Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Ulat Bulu
Sisil tersenyum bangga saat dari kejauhan melihat Komandan Kaivan berdiri bersama beberapa Anggota lain untuk menerima penghargaan. Pria tampan dengan tubuh yang tinggi dan tegap itu, tampak begitu gagah berdiri disana.
Bukan hal yang tak mungkin jika Komandan Kaivan memiliki banyak fans. Seperti apa yang diceritakan Ibu Komandan Kodam, banyak putri Perwira dan Pejabat yang mendekatinya.
Tak sedikit pula Pejabat dan Perwira yang meminta tolong pada Komandan Kodam dan Istrinya untuk menjodohkan Komandan Kaivan dengan putri-putri mereka. Namun, selama ini Komandan Kaivan selalu menolak dengan halus.
Komandan Kodam dan Istrinya pun tak bisa berbuat apa-apa selain menyampaikan penolakan itu dengan penuh kehati-hatian. Maka dari itu, Komandan Kodam dan Istrinya sangat senang ketika melihat Komandan Kaivan membawa seorang gadis yang ia perkenalkan sebagai calon istri.
"Dokter, ini bunganya." Ujar Miko setengah berbisik saat menghampirinya dengan membawa buket bunga.
"Terima kasih, Miko." Ucap Sisil yang kemudian meletakan buket bunga yang masih berada di dalam paperbag besar itu disebelahnya.
Sisil memang mendadak meminta Miko membelikan buket bunga untuk ia berikan kepada Komandan Kaivan sebagai ucapan selamat atas prestasi yang ia dapatkan.
Namun, perhatian Sisil teralih saat ada seorang gadis yang menghampiri Komandan Kaivan bersama pria yang Sisil duga sebagai Ayah dari si gadis. Kedua orang itu menahan langkah Komandan Kaivan yang hendak kembali ke tempatnya.
Si gadis yang memang cantik itu, terlihat mencari-cari perhatian pada Komandan Kaivan yang sedang berbicara dengan Ayahnya. Melihat itu, Sisil menjadi sedikit kesal. Ia kemudian mengeluarkan buket bunga dari paperbag dan menghampiri Komandan Kaivan.
Langkah anggunnya membuat perhatian Komandan Kaivan teralih saat Sisil berada tak jauh darinya. Pria tampan itu tersenyum, lalu mengulurkan tangannya untuk menyambut kedatangan Sisil yang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri.
Pria dan gadis yang sedang bersama Komandan Kaivan itu pun menoleh ke arah Komandan Kaivan mengulurkan tangan. Keduanya tampak tersenyum canggung ketika melihat Dokter Sisil berjalan dengan anggun ke arah Komandan Kaivan.
Komandan Kaivan mengecup singkat punggung tangan Sisil saat Sisil menyambut tangan Komandan Kaivan yang sudah terulur. Pemandangan itu, tentu membuat beberapa orang yang melihatnya tersenyum.
"Selamat ya, Mas." Ucap Sisil sambil memberikan buket bunga yang ia bawa pada Komandan Kaivan.
"Terima kasih, Sayang." Ucap Komandan Kaivan yang kemudian mengusap sayang puncak kepala Sisil yang berbalut kerudung.
"Pak. Perkenalkan, ini calon istri saya, Silvana. Silvana adalah dokter yang bekerja di Klinik Batalyon." Komandan Kaivan memperkenalkan pada pria yang ia panggil Pak.
"Apa, Kak? Calon istri?" Tanya Brisha dengan tatapan yang terkejut sekaligus tak percaya.
"Iya. Silvana calon istri saya." Jawab Komandan Kaivan tanpa ragu.
Brisha hanya bisa tertegun dengan wajah yang sedikit kecewa. Dari raut wajahnya, Sisil tau jika Brisha menaruh harapan dan perasaan pada Komandan Kaivan.
"Sayang, ini Pak Markus, salah satu pejabat daerah dan ini putrinya, Brisha." Komandan Kaivan memperkenalkan dua orang yang ada di hadapannya pada Sisil.
"Salam kenal, Pak Markus, Brisha, saya Silvana. " Ujar Sisil sambil menjabat tangan pria dan gadis yang dikenalkan oleh Komandan Kaivan. Sisil tersenyum sopan keika menjabat tangan dua orang di hadapannya itu.
"Salam kenal, Dokter." Jawab Pak Markus dengan ramah. Berbeda dengan Brisha -putrinya, yang tampak tak senang dengan kehadiran Sisil.
