NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Sang Pewaris Dan Gadis Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:964
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

Lia hanyalah gadis biasa. Hidup sederhana, bekerja keras membantu orang tuanya, tidak punya harta, tidak punya nama besar. Ia hanya ingin menjalani hari dengan tenang dan jujur.

Namun takdir membawa ia melangkah masuk ke dunia yang sama sekali asing — dunia mewah, dingin, dan penuh aturan milik Arga, pewaris tunggal kekayaan keluarga paling berpengaruh di kota itu.

Pertemuan mereka bukan karena kebetulan. Sebuah perjanjian lama mengikat kedua keluarga, memaksa mereka menikah. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah kewajiban yang harus ia penuhi. Bagi Lia, ini adalah awal dari perjalanan yang menguji ketabahan, kesetiaan, dan hatinya.

Di antara dua dunia yang tak pernah bertemu, bisakah cinta tumbuh? Apakah gadis biasa seperti Lia mampu menembus dinding dingin yang dibangun Arga? Atau pada akhirnya, ia hanya akan menjadi kisah singkat yang terlupakan di istana megah itu?

"Aku mungkin tidak lahir dengan harta, tapi aku lahir dengan hati yang mampu mencintaimu seutuhnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 — Di Balik Kesibukan Sang Pewaris

Matahari belum sepenuhnya naik ke puncaknya saat suara langkah kaki Arga terdengar di lorong — cepat, teratur, seakan setiap detik waktunya sudah diukur sejak fajar menyingsing. Aku berdiri di ambang pintu kamarku, menatap punggungnya yang menjauh, lebar namun tampak menanggung beban yang tak terlihat. Pintu ruang kerjanya tertutup rapat, menyembunyikan dunia yang belum sepenuhnya kumasuki — dunia angka, pertemuan, keputusan yang mengubah nasib banyak orang, dan tekanan yang tak pernah terlihat di permukaan.

Setelah perselisihan warisan muncul, hari-hari Arga berubah sepenuhnya. Ia bangun sebelum jam menyebut pukul lima, berhenti hanya sebentar untuk minum teh, lalu kembali ke ruangan itu hingga larut malam. Meja makannya kini sering kosong; makanannya dingin, dipanaskan kembali, lalu tersisa sebagian di piring. Wajahnya yang mulai cerah kembali kini tampak tertutup bayangan kelelahan — matanya tajam namun sayu, bicaranya tegas namun pendek, senyumnya yang dulu tumbuh perlahan kini hanya muncul sesekali, di saat kami berdua saja, di sela-sela keheningan sebelum tidur.

Orang-orang di sekitarnya melihat sosok yang kuat, tak tergoyahkan — sang pewaris yang tenang di tengah badai. Namun aku melihat lebih dari itu. Aku melihatnya meletakkan pena di sela-sela pekerjaannya, memijat pelipisnya yang berdenyut, menarik napas panjang seakan mengumpulkan sisa kekuatan. Aku melihatnya menatap foto ayahnya di meja, menatapnya lama, seakan mencari jawaban yang tak pernah datang. Aku melihatnya menatap pintu kamarku saat lewat di depan, ragu sejenak apakah masuk atau tidak, lalu melanjutkan langkahnya karena takut membangunkanku atau membebaniku.

Pagi itu, aku mengetuk pintu ruang kerjanya. Suara “masuk” terdengar berat, tertekan. Saat aku melangkah masuk, ruangan itu terasa berbeda — jendela tertutup tirai, udara terasa hangat dan pengap, tumpukan dokumen menutupi sebagian meja, lampu menyinari kertas-kertas itu dengan cahaya kuning yang redup. Arga duduk di kursi besar, kemejanya dibuka dua kancing di leher, rambutnya sedikit berantakan, pulpen masih tergenggam di tangan yang lelah. Ia mendongak, berusaha tersenyum, namun senyum itu hanya menyentuh sudut bibirnya, tidak sampai ke matanya.

“Belum tidur?” tanyanya pelan, suaranya serak.

“Sudah bangun,” jawabku lembut, meletakkan nampan berisi sarapan sederhana di sudut meja yang masih kosong. “Dan kau belum makan sejak kemarin sore.”

Ia menunduk sejenak, melipat kedua tangannya di atas meja. “Banyak yang harus diselesaikan. Jika tidak cepat ditanggapi, keraguan akan menyebar. Orang-orang akan kehilangan kepercayaan. Banyak keluarga bergantung pada keputusan ini.”

Aku melangkah mendekat, berdiri di samping kursinya. “Aku tahu. Aku tidak menyuruhmu berhenti. Aku hanya memintamu berhenti sejenak. Menghirup napas. Makan sedikit.”

Ia terdiam, menatap kertas-kertas di depannya seakan melihat teka-teki yang tak kunjung selesai. “Setiap kali aku berhenti, aku mendengar suara-suara di kepalaku — bagaimana jika salah? Bagaimana jika aku mengecewakan semua orang? Ayah mempercayakan ini padaku… aku tidak boleh membiarkannya hancur.”

