Aura Clarissa adalah seorang penulis yang hidup dalam ketenangan. Namun, tanpa sadar dia juga menyukai kemewahan dan dunia malam yang gelap. Bahkan lebih parahnya menjadi wanita simpanan Daffa Gorge yang sudah beristri.
Konflik makin memanas ketika Darrel Gorge, adik kandung Daffa, hadir menuntut pertanggungjawaban atas malam yang tak pernah Aura ingat.
Di tengah intrik perselingkuhan, ancaman sang istri sah, dan daya tarik Darrel yang kian sulit ditolak, sanggupkah Aura bertahan saat kebenaran tentang dirinya membakar seluruh kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Bom Ditengah Pesta
Beberapa jam yang lalu...
Aura berdiri tegang di depan cermin. Pantulan dirinya sendiri membuatnya teramat tak nyaman. Gaun malam hitam yang ia kenakan justru ia ambil dari tumpukan baju seksi milik Clara yang ia temukan di lemarinya pagi tadi.
Aura tak punya pilihan. Ia sama sekali tak memiliki gaun mewah yang layak untuk dipakai ke acara keluarga kaya raya. Mendengar nama Gorge saja sudah cukup membuat bulu kuduknya merinding. Siapa yang tak mengenal Robert Gorge? Pria berkuasa yang namanya memimpin saham di berbagai perusahaan raksasa.
Aura terus menarik-narik ujung gaunnya yang minim dengan perasaan risih. Namun, ia tak bisa menolak ajakan Darrel karena jeratan kesalahan malam itu—kesalahan yang tak pernah merasa ia perbuat.
Saat hendak meraih tasnya, ponsel di atas meja mendadak berdering. Satu pesan masuk mengambang di layar. Nama Daffa tertera di sana.
Aura yang biasanya acuh, kini mulai dirayapi rasa penasaran. Perlahan, ia ingin mengumpulkan pecahan puzzle di hidupnya yang selama ini hilang.
Dengan tangan gemetar, Aura membuka pesan itu:
Jangan terima pesan atau panggilan apa pun dari Darrel! Jangan mau datang ke Mansion hari ini, atau kamu tahu akibatnya nanti malam!
Deg!
Jantung Aura berdetak hebat. Detik itu juga, Aura tersadar bahwa nama Daffa yang terasa tak asing di telinganya memang menyimpan rahasia besar. Ada hubungan kelam yang tak pernah ia ketahui sebelumnya.
Aura buru-buru menghapus pesan itu. Pikiran rasionalnya berusaha menolak kenyataan. Sosok Daffa yang terpandang dan sudah beristri tidak mungkin mengirimi dirinya pesan mengancam seperti itu.
Aura memasukkan ponselnya ke dalam tas. Suara klakson mobil di depan apartemen memaksanya bergegas turun.
Di luar, Darrel sudah berdiri bersandar di kap mobilnya. Kemeja hitam dengan dua kancing atas terbuka memperlihatkan dada bidangnya. Rambutnya tertata rapi, dan tatapannya begitu pekat saat menyambut kedatangan Aura.
"Masuklah," ujar Darrel seraya membukakan pintu mobil untuknya.
Baru saja duduk di dalam, ponsel Aura kembali bergetar nyaring. Nama Daffa kembali mengambang di layar. Panik setengah mati, Aura langsung membalikkan posisi ponselnya di atas pangkuan sebelum Darrel sempat melirik.
Darrel tak bergeming, hanya menatap datar jalanan di depan lalu melajukan mobilnya.
Saat ini...
Suasana pesta di aula mansion jauh dari membayangkan Aura. Jauh lebih mewah, megah, dan mengintimidasi. Banyak wanita cantik gaun glamor berjalan santai sembari memamerkan senyum ke arah kamera wartawan.
Aura menunduk dalam, terus berusaha menarik ujung gaun ketatnya. Ia merasa tidak nyaman. Banyak pasang mata menatapnya curiga, terlebih karena ia melangkah tepat di samping cucu kesayangan Robert Gorge.
"Gandeng lengan saya, Aura. Ada banyak kamera di sana," bisik Darrel tepat di telinganya.
Aura tak menjawab. Lidahnya kelu. Bagaimana mungkin ia memamerkan kemesraan dengan pria yang baru ia kenal beberapa hari?
Melihat Aura yang membeku, Darrel mengambil inisiatif. Ia meraih jemari dingin Aura dan menyelipkannya ke lekuk lengannya. "Tetap seperti ini sampai kita masuk ke dalam."
"Tapi, Pak—"
"Darrel!"
Suara panggilan bernada keras memotong ucapan Aura. Daffa melangkah lebar menghampiri mereka dengan raut wajah yang membendung amarah murni.
Detik itu juga, Aura meremas kain jas Darrel dengan sangat kuat. Napasnya tercekat. Bayangan pesan ancaman Daffa mendadak menari-nari menakutkan di kepalanya.
Darrel menyunggingkan senyum tipis. Tanpa ragu, ia menangkis rasa panik Aura dengan menggenggam balik jemari wanita itu di lengannya—memamerkan keintiman mereka secara terang-terangan di hadapan para tamu. Aura mencoba menarik tangannya, namun cengkeraman Darrel terlalu kuat.
"Kenalkan, dia calon istriku. Aura Clarissa," ucap Darrel dengan suara lantang dan nyaring.
Kata-kata itu bergema di aula. Sofie dan Robert Gorge yang sedang mengobrol di dekat panggung utama seketika menoleh cepat dengan raut terkejut.
Sementara Aura langsung mendongak menatap Darrel—terperanjat tak percaya atas bom yang baru saja dilemparkan pria itu.