"Selamat atas prestasimu dan rencana pernikahanmu, Komandan. Semoga semuanya berjalan dengan lancar." Doa Pak Markus sambil menepuk bangga lengan Komandan Kaivan.
"Terima kasih, pak." Ucap Komandan Kaivan.
"Kalau begitu, kami permisi dulu. Mari, Dokter." Ujar Pak Markus yang di jawab anggukan sopan oleh Sisil dan Komandan Kaivan.
Setelah itu, Komandan Kaivan menggandeng tangan Sisil dan membawa gadisnya itu kembali ke tempat duduk mereka.
"Mas, kayaknya Brisha suka sama Mas." Kata Sisil ketika mereka sudah duduk di tempat mereka.
"Biarkan saja." Jawab Komandan Kaivan.
"Kok biarin aja sih, Mas? Memangnya Mas gak tau? Dari tatapannya aja udah kelihatan banget." Cicit Sisil.
"Mas tau." Jawab Komandan Kaivan.
"Terus, Mas diem aja? Padahal Mas udah punya aku loh, tapi kayaknya asyik aja waktu dia cari perhatian gitu." Komentar Sisil yang merasa perasaannya tak nyaman saat ini.
"Kamu cemburu, Sayang?" Tanya Komandan Kaivan.
"Gak! Gak usah khayal." Sahut Sisil sambil menghempaskan tangannya hingga tangan Komandan kaivan yang menggenggamnya terlepas.
"Jangan marah, Sayang. Mas cuma cinta kamu." Bisik Komandan Kaivan sembari merangkul bahu Sisil.
Ia kemudian kembali meraih tangan Sisil dengan lembut dan kembali menggenggam tangan kekasihnya itu.
"Mas bisa apa memangnya, Sayang? Dia yang punya perasaan seperti itu dan Mas gak bisa mengontrol perasaannya, kan?" Kata Komandan Kaivan yang mencoba menjelaskan.
"Yang terpenting Mas gak punya perasaan apapun ke dia, karena Mas cuma cinta sama kamu." Ujar Komandan Kaivan.
"Memperkenalkan kamu sebagai calon istri juga sepertinya sudah cukup menegaskan, kan?" Imbuhnya lagi sambil mengusap-usap punggung tangan Sisil yang berada di genggamannya.
Sisil pun terdiam sambil memikirkan ucapan Komandan Kaivan. Sepertinya ia yang berlebihan. Padahal, Komandan Kaivan terlihat cuek saja saat Brisha mencari perhatiannya, dan Komandan Kaivan yang mengenalkannya sebagai calon istri, tentu menjadi pukulan telak untuk Brisha.
"Maaf ya, Mas." Ucap Sisil yang berhasil menguasai egonya.
"Gak apa-apa, Sayang. Jangan marah dan sedih lagi, ya." Ujar Komandan Kaivan sembari memegang dagu Sisil dengan jari telunjuknya dan menghadapkan wajah kekasihnya itu ke arahnya.
Sisil pun tersenyum. Betapa manisnya sosok Komandan Kaivan. Caranya yang lembut saat sedang membujuk, membuat Sisil tak betah lama-lama marah pada Kekasihnya itu.
Sementara itu, dari tempat lain, Miko dan Riki pun tampak tersenyum-senyum saat melihat interaksi Komandan dan Dokter mereka itu.
"Hampir aku kira akan terjadi perang dunia setelah Dokter Sisil menghampiri tadi." Kata Miko. Mereka berdua memang sedikit was-was saat Dokter Sisil tiba-tiba menghampiri Komandan Kaivan yang sedang berbicara dengan Pak Markus dan Putrinya.
"Jantungku terasa hampir meledak, tadi. Aku takut kedua wanita itu berperang disana untuk merebut dan mempertahankan Komandan Kaivan." Timpal Riki yang membuat Miko tertawa.
"Lagi pula, lebih dari tiga tahun Brisha mengejar-ngejar Komandan, namun Komandan sama sekali tidak pernah tergoda." Ujar Miko yang di jawab anggukan setuju oleh Riki.
"Sudah paling tepat dan paling cocok nampaknya Komandan dengan Dokter kita itu. Semoga mereka segera menikah dan selalu hidup bahagia." Kata Riki.
"Aku juga berharap hal yang sama. Kasihan Komandan Kaivan yang sudah lama hidup sendirian." Kata Miko sambil menatap ke arah Komandannya.
😄😄😄😄