Aku meletakkan tangan di bahunya, merasakan ketegangan yang mengeras di sana. “Ayahmu mempercayakan ini padamu karena ia tahu siapa dirimu — bukan karena kau tidak pernah lelah, bukan karena kau tidak pernah salah. Tapi karena hatimu baik, dan kau peduli pada semua orang yang terlibat.”

Ia menutup mata perlahan di sentuhanku, menghela napas panjang yang seakan melepaskan sebagian beban. “Semua orang melihatku sebagai pewaris. Pemimpin. Harus kuat. Harus tegas. Tidak boleh goyah.” Ia membuka mata, menatapku dengan tatapan yang rapuh. “Terkadang aku lelah menjadi kuat, Lia. Sangat lelah.”

“Maka jangan selalu kuat di depanku,” bisikku lembut. “Di sini, di ruangan ini, saat hanya kita berdua… kau boleh lelah. Kau boleh rapuh. Tidak perlu menyembunyikannya.”

Ia menarikku perlahan ke sisinya, memeluk pinggangku, menyandarkan kepalanya di perutku, membiarkan kelelahan yang ditahannya begitu lama tumpah perlahan. Aku mengusap rambutnya, membiarkannya diam begitu, tanpa terburu-buru, tanpa memintanya segera kembali bekerja.

Setelah beberapa saat, ia melepaskan pelukannya, mengambil roti yang kubawakan, memakannya perlahan. Tidak banyak, namun ia makan. “Terima kasih,” ucapnya pelan, menatapku dengan mata yang lebih jernih. “Tanpamu… aku mungkin sudah lupa cara berhenti.”

Hari-hari berikutnya, aku menemukan cara untuk berada di sampingnya tanpa mengganggu — aku duduk di sudut ruangan itu, membaca buku atau sekadar diam, menemaninya tanpa banyak bicara. Kadang ia berbicara sendiri, merenungkan kalimat yang akan ditulis, menimbang kata-kata yang akan diucapkan. Kadang ia bertanya pendapatku, bukan karena aku mengerti isinya, tapi karena ia butuh seseorang yang mendengarkan tanpa menghakimi.

“Apakah ini terdengar kejam?” tanyanya suatu sore, menunjuk barisan kalimat di kertas. “Atau cukup tegas namun adil?”

Aku membacanya perlahan, mencoba memahami. “Tegas. Jelas. Tidak kasar. Kau mengatakan apa yang harus dilakukan, tapi tidak melukai perasaan mereka yang terlibat.”

Ia mengangguk pelan, menuliskan sesuatu di pinggir kertas. “Aku tidak ingin memusuhi siapa pun. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan ketidakadilan terjadi.”

Saat malam semakin larut, pekerjaannya belum selesai, namun ia menutup buku dan menatapku. “Kau masih di sini.”

“Selama kau butuh,” jawabku sederhana.

Ia tersenyum — senyum yang sungguh-sungguh, yang menerangi wajahnya yang lelah. “Kau tahu, semua orang yang datang ke ruangan ini membawa sesuatu — permintaan, tuntutan, kebutuhan. Hanya kau… kau tidak meminta apa-apa. Hanya menemani.”

“Karena aku tidak butuh apa-apa darimu, Arga,” kataku lembut. “Aku hanya butuh kau.”

Ia berdiri, mendekat, menyentuh pipiku dengan lembut. “Itulah yang paling sulit dipercaya. Bahwa seseorang bisa mencariku… bukan untuk apa yang kumiliki, melainkan untuk siapa aku.”

Malam itu, sebelum kami tidur, ia bercerita tentang hal-hal yang tak pernah diketahui siapa pun — tentang malam-malam ia sendirian di ruangan ini, takut tidak mampu mengisi tempat ayahnya, tentang pertemuan-pertemuan yang membuatnya merasa kecil, tentang keraguan yang menyelinap di antara keputusan-keputusan besarnya.

“Kesibukan ini bukan sekadar pekerjaan,” akunya pelan, berbaring di sampingku, suaranya nyaris tertelan kegelapan. “Aku menyibukkan diri agar tidak memikirkan betapa kesepiannya hidup ini sebelum kau datang. Aku menyembunyikan diri di balik tumpukan kertas agar tidak merasakan kekosongan di hati.”

Aku menggenggam tangannya erat. “Kekosongan itu tidak akan pernah terisi oleh pekerjaan, Arga. Hanya oleh kehadiran seseorang yang melihatmu dan berkata: aku di sini.”

Ia mengecup telapak tanganku, menempelkannya ke pipinya. “Dan kau mengisinya sepenuhnya.”

Di balik kesibukan sang pewaris, di balik pintu ruang kerja yang tertutup rapat, ada seseorang yang bukan sekadar pemimpin — ada seseorang yang butuh didengarkan, butuh ditemani, butuh dicintai apa adanya. Dan di situlah aku berada — bukan sebagai tamu, bukan sebagai istri yang ditentukan, melainkan sebagai rumah tempat ia pulang di sela-sela hari yang panjang dan berat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!