih para prajurit juga. Dari cerita pelayan itu juga, Asher sendiri yang memilih kandidat prajurit yang akan dilatih baik fisik dan mental kuatlah yang harus Asher dapatkan agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi.
Pintu terbuka dan menampilkan sosok tampan berambut merah muda dan bermata hijau seperti Countess dan Azalea.
Saat tengah berjalan menuju kasurku, dia tiba-tiba saja berhenti dengan mata yang terpaku.
Aku kebingungan kenapa dia tiba-tiba berhenti.
"Kenapa kak?" tanyaku padanya.
"Aku memang mendapatkan berita dari Bibi Edel yang bilang kamu sudah bisa duduk dan menggerakkan tubuhmu tanpa merasakan sakit lagi. Tapi aku tidak menyangka bisa menyaksikan kamu duduk sendiri...tanpa melihat kamu meringis kesakitan," aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca membuatku terharu. Asher Lorienfield benar-benar sangat menyayangi adiknya yaitu Azalea Lorienfield.
Aku merentangkan kedua tanganku ke arahnya, memberikan isyarat untuk dia memeluk diriku. Satu air mata lolos dari kirinya, tapi dia langsung menghapusnya sambil berjalan menuju ke arahku. Dapat aku lihat senyuman Asher sebelum dia memeluk diriku.
Pelukan Asher yang hangat mengingatku dengan Kak Diro, kakak dari dunia realitaku. Aku sangat merindukannya, tapi mau bagaimana lagi? Ini semua aku lakukan agar bisa hidup kembali. Seperti kata suara itu, tubuhku sekarang pasti dalam keadaan koma.
Tidak hidup, namun tidak mati juga.
Tubuh hidup, tapi kesadaran mati total.
Aku menenggelamkan kepalaku pada bahu Asher. Aku menutup mata sambil merasakan kehangatan seorang kakak yang aku rindukan.
Aku juga merasakan usapan lembut sebuah tangan di kepalaku, hal itu membuatku makin tersenyum.
"Kakak senang kamu mulai sembuh dan mulai seceria dulu lagi,"
"Memangnya aku kenapa sekarang kak? Kurang ceria seperti dulu, ya?" bukankah aku sudah berakting seperti Azalea Lorienfield? Apa aktingku kurang, ya jujur saja menjadi orang ceria itu cukup susah. Apalagi aku adalah perempuan berusia dua puluhan lebih, harus berakting seperti remaja yang baru saja puber berumur tujuh belas tahun? Yang benar saja!
"Kamu memang gak seceria dulu, Aza. Kamu lebih banyak diem, kamu banyak melamun dan kamu seperti orang yang banyak pikiran. Tingkah kamu itu membuat aku, Papa dan Mama khawatir sama kamu terutama Mama. Tapi melihat kamu yang mulai sembuh kakak lega dan mungkin papa dan mama," aku terkejut mendengar jawaban Asher. Aku hanya bisa tertawa kecil sebagai respon.
Sambil mengelus kepalaku, Asher mengatakan. "Tidak apa-apa, itu respon alami karena kamu yang tadinya bisa berjalan dengan normal harus terbaring di atas kasur berhari-hari. Pasti rasanya bosan dan menyakitkan. Kalau aku jadi sepertimu kemarin pasti akan merasa hancur juga, bayangkan dirimu tidak bisa berjalan lagi seumur hidupmu? Pasti mengerikan,"
Seketika tubuhku dibuat merinding membayangkannya, untuk saja tempat aku datang ini menggunakan sihir semua. Banyak hal bisa dilakukan dengan sihir, termasuk menyembuhkan orang dengan sihir penyembuh.
"Ya untuk saja aku masih bisa diobati kak!" seruku dengan nada ceria dan Asher tertawa mendengarnya. "Ya, kamu benar, Azaku yang cantik!"
Lalu pelukan kami terlepas, tapi aku justru melihat wajahnya yang terkejut sambil menatapku.
Apa ada yang salah dengan wajahku?
Kedua tangan Asher kini memegangi wajahku. Jempol tangan kanannya mengusap bagian bawah mataku yang ternyata masih tersisa sedikit air mata.
"Apa ini, Aza? Kamu nangis? Kamu nangis kenapa?" tanya Asher dengan nada menuntut dan memaksa agar aku menjawab dengan jujur, namun pegangan tangannya pada wajahku masih lembut seperti biasanya.
Aku merasa bimbang sekarang. Entah kenapa aku tidak bisa bohong pada tatapan selembut kapas dari mata sehijau embun itu, tapi jika aku jujur apakah dia akan percaya?
"Azalea! Jangan pertanyaan kakak!"
Arghh! Nadanya menuntut sekali, mata yang biasanya menatapku dengan lembut tiba-tiba berubah sedikit tajam.
Sedikit menakutkan.
"Azalea!"
"Baiklah! Tapi jika aku ceritakan semua ini, apa kakak akan percaya dengan kata-kataku?"
Pria berambut merah muda itu mengedipkan matanya berkali-kali.
"Kenapa?"
"Pokoknya kakak mau percaya atau tidak! Aku hanya takut dikira gila oleh kakakku sendiri, jika aku mengatakan hal ini padamu!"
Tiba-tiba saja terlintas satu ide di kepalaku ketika Asher bertanya tadi. Entah apa ideku ini adalah ide terbaik atau ide terburuk.
Mata hijaunya menatap diriku dengan tatapan menyelidik.
Apakah aku bisa mempercayai Asher atau tidak?
"Baiklah!" Asher memegang kedua tanganku. Tatapan yang tadi tajam pun kini melembut.
"Kakak percaya apapun yang akan kamu katakan. Apapun ucapanmu yang menurut orang lain aneh, gila dan sebagainya pun akan kakak percayai!"
Aku melihat kejujuran dari tatapan Asher.
Lalu aku mulai bercerita.
Aku memulai cerita dari penglihatan masa depan yang tiba-tiba muncul sehari sebelum aku kecelakaan kereta kuda.
"Kenapa kamu tidak cerita pada kakak lebih dulu?" aku cemberut mendengar pertanyaan itu.
"Kakak saja tidak ada di sini waktu itu, bagaimana aku harus bercerita?" wajah itu tersenyum manis tanpa rasa bersalah.
"Lagipula waktu itu aku panik setelah mendapatkan penglihatan itu, jadi aku melakukan sesuatu tanpa pikir panjang. Tapi aku tidak ingat apa yang akan aku lakukan waktu itu,"
"Kamu tidak ingat?"
"Tidak." Asher menganggukkan kepalanya mengerti.
Berhasil! Cerita karanganku yang bercampur kebohongan dan kejujuran diterima Asher dengan baik.
Lalu aku melanjutkan ceritaku di mana aku kehilangan ingatan termasuk dengan apa yang terjadi sebelum kecelakaan kereta itu dan beberapa ingatan masa kecil, tapi aku secara ajaib mendapatkan mimpi tentang penglihatan itu. Tapi tidak berani mengatakannya pada siapa pun.
"Dan hanya kepadamu aku baru jujur sekarang kak,"
Asher tersenyum lalu mengusap kepalaku dengan lembut.
"Terima kasih sudah jujur kepada kakak, Azalea."
...💮...
...Bersambung....
...Thanks For Reading^^...
...Dipublikasikan pada tanggal 4 Febuari 2026....